Love Captain Handsome

Love Captain Handsome
Episode spesial 21



Setelah 3 hari sesudah pertandingan Inter-High.


Tidak ada satupun dari pemain Inter-High kemarin yang mengikuti pelatihan lagi.


Hirahata, Yuki, dan Kazuma bahkan sudah tidak berlatih lagi.


Lim tidak ingin, karena dia merasa frustasi dan malu tidak bisa membawa para senpainya menjadi juara.


Okumura ingin membangkitkan Lim kembali tapi ia tidak bisa.


Walaupun Okumura hanya sebagai pemain cadangan, tapi ia juga merasakan rasa sakit yang dialami Lim.


Okumura juga belum bisa melupakan pertandingan kemarin.


Dalam lapangan hanya ada keheningan, tidak ada satupun yang bersuara.


Sampai akhirnya, Hideyoshi datang dan berpura-pura tertawa.


" Akhirnya latihan lagi di Musim Panas ini. " ucap Hideyoshi memasuki lapangan.


" Kemana yang lainnya? " tanya Hideyoshi yang melihat lapangan sangat sepi.


Matanya mencari Lim, tapi tidak ada. " Lim, tidak ada? " tanya Hideyoshi lagi.


Okumura menggelengkan kepalanya. " Bocah itu! " kesal Hideyoshi.


" Sudah mari kita latihan " ajak Hideyoshi kepada seluruh pemain untuk kembali berlatih.


••


Lim masih memejamkan matanya di atas ranjang kamarnya, ia sudah tidak mandi berhari-hari.


Pakaiannya saja masih menggunakan kaos kemarin ia bertanding.


" Sial " Keluh Lim karena masih belum bisa melupakan buzzer beater yang gagal.


Dret-dret-dret.


Lim mendapat sekitar 50 pesan dari Okumura, tapi sama sekali tidak Lim jawab.


Dan mendapat 10 pesan dari Edward.


Edward yang khawatir menelepon Lim.


Lim mengangkat telepon Edward dengan suara yang lemas " Hallo. "


" Lim! What's wrong? You sick? "


" No. "


" Then, why is your voice so weak? "


" It's okay Dad. "


" Did you lost the match? "


Lim terdiam tidak bisa menjawab.


" Remember you have to go home! "


" Yes, dad. I will go home "


" When? "


" Wednesday "


" Okay bye. " kata Edward menutup panggilan.


Lim akan pulang Rabu nanti, saat ini ia sama sekali tidak bisa berada di Jepang.


Otaknya harus ia refreshing kembali.


Keesokan harinya.


Lim berjalan menuju lapangan basket, ia ingin berpamit untuk pulang ke U.S.


Lim membuka pintu lapangan basket, seluruh kelas 3 sudah kembali berlatih dan anggota lainnya sudah banyak yang berlatih.


Hanya tinggal Lim.


" Permisi " Ucap Lim memasuki lapangan basket.


Seluruh anggota terdiam mendengar suara Lim, mereka pun berlari menghampiri Lim dengan antusias.


" Lim, apa kabar kamu. "


" Hei, kamu baik-baik saja? "


Lim menundukkan kepalanya, ia tidak seperti orang lainnya.


Beban Lim sangat berat karena sewaktu pertandingan kemarin. Dialah yang menjadi salah satu kunci untuk kemenangan.


Tapi Lim menggagalkannya.


" Maaf, besok aku akan pergi ke U.S untuk bertemu dengan orang tuaku. Jadi aku kesini untuk berpamitan kepada kalian semua. Maaf. " ucap Lim dengan nada rendah.


" Kalau begitu, aku pergi dulu. " Lanjut Lim keluar dari lapangan basket.


Hideyoshi dan Hirahata mengikuti Lim sampai di gerbang depan sekolah.


" Kenapa kalian mengikutiku? " tanya Lim memberhentikan langkah kakinya.


" Lim, kamu masih belum bisa melupakan pertandingan kemarin kan? " ucap Hirahata.


Lim terdiam. " Kita juga sama. " kata Hideyoshi.


" Bukan hanya kamu yang salah, tapi saya juga salah karena terbawa emosi ketika Yuki dikeluarkan. " ujar Hirahata.


" Aku juga tidak bisa menjaga dengan baik lawan. " Hideyoshi dengan pandangan tertunduk.


" Tapi, kita harus tetap maju Lim apapun itu demi masa depan. Ingat, kamu masih memiliki 2 kali kesempatan untuk mengikuti Inter-High lagi. Dan gunakan kesempatan itu! " jelas Hirahata.


Lim menatap Hirahata yang matanya sudah berkaca-kaca, selama ini Lim hanya memikirkan dirinya sendiri karena merasa menanggung semua kesalahan.


Tapi para kelas 3 sudah tidak memiliki kesempatan lagi dan wajar bila mereka lebih sakit hati dibandingkan Lim.


" Maaf " Ucap Lim merasa bersalah karena selama ini selalu mengurung dan menyalahkan dirinya.


Hirahata menepuk pundak Lim perlahan " Sudahlah, sebelum kamu ke U.S lebih baik kita berlatih bersama dulu. " ajak Hirahata.


Lim menganggukkan kepalanya.


Akhirnya pun mereka berlatih bersama dan Lim sudah melupakan semua beban yang berada dipunggunya selama ini.


