Love Captain Handsome

Love Captain Handsome
Episode spesial 10



" Lim maaf, maaf. " kata Yuki keluar mendatangi Lim.


" Senpai, hati-hati. Hampir saja perempuan ini terkena. " Nasihat Lim.


" Iya maaf, kamu baik-baik aja? " tanya Yuki.


Mata Anna berkaca-kaca, ia sangat takut bola tadi terkena kepalanya.


" Tidak apa-apa. " jawab Anna.


Yuki berjalan mendekati Anna dan terkejut " Anna, kenapa kamu ada disini? "


" Kak Yuki. " ucap Anna.


" Sedang apa kamu disini? Kamu baik-baik saja kan? Maaf ya. "


Anna menganggukkan kepalanya, hatinya sedikit tenang. " Tadi, Tante memberitahu aku kalau Kak Yuki lupa membawa botol minumnya. Jadi aku disini memberi botol minum untuk Kak Yuki. " ujar Anna.


Yuki mengelus kepala Anna secara perlahan " Terimakasih Anna. "


" Hei Anna, kenapa kamu bisa baik sekali dengan Yuki-senpai? " tanya Lim yang merasa iri melihat Anna sangat baik dengan Yuki.


Anna hanya menatap sinis Lim, lalu membungkukkan badannya setengah seraya pergi dari lapangan basket.


" Anna! " panggil Lim.


" Apa maksud kamu bertanya seperti itu Lim? " tanya Yuki heran.


" Tidak, dia hanya sangat cuek dan tidak punya hati kepada saya senpai. Tapi dia sifatnya menjadi berbeda saat bersama senpai. " jawab Lim kebinggungan.


Yuki tersenyum kecil " Karena aku sepupu dia. "


" Hah? " Kaget Lim.


Namun, tiba-tiba saja sudut mata Yuki mengerut " Ada sesuatu yang membuat dia tidak punya hati. Tapi kalau kamu sudah mengenal asli Anna, dia adalah anak yang sangat baik dan lembut. Dan saat... "


Ucapan Yuki terhenti ditengah. " Sudah sudah jangan berbicara tentang Anna lagi, lebih baik kita latihan kembali. " ajak Yuki seraya mendorong tubuh Lim untuk memasuki lapangan basket.


5:00 p.m


Pelatihan selesai, seluruh anggota berkumpul untuk mendengarkan pemilihan dari Coach.


" Saya tidak ingin berbasa-basi. Pemain yang akan saya pilih adalah... "


" Hirahata, Yuki, Kazuma, Kuraha, Lim, Hideyoshi, Sawamura. "


Ke 7 pemain sudah terpilih tinggal 3 lagi.


" Itu adalah pemain yang sudah saya siapkan untuk Inter-High, untuk ke 3 pemain lagi. Siapkan diri masing-masing dan biarkan saya melihat kemampuan kalian sampai pelatihan musim panas selesai. "


Lim menolehkan kepalanya kearah Okumura karena nama Okumura masih belum terpilih.


Okumura hanya tersenyum kecil kearah Lim " Selamat " katanya tanpa suara.


" Kamu baik-baik saja? " tanya Lim dengan perasaan tidak nyaman.


" Aku baik-baik saja, lagipula aku memang sudah tahu siapa saja yang kepilih kap. "


" Masih ada 3 posisi lagi semangat untuk memperebutkan. "


" Kamu hebat kap, bisa mengalahkan kelas 3 lainnya. " kagum Lim karena ada 3 orang lagi dari kelas 3 yang tidak terpilih. Padahal mereka sudah kelas 3 dan ini adalah Inter-High terakhir mereka.


" Aku lebih baik memberikan 3 posisi itu kepada anak kelas 3 lainnya, aku tidak tega kap melihat mereka tidak bermain. "


Lim menyikut perut Okumura perlahan " Ini yang dinamakan pertandingan, siapapun yang terpilih dia yang akan menjadi juaranya. "


" Jangan mau kalah, siapapun lawannya harus kamu hadapi! " tegas Lim kepada Okumura.


Okumura tersenyum melihat Lim yang percaya diri. " Siap. "


" Ngomong-ngomong kap, besok adalah pengumuman hasil tes. " bisik Okumura membuat bibir Lim terkatup tidak bisa berbicara lagi.


" Kalau nilaimu jelek, seminggu akan melakukan belajar tambahan dan kamu akan telat untuk mengikuti pelatihan di Chiba. "


" Grrrrr. " kata Lim yang tidak ingin memikirkan apapun.


Keesokan harinya


Kelas 1-2.


" Bapak panggil ya, Okumura, Kei, Mira, Kao, " ucap Todoroki-sensei seraya memberikan hasil ulangan.


