Love Captain Handsome

Love Captain Handsome
Episode spesial 29



" Apa maksudmu kap? " tanya Sawamura dengan perasan gelisah.


" Perempuan yang dahulu kamu kenal, bukannya Anna? " Tanya Lim menduga-duga.


Sawamura terdiam, dan beberapa saat kemudian dia tertawa.


" Tidak kap, tidak mungkin. " jawab Sawamura.


" Bagus kalau begitu, karena kalau perempuan yang dahulu kamu kenal adalah Anna. Berarti kamu adalah sainganku. " ujar Lim seraya pergi meninggalkan Sawamura.


Lim tahu ada rahasia yang tidak bisa dijelaskan oleh Sawamura, maka dari itu Lim tidak ingin bertanya lebih jauh.


Mungkin saja itu akan membuat Sawamura terluka atau Lim yang akan terluka.


Perasaan Lim sudah tidak nyaman karena mendengar penjelasan Sawamura, nada ucapan Sawamura pun lebih rendah daripada biasanya.


9:00 p.m


Lim yang tidak bisa tertidur karena pikiran antara Sawamura dan Anna.


Ia ingin menyegarkan otaknya kembali dengan berjogging di malam hari.


Lim menggunakan headphonenya dan berjogging keliling perumahannya.


Sekitar 1 jam. Lim berjogging tidak ada hentinya, akhirnya ia berhenti saat jam tangannya sudah memberi peringatan tentang detak jantung Lim.


" Kesal, kesal "


Terdengar suara keluhan seorang perempuan dari balik tiang listrik.


" Kenapa? " tanya Lim mendekati perempuan tersebut.


Dan tanpa Lim duga, dia adalah Anna.


" Anna! " panggil Lim kaget.


Mata Anna melebar terkejut. " Kamu. " ucap Lim dengan nada rendah.


" Anna ini sudah malam, kenapa kamu disini? " tanya Lim.


" Aku tidak suka dirumah. " jawab Anna.


" Kenapa? "


" Ada Ayahku dan dia selalu membahas tentang pertunangan. "


" Katakan saja kamu tidak ingin. "


" Dia memaksa. "


" Apa harus aku yang bilang kepadanya? "


" Tidak, kamu tidak akan bisa. "


" Kalau aku bisa? Kamu mau berikan apa? "


Anna berpikir sejenak, tidak mungkin ada yang bisa berkata kepada Ayahnya.


" Cium pipi boleh tidak? " goda Lim.


" Tidak " tolak keras Anna. " Sudahlah, lagipula kamu tidak akan bisa melawan Ayahku. " lanjut Anna.


Lim menghela nafas panjang, dan duduk disamping Anna.


" Kamu kenapa keluar malam-malam? " tanya Anna.


" Berolahraga. " jawab Lim.


" Maniak. " ledek Anna membuat Lim tertawa kecil.


" Anna, aku ingin bertanya sesuatu boleh? "


" Hmm. "


" Apa kamu kenal Sawamura? "


Mendengar nama Sawamura, hati Anna langsung terasa sangat sakit.


" Sawamura apa? Sepertinya aku tidak tahu. " kata Anna berbohong.


" Sawamu... " belum saja Lim menyelesaikan pembicaraannya. Anna sudah memotong pembicaraannya tersebut " Sudah aku ingin pulang, sepertinya Ayahku juga sudah pergi. "


Anna melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Lim dengan perasaan luka dihatinya.


Anna lupa bahwa dulu ada seseorang yang bisa membuatnya tersenyum lebar, dan dia adalah Sawamura.


Tapi meskipun ia membuat Anna tersenyum lebar, pada akhirnya ia juga membuat senyum Anna menghilang.


Lim mengepalkan tangannya menahan kesal, Anna melarikan diri dari pembicaraan. Dan Sawamura merahasiakan seluruh perkataannya.


" Kalian berdua benar-benar mirip. " gumam Lim.


Dalam perjalanan menuju pulang, Anna berpikir sejenak tentang Lim yang mengetahui tentang Sawamura dan Kazuya.


" Kenapa dia tahu tentang Sawamura? " tanya Anna tidak mengerti.


" Anna! " panggil Ryuzaki.


" Kamu kemana aja!? " seru Ryuzaki mendekati Anna.


