Love Captain Handsome

Love Captain Handsome
Episode spesial 2



Pertandingan antara kelas 1,2 pun di mulai.


Tim kelas 1 bermain tanpa menggunakan strategi sama sekali, sedangkan tim kelas 2 bermain menggunakan strategi.


Tim kelas 1 susah untuk mengimbangi kecepatan dari tim kelas 2 apalagi senpai yang bernama Hideyoshi.


Kecepatan, kekuatan serta kelincahannya melibihi anak kelas 2 lainnya.


Tapi ada pula yang selalu mensupport Hideyoshi, dia adalah Hadji.


Walaupun permainannya tidak terlalu menonjol, tetapi Hadji selalu membantu Hideyoshi agar mencetak gol.


Skor diquarter pertama adalah 25-6.


Tim kelas 1 kalah jauh dengan tim kelas 2, di quarter pertama pun kelas 1 sudah kelelahan.


" Istirahat 5 menit, pergantian quarter. " Kata Hirahata.


Tim kelas 1 duduk dikursi cadangan, keringat tidak ada berhentinya. Nafas yang terengah-engah membuat Lim mendekati Hoshida, Jun, Kuramochi, Asuka dan Sanada.


" Permainan kalian tidak selaras, sekarang buat strategi. " ucap Lim.


Hoshida merasa kesal dengan ucapan Lim karena merasa menggampangkan permainan ini langsung berdiri dari kursi cadangan dan menatap Lim dengan tajam.


" Kamu kira gampang untuk membuat strategi melawan kelas 2? Mereka lebih banyak berlatih bersama dibandingkan kita yang baru kenal." Tegas Hoshida.


Okumura meleraikan mereka berdua, menjauhkan antara Hoshida dan Lim agar tidak bertengkar.


" Kalian pemain basket yang terkenal bukan saat SMP? Berarti kalian tahu pola serangan 1-3-1 Pola Diamond, siapapun tahu kan karena pola ini paling terkenal? Kalau begitu bermain dengan pola serangan ini! " ujar Lim dengan kesal seraya keluar dari lapangan basket.


Ia sudah tidak tahan ingin bermain di lapangan, tangan serta kakinya sudah sangat siap untuk bermain disana.


Peluit berbunyi tanda quarter kedua sudah dimulai. " Pemain diquarter kedua masih sama, untuk quarter ketiga silahkan ganti dengan pemain yang belum bermain di atas lapangan! " perintah Hirahata.


Okumura keluar mengikuti Lim, terlihat Lim yang tengah duduk di depan lapangan basket dengan melemparkan sebongkah batu di depannya.


" Kamu tidak apa-apa? " tanya Okumura.


" Bukan urusanmu " sinis Lim.


" Katanya quarter ketiga kita bermain, strategi apa yang harus kita buat untuk mengalahkan para senpai? " tanya Okumura membuat wajah Lim kembali berseri.


" Kalau begitu masuk terlebih dahulu dan beritahu kepada pemain yang sama sekali belum bermain. " kata Lim seraya memasuki lapangan basket kembali.


Lim memberitahu strateginya kepada Okumura, Kenji dan Tama. Kenji dan Tama adalah pemain pemula yang masih belum tahu apa-apa, maka dari itu Lim memberitahu strateginya apa dan posisi apa yang cocok untuk tinggi badan mereka.


Kenji dan Tama mengerti, Okumura hanya tersenyum simpul. " Jadi kamu membebankan ke kamu sendiri ya? " tanya Okumura.


" Tidak, kamu dan saya. " Jawab Lim.


" Benar-benar strategi yang nekat. " sindir Okumura.


Tapi memang beginilah seorang Lim, dari SMP ia tidak pernah berubah. Sekolah Okumura dulu saja selalu dikalahkan oleh sekolah Lim dengan strategi yang benar-benar nekat.


" Tapi kita kurang 1. " Kata Tama.


" Tenang, kalau kurang 1 pun kapten pasti mengerti. Atau ia akan mengambil lagi dari pemain sebelumnya. "


Peluit berbunyi akhir dari quarter kedua dengan skor 50-10, yang dimenangkan oleh tim kelas 2.


