
15, September
Semenjak perkataan Lim terakhir kepada Anna saat summer camp, Lim dan Anna sudah tidak saling berbicara.
Semuanya seperti awal kembali, kedua manusia yang menjadi asing.
Anna sudah tidak memperdulikan Lim lagi, sedangkan Lim merasa sangat ingin berada dekat dengan Anna.
Bukan Anna tidak memperdulikan Lim lagi, tapi karena hati Anna sudah menolak untuk membiarkan Lim masuk lagi ke dalam hatinya.
Ia hanya takut, bahwa perasaannya lamanya akan kembali.
Masa lalu Anna hanyalah sebuah kenangan pahit yang tidak bisa ia lupakan.
Namun, kenangan pahit itu masih melekat dalam otaknya.
Lim bahkan tidak mengetahui tentang masa lalu Anna, jika Lim mengetahuinya mungkin ia akan merasa Anna sangat menjijikan.
Tok-tok-tok
Suara ketukan pintu terdengar dari luar rumah Anna.
Anna membuka pintu rumahnya, Hanna sedang keluar dan Ryuzaki sedang bermain bersama temannya karena hari ini adalah hari Minggu atau Weekend.
Terlihat Yuki dengan senyuman manis dan membawa sebuah keranjang makanan.
" Makan di luar, suasana lagi bagus. " ajak Yuki.
Anna menggelengkan kepalanya tidak ingin, ia masih takut berada di sekeliling orang banyak.
" Kalau begitu, makan disini saja. " kata Yuki seraya masuk ke dalam rumah Anna.
Ia segera duduk dikursi meja makan dan merapihkan makanan yang berada dikeranjangnya.
" Dimana Ryuzaki? " tanya Yuki.
" Dia bilang, dia sedang ada urusan dengan temannya. " jawab Anna sambil duduk dikursi depan Yuki.
Yuki mengunyah makanannya sambil berkata kembali dengan perasaan penuh curiga " Kamu apa tidak aneh dengan Ryuzaki? "
" Aneh kenapa kak? "
" Tidak, hanya saja aku sedikit merasa curiga dengannya. "
" Curiga? "
Yuki menganggukkan kepalanya " Akhir-akhir ini saat kelas 1 pergi summer camp, dia tidak ikut dan disana aku melihat dia bersama Hinata. "
" Lalu kenapa? Mungkin mereka hanya bermain. "
" Sejak kapan mereka berkenalan dan berbicara sampai tengah malam? "
" Ada sesuatu yang penting kak, jangan terlalu berpikir buruk. "
" Tidak, saat itu juga aku tidak sengaja mendengar nama kamu saat mereka sedang berbicara. "
" Nama aku? "
" Iya dia bilang, Anna Yuo. "
Anna mengerutkan dahinya tidak mengerti situasi saat ini.
" Tapi sudahlah tidak usah kamu pikirkan. " lanjut Yuki.
Anna mengambil sendok dengan rasa penasarannya, untuk apa mereka membicarakan Anna. Itulah yang Anna pikirkan saat ini.
" Ngomong-ngomong kamu baik-baik saja bersekolah disini? " tanya Yuki.
" Lebih baik dibandingkan disana, mungkin ada beberapa yang membuat aku mengingat masa lalu. Tapi, disini jauh lebih baik. "
" Syukurlah. "
" Kak, apa kakak... " ucapan Anna terhenti, Anna mengurungkan niatnya untuk bertanya soal Lim kepada Yuki.
" Kenapa? "
" Tidak. "
" Sudahlah jangan terlalu banyak pikiran, lebih baik kamu makan. Tubuh kamu sudah mulai kurus. "
" Iya. "
Keesokan harinya.
Bunga-bunga cantik dan berwarna mulai bermekaran.
Setiap jalanan terasa sangat indah karena bunga-bunga yang nampak sangat elok dipandang.
Anna melangkahkan kakinya menuju sekolah, sebelum orang lain sampai disekolah. Ia harus menjadi orang pertama yang datang ke sekolah.
Suara musik yang terdengar sangat nyaman ditelinga Anna membuatnya semakin menikmati perjalanan menuju sekolahnya.
Sampai seseorang menganggu ketenangan Anna, orang itu berjalan melewati Anna menggunakan sepeda dengan sangat kencang.
Hampir saja Anna terjatuh karena ingin menghindari kecepatan dari sepeda itu, tapi Ryuzaki dari belakang menahan tubuh Anna agar tidak terjatuh.
" Kamu tidak apa-apa? " tanya Ryuzaki.
