
" Aku mendapat sebuah panggilan yang katanya kamu kecelakaan. Jadi aku langsung berlari kesini. "
" Kamu berlari? "
Anna menganggukkan kepalanya. Lim mengambil sebuah botol minum dan memberikannya kepada Anna.
" Kamu jawab dulu, kenapa kamu bisa kecelakaan seperti ini. "
" Jangan keras kepala, kamu minum dulu baru aku akan ceritakan. " perintah Lim yang langsung membuat Anna meminum botol air putihnya.
Nafasnya kini sedikit tenang.
" Jadi kenapa? " tanya Anna.
" Tadi aku hanya berjalan menuju kampus kamu untuk mengembalikan sebuah buku yang tidak sengaja aku pinjam kemarin. Tapi katanya kamu sudah pulang, dan aku kembali pulang tapi tidak sengaja aku melihat seorang anak kecil yang sedang menyebrang sambil mengambil sebuah bola di tengah jalan. Aku langsung berlari dan menyelamatkan anak kecil itu. "
Anna dengan mata berkaca-kaca merasa sangat khawatir kepada Lim, tiba-tiba saja air matanya jatuh di pipinya membuat Lim merasa sangat bersalah karena telah menceritakan hal itu kepada Anna.
Tapi nyatanya cerita itu hanyalah sebuah kebohongan, cerita yang benar adalah saat Lim ingin menghampiri Anna di pinggir jalan, dan telah memanggil Anna berkali-kali namun sama sekali tidak terdengar oleh Anna.
Dan Lim terus mengikutinya sampai ia tidak tahu bahwa sebuah mobil dengan laju cepat menabraknya.
Untung saja mobil itu langsung segera merem dengan cepat, namun tetap saja kepala dan kaki Lim terbentur oleh mobil.
" Kamu kan seorang atlet bagaimana bisa seperti ini. " Kesal Anna.
" Ini akan sembuh dalam 2 Minggu. "
" Tapi tetap saja... "
Anna merintikan air matanya, entah kenapa hal seperti ini membuat dirinya sangat khawatir.
Anna takut, Anna takut untuk kehilangan Lim.
••
Setelah berhari-hari Anna selalu menjenguk Lim, dan merawat Lim. Karena Anna tahu siapa yang akan merawatnya selain dia.
Di Jepang, dia hanya tinggal sendiri.
Sawamura dan Okumura juga datang menjenguk Lim.
Dan Gi juga datang menjenguk Lim dengan membawa buah-buahan.
Anna sudah memberi alasan kepada Gi kenapa ia harus merawat Lim, dan Gi menerimanya dengan lapang dada.
" An, kamu bisa keluar dulu ga? " perintah Gi kepada Anna ingin Anna keluar untuk tidak mendengar pembicaraan antara Anna dengan Lim.
Anna melihat kearah Lim dan Lim hanya menganggukan kepalanya tidak apa-apa. Anna keluar dari ruangan itu, sedangkan Gi menahan emosinya.
" Aku tahu, aku hanya berpacaran dengan Anna karena Anna waktu itu dalam keadaan mabuk. Dan memang obsesi-ku saja. "
" Tapi saat ia mengatakan ingin menikahiku, ia berkata dengan namaku. Meski dalam keadaan mabuk juga. Dan lagi mabuknya karena kamu. "
" Aku tahu, Anna sangat mencintai kamu. Bahkan aku saja tidak ada di hatinya. Tapi aku benar-benar menyayangi nya. Kamu juga sangat menyayangi nya bukan? "
" Tapi aku tidak pernah melihat tawa lepas Anna saat bersamaku, ia selalu tertawa lepas saat bersamamu. Dan aku bertanya-tanya. "
" Jawabannya adalah karena dia mencintai kamu, dan kenapa dia tidak pernah tertawa lepas saat bersamaku. Jawabannya adalah karena dia terpaksa bersamaku. "
" Aku ingin melihat Anna bahagia. " Papar Gi.
" Sebentar lagi aku akan pulang ke Amerika. Jadi bolehkah aku pinjam sebentar dia? " tutur Lim dengan nada rendah.