5 menit kemudian.


Peluit quarter ketiga dimulai. " Siapa pemain kelas 1 selanjutnya ? " tanya Hirahata


" Lim, Okumura, Tama dan Kenji. " Jawab Lim.


" Tim kamu kurang 1 " .


" Permisi maaf. " ucap seseorang dari arah pintu masuk lapangan basket.


Seorang lelaki tinggi dengan pakaian olahraga dan sepatu basket memasuki lapangan basket yang membuat seluruh anggota melihat kearah lelaki tersebut.


" Kamu siapa? " tanya Hirahata.


" Saya Sawamura, anggota yang ingin masuk club basket sebagai murid kelas 1. Maaf saya telat, tadi saya harus berurusan dengan kepala sekolah terlebih dahulu. " jelasnya.


" Kamu sudah pemanasan? "


" Ah, tadi saya berlari kesini. Jadi apa itu sudah dianggap pemanasan? "


" 5 menit pemanasan, untuk sementara tim kalian digantikan oleh salah satu pemain tim kelas 1 yang masih bisa bermain. "


Kuramochi mengangkat satu tangannya. " Saya masih bisa bermain kak. " ujarnya seraya memasuki lapangan.


" Jadi strategi apa yang kamu buat? " tanya Kuramochi kepada Lim.


" Untuk sementara kamu lebih baik melakukan steal saat mereka menyerang saja. Dan untuk saat kita menyerang kamu masuk kedalam garis dekat ring bersama Tama dan Kenji. " jelas Lim secara singkat.


" Oke. "


Peluit berbunyi quarter ketiga dimulai.


Di menit-menit awal, Lim masih memperhatikan pergerakan mereka. Namun dalam pertahanan Lim tidak akan membiarkan siapapun masuk mencetak gol.


Saat Hideyoshi ingin melakukan fake(tipuan) gerakan kepada Lim, Lim tidak terkecoh dan langsung mensteal bola dari Hideyoshi.


Dan secara cepat ia mendribble bola tersebut sampai melakukan dunk yang membuat seluruh anggota terdiam.


Mereka terkejut karena anak kelas 1 melakukan dunk yang sangat sempurna.


Begitu juga dengan anak kelas 1 lainnya merasa terhina karena sudah meremehkan Lim.


Sawamura yang sedang melakukan stretching pun kagum terhadapnya. " Sempurna " gumam Sawamura.


Lim balik kembali untuk melakukan defend, Okumura pun berbisik. " Ini masih menit-menit awal jangan terlalu menonjol. " canda Lim.


" Bukankah dimenit-menit awal seharusnya kita membuat mereka ketakutan? " kata Lim dengan nada licik.


Tim kelas 2 melakukan offense kembali, tetapi tim kelas 1 tidak membiarkan siapapun memasuki pertahanan mereka.


Meskipun Tama dan Kenji masih sangat pemula, tapi mereka dengan tekad yang tidak ingin kalah menunjukkan pertahanan yang membuat tim kelas 2 tidak bisa apa-apa.


Dan saat tim kelas 2 mulai terpojok, Kuramochi mensteal bola dari Hadji. Memberikannya kepada Okumura yang sudah berlari, lalu dengan postur tubuh yang siap Okumura mencetak three point.


Skor menjadi 50-15, dalam kurun waktu 1 menit. Tim kelas 1 mencetak skor 5, dan permainan tim kelas 2 menjadi seperti yang dibayangkan oleh Lim.


Tim kelas 2 akan merasa terpojok saat mereka melakukan offense, dan defend mereka yang lama membuat tim kelas 1 merasa lebih unggul.


Permainan pun terus berlanjut, Tama dan Kenji yang ingin mencetak skor tapi tidak masuk kedalam ring selalu dibantu oleh Lim serta Okumura.


Lim memberikan arahan yang baik kepada teman-temannya. Hirahata yang memperhatikan Lim langsung tersenyum kecil " Pemain seperti ini yang diharapkan. " gumam Hirahata yang terkagum melihat permainan Lim.