Anna membangunkan tubuhnya kembali menjadi normal.
" Hei, berhenti! " teriak Ryuzaki membuat orang yang menaiki sepeda tersebut berhenti.
" Minta maaf! " seru Ryuzaki.
Orang itu menolehkan kepalanya sesaat, dan lelaki yang membawa sepeda itu adalah Lim.
" Moushi wake nai. " ( Mohon maaf ) kata Lim.
Anna melepaskan headphone yang berada ditelinganya, matanya melebar melihat Lim.
" Apa kamu baik-baik saja? " tanya Lim. Anna menganggukkan kepalanya.
" Kalau begitu, aku pergi dulu. " ucap Lim dengan terburu-buru.
Deg-deg-deg
Jantung Anna berdetak sangat cepat, rasa senang saat melihat Lim tidak bisa Anna pungkiri lagi.
Begitu juga dengan Lim, ia merasa sangat bahagia dapat bertemu dengan Anna.
Tapi, jarak antara mereka tidak akan pernah dekat.
Mereka seperti tali yang terputus, tidak dapat disambung kembali.
Namun, dalam satu sisi Lim merasa sangat sedih karena bertemu dengan Anna.
Bagaimana pun caranya saat Lim bertemu dengan Anna lagi perasaannya akan kembali tumbuh.
" Baka! " ( Bodoh ) gumam Lim karena merasa dirinya tidak akan pernah bisa melupakan Anna.
8:30 a.m
Bel berbunyi tanda masuk sekolah.
Siswa-siswi berjalan memasuki aula karena hari ini adalah pengumuman kembali belajar.
Minggu-minggu kemarin mereka hanya melakukan festival budaya dan camping, tapi saat ini mereka harus kembali belajar seperti biasa.
Seluruh siswa-siswi merasa sangat kecewa karena festival mereka sudah berakhir.
1-2
" PENGUMUMAN-PENGUMUMAN SEBENTAR LAGI KITA AKAN MELAKUKAN TRIP SEKOLAH. " Teriak dari Ketua Kelas.
" Kapan itu? " tanya Okumura.
" Bulan Oktober. "
Siswa-siswi kelas 1-2 langsung mendesis kesal karena mereka kira akan pada bulan ini.
" Dan setelah itu, kita akan ujian mid semester. " lanjut ketua kelas.
Lim yang sedang memejamkan mata langsung membuka matanya lebar karena mendengar kata ujian.
" HEI APA MAKSUDMU! " kesal Lim kepada Ketua Kelas.
" Bukan maksudku, tapi kata guru! " seru Ketua Kelas.
" Secepat itukah? "
" Tidak masih ada waktu 1 bulan lagi. "
Lim menggeleng-gelengkan kepalanya tidak ingin.
Ujian adalah hal yang paling tidak disukai oleh Lim. Apalagi saat ujian waktu kemarin, Lim selalu meminta bantuan Anna.
Tidak mungkin sekarang ia harus meminta bantuan Anna lagi.
" Ah kesaal. " keluh Lim.
Guru Olahraga memasuki kelas 1-2 dan meminta siswa-siswi untuk berganti pakaian.
Setelah berganti pakaian, mereka diharuskan untuk pergi ke lapangan sekolah.
Lim berjalan bersama Okumura untuk pergi ke lapangan, tapi langkah kakinya terhenti saat melihat Anna bersama Hinata yang sedang mengambil buku-buku yang berjatuhan.
Hinata seperti berkata sesuatu kepada Anna, tapi Lim tidak bisa mendengar perkataan Hinata.
Kemudian Hinata berjalan pergi dan meninggalkan Anna.
Anna masih membereskan buku-bukunya tersebut, Lim ingin membantunya. Namun, Lim tidak bisa.
Bagaimana pun ia harus menjauh dari Anna agar perasaannya tidak kunjung datang lagi.
" Kamu tidak ingin membantu kap? " tanya Lim.
Lim menggeleng-gelengkan kepalanya tidak ingin, ia hanya melewati Anna begitu saja tanpa membantunya.
" Anna, apa kamu ingin dibantu? " Okumura menawarkan diri.
Anna mengangkat kepalanya, melihat Okumura bersama dengan Lim.
" Tidak terimakasih. " jawab Anna seraya berjalan membawa buku-buku yang sangat berat tersebut.
Dan tidak lama, buku-buku tersebut terjatuh lagi.
" Tch " desis Lim tidak ingin melihat Anna kesulitan.
