
" Lepaskan! Kamu tidak berhak mengancamku seperti ini! " Tegas Akira yang membuat Lim melepaskan tangannya dari kerah baju Akira.
Lim menundukkan kepalanya " Aku mohon jangan dia. " pinta Lim dengan nada rendah.
Akira tidak menyukai pandangan Lim yang sangat lemah. Ia hanya pergi meninggalkan Lim tanpa berbicara lagi.
Drettt-Drettt
Lim mendapat sebuah pesan dari Edward Ayahnya.
" Hei, how are you? "
Ia hanya membaca pesan Ayahnya tersebut, tapi tidak lama kemudian Edward menelepon Lim.
" Apa dia peramal? Dia selalu tahu kalau aku hanya membacanya saja. " gumamnya.
Lim tidak punya pilihan lain selain menjawab panggilan dari Ayahnya yang menyebalkan itu.
" What's wrong dad? " tanya Lim.
" Answer my massage! "
" I'm okay, dad. "
" When will you go ho. " belum Ayahnya berbicara sampai selesai Lim telah memotongnya karena sudah tahu apa yang ingin ditanyakan oleh Ayahnya.
" Stop dad, I don't want to hear that. "
" But.. "
" I'm busy, so I hang up. Good night " ucap Lim menutup teleponnya.
Orang yang tidak ingin dia dengar suaranya untuk hari ini adalah Ayahnya.
Tapi Edward selalu datang dan menelepon ketika Lim mendapat masalah. Entah itu karena hati orang tua yang terhubung atau karena Edward hanya ingin mengganggu Lim.
Lim mengigit bawah bibirnya merasa sangat kesal dengan dirinya sendiri.
Ia berjalan kembali menuju pulang dengan pandangan kosong.
1 tahun sebelumnya..
" Akira sekarang sudah mempunyai pacar " ledek Lim kepada Akira.
Seluruh kelas tertawa dan menggoda Akira karena akhirnya Akira memiliki seorang pacar yang dari dulu Akira tunggu.
Setelah 3 tahun Akira menunggu untuk mendapatkan hati Kim Senya ( pacar Akira ) akhirnya sekarang Akira memiliki hati Senya sepenuhnya.
Bel berbunyi pulang sekolah.
Akira berjalan berdampingan bersama Senya, mereka pulang bersama-sama selayaknya orang pacaran.
Lim yang sedang bermain basket di lapangan outdoor sendirian berhenti sejenak saat melihat Akira berjalan bersama dengan Senya.
" Hei pasangan baru, hati-hati. " teriak Lim.
Akira melambaikan tangannya kearah Lim begitu juga dengan Senya yang melambaikan tangannnya kepada Lim.
" Kamu kenal Lim? " tanya Akira kepada Senya.
" Siapa yang tidak tahu dia disekolah ini. " jawab Senya dengan senyuman kecil.
" Kamu dekat dengan dia? "
" Tidak. "
" Ah begitu, mari pulang " ajak Akira kepada Senya meninggalkan Lim yang sendirian bermain basket.
1 bulan kemudian.
Akira dan Senya masih menjalankan hubungan, dan hari ini adalah hari jadi mereka yang pertama kali.
Atau biasa dibilang, 1 bulan mereka berpacaran.
Akira yang bahagia ingin memberikan sebuah boneka kepada Senya di belakang sekolah.
Tapi Akira terhenti saat melihat Senya yang sedang menyatakan cintanya kepada Lim.
Lim menolak pernyataan cinta Senya, Senya tetap memaksa dan ingin Lim menjadi pacarnya.
" Kamu adalah wanita terburuk yang pernah aku temui. " tegas Lim dengan tatapan amarah.
Akira yang mendengar tidak menyukai Lim yang berbicara seenaknya saja. Ia menjatuhkan boneka yang berada ditangannya dan berjalan mendekati Lim.
" Apa maksud kamu berbicara seperti itu? " tanya Akira dengan memegang kerah baju Lim.
" Akira, bagaimana bisa kamu menyukai perempuan ini? Perempuan yang bisa menyatakan cintanya dengan siapa saja. Kamu bodoh Akira?! " kesal Lim yang melihat temannya dipermainkan oleh seorang perempuan.
Akira mengerutkan dahinya, ia juga ingin tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
" Tidak, tidak seperti itu Akira. " kata Senya menyangkal.
" Hah, TIDAK SEPERTI ITU? " marah Lim.
" Dia yang menyatakan cintanya kepadaku terlebih dahulu dan dia bahkan menciumku seperti ini. " ucap Senya seraya mengecupkan bibirnya kearah bibir Lim.
Lim mendorong Senya menjauh. " Hei aku tidak seperti itu! "
Senya menundukkan kepalanya. " Aku dari dulu mencintai Lim. Maafkan aku Akira, aku mendekati kamu hanya karena ingin semakin dekat dengan Lim. Aku benar-benar minta maaf " jelas Senya yang membuat mata Akira melebar terkejut.