" Bukankah kamu masih ada sekitar 2 bulan lagi? " tanya Gi tidak mengerti.
" Iya, tapi aku harus kembali karena Ayah-ku mengetahui bahwa aku kecelakaan. "
" Jadi aku pinjam dia sebentar. Kamu tidak masalah dengan itu? " tanya Lim.
Gi hanya menundukan pandangannya. " Aku juga mencintai Anna lebih dari yang kamu kira. Bahkan untuk melupakannya saja aku tidak bisa. "
" Kalau aku bilang aku tidak mau? "
" Kalau aku bilang aku akan merebut dia apapun itu? "
Gi langsung terdiam dan mendesah kesal. Bagaimana pun Anna adalah tunangannya, tidak bisa seorang pun meminjam dia.
Tapi karena Gi tahu Lim lebih penting dari Gi bagi Anna. Gi hanya menganggukan kepalanya bahwa ia setuju.
••
" Hei Anna! " panggil Kirei membuat Anna menolehkan pandangannya. " Kirei! "
" Kenapa ada disini, tidak kedalam? " tanya Kirei binggung.
" Tidak, Gi dan Lim sedang berbincang sebentar. " Jawab Anna.
Kirei langsung saja duduk di sebelah Anna dengan berkata asal " An kamu tidak apa-apa kan? "
" Apa maksudmu? "
" Iya sewaktu kamu meminta minum bersamaku, dan mabuk. Kamu tidak apa-apa kan? "
" Iya tidak apa-apa, kamu juga kan yang memberikan obat nyeri haid waktu itu? " tanya Anna membuat Kirei mengerutkan dahinya tidak mengerti.
" Hei, itu bukan aku. "
" Lalu? "
" Jadi dia tidak berbicara sama sekali? "
" Apa maksud kamu? "
" Lim, waktu kamu mabuk dia meneleponmu dan aku menyuruhnya untuk datang dan membawa kamu pulang ke rumah kamu. "
" Tapi sepertinya dia membawa kamu sambil menggendong sampai rumah, karena sewaktu itu bis dan taksi sama sekali tidak berdatangan. " Jelas Kirei yang membuat Anna mengerti, jadi waktu itu bukan Kirei tapi Lim.
" Tapi kamu gapapa kan? " tanya Kirei lagi khawatir.
Anna menundukan pandangannya, sudah selama ini pun Lim masih perhatian terhadap nya. Bahkan ia menggendong Anna yang lumayan berat itu lebih dari 30 menit.
" Aku harus balik ke ruangan Lim! " kata Anna terburu-buru seraya berlari memasuki ruang rawat Lim.
" Anna, kamu tidak apa-apa? " Tanya Lim khawatir.
Anna melihat kesana-kemari tapi sudah tidak ada Gi. Anna mendekati Lim dan bertanya " Gi sudah pulang? "
" Sudah kenapa, apa kamu tidak melihatnya? "
Anna menggelengkan kepalanya. Tapi ia tidak perduli, ia lebih perduli dengan pernyataan Kirei tadi.
" Hari ini kamu pulang kan? " Tanya Anna. Lim mengangguk-anggukan kepalanya. " Jadi hari ini dan sampai kamu benar-benar pulih, kamu harus tinggal bersamaku. Aku akan merawat kamu sampai pulih. " Lanjutnya membuat Lim semakin kebinggungan.
" Lagipula dirumah kamu tidak ada siapa-siapa kan? Jadi kalau kamu kenapa-kenapa lagi, itu akan menjadi masalah lebih berat lagi bukan? "
Lim tersenyum kecil dan berkata " Kalau itu memang maumu, aku akan terima. Tapi bagaiamana dengan Gi? "
" Aku akan berkata kepadanya. "
••
Kirei dan Gi bertemu di parkiran, Gi menceritakan segalanya kepada Kirei. Dan rencana kedepannya bagaimana.
" Kamu serius? " tanya Kirei.
Gi mengigit bawah bibirnya dengan pandangan tertunduk " Aku serius. " Katanya dengan ragu.
" Kalau itu mau kamu, kamu harus bersiap dengan hati kamu. "
" Aku sudah siap. "