Peluit berbunyi.Tim kelas 2 meminta time out, Skor 55-30.


" Yeay!! " sorak dari tim kelas 1.


" Terimakasih Lim. " ucap bersama Kenji dan Tama.


Lim tersipu malu " Itu hasil kerjasama kita. " jawab Lim.


" Sawamura kamu masuk selanjutnya menggantikan Kuramochi! " teriak Hirahata.


" Siap. "


Sawamura berjalan mendekati Lim, ia mengulurkan tangannya kearah Lim. " Sawamura, mohon bantuannya. "


Lim menjawab uluran tangan Sawamura " Lim, mohon bantuannya juga. "


Peluit kembali berbunyi, quarter ketiga dengan waktu tersisa 5 menit dimulai kembali.


Lim tidak tahu kemampuan Sawamura sama sekali, strategi bahkan belum sempat dibicarakan kepada Sawamura.


" Sawa.. " Belum Lim menyelesaikan pembicaraan. Sawamura langsung berkata " Aku mengerti, aku tinggal mensteal bola saja kan? ".


" Bukan. " jawab Lim. " Kamu juga harus mencetak skor. " Lanjut Lim.


" Jadi kamu ingin melihat kemampuanku ya? "


Lim hanya terdiam. " Intinya semoga kamu bisa mencetak skor. "


Peluit permainan dimulai.


Dalam quarter ini, tim kelas 2 hanya mampu mencetak skor 5. Itu pun karena kesalahan defend oleh Tama dan Kenji.


Hideyoshi yang dijaga oleh Lim sama sekali tidak bisa mencetak skor.


Sesaat Lim mensteal bola dari Hadji, Lim dengan cepat mempassing bola tersebut kearah Sawamura yang sudah berlari.


Sawamura mengambil bola tersebut dari Lim dan melakukan dunk seperti yang Lim lakukan pertama kali.


Lagi dan lagi seisi lapangan langsung terdiam, tim kelas 1 kali ini sangat hebat. Lebih hebat daripada yang dibayangkan oleh Hirahata.


Okumura mendekati Lim dan berbisik " Kamu punya rival. "


Permainan kembali dimulai dengan strategi 1-3-1, permainan kelas 1 pun lebih selaras dibandingkan dengan kelas 2.


Mesikpun mereka tidak pernah berlatih bersama dan tidak pernah satu tim. Tapi mereka bisa kerja sama dengan baik adalah hal yang diinginkan oleh kapten Hirahata.


Peluit akhir dari game pun berbunyi. Skor akhir 75-70, tim kelas 2 memenangkan game meskipun diakhir pertandingan tim kelas 1 ingin menyamakan skor.


Tepuk tangan meriah dari para pemain, Lim membungkukkan badannya mengatur nafasnya karena bermain dengan tempo yang sangat cepat.


Sawamura menepuk punggung Lim dan berkata " Permainan tadi bagus, selanjutnya mohon bantuannya lagi. "


Lim hanya terdiam tidak menjawab ucapan dari Sawamura. Okumura mendekati Lim dengan keringat yang sudah mengucuri wajahnya itu. " Kamu lelah? Sehabis ini ingin makan terlebih dahulu tidak dirumah makan ramen di depan sekolah? " ajak Okumura.


" Tidak, saya terlalu lelah. Jadi lebih baik saya pulang. " tolak Lim.


Sepulang dari latihan pukul 7:00 p.m


Lim berjalan menuju kerumahnya dengan sempoyongan, ia merasa sangat lelah karena bermain dengan tempo sangat cepat.


Sudah lama ia tidak bermain seperti ini, saat SMP karena temannya tidak mempunyai fisik yang sangat bagus. Lim selalu bermain dengan tempo lambat namun terarah.


Dan kali ini ia bermain dengan tempo yang sangat cepat membuat Lim merasa lelah.


Lim berhenti sebentar, ia duduk disebuah ayunan di taman bermain dekat rumahnya.