Penantiannya selama 3 tahun hanyalah sia-sia, ia menghabiskan hidupnya selama 3 tahun hanya untuk disakiti dalam waktu 1 bulan.
Akira membenci semuanya. Teman, cinta baginya hanyalah sebuah kebohongan.
" Selamat untuk kalian. " ucap Akira seraya berjalan meninggalkan Lim dan Senya.
" Akira! " panggil Lim yang ingin menahan Akira, namun tetap saja Akira terus berjalan tanpa mendengar panggilan Lim.
Permulaan itulah yang membuat hubungan antara Lim dan Akira menjadi rusak.
Berbulan-bulan Lim sudah menjelaskan semuanya, sudah berkata bahwa dia sama sekali tidak memiliki perasaan dengan Senya.
Lim ingin Akira percaya kepadanya. Akira sudah tidak mempunyai kepercayaan kepada Lim.
Dan 3 bulan setelah kejadian itu. Senya ditemukan gantung diri dirumahnya.
Karena itulah yang membuat Akira semakin membenci Lim.
Kebenciannya kepada Lim membuatnya menyebarkan berita bohong ke seluruh anggota tim basket.
Lim dikucilkan, tapi Lim tidak perduli. Ia tetap maju dan membuktikan keseluruh anggotanya bahwa ia pantas untuk menjadi seorang kapten.
Lim membuktikannya dan membawa timnya menuju Kejuaraan Nasional.
••
Sports day.
Lim yang masih memikirkan persoalan kemarin saat bertemu dengan Akira tidak bisa mengikuti perlombaan tarik tambang serta estafet.
Ia hanya duduk di atas atap dengan mata yang terpejam.
" SELANJUTNYA LOMBA LARI ESTAFET PUTRI KELAS 1 " kata Ketua Osis yang menggunakan mic sampai terdengar dari atap sekolah.
Digaris pertama ada kelas 1-1, kedua 1-4, ketiga 1-2, keempat 1-3, kelima 1-5.
Dan masing-masing sudah bersiap menggunakan tongkat untuk berlari memberikannya kepada temannya yang berada di post selanjutnya.
Anna berada di post ketiga yang mengharuskannya untuk berlari dengan maksimal agar perlari terakhir dapat dengan mudah berlari kencang.
Masing-masing pelari dari kelas 1 sudah bersiap-siap untuk melakukan aba-aba lari.
" Bersedia "
" Siap "
" Mulai. "
Para pelari berlari dengan kencang dan penonton yang menyemangati kelasnya masing-masing.
Kelas 1-1 berada di posisi pertama, ia membagi ketemannya yang berada dipost kedua.
Kemudian berlari kencang kembali sampai berada dipost ketiga yaitu Anna.
Anna tidak bisa berlari kencang, tapi ia tidak punya pilihan lain.
Anna mengambil tongkat dan berlari kencang yang membuat para penonton terkejut.
Namun, tiba-tiba saja dari arah kanan seseorang menyenggol tubuh Anna yang membuat Anna kehilangan keseimbangan dan wajahnya terjatuh lebih dahulu daripada tubuhnya.
Seluruh penonton terdiam, pertandingan masih berlanjut. Anna kemudian berlari kembali dengan kecepatan penuh, meski tadinya berada diposisi terakhir Anna bisa berlari kencang sampai berada diposisi ketiga dan memberikannya kepada post keempat.
Post keempat berlari mengejar ketinggalannya, ia terus berlari sampai akhirnya menjadi juara 2.
Anna terdiam, ia menundukkan kepalanya menahan luka yang berada dipipinya.
" Kamu gapapa? " tanya Yuki menghampiri Anna.
Seluruh siswa-siswi disana terdiam melihat Yuki yang mendekati Anna.
" Itu kak Yuki kan. "
" Iya, dia Yuki. "
" Siapa perempuan itu? "
" Ah dia yang terluka tadi. "
Bisik siswi-siswi yang berada dekat dengan Anna.
" Kak Yuki, aku gapapa. Aku ingin ke UKS " jawab Anna dengan berjalan perlahan menuju UKS.
" Aku bantu. "
" Tidak, aku tidak apa-apa. " tolak Anna karena tidak ingin seluruh sekolah membicarakannya lagi.
Yuki hanya terdiam, lalu Kaori datang menghampiri Yuki dan bertanya " Yuki-senpai, dia siapa? "
" Dia sepupuku. " jawab Yuki yang membuat siswa-siswa mengerti kenapa Yuki dan Anna sangat dekat.
Hanya saja Yuki khawatir, Anna terjatuh bukan karena kesalahannya tapi ada seseorang yang membuatnya jatuh.
