
" Selamat untuk siswa-siswi baru yang telah memasuki sekolah menengah atas Seido. " ucap Kepala Sekolah SMA Seido membuat seluruh siswa-siswi kelas 1 yang baru memasuki SMA Seido bertepuk tangan gembira.
Setelah pengumuman singkat dari Kepala Sekolah di Aula, seluruh siswa-siswi kembali ke lapangan untuk menentukan kelas, atau club apa yang diinginkan mereka.
" Tampan sekali "
" Blasteran "
" Pacarku itu "
Gumam seluruh siswi di lapangan, mereka melihat seorang lelaki yang berjalan di tengah lapangan dengan mata yang mencari sebuah club yang dia inginkan.
Lelaki itu adalah Edward Lim.
Nama yang sudah menjadi sorotan sekolah Seido meskipun baru hari pertama masuk sekolah.
Sampai akhirnya Lim bertemu dengan stand club basket yang diinginkan nya.
" Permisi " ucap Lim dengan nada rendah.
" Apa kamu ingin masuk club basket? " tanya Kaori selaku manajer club basket.
Lim melihat-lihat stand dari club basket, terlihat foto memenangkan juara Inter-High serta Kejuaraan Musim Dingin tahun kemarin.
Lim tersenyum sesaat, keputusannya untuk masuk SMA ini tidak salah. Ia percaya bahwa dia akan menjadi pemain basket yang sukses jika ia berada di sekolah ini.
" Anu.. " kata Kaori merasa tidak nyaman.
Lim mengangkat kepalanya memandang Kaori " Iya? " tanyanya.
" Bisa tidak kamu kesini tidak membawa rombongan para perempuan? "
Lim yang kebinggungan langsung membalikkan badannya melihat para perempuan sudah berbaris di belakang Lim untuk memasuki club basket.
" Kalian ingin masuk club basket? " tanya Lim aneh.
Dengan bersamaan mereka menganggukkan kepalanya, dan alasan mereka memasuki club basket karena Lim.
Kaori mendengus kesal, ia menghentakkan tangannya di atas meja stand.
" Untuk menjadi manajer ada seleksinya juga tidak asal masuk! " seru Kaori dengan tatapan mematikan.
Tapi mereka semua menghiraukan ucapan Kaori, mereka tetap ingin masuk club hanya karena ingin terus berada di dekat Lim.
Kaori memberikan sebuah formulir untuk Lim beserta dengan 30 siswi yang ingin menjadi manajer.
" Untuk manajer tolong kalian pergi dari sini! " tegas Kaori yang membuat seluruh siswi pergi dari stand club basket.
" Aa, akhirnya mereka pergi juga " keluh seorang lelaki yang akhirnya lega karena tidak perlu mengantri lebih lama lagi.
" Okumura? " Ucap Kaori dengan kebinggungan.
" Ah Kak Kaori! " Kata Okumura dengan sumringah.
" Kamu masuk SMA Seido? " Tanya Kaori.
" Untuk apa aku ada disini kalau tidak masuk SMA Seido " jawab Okumura.
" Oke selamat! " kata Kaori.
" Maaf saya sudah selesai mengisi formulir nya " ujar Lim seraya memberikan formulir yang bertulis nama, tempat tanggal lahir, alamat, sekolah lama, dan posisi.
" Oooooo, kaaa-kaaa-muuuu!! " Ucap Okumura terbata-bata terkejut melihat pemain favoritenya berada disini.
" Halo " kata Lim dengan kaku.
" Kamu Edward Lim kan? Kapten basket sekaligus Ace dari SMP Chikaku? " Tanya Okumura.
" Kamu dipanggil serigala hitam karena permainan yang sangat agresif bukan? " Lanjut Okumura.
" Itu berlebihan " jawab Lim. Okumura yang terlalu senang langsung merangkul bahu Lim " Akhirnya kita menjadi rekan setim! Doaku terkabul! " antusias Okumura.
Lim yang kesal dengan sikap Okumura langsung melepaskan tangan Okumura dari bahunya dengan keras. " Maaf, saya harus mencari kelas saya terlebih dahulu. "
Ia berjalan kembali menuju mading untuk mengetahui kelasnya. Namun matanya terhenti saat melihat seorang perempuan yang berdiri di depan mading.