" Maaf, kamu tahu sendiri kalau aku tidak menyukai Ayahku. " ucap Anna dengan pandangan tertunduk.


" Tapi tidak sopan bukan? "


" Apa maksud kamu? "


" Tidak sopan tiba-tiba keluar saat ada orangtua kamu. "


" Kamu tahu kan aku tidak menyukai Ayahku? "


" Tetap saja dia Ayahmu! "


Mata Anna berkaca-kaca, sifat Ryuzaki benar-benar sudah berubah.


" Kamu tidak tahu apapun tentangku jadi jangan kamu berlaga seakan-akan kamu tahu segalanya tentang aku!! Dan satu lagi berhenti mengurusi hidupku! " Kesal Anna seraya meninggalkan Ryuzaki.


••


Pagi harinya.


Lim terbangun lebih awal daripada biasanya karena ingin berjalan bersama memasuki gedung sekolah.


Ia membersihkan tubuhnya, memakai baju sekolahnya, sarapan dan pergi keluar rumahnya dengan tas yang ia gendong.


Saat Lim berjalan keluar, tidak lama kemudian Anna keluar dari rumahnya tanpa mengetahui bahwa Lim berada di belakangnya.


Setiap langkah Anna diikuti oleh Lim. Sampai tiba-tiba ada sebuah angin berhembus kencang membuat rok Anna terangkat.


Wajah Lim memerah karena melihat Anna yang sama sekali tidak menggunakan celana pedek dan hanya menggunakan celana dalamnya saja.


Mata Lim mengelilingi sekitar, melihat apakah ada orang yang melihat lagi atau tidak.


" Anna! " panggil Lim.


Anna membalikkan badannya " Kamu? "


" Anna, lebih baik kamu pulang kembali. " kata Lim.


" Apa maksud kamu? "


Lim yang ragu untuk berbicara dan takut bahwa Anna akan berkata bahwa dirinya mesum lagi.


" Apa...kaaa.muuu..tii.daaak..memaa.kaaaii..celanaa..pendeekkk? " tanya Lim ragu.


Anna memiringkan kepalanya karena binggung dengan ucapan Lim.


Lim menunjuk kearah rok Anna dengan telunjuk jarinya.


Anna baru mengerti, dan tidak lama kemudian ada sebuah angin yang berhembus kembali.


Membuat rok Anna terangkat, Anna melihat bahwa ia lupa menggunakan celana dua atau celana pendek.


" Hei apa kamu melihatnya! " seru Anna malu dengan menutup roknya dengan kedua tangannya.



Wajah Lim memerah karena dari awal ia memang sudah melihatnya.


Lim melemparkan jaketnya diwajah Anna " Pakai itu, dan cepat pulang kerumah! " perintah Lim seraya berjalan menuju Sekolah tanpa Anna.


" Dan jangan biarkan celana dalam warna pinkmu terlihat oleh lelaki lain. Atau aku bunuh kamu. " Ancam Lim.


" JADI KAMU MELIHATNYA YA! HEI, JANGAN PERGI!! " bentak Anna.


Lim hanya berjalan menuju Sekolah tanpa memperdulikan ucapan Anna. Sedangkan Anna berlari kembali kerumahnya untuk memakai celana dua atau celana pendek.


Di tengah perjalanan menuju Sekolah, Lim melihat Shima yang sedang menyadarkan tubuhnya disebuah dinding rumah seseorang.


" Ohayo, Lim. " sapa Shima.


" Sedang apa kamu disini? " tanya Lim.


" Menunggu perempuanmu. "


" Apa yang ingin kamu lakukan? "


" Aku ingin meminta maaf kepadanya karena membuat dia ketakutan. "


" Ketakutan? "


" Iya kemarin aku membuat dia berteriak sangat kencang. "


Lim mengepalkan tangannya, jadi yang membuat Anna berteriak adalah dia.


" Hei, jangan berurusan dengan dia. " ancam Lim sambil berjalan mendekati Shima.