Sesampai Anna di UKS, Anna mencari-cari salep atau plaster untuk wajahnya karena luka yang berada diwajah Anna terus berdarah.
Anna membasahi wajahnya tersebut dengan air membersihkan kotoran serta darah yang berada diwajahnya.
Lalu memberikan betadine diwajahnya, Anna meringis kesakitan karena perih dari luka tersebut.
Tiba-tiba saja terdengar suara ketukan pintu yang membuat Anna langsung bepura-pura tertidur diranjang.
" Permisi " ucap Lim memasuki ruang UKS.
Saat Lim melihat Anna memasuki ruang UKS tanpa sadar Lim mengikutinya dari belakang.
Matanya mengelilingi sekitar mencari Anna dan terlihat Anna yang sedang tertidur.
Lim mendekatinya perlahan, ia melihat wajah Anna yang terluka. Lim yang khawatir langsung mengambil sebuah salep dan mengusap-usap perlahan diwajah Anna.
Ia juga melihat luka dilutut Anna, Lim pun membersihkan terlebih dahulu luka Anna. Lalu memberikannya salep dan menutupnya dengan plaster.
Anna tetap berpura-pura tertidur, ia terus menahan rasa sakit agar tidak ketahuan oleh Lim.
" Selesai " kata Lim yang selesai menutup luka Anna dengan plaster dimulai dari wajah serta lutut.
" Kalau begitu aku pergi dulu. " ucap Lim seraya keluar dari ruang UKS.
Anna membuka matanya, ia kembali berdiri dan melihat kearah cermin.
" Rapih. " kagum Anna yang melihat Lim mengobati luka Anna dengan sangat rapih.
Anna mengambil langkah kakinya berjalan keluar UKS dengan pandangan tertunduk, ia tidak ingin kembali ke lapangan.
Semua orang sudah membicarakannya, apalagi ia telah mengecewakan teman kelasnya.
Anna mengigit bawah bibirnya, takut kalau temannya akan memarahinya seperti waktu ia masih SMP.
Anna kembali ke kelasnya, duduk dibangku dengan pandangan kearah lapangan.
Ia memperhatikan orang-orang yang masih bersenang-senang di lapangan.
Perasaan takutnya masih menyelimuti Anna, Anna takut bahwa orang-orang akan kembali menghinanya.
Tapi perasaan takut itu tiba-tiba saja menghilang, saat melihat Lim yang tertawa lebar.
Senyuman yang membuat hati Anna merasa nyaman.
" Apaan sih aku ini. " keluh Anna karena merasa nyaman saat melihat senyuman Lim.
••
Lim yang merasa lelah karena terus berlari-lari ingin mengistirahatkan tubuhnya sebentar dengan duduk ditribun.
Ia mengambil botol minum dan meminumnya, namun saat Lim tengah meminum sambil melihat kearah jendela kelas Anna.
Terlihat Anna yang sedang memperhatikan kearahnya yang membuat Lim tersedak.
Wajah Lim memerah, Lim memukul dadanya perlahan.
" Kenapa dia memperhatikanku seperti itu? " tanya Lim kebinggungan.
Lim menolehkan lagi kepalanya sesaat melihat kearah Anna dan Anna masih memperhatikannya membuat wajah Lim semakin memerah.
" Kenapa panas sekali? "
" Hei Lim! " panggil Hinata mendekati Lim.
" Hei. " jawab Lim.
" Kamu baik-baik saja? " tanya Hinata.
" Aku hanya sedikit lelah. "
" Sebentar lagi ada game mencari pasangan loh, dan setelah itu akan bermain game sesama pasangan. " kata Hinata.
" Terus? "
Hinata berbisik tepat ditelinga Lim " Aku mau kamu yang jadi pasangan aku, pasti nanti banyak orang yang akan memilihku. Dan aku tidak ingin, jadi aku mau kamu ya. "
Lim mengerutkan dahinya, matanya melihat kearah Anna. " Lihat nanti ya " ragu Lim sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
" Oke selanjutnya, mencari pasangan. Peraturannya tulis karakter atau sifat dari pasanganmu dibagian nomer punggung mereka, kedua pasangan harus menulis sifat dari pasangannya. Tidak boleh hanya satu yang menulis, kalau hanya satu akan dikatakan gagal dan kalau kedua tersebut sudah menuliskan sifat dari masing-masing mereka akan sah menjadi pasangan kamu. Dan setelah itu, kalian akan melakukan game pasangan. Ingat pasangan yang kalian pilih adalah siapa cepat dia dapat. " jelas Ketua Osis.
" Oke, waktunya 10 menit. Game start. "
Hinata ingin mendekati Lim, tapi Lim terus memundurkan langkah kakinya. Dan belum dalam hitungan 1 menit, para siswa sudah mengerumuni Hinata.