Dengan cepat, Lim membantu Anna mengambil buku-buku yang terjatuh tersebut sambil berkata " Kalau kamu ingin minta tolong bilang! Jangan menyusahkan diri kamu sendiri! "
" Aku bilang tidak perlu. " ucap Anna.
Lim mengigit bawah bibirnya " Kamu kenapa menjadi seperti ini sih?! Apa susahnya meminta tolong! " kesal Lim.
" AKU BILANG TIDAK USAH! AKU BISA SENDIRI! " seru Anna membuat Lim mengurungkan niatnya untuk membantu Anna.
" Katte ni shiro! " ( Terserah kamu deh )
" Mari pergi Okumura. " Ajak Lim kepada Okumura seraya berjalan meninggalkan Anna.
Mata Anna berkaca-kaca, perasaannya tidak bisa dibendung lagi.
Anna menyukai Lim, tapi Anna tidak bisa memiliki perasaan ini.
Ia tidak berhak untuk bahagia.
Sedangkan bagi Lim, semakin Anna keras kepala. Semakin Lim ingin mendekatinya, dan ingin merubah sifat Anna.
Lim juga semakin penasaran kenapa Anna menjadi orang yang dingin.
" Apa kamu bakal seperti ini terus dengan Anna? " tanya Okumura penasaran.
" Tidak tahu. " jawab Lim.
" Kalian berdua memang sangat aneh. Padahal kalian sama-sama saling menyukai. "
Mata Lim melebar " Apa maksud kamu? "
" Dia juga menyukai kamu Kap, dari tatapannya berbeda dengan dia pertama bertemu dengan kamu. "
" Tidak, itu tidak mungkin. "
" Sudahlah kalau tidak percaya. "
••
Anna bertopa dagu di atas meja memikirkan perkataan dari Hinata.
Hinata berkata bahwa kehidupannya akan kembali menjadi seperti dulu dan ia akan membalas semua perbuatan Anna kepadanya.
" Apa maksud dia seperti itu? " gumam Anna.
Dari jendela kelas 1-1, Anna melihat Lim yang sedang bermain basket dengan senyum manisnya.
" Kamu benar-benar menyukai basket ya? " pikir Anna.
Tiba-tiba saja Lim menolehkan kepalanya kearah Anna membuat Anna tersipu malu dan menutup tirai jendela.
Anna mengedipkan matanya secara cepat. Ia malu dengan dirinya sendiri karena ketahuan sedang memperhatikan Lim.
4:00 p.m
Bel berbunyi pulang sekolah.
Club basket hari ini libur latihan terlebih dahulu, karena Coach sedang mengadakan rapat bersama Pelatih dari sekolah lain untuk melakukan sparing bersama.
Lim berjalan pulang keluar gedung sekolah dengan sepedanya, ia menggowes sepeda sampai akhirnya Lim memberhentikan gowesannya.
Karena tidak sengaja melihat seorang lelaki yang tampak familiar diwajah Lim.
Lelaki tersebut sedang menggoda Anna yang tengah berjalan untuk pulang.
Lim mendekati Anna sambil bertanya dengan wajah menjengkelkan " Kamu ingin dibantu olehku tidak? "
Anna terdiam, wajahnya terlihat sangat ketakutan.
" Katakan saja, aku minta tolong. " kata Lim.
Lelaki yang berada di sebelah Anna menolehkan kepalanya, ia melihat kearah Lim.
" Shima! " kaget Lim karena dia adalah adik Senya.
" Lim! " katanya.
" Apa kabar? " tanya Lim.
" Baik, bagaimana denganmu? "
Lim menganggukkan kepalanya. " Baik, sedang apa kamu disini? "
" Aku sedang berjalan-jalan saja, tapi tidak sengaja melihat seorang perempuan cantik. "
Shima mendekati wajahnya kearah wajah Anna dan mencengkram pipi Anna. " Lihat, dia cantik bukan? "
Wajah Anna sangat ketakutan, matanya berkaca-kaca.
Lim tidak tega melihat Anna yang ingin menangis karena Shima.
" Lepaskan! " tegas Lim.
" Lim, kenapa kamu tiba-tiba marah? "
" Lepaskan aku bilang! "
Shima sama sekali tidak melepaskan, dengan terpaksa Lim turun dari sepedanya dan mengambil lengan Anna yang membuat Shima melepaskan cengkramannya.
" Jangan sentuh dia! " seru Lim menarik Anna ke belakang punggungnya.
" Aku tidak pernah melihat Lim seperti ini. Apa dia istimewa? "
" Dia pacarku. " kata Lim membuat mata Anna melebar.