Lim yang diam dengan mata melebar bersiap-siap untuk mengambil hasil ulangannya.


" Lim. " panggil Todoroki-sensei dan dengan cepat Lim berdiri sambil mengambil kertas yang diberikan.


" Selamat. " kata Todoroki-sensei.


Nilai ulangan bahasa Jepang Lim adalah 54 sehingga Lim tidak mendapatkan pelajaran tambahan dalam ulangan bahasa Jepang.


Karena maksimal dari nilai ulangan bahasa Jepang adalah 40.


Dan nilai bahasa Inggris Lim adalah 85 sempurna.


Sedangkan untuk nilai pelajaran lainnya, seperti Matematika 15, Sejarah 20, Pendidikan kewarganegaraan 25, Pendidikan Seni 27 dan lainnya tidak ada yang mencapai rata-rata selain bahasa Jepang dan bahasa Inggris.


Bel berbunyi istirahat.


Lim yang frustasi menaruh kepalanya diatas meja. Okumura mendekati Lim " Sudahlah selama nanti Supports Day kamu sehabis pulang sekolah akan mengikuti pelajaran tambahan. "


" Tapi kan bagaimana latihanku? " keluh Lim.


" Kamu bisa lakukan itu sehabis selesai. " ucap Naya ikut nimbrung.


" Hah! " tegas Lim dengan mengangkat wajahnya.


" Atau kamu bisa minta bantuan Anna untuk


menolong kamu. " bisik Okumura.


Lim mengangkat salah satu alisnya, ide Okumura ada benarnya juga.


" Aku denger-denger Anna menjadi juara 1 dikelasnya dan dalam rangking pararel dia mendapat juara 2. Kenapa kamu tidak minta bantuan dia saja? " Tanya Naya.


" Lalu juara 1-nya siapa? " tanya Lim.


" Haruki Sato. " jawab Okumura.


" Haruki? Haruki yang banyak bicara itu? " Lim yang kembali mengingat teman SMP-nya.


Okumura dan Naya mengangguk-anggukan kepalanya.


" Tidak, tidak. Aku tidak ingin dengan dia. Kalau dengan dia bisa-bisa aku mati dengar ocehannya terus menerus. " Tolak Lim.


" Kalau begitu dengan Anna. " Ledek Okumura.


Lim tidak mempunyai pilihan lain, jika tidak nanti ia akan terus mengikuti pelajaran tambahan sampai Sports day selesai.


Lim beranjak dari kursi dan mengambil langkah untuk pergi menuju kelas Anna.


" Permisi ada Anna " Panggil Lim dari luar kelas 1-1.


" Eh itu kan Lim. "


" Iya, kenapa dia sekarang kesini mulu ya? "


" Dia dekat dengan Anna? "


" Tidak mungkin. "


" Aku denger-denger Lim cuman ingin manfaatin Anna karena Anna pintar. " bisik siswi-siswi kelas 1-1.


Lim hanya menghela nafas dan berteriak " ADUH, ADA YANG NGOMONGIN SAYA? KENAPA TIDAK DI DEPAN WAJAH SAYA SECARA LANGSUNG? "


Ucapan Lim membuat para siswi-siswi kelas 1-1 diam karena ketakutan.


Lim menghampiri Anna yang tengah tertidur dengan kepala berada di atas meja dan tangan kanan menjadi bantalan kepalanya.


Lim mencolek pipi Anna perlahan untuk membangunkannya. " Hei, Anna. " kata Lim membangunkan.


Anna sama sekali tidak bangun, sampai akhirnya Lim mencubit pipi Anna sehingga Anna terbangun sambil meringis kesakitan.


" Bangun, apa kerjaan kamu tidur mulu? " kesal Lim.


Anna tidak menjawab, dan memang seperti itulah Anna.


" Jawab! " seru Lim.


Anna tetap mengacuhkan Lim. " Tch " desis Lim tidak suka diacuhkan.


" Yaudah langsung ke intinya saja, aku ingin kamu bantuin aku belajar semua pelajaran kecuali bahasa Jepang dan bahasa Inggris. " pinta Lim.


" Apa kamu dapat pelajaran tambahan? Kamu bodoh ya? " sindir Anna.


" Iya, jadi aku minta sama kamu untuk mengajarkan aku besok karena besok hari libur. "


" Kalau aku menolak? "


" Aku akan melamarmu di depan semua orang. "


Rahang Anna menegang, rasa takut terlukis di wajah Anna.


" Memang kamu berani? "


" Kamu tidak tahu aku? "


Anna menelan ludah. " Sebentar lagi bel, lebih baik kamu masuk kelas. " ucap Anna mengalihkan pembicaraan.