" Karena dia perempuan kamu, jadi aku ingin semakin berurusan dengan dia. "


" SHIMA! "


" Lim, kakakku dulu tidak pernah mendapat perilaku yang sangat istimewa dari kamu. Tapi kenapa dia dapat? "


" Karena kakakmu adalah wanita rendahan, sedangkan dia berbeda. "


Mendengar perkataan Lim yang sangat sadis membuat Shima mengangkat kerah baju Lim sambil berkata dengan kesal " Jangan pernah berbicara seperti itu! "


Lim menyeringai kesal " Karena kakakmu memang seperti itu. "


" Lim " Panggil Akira dari belakang.


Shima melepaskan tangannya dari kerah baju Lim.


Lim merapihkan kembali bajunya sambil menjawab panggilan dari Akira. " Akira. "


Akira mendekati Lim dan melihat orang yang ada dihadapan Lim adalah Shima, adik dari Senya.


" Shima! " kaget Akira.


" Kak Akira. " kata Shima.


" Sedang apa kamu disini? " tanya Akira kebinggungan.


" Hanya jalan-jalan saja. " jawab Shima.


Akira melihat jarak Lim antara Shima yang sedikit menjauh.


" Kalian bertengkar? " tanya Akira.


Lim dan Shima terdiam, sama sekali tidak ada yang menjawab.


" Itu bukan urusanmu Kak. " jawab Shima.


" Itu memang bukan urusanku, jadi Shima cepat pergi dari sini! " perintah Akira.


Akira tahu bahwa Shima pasti mengancam Lim sehingga Lim tidak bisa berkata apapun kepada Akira.


Karena bila Lim berkata, Akira akan terluka kembali karena Lim.


Shima berjalan pergi meninggalkan Akira dan Lim sambil berkata " Aku pergi. "


Setelah Shima sudah benar-benar pergi, Akira mendekati Lim. " Tidak usah dipikirkan! "


Lim mengigit bawah bibirnya " Akira, kamu kenapa kesini? "


" Aku ingin kamu mengantarku kepada Coachmu, karena aku ingin SMA Okawa dan SMA Seido berlatih bersama lagi. "


" Kamu melihat pertandingan kemarin ya? "


" Iya, betul! "


" Coachku akan datang saat sore, lebih baik kamu bertemu saat sore nanti. "


" Benarkah? Wah aku datang terlalu pagi. "


" Iya, sekarang lebih baik kamu sekolah terlebih dahulu. " kata Lim seraya meninggalkan Akira, perasaan sedang diambang kekesalan karena Shima.


" Hati-hati dijalan Akira. " Teriak Lim.


" Kamu dan Shima tidak berubah. " gumam Akira seraya membalikkan badannya, namun saat ia membalikkan badannya.


Tidak sengaja Anna menabrak tubuh Akira, membuat Anna terjatuh dan mengusap kepalanya yang sakit.


" Kamu tidak apa-apa? " tanya Akira khawatir.


Anna terdiam, ia hanya kembali berdiri dan berlari menuju gedung sekolah.


Seperti itulah Anna, tidak akan mempercayai siapapun bila seseorang itu belum ia kenali.


Tapi, sedikit demi sedikit Anna mulai terbuka dengan Lim.


Anna juga lebih banyak berbicara saat berada dekat Lim, perasaan nyaman yang tidak bisa Anna jelaskan.


" Kamu! " panggil Anna kepada Lim.


Lim memberhentikan langkah kakinya seraya menolehkan kepalanya kearah suara Anna " Apa! " kesal Lim.


Bibir Anna mengerut mendengar Lim yang marah tiba-tiba kepadanya.


" Ah Anna, maaf maaf. " ucap Lim merasa bersalah.


Akira dari jauh yang melihat kedekatan antara Lim dan Anna hanya tersenyum kecil.


" Tatapan kamu berbeda kepada dia, apa dia istimewa buat kamu Lim? " pikir Akira.


" Anna maafkan aku. " Mohon Lim, Anna hanya mengacuhkan Lim begitu saja karena Anna memanggil namanya baik-baik sedangkan Lim membentaknya.


Sehingga membuat Anna sedikit kesal dan mengabaikan Lim.


10:00 a.m


Kelas 1-2


Pelajaran Matematika.


Lim sama sekali tidak mengerti apa yang diajarkan oleh Guru Matematika, sehingga ia hanya membuat sebuah gambar wajah Anna di kertas.


Sampai akhirnya Guru Matematika yang melihat Lim tidak memperhatikan kearahnya langsung mendekati Lim.