Shima mendesah kesal. " Pacarmu? "
Lim menarik lengan Anna membawa Anna pergi dari tempat sana sambil berkata " Jangan pernah sentuh dia lagi! "
Lim terus menarik lengan Anna dengan keras membuat tangan Anna kesakitan.
Sampai di tengah jalan, Anna memberhentikan langkah kakinya. " Berhenti! "
" Kenapa Anna? " tanya Lim.
" Lepaskan tangan aku! "
" Bukankah kamu seharusnya berterimakasih karena sudah aku selamatkan? "
" Lepaskan aku bilang! "
Lim tidak melepaskan, ia semakin mencengkram kuat lengan Anna.
Anna meringis kesakitan " Aw. "
Mendengar Anna kesakitan, Lim langsung meleapskan tangannya dari lengan Anna.
Tangan Anna begitu merah karena cengkraman Lim.
" Kamu lihat kan?! " kesal Anna.
" Maaf Anna " ucap Lim merasa bersalah.
" Kenapa sih kamu selalu saja seperti itu? Tidak pernah mendengar perkataanku, dan selalu bertindak semau kamu! Kenapa kamu tadi bilang bahwa aku pacar kamu, bagaimana kalau teman sekolah mendengar dan memberitahu seisi sekolah lagi? Kamu ingin aku menjadi bahan pembicaraan dan komentar-komentar jahat? Bagi kamu itu lucu ya? Tapi tidak buat aku!! " jelas Anna dengan mata berkaca-kaca.
" Tidak, aku tidak ingin seperti itu! Aku hanya ingin menolongmu. Shima adalah orang yang tidak akan melepaskan seorang perempuan kalau dia sudah melihat perempuan cantik di hadapannya! " Lim membalas tidak ingin kalah.
" Lalu kenapa kamu tidak menolongku dari tadi? Dia sampai menyentuhku, aku takut apa kamu tidak tahu?! "
" Kenapa kamu tidak meminta tolong kepadaku, kenapa juga kamu hanya diam saja?! "
" Apa aku harus meminta tolong kepada kamu kalau aku benar-benar kesulitan? Seharusnya kamu menolongku tidak menunggu sampai aku berkata aku meminta tolongmu bukan?! "
" Kalau begitu sukai aku, jangan menjauh dariku. Bukankah itu tidak sulit? "
" Jadi aku harus menyukai kamu agar kamu dapat menolongku kapanpun? "
" Iya. "
" Aku tidak bisa! Aku tidak bisa menyukai seseorang dengan terpaksa. Maaf. "
" Anna! "
Anna merintikan air matanya, ia melipat kedua bibirnya tidak bisa berbicara.
Orang yang dahulu sangat lembut kepadanya, kini menjadi orang yang berbeda.
Lim mendekatkan tubuhnya kearah tubuh Anna.
" Menjauh dariku! " seru Anna dengan rintikan air mata yang terjatuh dipipinya.
Tapi Lim sama sekali tidak mendengar ucapan Anna, ia hanya terus berjalan mendekati Anna sampai akhirnya Lim memeluk tubuh Anna dengan erat dan lama.
" Maafkan aku Anna, lagi-lagi aku membuat kamu menangis lagi karena keegoisanku. " ucap Lim dengan mengelus belakang kepala Anna lembut.
Anna terdiam, tapi air matanya terus mengalir tiada hentinya.
Anna menangis di pundak Lim. Lim terus mengelus kepala Anna perlahan untuk menenangkan Anna.
" Kenapa kamu sangat egois? " Tanya Anna dalam pelukan Lim dan tangisan.
" Aku menyukai kamu Anna, aku memang berkata waktu itu bahwa aku sudah tidak menyukaimu lagi. Tapi itu semua hanya kebohongan, seusaha apapun aku melupakan kamu. Aku tidak akan pernah bisa, perasaan itu selalu datang setiap harinya. Bahkan aku sendiri saja binggung kenapa perasaanku tidak kunjung berhenti. " jelas Lim.
Anna menundukkan kepalanya, mendorong tubuh Lim agar menjauh darinya.
" Tapi aku tidak bisa. "
Lim tersenyum kecil " Aku tahu, kamu tidak akan bisa menyukaiku kan? "
" Maaf. "
" Tidak apa-apa, tapi nanti aku yakin kamu akan menyukaiku dan membutuhkanku. Bayangin saja kalau aku ini warna, mungkin emang warna aku ini belum menjadi warna favoritmu tapi percaya deh, suatu hari nanti kamu akan membutuhkan warna ku untuk melengkapi lukisan kamu. "