
Lelaki yang menolong Anna adalah Edward Lim, wajah Lim yang khawatir karena hampir saja ia tidak dapat menyelamatkan Anna.
Jika, 15 detik Lim tidak datang. Anna mungkin sudah tidak sadarkan diri.
Lim mengetahui Anna berada di dalam kolam renang, karena sebelum menuju lapangan basket ia tidak sengaja melihat Ryuzaki yang keluar dari kolam renang dengan sebuah dokumen yang ia pegangi.
Dan wajahnya terlihat sangat senang. Lim mencoba mengingat lagi dokumen tentang perjanjian pertunangan yang ia baca saat siang tadi. Pikiran Lim mulai negatif, ia berpikir bahwa Anna yang berada dalam isi dokumen.
Lim pun mencoba untuk memasuki kolam renang dan benar, Anna berada di dalam kolam renang tersebut.
Apalagi, Anna sedang tenggelam tanpa seseorang yang menolong. Tubuh Lim langsung bergerak cepat untuk menolong Anna.
" Terimakasih. " Kata Anna dalam pelukan. Lim mengelus kepala Anna dengan perasaan lega. " Untung kamu tidak kenapa-kenapa. "
Selama lebih dari 15 menit, mereka masih berada dalam kolam renang tanpa berbicara satu sama lain. Kedua tubuhnya tertutupi oleh handuk yang berada di dalam loker kolam renang.
" Apa kamu bisa pulang sendiri? " Tanya Lim khawatir.
" Aku bisa pulang sendiri, emang aku anak kecil. " Jawab Anna.
" Tidak maksudku, tubuhmu itu basah. "
" Memang kenapa? "
" Itu... " Lim tidak bisa berbicara. " Daleman tubuhmu terlihat. "
Mendengar perkataan Lim, Anna langsung menutup tubuh bagian depannya dengan wajah malu dan berjalan meninggalkan Lim.
" Hei kamu mau kemana?! " Teriak Lim mengikuti Anna dari belakang.
Langkah kaki Anna terhenti saat melihat Yuki berada di depannya. " Anna, kamu kenapa? "
Tubuh Anna bergetar ketakutan, ia takut bahwa Yuki mengetahui tentang Anna yang tenggelam di dalam kolam renang karena Ryuzaki.
Yuki juga melihat kearah Lim yang berada di belakang Anna. " Lim jawab, ada apa?! "
Ketika Lim mencoba untuk berbicara, Anna langsung berkata " Tadi aku main basah-basahan dengan dia di dalan kolam renang. " Kata Anna yang berbohong.
" Ambil bajuku. " Ujar Yuki yang langsung mengeluarkan baju olahraga di dalam loker dan langsung memberikannya kepada Anna.
Anna hanya mengambil dan kemudian berjalan kembali, saat Lim mencoba mengikuti Anna lengannya tertahan oleh Yuki.
" Katakan ada apa! " Seru Yuki. " Nanti saya akan bicara kepada kamu lagi. " Lim terburu-buru dan berlari menuju arah Anna.
" Anna! " Teriak Lim karena Anna hampir keluar gedung sekolah. Kaki Anna terdiam mendengar teriakan Lim.
Lim berjalan mendekati Anna dan menutupi tubuh Anna dengan jaketnya agar tubuhnya menjadi hangat dan besok tidak sakit.
" Pakai ini, dan ganti bajumu di sekolah. Tidak ada satupun orang yang boleh melihat tubuhmu selain aku, ingat itu. Atau kamu mati. " Perintah Lim yang berjalan menjauhi Anna.
Ia tidak boleh membiarkan siapapun melihat tubuh Anna, meskipun Yuki sudah melihatnya tadi.
Saat Lim berjalan menuju ruang club basket, Yuki sudah berada di depan ruang club dengan tangan melipat di dada.
" Cepat jelaskan! " Seru Yuki. " Saya ganti baju dulu. " Kata Lim yang langsung mengganti baju.
Selesai berganti baju, Lim mencoba menjelaskan apa yang ia ketahui tentang Anna saat berada di dalam kolam renang. Tentang Ryuzaki yang membawa perjanjian pertunangan dan Anna yang tenggelam di dalam kolam renang.
Mendengar penjelasan Lim, tangan Yuki langsung terkepal. Ia sudah mengetahui semua rencana Ryuzaki, sebelumnya Yuki memang mengikuti Hinata terus-menerus tetapi perlahan-lahan Yuki merasa curiga dengan Ryuzaki yang selalu bolak-balik ke dalam perusahaan Ayahnya.