" Lim! " tegasnya. " Sedang apa kamu? " lanjutnya.


" Sedang apa? " tanya Guru Matematika.


" Tidak. " jawab Lim.


" Terus kenapa tidak memperhatikan saya? "


" Saya sedang mencari jawaban dari soal yang Ibu berikan tadi. "


" Lalu, sudah dapat? "


Okumura menahan tawanya, ia tahu bahwa sebenarnya Lim tidak sedang mencari jawaban dari Guru Matematika karena Lim tidak mengerti apapaun dari soal yang diberikan oleh Guru.


" Sudah Bu. " jawab Lim dengan senyum paksa.


" Berapa? "


" 87 " duga Lim.


Guru Matematika terkejut " Bagaimana kamu tahu? "


Lim tersenyum bahagia karena dugaannya benar " Saya tahu karena tadi saya mencari-cari jawaban. "


" Kamu hebat, saya akui! "


Seluruh siswa-siswi kelas 1-2 langsung terdiam melihat Lim yang tahu jawaban dari soal tersulit yang dibuat oleh Guru Matematika.


" Tepuk tangan semuanya! " perintah Guru Matematika yang membuat seluruh siswa-siswi bertepuk tangan.


Okumura membalikkan tubuhnya melihat kearah Lim " Kap, kamu hanya menduga-duga saja kan? " bisiknya.


" Hebatkan " Sombong Lim.


" Tch " Desis Okumura.


" Lagipula kamu pasti gambar Anna kan? "


" Benar sekali."


" Maniak Anna. "


Guru Matematika menepuk kedua tangannya agar semuanya kembali ke dalam pelajaran lagi.


Bel berbunyi istirahat.


Lim menaruh kertas wajah Anna ke dalam saku celananya, dan ia pergi bersama dengan Okumura ke Kantin.


Namun tidak sengaja kertas tersebut terjatuh dari saku Lim tanpa dia sadari.


Dan Anna berada di belakang Lim yang sedang berjalan menuju Perpustakaan.


Anna mengambil kertas tersebut dari lantai, Anna ingin mengembalikannya kepada Lim.


Tapi Lim sudah terlalu jauh membuat Anna kesulitan untuk memberikan kertasnya.


Setelah Lim selesai makan di Kantin, Lim merogoh saku celananya mencari kertas yang ia taruh di dalam saku celananya.


Namun sama sekali tidak ada, Lim panik. Ia mencari kesana-kemari tetap tidak ada.


" Cari apa kamu? " tanya Okumura penasaran.


" Kertas gambar. " jawab Lim resah sambil berjalan mencari kertas tersebut keseluruh penujuru gedung sekolah.


" Gambar Anna? "


Lim menganggukkan kepalanya.


Bel berbunyi masuk kelas.


" Lebih baik masuk terlebih dahulu, pulang sekolah baru mencari lagi. " saran Okumura.


" Tidak bisa! " Tolak Lim.


" Kap! "


" Sudah kamu masuk duluan, aku nanti saja. Bilang aku sedang di UKS. "


" Kalau begitu aku masuk duluan kap. "


Lebih dari 3 jam Lim terus mencari, bahkan ia tidak masuk kelas Sains dan Bahasa Inggris karena terus mencari kertasnya.


Bagi Lim kertas itu sangat berharga, karena terdapat wajah Anna yang ia gambar dengan sepenuh hatinya.


Sampai seluruh siswa-siswi pulang pun tetap Lim terus mencari kertas tersebut.


" Kamu sedang mencari apa? " tanya Anna mendekati Lim yang berlutut di lantai mencari kertas.


Lim mengangkat wajahnya keatas " Anna. "


" Kamu sedang mencari apa? "


Lim melihat tali sepatu Anna yang terbuka dan ia dengan kemauannya tersendiri mengikat tali sepatu Anna dengan rapih.


" Kalau kamu jatuh karena tali sepatu ini bagaimana? Aku yang susah karena khawatir sama kamu! " seru Lim.


" Tapi aku tidak minta kamu untuk khawatir kan? "


" Tetap saja. " jawab Lim seraya berdiri berhadapan dengan Anna.


Anna mengeluarkan kertas yang tadi ia temukan dan bertanya kepada Lim " Kamu mencari ini? "


Mata Lim melebar terkejut kenapa kertas tersebut berada ditangan Anna.