Bel berbunyi tanda masuk kelas.


Tapi karena hari senin akan melakukan Sports day, beberapa kelas mengadakan rapat untuk menanyakan pakaian apa yang akan digunakan.


Dan baju kembar apa yang akan digunakan. Kelas 1-1 menggunakan baju cream, kelas 1-2 menggunakan baju biru, 1-3 hitam, 1-4 putih, 1-5 abu-abu.


Sedangkan untuk kelas 2 dan kelas 3 menggunakan pakaian olahraga dengan atribut masing-masing.


Anna sama sekali tidak ada niat untuk mengikuti Sports day, berada di tengah-tengah orang akan membuatnya ketakutan.


Anna tidak ingin, tapi Ketua Kelas dari kelas 1-1 menyarankan Anna untuk ikut lomba lari estafet.


Kebanyakan perempuan ingin mengikuti tarik tambang dan lari maraton, hanya sedikit dari kelas Anna yang ingin mengikuti lari estafet.


Lari estafet dibutuhkan sebanyak 4 orang, tapi kelas 1-1 hanya 3 orang. Maka dari itu Ketua Kelas meminta Anna untuk mengikuti lari estafet.


Anna tetap menolak, ia tidak bisa.


Teman-temannya terus memohon dan meminta-minta agar Anna ikut.


Lalu sebuah kenangan kecil kembali menghantui Anna, ketika Anna menolak permintaan temannya Anna langsung dipukuli hingga ditendang perutnya.


Anna mengepalkan tangannya tidak mempunyai pilihan lain, tapi kakinya tidak bisa digunakan untuk lari cepat.


Anna tidak punya pilihan, ia menerima dan menanggung resikonya itu sendiri.


••


Minggu, 9:00 a.m


Anna berjalan dengan pandangan tertunduk memasuki Cafe Racer, ia melihat Lim yang sudah menunggunya dibangku dekat jendela.


Tempat itu sangat ramai, Anna tidak bisa kesana.


Lim memberi isyarat kepada Anna untuk mendekati Lim, Anna menggelengkan kepalanya tidak ingin.


Lalu Lim berdiri dan menghampiri Anna " Kenapa? " tanyanya.


" Kita bisa mencari tempat yang sepi? "


" Aku lupa, kita belajar tidak mungkin ditempat yang ramai seperti ini ya. "


Anna menganggukan kepalanya. " Kalau begitu kita ke perpustakaan terdekat. " Ajak Lim


Lim mengajak Anna menuju Tokyo Metropolitan Library.


Lim berjalan berdampingan bersama Anna menuju Perpustakaan Umum tersebut.


Disampainya disana, tempat perpustakaan itu masih tutup dan terbuka pada pukul 10:00 a.m sedangkan sekarang masih pukul 9:30 a.m.


" Yah tutup. " keluh Lim. " Bagaimana ini? " tanya Lim.


" Kalau begitu tunggu dulu saja di depan, kita hanya menunggu 30 menit. " jawab Anna yang duduk disebuah kursi dekat Perpustakaan tersebut.


10 menit tanpa pembicaraan.


20 menit hanya keheningan.


30 menit, perpustakaan terbuka.


" An masuk. " ajak Lim kepada Anna.


Anna mengikuti Lim dari belakang, Lim mencari-cari kursi agar duduk dengan nyaman tanpa ada gangguan.


Lim memilih tempat paling ujung dekat jendela dan hanya ada dua meja dan 4 bangku yang berhadapan.


Anna duduk dikursi tersebut berdampingan dengan Lim. Tanpa berbasa-basi Anna mengeluarkan buku Matematika dan ingin memulai belajar.


" Mari kita belajar. " ucap Anna yang langsung menuliskan sebuah rumus dan pertanyaan soal.


" Kamu tahu soal ini? " tanya Anna. Lim menggeleng-gelengkan kepalanya tidak tahu.


" Kalau begitu... " kata Anna seraya memberikan soal lagi. " Ini bagaimana? " lanjutnya.


Lim tetap menggelengkan kepalanya.


" Berarti kamu harus memulai dari awal lagi. "


Anna pun memberikan penjelasan tentang bab pertama pelajaran Matematika dan sampai bab kedua.


Setelah itu pelajaran selanjutnya geografi, Anna tetap menjelaskan apa saja yang mungkin akan keluar.


Sampai seluruh pelajaran Anna telah menyelesaikan dan Lim hanya tinggal mengisi seluruh soal.


Sedangkan Anna menunggu.


3:00 p.m


Lim sama sekali belum menyelesaikan soal-soal yang diberikan Anna, Anna mulai mengantuk.