Ia juga selalu membawa dokumen-dokumen penting, saat itu juga Yuki mencari tahu tentang Ryuzaki yang dipaksa oleh Ayahnya untuk bertunangan dengan Anna.
Tetapi, keluarga Anna tidak ingin. Dan posisi Ryuzaki yang menjadi penerus keluarga Tanaka gagal, lalu Ryuzaki kembali mengancam Anna yang harus menyetujui pertunangan tersebut.
Yuki gagal untuk melindungi Anna, namun ada satu hal yang membuat Yuki binggung. Ancaman apa yang membuat Anna ketakutan sampai ingin menyetujui pertunangan itu.
" Apa kamu bertanya kepada Anna, apakah dia menandatangani pertunangan tersebut atau tidak? " Tanya Yuki.
Mata Lim melebar, ia tidak bertanya tentang hal tersebut. " Tidak, tapi tidak mungkin kan dia menerima pertunangan itu? "
" Tch. " Desis Yuki yang langsung menyalakan sebuah televisi di dalam ruang club.
" PEWARIS PERUSAHAAN TERNAMA TANAKA, BERGANTI CEO MENJADI RYUZAKI TANAKA. "
Tubuh Yuki mulai lemas karena ia gagal untuk melindungi Anna. Sedangkan Lim hanya mengepalkan tangannya menahan emosi dan hatinya yang terluka.
Harapan Lim sudah sirna, dan Yuki membuat Anna memasuki kecemasan kembali.
••
Selama lebih dari 3 hari, Anna tidak keluar rumah. Ia hanya menetap di dalam rumah karena sebuah tanda tangan sepihak itu tanpa berbicara kepada Hanna.
Anna tahu, bahwa ia sangat bodoh tapi video menjijikan itu terus menghantui Anna.
Sebuah video yang harusnya telah dihapus, tapi kini berada di tangan Ryuzaki.
Tok-tok-tok
Sebuah ketukan pintu dari Hanna. Hanna yang sudah mengetahui bahwa Anna menerima pertunangan dari keluarga Tanaka hanya terdiam tanpa memarahi Anna sekalipun.
Ia tahu bahwa ada sebuah alasan yang membuat Anna menerima pertunangan itu.
" Anna, Yuki ada di luar. Kamu tidak ingin keluar? " Teriak Hanna dari luar kamar Anna. Anna tidak menjawab, ia hanya menaruh kepalanya di bawah bantal sambil menahan tangisnya.
Hanna tidak bisa melihat Anna berdiam diri di dalam kamar, apalagi soal Anna yang telah ditenggelamkan oleh Ryuzaki. Ia tidak bisa menerima ini semua, insting seorang Ibu yang sangat sedih melihat putri satu-satunya juga bersedih.
Mendengar perkataan dari Hanna serta Yuki yang memberikan sebuah cctv dimana Anna di dorong oleh Ryuzaki ke dalam sebuah kolam renang.
Tanaka yang percaya langsung mengambil sebuah dokumen yang diberikan oleh Ryuzaki dan segera merobeknya.
Ryuzaki yang baru saja pulang sekolah melihat dokumen pertunangannya dirobek oleh Tanaka langsung terkejut dan berlari menghampiri Tanaka.
" Kenapa Ayah merobek ini semua? " Ryuzaki kebinggungan. " Kenapa?! " Seru Tanaka yang langsung menampar pipi Ryuzaki dengan keras.
" Sejak kapan Ayah mengajari kamu untuk membunuh seseorang? "
Mata Ryuzaki melebar, ia tidak percaya dengan semua usaha yang ia lakukan kini telah tamat.
Ryuzkai menoleh kearah Hanna dan Yuki sinis, ini semua karena mereka.
" Keluar kamu dari rumah, sekarang!!!!!! " Perintah Tanaka yang membuat Ryuzaki keluar dari rumahnya.
" Hah. " Desah kesal Ryuzaki dengan mata yang ingin membalas dendam perbuatan dari Yuki serta Hanna.
8:00 p.m
Berita tentang pertukaran penerus kembali lagi menjadi heboh, dan kini perusahaan kembali berada di tangan Tanaka.
Ia berkata bahwa tidak akan memberikan perusahannya kepada siapapun, sampai mati Tanaka akan terus menjalankan perusahaan ini.
