
" Anna! " teriak Sawamura melihat Anna yang tengah duduk dengan tatapan ketakutan.
Ternyata bukan dia, pikir Anna.
Dia kira Lim yang akan datang, tapi ternyata Sawamura. Namun tidak apa-apa, ia tetap bersyukur karenanya Sawamura dapat membantunya saat ini.
Tapi kesadaran Anna semakin lama semakin buram, kepalanya terlalu berat. Ia kurang minum sehingga ia dehidrasi dalam keadaan seperti ini.
Anna memejamkan matanya, terkapar di lantai dengan keadaan tidak sadarkan diri.
Sawamura ingin menghampiri Anna tapi terhenti saat Hinata berada didepan Anna dengan mata yang berkaca-kaca.
" Hinata serahkan diri kamu, polisi sudah dekat disini " perintah Sawamura.
" Bagaimana bisa? Aku gagal membunuh karenamu! Karena kamu tahu tempat aku!! Seharusnya waktu tadi aku membawamu pergi jauh saja sehingga kamu tidak dapat kesini!! " Teriak Hinata.
" Kamu tenang "
" Tenang? Hidupku hancur, kamu juga melupakan aku demi wanita ini! Bagaimana bisa!! " Keluh Hinata.
" Aku tidak melupakanmu, aku mengingatmu sangat jelas. "
" Lalu kenapa saat kita bertemu lagi kamu tidak mengenaliku? "
Sawamura terdiam, ia tidak berkata lebih jauh lagi.
" Lihat? Kamu berbohong kan?! " Lanjut Hinata dengan kesal.
" Kita omong baik-baik ya, tapi taruh dulu gunting nya di bawah "
Hinata tidak bisa lebih lama lagi, ia mendekati Anna. Lalu dengan cepat Sawamura memeluk Hinata dari belakang.
" Maaf, aku bilang maaf. Tolong jangan seperti ini! " ucap Sawamura membuat Hinata terdiam tidak bisa bergerak.
Hinata menangis menjerit, lalu melepaskan gunting itu dari tangannya perlahan.
" Ibu, Ayah, Kakak. Maaf " teriaknya
Sawamura memeluk erat Hinata, mengetahui bahwa sebenarnya hal seperti ini tidak diinginkan oleh Hinata.
Dari dulu sebenarnya Hinata memiliki hati yang lembut, tapi seiring waktu karena Hinata terus terluka membuat hatinya keras. Tidak ada satupun yang bisa membuat hatinya kembali, selain Sawamura.
Terdengar suara siirene polisi yang mencari Anna, Sawamura melepaskan Hinata. " Sekarang aku mohon pergi dulu, aku tidak ingin menyulitkanmu "
Hinata langsung berlari keluar dari gubuk itu meninggalkan Sawamura dan Anna.
" Maaf An " bisik Sawamura di telinga Anna.
Sawamura melepaskan ikatan dari tangan serta kaki Anna, dan langsung membopong Anna keluar dari gubuk itu.
Setelah itu, Sawamura di tanyakan oleh seorang detektif " Apa kamu melihat pelakunya? " tanya detektif.
" Saat aku melihatnya Anna sudah sendirian dalam gubuk dengan keadaan pingsan. " Jawab Sawamura.
Anna yang setengah sadar mendengar ucapan Sawamura menangis dalam mata terpejam.
••
30 menit setelah Anna di selamatkan.
Anna terbangun dari kamar rawatnya, melihat Ibu dan Ayahnya berada di sampingnya menunggunya terbangun.
Mata Hanna terlihat sembab karena terlalu banyak menangis, sedangkan wajah Eiji terlihat berkerut karena khawatir.
Dengan cepat Anna langsung memeluk mereka berdua dengan perasaan lega " Ayah! Ibu!! " serunya.
Hanna dan Eiji membalas pelukan Anna merasa lega karena putrinya dapat di selamatkan.
Setelah terlalu lama berpelukan, Sawamura datang dengan pandangan tertunduk. Karena mengetahui bahwa Sawamura ingin berbicara empat mata dengan Anna.
Hanna dan Eiji langsung keluar. " Jangan lama-lama " ucapnya bersamaan.
" Maaf " kata Sawamura.
Anna menatap Sawamura, tersenyum kecil. Karena saat ini, ia masih belum bisa memaafkan Sawamura.
" Jadi, kamu berbohong kepada polisi? "
" Iya "
" Jelaskan padaku! "
" Aku, Mira dan Hinata dahulu adalah seorang teman kecil. Hinata membantuku saat mataku buta waktu itu. Aku berhutang budi banyak kepadanya, maafkan aku. Benci aku sesuka kamu. "
" Aku tidak benci padamu, tapi maaf sekarang aku masih belum bisa memaafkanmu. "
" Tidak apa-apa. "
" Bagaimana dengan Lim? " lanjut Sawamura
" Aku tidak tahu " jawab Anna tidak mengetahui apapun.
Sawamura melihat mata Anna berkerut seperti sedang sedih. " Kalau ada kabar dari dia, akan aku beritahu kamu. "
" Terimakasih "