Love Captain Handsome

Love Captain Handsome
Episode spesial 46



Kebisingan, orang-orang yang berlalu-lalang dan seorang perempuan yang memeluk Lim secara tiba-tiba. Pelukannya membuat tubuh Lim terdiam, membeku tidak bisa bergerak. Perasaan binggung dan aneh mulai menyatu dalam diri Lim. 


Namun, dari arah belakang seorang pria tidak sengaja menabrak bahu Lim yang membuat lamunannya buyar.


Ia kembali tersadar, dan mulai mendorong perempuan yang memeluknya dengan sangat kuat agar menjauhinya.


Kacamata hitam dan masker hitam yang perempuan itu pakai sehingga Lim tidak mengetahui siapa perempuan yang berada di depannya saat ini.


Ketika Lim mencoba melepaskan kacamata dari perempuan tersebut, perempuan itu memundurkan langkah kakinya dan berlari menjauhi Lim.


" Hei! " Teriak Lim. Ia mengerutkan dahinya tidak mengerti dengan hari ini yang dipenuhi oleh berbagai macam orang-orang aneh.


Lim hanya berjalan kembali untuk pulang dengan tangan yang dimasukan ke dalam saku celana.


Pikirannya mulai berantakan, hari yang benar-benar sulit dan aneh. Ia tidak mengerti dengan hari ini, pertama dengan seseorang yang tiba-tiba memfoto kearahnya.


Kedua, seorang perempuan yang tiba-tiba memeluk kearahnya.


" Tch. " Desisnya dengan menendang sebuah kaleng dan tidak sengaja mengenai seorang lelaki yang berada di hadapannya.


" Maaf. " Lim tidak enak.


Tapi ternyata lelaki yang berada di hadapannya adalah Okumura, keningnya memerah karena tendangan Lim yang sangat keras.


" Kap!!!!! " Seru Okumura kesal. " Maaf, maaf. " Ucap Lim memberikan sebuah permen kepada Okumura sebagai tanda permintaan maaf.


Okumura mengambil dengan cepat dan langsung memakan permen tanpa jeda terlebih dahulu.


" Habis kedokter? " Tanya Okumura yang sudah tidak emosi kembali. Lim menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


" Bagaimana kata dokter? "


" 1 Minggu lagi sudah boleh kembali bermain. "


" Serius? "


" Iya. "


" Wah!!! " Okumura dengan sumringah. " Ngomong-ngomong, 1 Minggu lagi kita akan sparing bersama SMA Fukuro. Sebagai tanda permintaan maaf dan pertemanan. " Lanjut Okumura membuat Lim mengerutkan dahinya tidak mengerti.


" Kenapa? Siapa yang mengizinkan? "


" Kataoka-sensei. "


" Bapak tua itu. " Kesal Lim karena Kataoka yang asal menerima tanpa meminta persetujuan dari para anggota SMA Seido.


" Jadi, persiapkan diri kamu kap. " Kata Okumura seraya menepuk pundak Lim dan berjalan pulang.


Sedangkan Lim yang bosan tinggal di rumah, meneleponnya adiknya yaitu Ayaka. Karena hari ini juga ulang tahun dia, maka dari itu Lim menelepon Ayaka.


Ia tidak bisa menelepon Ayahnya karena pertengkaran yang terjadi di liburan musim panas.


Ayaka adalah adik angkat dari keluarga Lim, ia bukan anak dari Ibu tirinya melainkan seorang anak yang diangkat oleh ayahnya Edward. Umurnya dengan Lim sama hanya berbeda bulan saja.


Adik angkatnya adalah seorang perempuan yang tinggal di Korea Selatan, saat usia sekitar 14 atau 15 tahun ia juga pernah memasuki sebuah penjara di bawah umur. Tetapi Lim tidak mengetahui alasan dari masuknya Ayaka ke dalam penjara.


" Halo. " Panggil Lim yang sudah terjawab oleh...