Anna yang mendengar berita tersebut keluar dari kamar dengan mata yang besar karena tidak dapat berhenti menangis.
Di ruang tengah sudah terdapat Hanna serta Yuki.
Yuki tersenyum melihat Anna yang akhirnya keluar dari kamar, sedangkan Hanna langsung memeluk tubuh Anna tanpa berkata apa-apa.
Hanya sebuah tangisan yang mengartikan segalanya.
Keesokan harinya....
Berita sudah mulai surut, Ryuzaki juga tidak memasuki sekolah. Seluruh siswa-siswi membicarakan tentang Ryuzaki yang hampir membunuh Anna.
Seluruh siswa-siswi juga langsung bertanya kepada Anna, tapi Anna tidak menjawab pertanyaan mereka.
Ia hanya mendiamkan para siswa-siswi di dalam kelas, karena tujuan Anna adalah untuk melupakan kejadian kemarin. Tapi hal yang ditakutkan oleh Anna adalah Ryuzaki yang menyebarkan video tersebut keseluruh sekolah.
Bel mulai berbunyi pertanda memasuki kelas.
Para siswa-siswi mulai berjalan menuju kelas untuk memasuki pelajaran mereka.
Saat Anna keluar, matanya tidak sengaja bertemu dengan Lim yang berjalan di depannya. Karena melihat Lim, spontan Anna langsung menutup tubuh bagian depannya.
Melihat sikap Anna, Lim langsung tertawa terbahak-bahak karena sikap Anna. Wajah Anna memerah malu, Anna berlari menjauhi Lim.
" Hei, orang-orang memperhatikan kearah kamu kap! " Bisik Okumura yang menyikut perut Lim. Okumura menyikut perut Lim dengan sangat kencang membuat Lim meringis kesakitan dan memberhentikan tawanya.
" Kamu bodoh! " Kesal Lim kepada Okumura yang ingin memukul kepala Okumura tapi Okumura langsung berlari seperti anak kecil.
Di dalam pelajaran, Lim tidak bisa berfokus semua buku dan kertas-kertas bekas soal-soal yang diberikan oleh Anna masih berada di tangan Lim.
Ia takut bahwa Anna tidak bisa belajar karena bukunya masih berada di tangannya.
Namun, Lim kembali teringat oleh tekadnya. Sebuah tekad yang menyuruh Lim untuk menjauhi Anna, pikirannya semakin mengerogoti otak Lim.
Hatinya masih tidak bisa, selalu saja ingin berada di dekat Anna.
Melihat Anna sedih, Lim tidak bisa. Lim selalu ingin berada dekat dengan Anna dan ingin menjadi seseorang yang selalu mendukung Anna.
Perasaannya benar-benar ambigu saat ini.
" Lim! " Panggil Okumura di depan wajah Lim yang membuat lamunan Lim buyar.
" Hah, ada apa? "
" Kamu diminta untuk keluar oleh Anna. "
" Ah, iya. "
Lim keluar dengan membawa buku-buku Anna, Anna yang berada di luar kelas hanya melipat kedua tangannya di belakang dengan kepala tertunduk menunggu Lim.
" Ada apa? " Tanya Lim. " Itu bukuku, kembalikan. " Kata Anna yang melihat bukunya yang berada di tangan Lim.
" Tunggu dulu. " Tahan Lim yang tidak ingin Anna mengambil bukunya. " Kamu meminjamkan ini kan? Kalau begitu aku masih ingin meminjamnya. "
" Tapi aku ingin menggunakan buku ini. "
" Tidak, aku masih ingin memakai buku ini. Jadi kalau kamu ingin mengambilnya, tunggu aku selesai bertanding terlebih dahulu sepulang sekolah dan kamu harus menontonnya. " Pungkas Lim yang kembali memasuki kelas.
Mata Anna berkedip secara cepat, tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Lim.
Setelah pulang sekolah, Anna langsung menuju lapangan basket SMA Seido. Ia berdiri disebuah tribun lapangan.
Tidak lama, sebuah baju sekolah SMA Fukuro memasuki lapangan.
Tubuh yang besar-besar dan tatapan tajam kearah Lim. " Apa kabar kalian semua? " Tanya Lim dengan nada menjengkelkan.
" Saya kapten SMA Seido, Edward Lim. " Lanjut Lim mengulurkan tangannya.
" Saya kapten SMA Fukuro, Takeda. " Takeda menjawab uluran tangan Lim dengan mata mereka yang saling bertukar sinis.