
" Tidak ada yang perlu dibicarakan. " Tepis Lim dengan tatapan yang membuat tubuh Anna bergetar ketakutan.
Untuk pertama kalinya, ia melihat tatapan Lim yang benar-benar dingin. Tidak seperti dahulu, tatapan yang sangat lembut membuat siapapun ingin didekatnya.
Tapi kini, tatapan Lim sudah berbeda. Begitu dingin dan tidak berperasaan.
Dan kini Anna percaya bahwa sakit hati dapat membuat sikap orang yang menyukai kita berbeda. Ia tidak mungkin menyukai kita terus-menerus yang sudah menyakitinya.
Hati orang bisa berubah-ubah seiring waktunya, namun Anna tidak ingin hati Lim berubah. Itulah keegoisannya.
Ia tidak bisa berada dekat dengan Lim atau menyukai balik Lim, tapi Anna tidak ingin hati Lim berubah. Ia masih ingin melihat Lim seperti dulu.
Anna mendesah kesal dengan perasaannya itu. " Aku pergi. " Kata Lim seraya melangkahkan kakinya. " Tunggu! " Tahan Anna tapi Lim terus berjalan tanpa mendengar panggilannya.
" KALAU BEGITU DENGAR AKU SEBENTAR! " Teriak Anna membuat langkah kaki Lim terhenti.
" Besok dan seterusnya, aku tunggu kamu di perpustakaan Seoul metropolitan jam 5. Kita akan belajar bersama, jika aku tidak mengajarimu. Wali kelasmu akan marah. " Pungkas Anna sambil membalikkan badan dan berjalan keluar gedung sekolah.
Tangan Lim hanya terkepal, ia tidak bisa menjauh dari Anna sedikit pun. Perasaannya masih terus tumbuh membesar, dan hatinya juga masih senang saat melihat Anna.
" Ah menyebalkan! " Keluh Lim menendang sebuah bola sepak yang berada di depannya.
-Kreak
Sebuah pintu basket terbuka, seluruh anggota basket yang sedang pemanasan langsung terdiam saat melihat Lim yang memasuki lapangan dengan pandangan kosong.
" Dia kenapa? " Bisik Hideyoshi kepada Okumura. Okumura mengangkat kedua bahunya tidak tahu.
Hanya dugaan Okumura bahwa Lim kembali terluka saat melihat Anna.
" HEI LIM! " Bentak Hirahata yang keluar dari tempat peralatan kebersihan.
Wajah Lim membeku saat mendengar suara Hirahata. Ia tahu apa yang akan dilakukan oleh Hirahata, Lim berjalan memundurkan langkah kakinya untuk kembali keluar lapangan.
Namun, Yuki sudah berada di belakang Lim dengan tatapan tajam. " Mau kemana? " Tanyanya sinis.
" Lim! "
" Sawamura! "
" Okumura! "
" Kuramochi! "
Hirahata memanggil nama-nama yang terkena masalah kemarin. Mereka pun berkumpul di depan Hirahata dengan kaki yang terlipat ke belakang.
" Apa yang kalian lakukan? Bodoh! " Kesal Hirahata karena diberitahu oleh pembina basket bahwa Lim, Sawamura, Lim dan Kurmaochi terkena masalah. " Bisa-bisanya bertengkar dengan SMA lain, kalian jagoan?! "
" Maaf. " Ucap nada rendah Okumura.
" Yang saya aneh adalah Sawamura, kenapa kamu ikut-ikutan juga? " Tanya Hirahata kebinggungan. " Saya hanya dipanggil oleh Okumura dan katanya untuk bermain basket. Tetapi setibanya disana, semua masalah sudah berbeda. " Jawab Sawamura.
" Heh! " Seru Okumura kepada Sawamura. " Diam kamu! " Yuki menutup mulut Okumura dengan tangannya agar tidak berbicara.
" Maafkan kami kap. " Ujar Kurmaochi yang wajahnya sudah dipenuhi luka.
" Jawab Lim! " Tegas Hirahata seperti seorang Polisi.
Seluruh anggota basket mulai memperhatikan kearah Lim, mereka juga tidak tahu alasan dari pertengkaran antara SMA Seido dengan SMA Fukuro.