Lim mengatur nafasnya lagi dan mengambil botol minum di dalam tasnya. Tapi botol tersebut sudah sangat kosong, tidak berisi air sama sekali.


" Cih " keluh Lim.


Namun tanpa sadar, penglihatannya semakin buram. Badannya lemas, dan kepalanya sangat berat.


Lim terjatuh tanpa sadarkan diri.


••


" Hei, bangun! "


" Hei! "


" Hei, bangun. Kamu tidak apa-apa? "


" Hei! "


Mendengar suara perempuan, Lim yang pingsan langsung membuka matanya perlahan.


Terlihat seorang perempuan di hadapannya, Lim terkejut karena perempuan yang berada di hadapannya saat ini adalah Anna.


" Kamu tidak apa-apa? Kamu pingsan disini. "


Lim mengusap matanya ia takut hanya halusinasinya saja, ia juga mencubit-cubit pipinya takut bahwa ini hanya mimpi.


Tapi ia merasa sakit, dan jelas bahwa ini bukanlah mimpi ataupun halusinasinya.


Anna memberikan botol minum kepada Lim " Sebaiknya mi... "


Belum saja Anna menyelesaikan ucapannya, Lim sudah mengambil botol minumnya terlebih dahulu. Dan langsung meminumnya tanpa henti sampai air di dalam botol tersebut habis.


" Aaaa... Segarnya.... " kata Lim merasa fresh kembali.


" Kamu sudah tidak apa-apa kan? Kalau begitu aku pulang. " ucap Anna seraya ingin pergi namun tertahan oleh Lim yang memegangi lengannya itu.


" Sebentar, aku takut pingsan lagi. Jadi boleh tidak pulang bersama? "


Anna melepaskan tangan Lim dari lengannya. " Tidak. Kamu terlihat sudah sangat fresh, lagipula aku tidak mengenal kamu. Jadi maaf, aku harus pulang. "


Lim merapatkan bibirnya, wajahnya kosong karena mendengar ucapan Anna.


" Tidak mengenal? Jadi yang tadi kamu lihat di sekolah siapa? Bukan aku? " gumam Lim yang merasa bodoh.


Keesokan harinya.


Lim yang berangkat sekolah, tidak senggaja melihat Anna yang keluar dari rumahnya. Mata Lim melebar " Jadi rumahnya dekat denganku? Ini sebuah takdir. " gumam Lim.


Lim mengikuti Anna dari belakang, mengikuti setiap langkah kaki dan gerak gerik Anna.


Ia hanya tersenyum kecil merasa Anna sangat lucu. Namun, tiba-tiba saja Anna membalikkan badannya. Lim pun langsung berpura-pura bersiul dengan pandangan entah kemana.


Anna pun berjalan seperti ingin mendekati Lim, tapi ternyata tidak. Anna hanya kembali kerumahnya.


" Hah! " kesal Lim karena sudah pede bahwa Anna akan mendekatinya.


Lim pun hanya mendesah kesal dan berjalan kembali ke sekolah dengan kedua tangan yang dimasukan kedalam saku celananya.


Sesampai di depan gerbang sekolah, Lim melihat Okumura yang sedang melambaikan tangannya kearahnya dengan senyuman seperti seorang lelaki gay.


Lim berpura-pura tidak melihat Okumura, ia hanya berjalan lurus menuju lobby. " Hei, sombong sekali! " ujar Okumura.


" Tolong jangan senyum seperti seorang gay. " Kata Lim.


" Hah gay?!! " Teriak Okumura membuat seluruh siswa-siswi melihat kearahnya.


" Tidak usah berteriak, orang-orang akan mengira kita gay! " Kesal Lim.


" Tidak! " resah Okumura. " Kalau begitu tidak usah tersenyum saat melihat kearahku! Itu menjijikan. " sinis Lim.


" Wah, omonganmu benar-benar jahat. "


" Lebih baik masuk kelas " lanjut Okumura.


Bel berbunyi tanda masuk kelas.