" Kakak! Jarang sekali kamu menelepon, ada apa? "


" Hanya bosan saja. "


" Bosan? Katanya di Jepang seru, tapi ini kok malah bosan. "


" Bosan karena tidak bisa apa-apa. "


" Ah iya, saat liburan musim panas tahun besok aku akan pergi ke Jepang untuk liburan. Tidak apa-apa kan? "


Mata Lim terhenti saat melihat Anna dari kejauhan bersama Gi, baru saja tadi Lim melihat Gi di rumah sakit.


" Kenapa mereka berduaan terus sih. " Gumam Lim yang teleponnya masih tersambung oleh Ayaka


" Kakak, ada apa? " Tanya Ayaka kebinggungan.


" Tidak. " Jawab Lim. " Kamu dengar aku tidak kak? " Kesal Ayaka karena sepertinya tidak fokus dengan teleponnya saat ini.


" Anna. " Gumam Lim yang terdengar oleh Ayaka


Mendengar nama " Anna " dari suara Lim membuat Ayaka terdiam, tidak bisa berkata.


Nama yang sangat familiar di telinganya dan juga nama perempuan yang membuat luka kepadanya.


" Kak, kamu bicara apa? " Ayaka berpura-pura tidak mendengar.


" Maaf aku tutup dulu ya, Happy birthday. " Ucap Lim menutup telepon dan berjalan menjauhi pandangannya dari Anna.


Lim tidak bisa melihat Anna lagi, saat ia melihat Anna bersama dengan lelaki selain dirinya perasaannya tidak bisa tertahan selalu saja ingin menghampiri Anna dan berkeinginan untuk berbincang.


Tapi, karena sebuah tekad yang sudah Lim buat. Ia harus menahan perasaannya apapun itu.


••


8:40 a.m


Hanya tinggal 5 menit lagi sisa waktu yang tersisa untuk memasuki sekolah, sedangkan Lim baru saja bangun dari tidurnya.


Dan lagi, hari ini adalah ujian mid semester. Jika Lim telat, ia harus mengikuti pelajaran tambahan dan semua usaha Anna akan sia-sia.


Tanpa sarapan, Lim langsung menggowes sepedanya dengan kecepatan penuh.


Sekitar 5 menit sampai sekolah, Lim segera memasuki gedung sekolah yang sudah mulai tertutup.


" Tepat waktu. " Kata Lim yang sudah maparkirkan sepedanya.


Satpam di depan sekolah hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Lim yang sangat berani dan selalu terlambat.


Kelas 1-1.


Tangan Anna tidak bisa berhenti bergerak khawatir, sejak tadi pagi ia belum melihat Lim sama sekali.


Padahal seharusnya Lim sudah datang untuk melaksanakan ujian mid semester yang sebentar lagi akan dimulai.


Pelajaran pertama juga dalam ujian mid semester ini adalah Matematika. Anna benar-benar khawatir dengan Lim, ia takut bahwa Lim tidak akan datang.


Tetapi ke khawatirannya mulai menghilang saat melihat Lim yang berjalan di lobby menuju kelasnya.


Anna lega karena akhirnya Lim datang ke sekolah. Dan tidak sengaja mata mereka bertemu sesaat.


Pipi Anna yang memerah langsung memalingkan pandangannya untuk tidak menatap kearah Lim.


Hatinya berdebar-debar tidak henti, ia memukul dadanya untuk berhenti berdetak karena ini sangat memalukan untuknya.


Bel berbunyi, tanda ulang sudah dimulai dengan waktu 60 menit.


Seluruh siswa-siswi kelas 1,2,3 sudah mulai mengerjakan soal dengan serius. Beberapa orang ada yang tidak bisa menjawab seperti Hideyoshi, Kuramochi dan Yuki.


Pelajaran matematika adalah pelajaran tidak menyenangkan baginya, sedangkan Lim bisa menjawab soal dengan tenang karena kertas yang diberikan oleh Anna.


Selama 3 hari sebelum ulangan, ia selalu belajar dan membaca ulang soal-soal yang diberikan kepada Anna.