Matanya semakin berat dan tanpa sadar ia tertidur tepat dibahu Lim.


Lim yang sedang memikirkan jawaban terdiam karena Anna tertidur dibahunya. Lim ingin membangunkan Anna tapi wajah Anna yang terlihat sangat lelah membuatnya mengurungkan niatnya kembali.


2 jam telah berlalu dan Lim sudah menyelesaikan soal-soalnya.


Anna terbangun dari tidurnya, ia mengusap-usap matanya. " Dimana? " tanya Anna linglung.


Ia menolehkan kepalanya kearah kiri melihat Lim yang tertidur dengan menyandarkan kepalanya dijendela.


Anna melihat jawaban dari soal-soal yang diberikannya kepada Lim, dan Lim menjawab semuanya dengan benar.


" Selamat kamu berhasil. " ucap Anna dengan nada rendah.


Karena Anna tidak ingin mengganggu Lim tertidur, ia menaruh sebuah tulisan disecarik kertas yang bertulisan.


" Selamat kamu lolos, semoga kamu tidak perlu mengikuti pelajaran tambahan lagi. Aku pergi. "


Anna pergi meninggalkan Lim sendirian di Perpustakaan.


Lalu, berjam-jam Lim tertidur tanpa ada yang membangunkan.


Sampai petugas Perpustakaan yang membangunkan Lim. " Maaf, perpustakaan sudah mau tutup. " katanya membangunkan Lim.


Lim terbangun dengan kepala yang sangat kaku dan pegal. Ia menengok kearah kiri, Anna sama sekali tidak ada.


" Perempuan yang di sebelahku kemana? " tanya Lim.


" Perempuan yang disebelahmu? Sepertinya daritadi aku tidak melihat perempuan itu. " jawab petugas Perpustakaan.


Mata Lim mengelilingi mencari dan tidak sengaja melihat secarik kertas dari Anna.


Meskipun Anna sudah meninggalkan Lim, tapi secarik kertas ini sangat penting bagi Lim.


Lim bahagia hanya karena sebuah secarik kertas. Tapi dalam pikiran Lim secarik kertas ini seperti sebuah surat cinta yang diberikan Anna kepada Lim.


Lim tersenyum dan beranjak dari kursi. " Maaf pak saya sampai tertidur ditempat ini. " Kata Lim sopan seraya berjalan keluar dari Perpustakaan tersebut.


Lim melompat-lompat bahagia, pertama kalinya ia mendapat surat dari Anna.


Tapi kebahagiaannya hanya sementara, disaat perjalanan pulang Lim bertemu dengan teman SMP-nya yaitu Akira.


Akira yang menyebarkan seluruh berita tidak menyenangkan kepada tim basket SMP-nya.


" Selamat malam Lim. Lama tidak berjumpa " Sapa Akira.


" Apa mau kamu? "


" Hei jangan sinis seperti itu. "


Akira mendekati Lim dan merangkul Lim sambil berbisik " Kita ini teman dekat kan? "


Lim menggertakan giginya, melepaskan tangan Akira dari bahunya.


" Kenapa kamu ada disini? " tanya Lim heran.


" Karena sekolahku disini, SMA Okawa. " jawabnya membuat Lim membeku.


" Kamu di Seido kan? " lanjut Akira.


" Terus untuk apa kamu menemuiku? "


" Tidak, aku hanya ingin menyapa. ".


" Tidak mungkin. "


Akira tertawa karena Lim sudah mengetahui sifatnya dengan jelas. " Kamu selalu tahu dengan jelas. "


" Cepat katakan apa mau kamu?! "


Tawa Akira terhenti, ia menatap Lim dengan pandangan marah, benci dan kesal.


" Apa kamu ikut Inter-High? "


" Aku ikut. "


Akira tersenyum setengah, ia bahu kanan Lim dengan satu tangan sambil berkata menantang Lim " Sampai bertemu di Final nanti, kalau kamu kalah tidak seru bukan? Seorang kapten bisa kalah dengan anggotanya. Itu hal yang mustahil. " sindir Akira membuat Lim mengepalkan tangannya menahan emosi yang bergejolak di dalam hatinya.


" Aku pergi. " katanya seraya meninggalkan Lim.


Tapi langkah kaki Akira terhenti sejenak, ia membalikkan badannya seraya berkata " Perempuanmu cantik, apa aku boleh mencicipinya? "


Lim yang sudah tidak tahan lagi, berjalan cepat menghampiri Akira.


Mengambil kerah bajunya dengan tatapan tajam " Jangan berani-beraninya kamu dekati dia, atau kamu mati ditanganku! " ancam Lim.