Perempuan dengan paras cantik, kulit putih bersih dan rambut yang pendek tapi terlihat sangat memukau di hadapan Lim.
Pertemuan pertama Lim yang membuat hatinya berdebar untuk pertama kalinya.
Lim mendekati perlahan perempuan itu. " Kamu sedang melihat kelasmu dimana? " tanya Lim.
Perempuan itu sama sekali tidak menjawab. " Namamu siapa, bisa aku bantu untuk cari " lanjut Lim.
" Anna Yuo " jawab perempuan itu yang bernama Anna Yuo.
Lim segera mencari-cari nama Anna Yuo, dan nama tersebut berada di kelas 1-1. " Kamu kelas 1-1 " ucap Lim.
Lim juga mencari namanya di kelas 1-1 tapi tidak ada, ia pun mencari di kelas 1-2 dan ada.
" Kita tidak sekelas " keluh Lim tanpa mengetahui bahwa Anna sudah tidak ada di sampingnya lagi.
Lim membalikkan badan melihat punggung Anna yang semakin lama semakin jauh dari pandangannya.
Ia tersenyum sesaat " Anna Yuo " gumam Lim.
••
Teng-teng
Bel memasuki kelas berbunyi.
Seluruh siswa-siswi langsung memasuki kelas masing-masing karena hari pertama adalah hari perkenalan dengan teman baru serta wali kelas.
Namun berbeda dengan Lim, ia tidak ingin memasuki kelas. Baginya perkenalan seperti itu sangat membosankan.
Lim hanya berjalan-jalan mengelilingi sekolahan, melihat ruangan laboratorium, kantin, lapangan indoor, lapangan outdoor, lapangan basket, lapangan baseball dll.
Sampai akhirnya Lim berhenti di depan kelas 1-2, ia mengintip kearah jendela kelas tersebut dengan diam-diam. Melihat apakah Anna ada di dalam kelas atau tidak.
" Sedang apa kamu disini? " tanya suara berat dari arah belakang yang membuat Lim terdiam dengan ekspresi wajah kaku.
" Saya tanya, sedang apa kamu disini? " tanyanya lagi.
Lim membalikkan badannya, terlihat seorang pria paruh baya yang berumur sekitar 40 tahun sedang berada di hadapannya dengan tatapan mata yang tajam.
" Aaaa maaaaf, saa-yaaa see-ddaangg mencarii keeelass " jawab Lim terbata-bata.
" Bicara yang benar!! " Tegas pria paruh baya tersebut.
" Saya sedang mencari kelas saya pak! "
" Bukankah seharusnya sudah dari tadi kamu mencarinya? " tanya pria paruh baya itu dengan kecurigaan.
" Karena saya keasikan mengelilingi sekolah ini saya jadi lupa. " kata Lim dengan alasan yang kurang jelas.
" Hm, saya juga waktu masih muda seperti kamu. Kalau begitu cari namamu di mading dan kekelasmu! " perintahnya yang membuat Lim menghela nafas panjang lega.
" Untung saya tidak dihukum " pikir Lim.
Lim melangkahkan kakinya menuju mading dan bepura-pura mencari namanya, setelah itu ia kembali ke kelasnya yaitu kelas 1-2.
" Edward Lim. " Absen dari wali kelas 1-2 yaitu Todoroki.
" Hadir " jawab Lim sambil memasuki kelas dengan tepat waktu.
" Kamu kemana saja? " tanya Todoroki.
" Saya salah memasuki kelas pak, maaf! " jawab Lim dengan kebohongan kedua.
" Kalau begitu duduk dibangkumu " ucap Todoroki.
Lim segera duduk dibangku ke empat dari barisan ke empat dekat jendela, tempat duduk kesukaan Lim sejak SD.
" Kita bertemu lagi! " Antusias Okumura yang duduk di depannya.
" Ah iya. " kata Lim dengan senyuman palsu.
" Sepertinya kamu telat masuk kelas bukan karena salah kelas, tapi karena sesuatu bukan? " tanya Okumura.
" Tidak. "
" Jujur denganku! "
" Iya, saya hanya mencari lapangan tempat saya akan latihan nanti. "
" Seperti biasa saja oke? Karena mulai hari ini aku akan menjadi temanmu! " Lanjut Okumura yang membuat Lim merasa geli dengan ucapannya.
Di dalam kelas 1-2, Todoroki memberikan sebuah pengumuman yang membosankan bagi Lim.