Lim memberhentikan langkah kakinya menolehkan kepalanya kebelakang mencari Anna, tapi Anna sama sekali belum datang padahal tadi ia sudah sempat berangkat.


" Ayo masuk. " ajak Okumura. Lim hanya melemparkan tasnya kearah Okumura " Hei, taro tasku di kelas. Nanti saya balik lagi. " Teriaknya seraya berlari keluar gerbang sekolah.


" Tadi ngomongnya saya terus aku. Sebenarnya bagaimana. " kesal Okumura.


Lim berlari kearah gerbang sekolah, matanya mengelilingi sekitar mencari Anna.


Bel sekolah sudah masuk, namun Anna masih belum datang. Lim terus berjalan kesana-kemari menahan satpam untuk tidak menutup gerbangnya terlebih dahulu.


Tapi Lim tidak bisa apa-apa, satpam menutup gerbang yang membuat siapapun terlambat akan terkena hukuman.


" Tch " desis Lim seraya berjalan memasuki kelasnya kembali.


" Pak maaf biarkan saya masuk, saya hanya telat 2 menit. " teriak seseorang yang membuat Lim langsung menolehkan kepalanya melihat suara teriakan itu.


Dan benar, Anna sedang memohon kepada satpam untuk membuka gerbang.


Lim tersenyum kecil, ia ingin mendekati Anna dan memohon kepada satpam.


Tapi ia tidak bisa, Kepala Sekolah sudah terlebih dahulu mendekat Anna.


" Buka gerbangnya. " Kata Kepala Sekolah.


" Terimakasih pak. " ucap Anna seraya ingin berjalan namun tertahan saat Kepala Sekolah berkata " Kamu ingin kemana? "


" Ke kelas pak. "Jawab Anna polos.


" Lari keliling lapangan dahulu 10 putaran. " perintah Kepala Sekolah.


" Tapi pak saya hanya telat 2 menit. " tolak Anna.


" Tidak! Telat tetap telat, kamu ingin belajar bukan? Lari terlebih dahulu 10 putaran. Kalau tidak ingin belajar, silahkan pulang! " seru Kepala Sekolah yang membuat Anna terpaksa untuk berlari keliling lapangan.


Ketika mendengar Anna terkena hukuman, Lim secara diam-diam ingin kembali ke kelas tapi tertahan saat Kepala Sekolah sudah berada di hadapannya dengan tatapan tajam.


" Kamu sedang apa di luar? Bukankah harusnya berada di dalam kelas? Lari keliling lapangan 10 putaran! " tegas Kepala Sekolah kepada Lim.


Lim hanya menurut dan berlari keliling lapangan bersama dengan Anna.


" Tidak apa-apa, kesempatan. Terimakasih pak " gumam Lim dengan senyum kecilnya.


Selama lebih dari 5 menit, Anna dan Lim belum menyelesaikan larinya. Dan dalam 5 menit juga hanya ada keheningan.


" Kamu... " kata Lim memecahkan keheningan. " Tidak lelah? " lanjut Lim.


Anna hanya terdiam dan terus berlari. Bagi Lim ini hal biasa, tapi berbeda dengan Anna yang tidak berolahraga.


" Lebih baik istirahat terlebih dahulu. " nasihat Lim khawatir Anna kenapa-kenapa.


Anna tetap acuh kepada Lim yang membuat Lim kesal karena takut Anna akan pingsan.


Lapangan outdoor SMA Seido sangat luas, siapapun yang tidak suka berolahraga akan merasa kelelahan meskipun hanya 1 putaran.


Namun dalam 5 menit dengan 3 putaran, Anna tidak terlihat lelah sedikitpun. " Kamu beneran tidak lelah? " tanya Lim khawatir.


Lim memperhatikan wajah Anna, wajahnya terlihat sangat pucat. Lim dengan keberanian memegang lengan Anna menahannya agar tidak berlari lagi.


" Istirahat, minum terlebih dahulu! Wajah kamu pucat! " kesal Lim.


Anna melepaskan tangan Lim dari lengannya dengan sangat keras. " Lepaskan! " bentak Anna tidak suka.