
Mata Anna dan Lim saling bertemu, mereka bertatap pandangan lama yang membuat Lim berpura-pura batuk.
" Ehem. " Katanya membuat keduanya memalingkan pandangannya. " Tidak menjawab sapa aku? " Lim tanya dengan kebingungan.
" Ah iya. " Anna lupa bahwa ia ingin memberi sebuah soal-soal tentang bahasa Inggris kepada Lim. Anna mengeluarkan kertas yang ia tulis tadi dari dalam tasnya. " Ini untukmu. " Ujar Anna sambil memberikan kertas kepada Lim.
Ini adalah kertas yang tadi ia lihat saat Anna masih tertidur di dalam Perpustakaan. Senyuman melengkung dibibir Lim. " Terimakasih. "
Suara langkah kaki terdengar dari arah belakang Lim, mata Anna melebar melihat seorang lelaki yang berlari menghampiri kearahnya.
Lampu jalanan yang sudah gelap membuat penglihatan Anna tidak jelas, Lim yang melirik kearah Anna yang sedang menatap lekat kearah belakangnya. Dengan mengikuti Anna, ia membalikkan tubuhnya melihat seseorang yang sedang dilihat oleh Anna.
" Gi? " Kaget Anna. " Hosh...Hoshh. " Gi dengan nafas tidak beraturan.
" Kamu......kemana saja, Ibumu.... mencarimu. " Ucap Gi kesulitan berbicara karena nafasnya yang belum kembali normal.
Tangan Lim terkepal melihat lelaki yang berada di depannya, perasaannya tidak bisa ia tahan.
Gi melirik kearah Lim. " Kamu pergi dengan dia? "
" Tidak! Aku habis belajar di Perpustakaan, dan tidak sengaja bertemu dengan dia. " Tukas Anna.
" Kalau begitu, mari pergi. " Ajak Gi dengan sebuah gerakan kepala meminta Anna untuk segera pergi. Anna menundukkan kepalanya sopan kearah Lim dan mulai berjalan bersamaan dengan Gi.
Sedangkan Lim tidak bisa apa-apa, lukanya masih terasa sakit sejak perkataan Anna. Meskipun sudah lama, tapi saat melihat Anna bersama dengan Gi hatinya terus menolak mengetahui kenyataan itu. Berbeda dengan logikanya yang memintanya untuk segera menjauhi agar tidak terluka kembali.
Perasaan yang berada di tengah-tengah membuat Lim hampir merasa putus asa dengan perasaannya.
Untuk pertama kalinya, bagi Lim luka yang paling sakit yang diterimanya adalah ini. Perasaan tak terbalas, seusaha apapun ia tidak akan pernah mendapatkan hati Anna.
Seorang lelaki dengan perasaan bodoh, dia adalah Lim.
Dan kini, sebuah tekad mulai membentuk dalam tubuh Lim. Tekad bahwa ia akan mengikuti logikanya, dibandingkan hatinya.
Logikanya yang meminta untuk menjauhi Anna dan Lim akan mencoba itu.
••
Keesokan harinya.
Hari sebelum ujian mid semester, Lim keluar dari rumahnya dengan pakaian rapih.
Di hari Minggu, ia harus pergi ke dokter untuk memeriksa kembali perutnya. Apakah sudah baikan atau belum.
Ia berjalan menuju rumah sakit tapi matanya terhenti saat melihat Anna yang sedang duduk disebuah ayunan dengan pandangan kosong.
Ketika, Lim ingin mencoba mendekatinya tetapi ia teringat kembali oleh tekadnya.
Lim mengurungkan niatnya untuk tidak mendekati Anna dan kembali berjalan, saat Lim berjalan kembali Anna menoleh kearah Lim.
" Aku kira kamu bakal kesini. " Gumam Anna mengharapkan Lim yang mendekatinya.
Rumah Sakit Tokyo.
Banyak pasien yang sedang menunggu pemeriksaan oleh dokter, dan ada juga dokter, suster serta banyak profesi lainnya.
Bau karbol juga tercium oleh hidung Lim yang baru memasuki rumah sakit tersebut.
Karena ia sudah ada janji oleh dokter, jadi Lim tidak perlu untuk menunggu lebih lama lagi. Ia hanya tinggal memasuki ruangan dokter tersebut.
-Tok,tok,tok. Ketukan pintu Lim.
" Masuk! " Sahut Dokter dari dalam ruangan. Lim membuka pintu perlahan dan terlihat seorang dokter paruh baya yang sudah menunggu Lim.
" Selamat siang. " Sapa Lim sopan seraya duduk di sebuah kursi depan meja dokter.
" Apa kabar kamu Lim? " Tanyanya. " Baik. " Jawab Lim singkat.
" Perutmu ya? " Duga Dokter. " Saya kesini untuk apa lagi kalau bukan karena perut saya. " Ucap Lim.
" Hahaha. " Tawa dokter itu.
" Tapi kali ini tolong biarkan saya bermain basket lagi ya, tidak perlu menunggu 1 atau 2 bulan. " Mohon Lim.