Lim menopang dagunya dengan satu tangan sambil menatap kearah lapangan outdoor, terlihat para siswa-siswi yang sudah berolahraga di lapangan tersebut.
" Enaknya " gumam Lim yang ingin berolahraga juga.
Namun matanya terhenti saat melihat Anna yang berjalan di pinggir lapangan, Lim mengusap-usap matanya karena takut itu hanya halusinasinya saja. Tapi ternyata tidak, Anna sedang berjalan sendirian dengan membawa sebuah buku-buku yang sangat berat.
Dengan cepat Lim berdiri dari kursinya " Saya izin ke kamar mandi " kata Lim seraya keluar dari kelas dan berlari tergesa-gesa menuju lapangan untuk membantu Anna.
Tapi saat menuju lapangan, Lim tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang yang membuat mereka berdua saling terjatuh.
" Maaf, saya tidak melihat " ucap Lim sambil mengelus punggungnya yang kesakitan karena terjatuh.
Lim melihat buku yang berserakan di lantai. " Maaf " ucap nada rendah Anna.
Mata Lim melebar, terkejut melihat Anna yang berada di hadapannya saat ini.
Lim mengangkat tubuhnya untuk berdiri dan menjulurkan tangannya kearah Anna. " Aku bantu kamu berdiri " kata Lim.
Anna tidak mengambil tangan Lim, ia hanya membereskan kembali buku-buku yang berjatuhan.
Lim mengurungkan niatnya untuk membantu Anna berdiri, ia hanya membantu Anna mengambil buku-buku yang berjatuhan itu.
" Maaf. " Ujar Lim merasa bersalah.
Meski ia senang karena bertemu dengan Anna, tapi Lim juga merasa bersalah karena sudah membuat Anna terjatuh.
" Aku bantu kamu, kamu ingin membawa buku ini kemana? " tanya Lim.
" Tidak usah, aku bisa sendiri. " Jawab Anna yang langsung mengambil buku-buku di tangan Lim.
Ia berdiri dengan menahan rasa sakit dikakinya, dan kembali berjalan menuju kelasnya dengan kaki yang kesulitan untuk di gerakan karena terkilir saat terjatuh tadi.
Lim yang ingin menolong tapi tidak bisa, ia hanya merasa tidak nyaman karena sudah membuat Anna kesusahan.
Lim pun menundukan pandangannya dan berjalan menuju kelasnya kembali. " Permisi " ucap Lim memasuki kelas.
Okumura yang melihat wajah Lim sedikit mengerut langsung bertanya " Kamu baik-baik saja? "
" Iya " jawab Lim seraya duduk dikursinya.
1:30 p.m
Teng-teng.
Bel istirahat berbunyi.
Seluruh siswa-siswi kelas 1-2 berjalan keluar menuju Kantin, tapi ada beberapa yang membawa bekal dari rumah sehingga mereka tidak perlu untuk ke Kantin.
" Kantin? " Ajak Okumura.
Lim sama sekali tidak menjawab, wajahnya pun masih terlihat kosong.
" Kamu benar tidak apa-apa? " tanya Okumura.
" Aku baik-baik saja, kamu ke Kantin duluan saja. " Jawab Lim.
Lim menolehkan pandangannya kearah pintu kelas, ia melihat Anna yang berjalan kesusahan di lobby.
Lim dengan cepat langsung berdiri dan menghampiri Anna.
" Hei kamu baik-baik saja? " tanya Lim khawatir.
Anna sama sekali tidak menjawab, ia hanya berjalan sambil menyeret kakinya dengan menahan rasa sakit.
" Aku bantu kamu. " Pinta Lim saat ingin mengambil lengan Anna tapi Anna menolak " Tidak perlu! " jawab Anna dengan tegas.
Lim mengepalkan jemarinya, Ia membiarkan Anna berjalan dengan kesakitan. Lalu Okumura tiba-tiba saja datang dan berdiri di belakang Lim dengan tangan yang terlipat didada.
" Anna Yuo ya? " kata Okumura.
" Darimana kamu tahu namanya? " tanya Lim penasaran seraya membalikkan badannya.
" Dulu sewaktu SMP teman-temanku menyukainya, karena dia sangat cantik. " Jawab Okumura. " Apa kamu menyukainya juga? " Tanya Okumura.