Lim menelan ludah perlahan, ia bertanggung jawab terhadap perilakunya kemarin yang membuat Sawamura dan Okumura juga terluka. Begitu juga dengan club basket yang terkena imbas karena perilakunya yang egois.
" Sebelumnya saya ingin meminta maaf kepada seluruh anggota tim Seido dan seluruh kakak kelas karena sudah membuat nama baik club basket menjadi tidak baik. Saya kapten, saya harusnya bisa membawa club ini lebih baik daripada sebelumnya. Tapi, saya malah membuat malu club ini. Sekali lagi saya mohon maaf ada alasan yang tidak bisa saya beritahu, dan karena alasan kekanak-kanakan itu juga yang membuat pertengkaran antara SMA Seido dan SMA Fukuro. Mohon dimaafkan, seterusnya saya tidak akan melakukan hal seperti itu lagi. " Jelas Lim.
Okumura tahu bahwa alasan kekanak-kanakan itu adalah tentang Anna. Dari awal pertama bertemu dengan Lim, Lim tidak akan pernah melakukan hal seperti itu. Tapi, entah kenapa hari itu perasaan Lim benar-benar emosi dengan cara tatapannya pun berbeda.
Bisa diartikan bahwa tatapan itu adalah emosi Lim yang tidak bisa diungkapkan.
" Kamu berdiri Lim. " Perintah Hirahata dengan nada rendah, Lim mengangkat kedua aslinya binggung dengan sikap Hirahata. " Sudah berdiri saja. " Yuki yang menarik lengan Lim untuk berdiri.
Hirahata menepuk pundak Lim perlahan sambil berkata " Kamu harus membuat club ini lebih baik daripada sebelumnya, jangan gagal sepertiku. " Hirahata berjalan pergi bersama dengan Yuki keluar dari lapangan basket.
" Senpai. " Lim terkejut dengan ucapan frustasi dari Hirahata. Ia ingin mengejar Hirahata, tetapi lengannya terhenti oleh Hideyoshi. Hideyoshi menggelengkan kepalanya untuk tidak mengejar Hirahata.
Karena itu bisa membuat harga diri Hirahata turun.
" Oke kita mulai lagi. " Hideyoshi sambil bertepuk tangan agar para anggota club basket memulai latihannya kembali.
Setelah 3 jam berlatih. Dalam pelatihan ini Lim masih hanya berlatih meningkatkan fisiknya, dengan jogging. Lim tidak boleh kehilangan fisiknya selama ia masih pemulihan.
Lim juga hanya melemparkan bola basket ke dinding dan memantulkan bolanya ke lantai.
Ia mencoba melakukan sit up sebanyak 100 kali, tetap saja Anna masih berada di otaknya. Lim ambigu untuk datang ke perpustakaan atau tidak.
Jika ia bertemu dengan Anna sama saja mencari kesempatan lagi dan bila tidak bertemu, itu akan membuat Anna terluka karena sudah menunggu Lim.
" AHH! " Desis Lim di dalam lapangan.
Pagi, 11:00 a.m
" Maaf, ada Anna? " Tanya suara perempuan dari depan pintu kelas 1-1 kepada seorang lelaki yang berdiri di depan pintu. Lelaki itu menunjuk tangannya kearah Anna yang sedang membaca buku.
Perempuan yang menanyakan tentang Anna adalah Riko, seorang perempuan yang diselamatkan oleh Lim, Sawamura, Okumura dan Kuramochi.
" Halo Anna. " Sapanya mendekati Anna yang membaca buku. Anna mengangkat kepalanya keatas melihat wajah yang tidak ia kenalinya.
Riko mengulurkan tangannya. " Riko. "
Anna melihat tangan Riko yang terulur kearahnya, ingatan masa lalunya kembali teringat. Ketika ada seorang perempuan yang dahulu adalah teman dekatnya, mereka selalu bersama. Tetapi, entah kenapa perempuan itu tiba-tiba menjauh dari Anna dan membuat luka yang tidak bisa dilupakan olehnya.
