
Teng-teng-teng
Suara telepon Anna berbunyi, Anna langsung terbangun dan menjawab telepon itu dengan nada lemas karena sudah lebih dari 8 jam ia juga tertidur karena tidak ingin menahan rasa sakit.
" Hallo? "
" An? Kamu kenapa absen di universitas? Kamu sakit? " tanya Gi dari sebrang dengan khawatir.
" Tidak, aku hanya sedang Nyeri Haid saja. " Jawab Anna.
" Itu juga tidak bisa di biarkan! Aku kesana ya. Kamu mau di bawakan makanan apa? "
" Aku tidak perlu apa-apa " ucap Anna lemas.
" Aku akan kesana ya An. " kata Gi seraya menutup panggilan.
" Benar-benar keras kepala " gumam Anna.
Belum saja ada 10 menit, suara bel sudah berbunyi. Anna berjalan perlahan dengan lemas keluar membuka pintu.
" Aku kan sudah bi.. " Kata Anna terpotong setelah melihat Gi bersama dengan Lim.
" Anna! Kamu tidak apa-apa? " tanya Gi dengan khawatir.
" Tidak apa-apa. " Jawab Anna, namun tiba-tiba perutnya terasa sangat sakit kembali membuat Gi langsung meminta Lim membawa bingkisan yang ada di tangannya dan membantu Anna untuk berbaring di sofa.
" Aku ambilin minum ya " ujar Gi seraya mengambil air putih di dapur dan memberikannya kepada Anna.
Anna meminumnya dan kembali berbaring di sofa dengan menahan sakit. Lim hanya melihat dari jauh dengan perasaan sangat khawatir namun tertahan, ia tidak bisa apa-apa disana.
Lim bukan siapa-siapa Anna. Ia datang kesini saja secara diam-diam, kalau Gi tidak mengetahuinya dan menyuruhnya untuk ikut dengannya juga. Sepanjang hari ini Lim akan diam di depan apato Anna.
Lim masih khawatir dengan Anna karena kata dokter kemarin, nyeri haid tidak mungkin hilang dalam sehari. Dan karena ucapan dokter itu yang membuat Lim diam-diam datang ke apato Anna.
" Kamu ada obat? " tanya Gi.
" Kamar aku. " jawab Anna dengan menahan sakitnya.
Gi langsung berlari mengambil obat dalam kamar Anna dan melihat sebuah obat penghilang rasa nyeri yang sudah di resepkan dokter.
Gi langsung kembali ke sofa dan bertanya kepada Anna " An, kamu sudah ke dokter? "
" Belum. "
" Ini obatmu sudah resep dari seorang dokter. "
Mendengar ucapan Gi, Lim terkejut. Perasaan nya gelisah bagaimana jika dia tahu bahwa kemarin yang membawa Anna kerumah sakit adalah dia.
" Mungkin Kirei. " Jawab Anna yang tidak tahu membuat Lim tenang.
" Karena sudah resep dari dokter lebih baik diminum terlebih dahulu. "
Anna meminum obat itu yang dituntun oleh Gi dengan wajah khawatirnya. " Tapi tadi pagi kamu juga sudah meminum obatnya kan? "
Anna mengangguk-anggukan kepalanya dan kembali berbaring di atas sofa.
" Kita ke kasur kamu saja ya? Beristirahat disana saja. "
Anna hanya meng-iyakan, dan Gi membopong Anna membawanya ke kasur Anna.
Lim yang melihat kedekatan mereka membuat hatinya sedikit terluka, tidak seharusnya ia melihat sesuatu yang menyakiti hatinya sendiri.
Sekitar 10 menit, Gi tidak kembali dari kamar Anna.
Membuat Lim sedikit gelisah apa yang sedang di lakukan mereka, Lim perlahan-lahan mendekati kamar Anna yang pintunya sedikit terbuka.
Ia mengintip kamar itu, melihat Gi yang sedang memijat perut Anna secara perlahan untuk mengurangi nyeri haid.
Lim yang tidak sanggup melihat antara Gi dan Anna langsung berjalan keluar dari apato Anna.
Hati Lim sangat sakit.
Ia tidak bisa menyakini dirinya sendiri bahwa kini Anna sudah bukan miliknya lagi.
Dia sudah menjadi milik orang lain, dan Lim sudah tidak berhak untuk mendapatkan Anna lagi.
Tapi hati dia sudah terpaku untuk Anna. Lim sudah sangat mencintai Anna, sehingga untuk melepaskan atau melupakannya itu adalah hal yang mustahil bagi Lim.
Tanpa sadari air mata telah menjatuhi pipinya, sudah berapa banyak air mata yang jatuh dari pipinya setelah 5 tahun ini?
Kirei yang tiba-tiba berdiri di depan Lim membuat Lim langsung menghapus air matanya itu tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang lain.
" Jadi kamu menangis juga? Setelah sekian lama, kamu baru menangisinya? Kamu menyesal kan? " sindir Kirei.
Lim tidak menjawab.
" Hei seberapa besar cinta kamu dengan Anna? " Tanya Kirei penasaran.
Lim juga tidak menjawab lagi.
" Kalau dia akan jadi menikah bulan depan dengan Gi, bagaimana perasaan kamu? "
Pertanyaan itu membuat Lim merasa sangat kesal, Lim langsung menarik kencang lengan Kirei. " Aku akan merebutnya lagi sampai kapanpun! " jawab Lim dengan tegas seraya melepaskan tangannya dari lengan Kirei dan kembali berjalan meninggalkan Kirei yang hanya terdiam disana.
" Apakah memang pria seperti itu? Harus egois dengan perasaan nya sendiri? Harus selalu menang dengan perasaan nya sendiri? Dan tidak ingin mengalah sedikit pun? Apa pria memang harus seegois itu? Padahal dia yang meninggalkan, namun dia juga yang ingin mendapatkannya kembali. " Gumam Kirei.
" Aku tidak mengerti jalan pikir seorang pria. "