" Itu kertasku, apa kamu melihat isi dari kertas itu? " tanya Lim takut ketahuan bahwa ia menggambar wajah Anna.


" Hmm.. "


" Kamu lihat atau tidak? "


" Hmm. "


" Jangan menyebalkan seperti itu! "


" Aku menyebalkan? Bukannya berterimakasih karena aku sudah menemukannya! "


" Aku bertanya apa kamu melihat atau tidak. "


" Memang kenapa kalau aku melihat? "


" Tidak boleh. "


Anna kembali menyembunyikan kertas tersebut di belakang punggungnya.


" Aku sudah menemukannya, jadi aku harus melihat isinya. Takut saja ini isinya tentang sesuatu yang mesum. "


" Tidak, kembalikan " paksa Lim ingin mengambil kertasnya tapi tidak bisa karena Anna selalu menyembunyikan sehingga Lim tidak dapat mengambilnya dengan mudah.


Lim berlari mengejar Anna, dan tidak sengaja kaki Anna tersandung oleh kaki kirinya saat berlari.


" Kamu baik-baik aja? " Lim khawatir membantu Anna berdiri.


" Aku baik-baik saja " kata Anna seraya berdiri normal kembali.


" Kertasnya. " Pinta Lim.


" Tidak. "


" Aku sudah membantumu! "


Anna tidak perduli dengan pendapat Lim, ia langsung membuka kertas tersebut dan melihat isi dari kertasnya.


Terlihat sebuah gambar wajah seseorang, tapi Anna tidak mengenali wajah orang ini.


Gambar dengan kepala yang tidak rata, rambut acak-acakan dan mata yang berbeda sebelah.


" Kamu menggambar siapa? Jelek sekali. " ledek Anna.


Lim yang malu langsung mengambil kertas tersebut dari tangan Anna dan memasukkan kertasnya ke dalam saku celana.


" Diam " kesal Lim.


" Kamu menggambar sejelek itu? Kamu anak TK ya? "


" Diamlah. "


" Aku sudah melihat dan mengembalikan kepada kamu, jadi aku ingin pulang. " ucap Anna seraya berjalan meninggalkan Lim.


" Aku antar kamu. " Pinta Lim.


Anna memberhentikan langkah kakinya " Tidak perlu. " tolak Anna.


" Perlu. Aku takut kamu kenapa-kenapa. "


" Kamu sedikit berlebihan. "


" Aku antar kamu. "


" Tidak. "


" Anna! "


" Aku tidak ingin!! "


" Anna. " panggil Hinata mendekati Anna, dengan cepat Lim berjalan ke depan Anna.


Ia tidak membiarkan Hinata mendekati Anna.


" Hei, aku ingin berbicara dengan dia. " sinis Hinata.


" Apa yang kamu ingin bicarakan? " tanya Lim.


" Apa kamu harus tahu segalanya? Menyebalkan. "


" Sudah katakan, aku tidak ingin kamu memperlakukan Anna seperti kemarin. "


" Memperlakukan Anna seperti kemarin? "


Lim menyeringai kesal mendekati Hinata " Taman Belakang Sekolah, Itu kamu kan? "


Hinata terdiam, ia merapatkan bibirnya. Perasaan kesalnya masih tertanam karena pertemuannya dengan Sawamura.


" Anna, sepertinya ada yang menganggu pembicaraan kita. Apa lebih baik kita berbicara besok? " ajak Hinata.


Anna menundukkan pandangannya, ia takut dengan tatapan Hinata. Apalagi perkataan Hinata waktu itu yang membuat Anna merasa takut.


" Lihat besok. " jawab Anna takut.


Lim memegang lengan Anna dari depan agar Anna tidak takut kepada Hinata.


Genggaman Lim seakan-akan berkata kepada Anna bahwa Lim akan menjaga Anna.


Tapi Anna tidak bisa berpikir seperti itu. Itu akan membuatnya ketergantungan dengan Lim.


Anna melepaskan tangan Lim dari lengannya perlahan.


Hinata mendesis kesal " Kalau begitu, aku permisi. " ucap Hinata seraya berjalan meninggalkan Lim dan Anna.


" Terimakasih. " Kata Anna lembut.