" Anna. " Jawab Anna tanpa menjawab uluran tangan Riko. Riko menurunkan tangannya dan bertanya. " Sedang baca apa? "
" Tidak usah basa-basi, keintinya saja kamu ingin apa? " Sinis Anna.
" Apa maksudmu? " Riko berpura-pura tidak mengerti. Anna mendesis kesal dan menutup bukunya.
Selama ini Anna tidak pernah mempercayai siapapun, baginya setiap orang bermuka dua. Tidak ada yang pernah baik di dunia ini, itulah menurut Anna.
Karena lukanya dimasa lalu, pikirannya menjadi sempit dan tidak bisa membuka hatinya. Luka yang membuat Anna tidak bisa mempercayai siapapun selain, Ibunya dan lelaki itu.
Setidaknya, bagi Anna saat ini ada satu orang yang tidak pernah berbohong kepada Anna dan selalu berbuat apa adanya demi Anna bahagia.
Dia adalah Edward Lim.
Maka dari itu, Anna bisa terasa nyaman dengannya tanpa mengkhawatirkan apapun selain perasaannya yang takut terluka lagi.
" Aku ingin dekat denganmu. " Ucap Riko. " Kamu hebat bisa membuat Lim begitu sangat menyukai kamu, aku heran dan binggung memang seperti apa kamu sampai bisa mendapatkan hati Lim. Dan alasan itulah yang membuat aku ingin dekat dengan kamu. "
" Apa maksud kamu? " Anna tidak mengerti.
" Yang intinya tolong biarkan aku dekat dengan kamu. " Pinta Riko dengan nada tinggi dan memegang kedua tangan erat membuat seluruh siswa-siswi di kelas 1-1 memperhatikan kearahnya.
Mata Anna mengelilingi sekitar, melihat para siswa-siswi di kelas yang melihat kearahnya. Pandangan mereka membuat kaki Anna bergetar ketakutan, tangannya berkeringat.
Nafasnya mulai sesak kembali, Anna mencoba berlari keluar kelas dengan nafas yang tersengal-sengal.
" Anna! " Panggil Riko berlari mengikuti Anna.
Ingatan tentang masa lalunya kembali lagi saat orang-orang menghinanya dan mempermalukan Anna di depan sekolah tanpa ada rasa kasihan.
Mereka juga melemparkan Anna sebuah telur sambil mengejek " DASAR SAMPAH! "
Kenangan itu membuat dadanya semakin sesak, dan telinganya yang tertutup tidak ingin mendengar kata-kata tersebut lagi.
Anna mulai berhalusinasi lagi, bahwa banyak orang yang memperhatikan kearahnya dengan pandangan menjijikan dan sebuah hinaan. Tapi nyatanya itu adalah halusinasi Anna saja.
Para siswa-siswi hanya memperhatikan kearah Anna tanpa berbicara sebuah hinaan.
" Diam, diam! " Ucap Anan dengan nada rendah dan menutup telinganya rapat-rapat.
Setelah berlari menjauhi lobby gedung sekolah, Anna menuju ke tempat sepinya dan tenang yaitu atap sekolah.
Ia menutup rapat-rapat dan mengunci pintu tersebut agar seseorang tidak bisa masuk. Riko juga yang mengikuti Anna tidak dapat memasuki atap sekolah karena Anna sudah terlebih dahulu menutup pintu.
Dada Anna mulai sesak, ia mencoba mengatur nafasnya kembali. Keringatnya juga sudah mengucuri wajahnya Anna, kenangan buruknya tidak bisa ia lupakan sedikitpun.
Semakin Anna mencoba menghentikan ingatannya, kenangannya semakin mengerogoti otak Anna.
" Ha.... Ha.... Ha... " Nafas Anna yang masih terasa sesak, kulitnya semakin memucat. Anna mencoba mengeluarkan inhaler ( obat asma ) tangannya terlalu tegang dan membuat inhalernya terjatuh ke bawah gedung.
Air mata Anna mulai berjatuhan karena saking sesaknya dadanya.
Lalu dari pinggir, tiba-tiba seseorang memanggilnya dengan nada khawatir serta kebinggungan. " Anna? "
••
WALLPAPER ANNA