Hampir 75% soal yang diperkirakan oleh Anna sama dengan ujian kali ini.


" Kap " Panggil Okumura dengan suara yang sangat kecil. Lim tidak menanggapi panggilan dari Okumura.


Pengawas dalam kelas 1-2 adalah Kataoka, tidak ada satupun siswa atau siswi yang berani menyontek saat pengawasnya Kataoka.


Hanya Okumura dan Lim yang berani menyontek.


Saat ulangan mid semester pertama yang dimana Lim melakukan pelajaran tambahan, ia ketahuan menyontek oleh Kataoka saat ulangan pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.


Kataoka langsung merobek kertas ulangan Lim dan Lim tidak boleh mengikuti ulangan lagi. Ia juga mengetahui Okumura yang menyontek dengan membawa sebuah kertas kecil di dalam saku baju atau celananya.


Ketika itu juga, Kataoka mengambil hasil ujian yang belum Okumura selesaikan.


Sebagian besar di seluruh kelas 1, sekitar 20 orang sudah menjadi korban dari kekejaman Kataoka.


Maka dari itu, ujian mid semester kali ini di seluruh siswa-siswi kelas 1-2 diselimuti oleh perasaan takut mereka.


Tidak ada seseorang yang melihat contekan lewat kertas kecil atau siulan kepada sesama teman.


Mereka sangat sunyi tidak ada suara apapun, hanya suara kertas ujian.


Sampai akhirnya, tidak ada keheningan lagi saat Lim mengakhiri ulangan matematika dengan sangat cepat.


Siswa-siswi kelas 1-2 langsung bersorak karena Lim dapat mengerjakan ujian dengan cepat untuk pertama kalinya.


" Ini pak. " Lim memberikan hasil ujiannya.


Mata Kataoka menyipit, ia curiga dengan Lim. Selama 1 semester ini, Lim tidak pernah mengumpulkan lebih awal.


Tetapi, kali ini. Ia mengumpulkan paling pertama dan itu adalah pelajaran matematika.


Ketika, Kataoka sibuk mengintrogasi Lim. Para siswa-siswi mulai menyontek dengan teman dekatnya secara diam-diam tanpa ketahuan oleh Kataoka.


" KALIAN SEMUA! " Tegas Kataoka membuat seluruh murid kelas 1-2 terdiam dan berpura-pura mengerjakan kembali.


Kataoka berdiri dan berjalan mengambil kertas seluruh siswa-siswi meskipun mereka belum menyelesaikan ujian, ia juga merobek seluruh kertas ujian tanpa memperdulikan apapun.


Siswa-siswi kelas 1-2 hanya berbisik kenapa Lim bisa terlebih dahulu mengumpulkan, mereka merasa sangat aneh.


Tapi Lim tidak memperdulikan, ia hanya berjalan keluar dengan paras wajah yang sudah senang.


Disaat Lim keluar, Anna juga keluar yang berarti Anna sudah menyelesaikan ulangannya.


Kepala Anna menoleh sesaat kearah Lim yang tengah menyandarkan tubuhnya di dinding.


Saat Lim ingin menoleh kearah Anna, Anna langsung memalingkan pandangannya berpura-pura tidak melihat kearah Lim.


" Terimakasih. " Ucap Lim dengan nada rendah yang tidak terdengar sama sekali oleh Anna.


" TERIMAKASIH. " Kata Lim lagi dengan nada tinggi dan teman kelasnya yang memperhatikan kearah Lim, Anna melirik kearah Lim matanya melebar.


" Kamu berbicara kepadaku? " Anna kebinggungan. " Iya. " Jawab Lim.


" Terimakasih untuk? "


" Sudah memberikan soal-soal yang dapat aku kerjakan saat ulangan. "


Anna tidak menjawab, ia hanya menahan senyumnya dan kembali memasuki kelasnya karena pengawas dalam kelas 1-1 menyuruhnya untuk masuk.


Sedangkan Lim hanya tersenyum manis memperhatikan kearah Anna.


••


3 hari kemudian, ujian mid semester telah selesai.