" Sudahlah tidak apa-apa. "


Dret-dret-dret


Sebuah pesan masuk dari handphone Lim.


Lim segera membaca pesan dari Okumura yang menyuruhnya cepat-cepat untuk ke Lapangan karena Akira sudah datang untuk menemuinya.


" Anna, maafkan aku. Aku tidak bisa mengantarmu, aku harus kembali ke lapangan. " ucap Lim terburu-buru sambil berlari menuju lapangan.


Anna mendesah kesal " Siapa yang mau diantar sama kamu. " gumamnya.


Dengan nafas terengah-engah Lim sampai di depan lapangan basket, ia menuruni tiga tangga untuk sampai di lapangan basket.


" Aku datang. " ujar Lim memasuki lapangan basket.


Tidak ada satupun anggota yang datang, hanya Akira, Okumura, Coach dan Lim.


" Kemana yang lain? " tanya Lim.


" Mereka tidak bisa berlatih hari ini. " jawab Coach.


" Karena mereka besok harus sparing dengan SMA Okawa. " kata Coach.


" Coach, kamu menyetujuinya? Padahal harusnya kita tidak melakukan sparing kepada SMA Okawa. " ucap Lim dengan tangan yang terkepal.


" Kamu takut? " sinis Coach.


Lim mengerutkan dahinya " Tidak, tapi bagaimana kalau kakak kelas melihat situasi seperti ini? Mereka saja bahkan belum bisa melupakan Inter-High kemarin, terutama dengan Hirahata-senpai. "


Coach menghela nafas panjang, ia juga salah karena terlalu mengambil keputusan secara cepat.


" Kalau begitu maaf, SMA Okawa tidak bisa berlatih bersama SMA Seido " Tolak Coach kepada Akira.


" Tidak apa-apa, kalau kalian sudah bisa berlatih bersama lagi beritahu kami. " pinta Akira sambil berjalan keluar lapangan.


Coach mendekati Lim perlahan " Kamu juga belum bisa melupakan pertandingan itu kan? " bisik Coach.


" Bagaimana saya bisa melupakannya, saya gagal three-points. "


" Sudahlah, perbaiki dirimu. " kata Coach menepuk pundak Lim seraya melangkahkan kakinya keluar lapangan.


" Katakan kepada seluruh anggota, besok kita akan berlatih pagi pukul 5 sebelum sekolah dan pulang sekolah akan kembali berlatih. " perintah Coach kepada Lim.


" Iya coach. "


3 jam kemudian.


" HEI KAP BERHENTI INI SUDAH MALAM, BESOK KITA JUGA AKAN LATIHAN BERAT. JAGA TUBUHMU!! " seru Okumura yang melihat Lim tidak berhenti-hentinya melakukan three-points.


Sudah sekitar 1000 bola yang ia lemparkan ke dalam ring.


Lim tidak mendengar ucapan Okumura, ingatan Inter-High masih sangat lekat di dalam pikiran Lim.


Seusaha apapun Lim mencoba untuk membiasakan diri dengan kegagalan tetap saja tidak bisa.


Meskipun Lim sudah bangkit dari kegagalan, tapi untuk melupakan kesalahan fatal yang pernah ia lakukan tidak akan pernah bisa dilupakan.


" Kap berhenti! " Bentak Okumura.


Lim sama sekali tidak berhenti, sampai akhirnya Lim berhenti melemparkan bola ke dalam ring karena mendengar suara teriakan perempuan yang sangat familiar ditelinga Lim.


" Okumura, kamu dengar teriakan itu? " tanya Lim.


" Aku dengar. " jawabnya.


Teriakan yang sama dengan teriakan saat Sawamura tiba-tiba keluar dari lapangan dan berarti suara teriakan itu adalah Anna.


Lim menjatuhkan bola basketnya dan berlari mencari suara tersebut. Ia membuka setiap kelas melihat apakah ada Anna atau tidak.


Lim terus mencari sampai akhirnya ia melihat seorang lelaki yang berada di kelas 1-1.


Lelaki tersebut sedang berjalan mendekati sebuah lemari barang bersih-bersih.


Krek-


Suara lemari barang terbuka, Lim melihat dari kejauhan.


Anna yang sedang memeluk lututnya dengan wajah ketakutan.