Sehingga Hinata tidak bisa berjalan mendekati Lim, sedangkan Lim hanya berlari tidak ingin menjadi pasangan Hinata.
Namun saat Lim berlari, para siswi sudah berdatangan kearah Lim.
Lim berlari mencari tempat sembunyi agar tidak ada yang mengetahuinya.
Ia bersembunyi di dalam lemari Lab Sains.
Para siswi terus mencarinya, sampai akhirnya mereka frustasi karena tidak menemukan Lim.
" Oke waktu tinggal 2 menit lagi. " ucap Ketua Osis.
Lim keluar dari lemari, ia tetap berjalan sembunyi-sembunyi.
" Hei, aku ingin Anna. Dia cantik. " Kata seorang lelaki yang terdengar oleh Lim.
" Aku! "
" Aku ingin Anna Yuo! "
" Hei jangan mengambil milikku! "
Kedua lelaki tersebut bertengkar, Lim terdiam. Ia tidak ingin Anna diambil oleh siapapun, perasaan cemburunya sudah menjalar keseluruh tubuhnya.
Lim takut bahwa Anna akan diambil oleh orang lain selain dirinya.
Lim berlari ke kelas Anna, dan terlihat Anna yang sedang duduk dengan bertopang dagu sambil melihat kearah lapangan.
Sedangkan nomor punggungnya, ia taruh di atas mejanya. Lim berpikir sejenak, kalau misalnya ia tiba-tiba menulis di nomor punggung Anna dan Anna tidak menyukainya.
Anna pasti tidak akan balik untuk menuliskan sifat Lim di nomor punggung Lim dan mereka tidak akan menjadi pasangan.
Lim yang mempunyai ide memutuskan untuk menulis sifatnya sendiri di nomor punggungnya, lalu menaruh nomor punggung tersebut di depan dada.
Yang bertulisan " Kapten tampan. "
Setelah menulis untuk dirinya sendiri, Lim mengambil nomor punggung Anna secara diam-diam dan menulis " Reserved "
" Siap, kamu milikku! " kata Lim membuat Anna terkejut dan beranjak dari kursinya.
" Kenapa kamu disini? " tanya Anna tidak mengerti.
" Kamu terlalu fokus melihat kearah lapangan jadi tidak tahu bahwa nomor punggungmu sudah kutulis dengan ini. " ujar Lim memberi nomor punggung Anna dengan tulisan " Reserved "
" Kamu sudah menjadi pasanganku. "
" Tapi aku belum menuliskan apapun ke kamu. "
Lim menunjuk kearah nomor punggungnya. Anna melihat tulisan dinomor punggung Lim yang bertulis " Kapten tampan. "
" Anggap saja ini kamu yang menulis " kata Lim dengan licik.
" Tidak, itu curang. " tolak Anna.
" Aku tidak ingin menjadi pasangan kamu. " lanjut Anna.
" Ini hanya permainan. "
" Tidak. "
" Sudah jangan banyak protes, kita ke bawah dan melakukan game pasangan. " ucap Lim seraya menarik lengan Anna untuk turun.
Tapi Anna menahan Anna tidak ingin kebawah. " Hei, kita harus melakukan game! " seru Lim.
" Kamu aja, tidak usah bawa-bawa aku! "
" Ini game pasangan, bagaimana bisa? "
" Kalau begitu cari dengan perempuan lain saja. "
" Tidak, disini sudah tertulis kamu pasangan aku. Aku pasangan kamu. "
" Kamu yang menulis sendiri aku tidak! "
" Kalau tidak seperti ini kamu tidak akan menjadi pasanganku. "
" Aku memang tidak ingin. "
Treng-
" Waktu sudah habis, silahkan untuk berkumpul dilapangan dan bermain game bersama pasangan kalian " jelas Ketua Osis.
" Kamu dengar itu? " tanya Lim.
" Aku tidak perduli. "
" Sekali kamu bisa tidak dengarkan aku? "
" Kamu tahu kamu tampan, kenapa harus berpasangan denganku? Masih banyak perempuan yang berbaris untuk kamu! "
Lim menundukkan pandangannya, melepaskan tangannya dari lengan Anna.
" Banyak, tadi juga aku kewalahan karena mereka. "
" Terus? Tinggal pilih saja bukan? "
Lim mengangkat kepalanya keatas menatap mata Anna. Ia berjalan mendekati Anna, Anna hanya memalingkan wajahnya dan memundurkan langkah kakinya takut Lim akan melakukan sesuatu kepadanya.
Sampai batas jendela, Anna sudah tidak bisa apa-apa selain diam.
Lim mendekatkan wajahnya kearah wajah Anna, lalu mendekati bibir Anna secara perlahan.
" Tapi aku inginnya kamu, aku ingin kamu yang menjadi pasanganku. Apa itu tidak boleh? " tanya Lim tepat di depan bibir Anna.