Seluruh siswa-siswi merasa lega karena neraka sudah mereka lewati, hanya tinggal pengumuman dan kelas tambahan mereka saja.


Begitu juga dengan Lim yang sudah percaya diri bahwa ia tidak akan mendapat kelas tambahan.


" Kap, kamu kelihatannya senang sekali. " Duga Okumura yang melihat Lim dengan wajah yang sumringah.


" Apakah terlihat? "


Okumura mengangguk-anggukan kepalanya cepat. " Apa kamu yakin ulangan kali ini tidak mendapat pelajaran tambahan? "


" Aku yakin 100% "


Lim merangkul Okumura dan mengajak Okumura untuk pergi ke Kantin, Okumura hanya menerima dan mengikuti Lim.


Namun, tidak sengaja Lim menabrak bahu seseorang. Yang tidak lain adalah Ryuzaki, ia menabrak bahu Ryuzaki yang tengah berjalan kearah Lim dengan sebuah dokumen yang dipegang oleh Ryuzaki.


Dokumen tersebut jatuh, Lim mencoba mengambilnya dan membaca tulisan " Surat Perjanjian Pertunangan. "


Tangan Lim terkepal, ia mencoba untuk membaca dokumen itu tapi Ryuzaki segera mengambilnya dan berkata " Jangan asal membaca! "


Ryuzaki mencoba berdiri dan kembali berjalan meninggalkan Lim.


" Kenapa? " Bisik Okumura. " Tidak ada apa-apa " Jawab Lim yang tidak memperdulikan tentang dokumen tersebut lagi. Mereka pun hanya kembali berjalan menuju Kantin.


6:00 p.m


Anna berjalan memasuki ruang kolam renang yang kosong tanpa ada orang, anggota ekstrakulikuler renang sudah pulang karena waktu mereka sudah habis.


Hanya tinggal Anna dengan Ryuzaki yang membawa sebuah dokumen.


Dokumen yang berisi tentang perjanjian pertunangan antara Anna dan Ryuzaki.


Kaki Anna kaku tidak bisa berjalan, ia mencoba mendekati Ryuzaki dengan tangan yang bergetar ketakutan.


" Anna, kamu lama sekali. " Keluh Ryuzaki yang duduk di sebuah kursi.


Ryuzaki mulai berdiri dan mendekati Anna karena Anna yang terdiam di jarak yang lumayan jauh.


" Tanda tangan. " Ryuzaki memberikan sebuah dokumen kepada Anna, Anna tidak bisa menandatangani kontrak tersebut, ia takut.


" Cepat, atau aku kirim ke seluruh sekolah. " Ancam Ryuzaki.


" Boleh aku minta kamu untuk hapus video itu? "


" Boleh, asalkan kamu tanda tangan. "


" Oke. " Anna menandatangani surat kontrak itu dan Ryuzaki yang tidak menghapus video.


Ia hanya mendorong Anna terjatuh ke dalam kolam renang setinggi 2 meter, Anna yang tidak bisa berenang hanya tenggelam dengan nafas sesak.


Mencoba berteriak tidak ada satupun yang mendengar, Ryuzaki sudah berjalan keluar tanpa menolong Anna.


Tubuh Anna semakin lama semakin lemas, nafasnya juga sudah hampir habis.


Ingatan tentang masa lalu buruknya kembali menghantui Anna, tubuh Anna menjadi tidak berdaya.


Lebih dari 30 detik, belum ada satupun yang menolong Anna.


Ia hampir saja kehilangan kesadaran, tapi seorang lelaki dengan cepat menolong Anna. Lelaki itu mengambil tangan Anna dan mengangkat tubuh Anna keluar dari kolam renang.


Anna sudah mulai dapat bernafas kembali, wajahnya pucat. Tangannya bergetar ketakutan, ia menoleh sesaat kearah lelaki yang telah menolongnya.


Wajah yang sangat familiar di muka Anna membuat Anna dengan cepat memeluk tubuh lelaki itu sambil berkata " Terimakasih. "