" Tidak " tegas Lim " Mari ke Kantin. " ajak Lim kepada Okumura.
Okumura hanya tertawa kecil melihat wajah Lim yang memerah saat ditanyai pertanyaan itu.
" Oke. "
4:00 p.m
Waktu pulang sekolah untuk hari pertama, tapi berbeda dengan Okumura dan Lim. Mereka harus mengikuti club basket meski dihari pertama.
Lim dan Okumura sudah mengganti pakaiannya menjadi baju latihan, mereka juga sudah menunggu para senpai dan teman-temannya didalam lapangan basket.
Tidak lama kemudian, para senpai datang bersamaan dengan para manajer. Ada sekitar 30 para senpai yang memasuki lapangan.
Lim tersenyum kecil, hatinya berdegup kencang karena bahagia.
" Teman-teman yang lainnya? " tanya seorang kapten dari basket yaitu Hirahata kelas 3.
" Sedang menuju kesini " jawab Okumura.
Lalu kelas 1 yang mengikuti club basket datang dengan nafas terengah-engah.
" Semuanya sudah datang? " tanya Hirahata lagi kepada Kaori.
" Sudah semuanya " jawab Kaori.
" Kalau begitu berbaris! " tegas Hirahata membuat para kelas 1 berbaris 2 banjar.
" Saya kapten dari club basket SMA Seido yaitu Hirahata. Seperti yang kalian tahu, tahun kemarin tim ini menjuarai kejuaraan Inter-High serta Kejuaraan Musim Dingin. Dan untuk mempertahankannya kita akan membuat latihan berat, tahun kemarin adalah usaha para senior-senior kalian, kali ini mari kita membuat sejarah menjadi juara Nasional di Jepang! " Terang dari Hirahata membuat para kelas 1 terdiam.
" Siap! " Kata Lim sendiri dengan semangat.
" Mana suara kalian!! " Tegas Hirahata.
" Siap! " ucap bersamaan para kelas 1.
" Kalau begitu lari keliling lapangan selama 30 menit " perintah Hirahata membuat seluruh pemain basket dari club basket berlari bersamaan mengelilingi lapangan basket.
30 menit sudah berlalu, beberapa kelas 1 banyak yang kelelahan karena lari. Berbeda dengan Lim yang selama liburan kemarin selalu berlatih untuk meningkatkan stamina tubuhnya.
Lim tidak merasa lelah, lari 30 menit baginya kurang. Ia mendekati Hirahata " Apa saya boleh berlari lagi? 30 menit bagi saya sangat kurang. " tanya Lim.
" Tidak usah memaksakan diri, lari seperti ini hanya untuk pemanasan. Selanjutnya akan lebih berat " jawab Hirahata.
Lim menganggukkan kepalanya mengerti, Okumura dengan nafas terengah-engah mendekati Lim. " Kamu tidak kelelahan? " tanya Okumura.
" Aku tidak merasa lelah. " Jawab Lim.
" Tapi wajahmu berubah saat berada di lapangan, kamu sudah tidak sedih lagi karena Anna? " canda Okumura membuat Lim menyikut perut Okumura dengan sangat keras, Okumura hanya meringis kesakitan.
" 1 menit selesai istirahat, selanjutnya stretching. " Kata Hirahata.
Kelas 1,2 dan 3 pun melakukan stretching sehabis berlari.
30 menit selesai stretching.
" Sparing antara kelas 1 dan kelas 2 " perintah Hirahata.
" Hah? " tanya bersamaan kelas 1 tidak mengerti.
Karena mereka satu sama lain saja tidak tahu kemampuan masing-masing, chemistry antara mereka saja tidak ada. Bagaimana mereka akan bermain?
Dibandingkan dengan para senpai, mereka sudah berlatih bersama dan mengetahui kemampuan dari teman-teman nya.
Ini sangat mustahil bagi para kelas 1.
" Cepat pilih pemain di quartet pertama! " seru Hirahata.
Ada sekitar 10 orang yang memasuki club basket. Dan dari 10 orang tersebut tidak ada satupun yang mengetahui kemampuan masing-masing.
" Aku akan bermain denganmu " bisik Okumura kepada Lim.
" Kalau begitu, Hoshida, Jun, Kuramochi, Asuka dan Sanada " kata Hoshida mengajukan diri.
" Kalau begitu mari mulai " ucap Hirahata.