" Itu bagaimana pemeriksaan saja. "
Dokter mulai memeriksa kembali jaitan di dalam perut Lim, jaitannya mulai mengering. " Angkat tangan kamu. " Perintah dokter yang membuat Lim mengangkat tangannya.
Rasa sakit sudah tidak terasa oleh Lim, bahkan ia tidak merasakan apa-apa.
Tetapi dengan sebuah syarat bahwa selama 1 Minggu ini, ia tidak boleh kelelahan atau membawa suatu barang berat yang dapat membuat jaitan Lim terbuka kembali.
Lim keluar dari ruangan tersebut dengan perasaan bungah, akhirnya ia bisa kembali bermain basket.
Tubuhnya sudah sangat rindu dengan bola dan permainan, ambisinya juga mulai mengurang saat ia tidak bisa bermain basket.
Cita-citanya mulai terasa jauh karena lukanya, perasaan putus asanya juga sudah menghilang karena ia dapat bermain kembali.
Langkah kaki Lim terhenti melihat lelaki familiar di matanya, lelaki tinggi yang merupakan kekasih Anna.
" Sedang apa disini? " Lim kebinggungan karena melihat Gi yang memakai sebuah baju perawat di rumah sakit ini.
Gi yang sedang menolong seorang lansia dan anak kecil yang terluka membuat pandangan Lim tidak bisa berpaling.
Lalu, saat seorang suster melewatinya dengan cepat Lim bertanya. " Tunggu maaf, yang disana itu bukankah seorang pelajar? " Tunjuk Lim kearah Gi.
" Oh dia, dia pelajar magang yang sudah direkomendasikan oleh dokter Rian. Lagipula, keahliannya sangat bagus. " Jawab Suster yang kemudian melangkahkan kakinya kembali.
" Wah hebat. " Kagum Lim. " Eh apaan sih. " Gumam Lim menggeleng-gelengkan kepalanya tidak boleh kagum kepadanya.
Lim menelan ludah, ia merasa sangat jauh dengan Gi.
" Lupakan, lupakan! " Keluh Lim dengan nada tinggi.
Seluruh orang-orang memperhatikan kearah Lim, Lim yang merasa sangat canggung dan malu hanya menundukkan kepalanya sopan seraya berjalan keluar rumah sakit.
Namun, tidak sengaja bahunya tertabrak oleh seorang perempuan yang membuatnya terjatuh dan meringis kesakitan.
" Maaf. " Ucap Lim merasa bersalah. Ia membuka matanya yang tertutup karena tabrakan itu.
Seorang perempuan yang ia tabrak adalah Hinata.
" Aw. " Ringis Hinata kesakitan. " Kenapa kamu ada disini? " Tanya Lim kebingungan.
Dari arah belakang Hinata, ia tidak sengaja melihat Yuki yang berdiri di balik pohon seperti sedang mengumpat.
Ketika Lim ingin mencoba memanggilnya, Yuki dengan sebuah telunjuk tangan menutup kearah bibir yang berisyarat untuk tidak memanggil kearahnya.
Lim mengerti dan menganggukkan kepalanya.
Hinata yang masih terjatuh di bawah mulai berdiri kembali. " Itu bukan urusanmu. " Sinisnya.
" Jelas itu urusanku. "
" Hah? "
" Ah maaf, aku hanya salah berbicara. "
-Cekrek
Suara foto berbunyi dari samping Lim dan Hinata, Lim serta Hinata segera menolehkan kepalanya. Seorang lelaki yang memfoto kearah mereka mulai berlari kencang agar Lim dan Hinata tidak mengetahui dirinya.
" Hei kamu diam disana! " Tegas Lim berlari mengejar lelaki tersebut.
Jarak lelaki itu dengan Lim sudah sangat jauh, Lim memberhentikan larinya. Ia tidak dapat melihat lelaki paparazi lagi karena sejumlah orang-orang yang sudah sangat ramai.
" Sial. " Keluh Lim.
Duga Lim bahwa lelaki tersebut adalah siswa dari SMA Seido, ia ingin membagikan sebuah gosip yang tidak benar kepada seluruh sekolah.
Apalagi, kemungkinan besar lelaki itu mendengar ucapan Lim yang tidak sengaja terucap keluar kepada Hinata.
Lim tidak ingin digosipkan oleh siapapun, karena hati Anna mungkin akan terluka.
Tetapi mungkin saja tidak.
Dari dulu sebenarnya, Lim selalu tidak perduli dengan siapapun. Mau dia digosipkan oleh seorang perempuan atau digosipkan apapun, Lim tidak memperdulikannya.
Namun, kali ini berbeda. Ia tidak ingin dianggap buruk oleh Anna yang memiliki banyak perempuan.
" Kenapa saat seperti ini, aku juga masih memikirkan dia? " Pikir Lim tidak mengerti dengan dirinya sendiri.
Tiba-tiba, tidak ada hujan atau panas. Seorang perempuan dari arah depan berlari kearahnya dan mulai memeluk tubuhnya dengan sangat erat.
" Bawa aku pergi. "