7:00 p.m


Lim keluar dari lapangan basket, ia berjalan untuk pulang dan ingin bersiap-siap untuk pergi ke U.S.


Dalam perjalanan pulang, Lim tidak sengaja melihat Anna yang tengah memeluk lututnya sendirian di Taman Bermain.


Lim menghampiri Anna dan bertanya " Kenapa kamu? "


Anna mengangkat kepalanya menatap Lim. " Kamu, kenapa ada disini? "



" Aku sedang berjalan untuk pulang. Kamu kenapa ada disini? "


" Itu bukan urusanmu. "


" Hei, Anna! "


Anna terdiam. Memikirkan kenapa Lim masih sangat baik meskipun Anna sudah menyakitinya.


" Anna, besok aku akan pergi ke U. S " Kata Lim tiba-tiba.


Mata Anna melebar terkejut dengan ucapan Lim. " Kenapa kamu memberitahuku? "


" Aku hanya ingin memberitahumu saja. "


" Aku hanya tidak ingin kamu melupakan aku saat aku pergi ke U.S " lanjut Lim.


" Anna. " panggil Lim lagi.


" Apa kamu pernah merasa bersalah karena menyakitiku? " tanya Lim.


Anna terdiam dengan pandangan tertunduk. Dan Lim hanya tersenyum kecil seraya mengusap kepala Anna perlahan.


" Anna meskipun kamu menyakitiku terus menerus, tapi kamu akan selalu menjadi orang yang kusukai betapa pun sulitnya. " ucap lembut Lim dengan senyuman manisnya.


Hati Anna selalu merasa tenang saat melihat senyumannya membuat Anna merasa kesal dengan dirinya sendiri. " Kenapa didunia ini ada orang seperti kamu. " pikir Anna.


Lim berdiri dan berjalan untuk pulang meninggalkan Anna.


Anna menatap punggung Lim yang semakin lama semakin jauh, hatinya ingin menahan Lim lebih lama. Tapi otaknya memintanya untuk tidak melakukan itu karena bisa membuat hatinya terluka.


" Anna! " panggil seseorang wanita yang bernama Hanna. Dia adalah Ibu Anna.


" Hei, Anna. Kenapa kamu pergi dari rumah? " tanya Hanna khawatir.


Anna hanya terdiam, Hanna menjulurkan tangannya untuk membantu Anna berdiri.


" Anna, kamu tidak bisa seperti ini selamanya. Jangan menghindari Ayah. " nasihat Hanna.


" Tidak bisa Bu. " Tolak Anna.


" Dengar Anna, suatu saat nanti kamu akan kembali seperti semula. And someday, someone will love you for exactly who you are. Seseorang itu yang akan merubah kamu. " jelas Hanna.


Dalam sekejap, Anna membayangkan Lim. Bahwa nanti Lim akan mengubah Anna, entah ia akan merubah Anna semakin buruk atau semakin baik.


" Ah tidak mungkin dia. " pikir Anna.


Anna berjalan pulang bersama dengan Hanna, Anna tidak ingin melihat Ayahnya.


Ayahnya Eiji adalah luka paling dalam.


Seorang Ayah yang tidak mempercayai anaknya sendiri bukanlah seorang Ayah.


Begitulah menurut Anna.


Ia tidak bisa bertemu dengan Ayahnya, untuk berbicara saja dia tidak mungkin bisa.


Tapi, tiba-tiba saja Ayahnya datang dan berkata bahwa Anna sudah mempunyai tunangan yang bernama Ryuzaki Tanaka.


Eiji bahkan membawa lelaki itu ke rumahnya dan membiarkan Eiji tinggal dirumahnya selama 6 bulan.


Anna tidak bisa menerimanya.


Hanna membuka pintu dan melihat bahwa Eiji sudah tidak ada.


Hanya ada Ryuzaki yang sedang duduk disofa.


Anna memasuki rumah dengan pandangan tertunduk, ia tidak bisa tinggal bersama dengan orang yang tidak dikenalinya.


" Anna, mungkin kamu lupa tapi sewaktu kamu umur 3 tahun kamu sering bermain dengan dia. " jelas Hanna.


" Tapi itu sewaktu aku kecil Bu. " sinis Anna seraya memasuki kamarnya.


Ryuzaki Tanaka adalah anak seorang pengusaha kaya yang sangat terkenal dengan usaha otomotifnya.


" Tidak apa-apa Bu. " ucap Ryuzaki karena melihat Hanna yang merasa tidak nyaman.


" Kalau begitu, ini kamarmu Ryuzaki. " kata Hanna memberitahu bahwa kamarnya berada di sebelah kamar Anna.


Anna yang berada di kamar hanya membaringkan diri di atas kasur. Memikirkan perkataan Lim, sebenarnya apa maksud dari semua itu.


Anna masih tidak mengerti, dan anehnya perasaannya tidak takut. Ia merasa sangat senang mendengar perkataannya.


" Nama lelaki itu siapa ya? " gumam Anna yang masih tidak tahu nama panjang dari Lim.


Tok-tok-tok


Suara ketukan pintu terdengar.


" Anna. " panggil Hanna dari luar kamar Anna.


" Nanti jam 9 kamu ajak Ryuzaki makan di luar, Ibu ada urusan. " teriak Hanna dari luar.


Anna mengigit bawah bibirnya, ia tidak bisa menolak.


Apalagi itu dari Ibunya, tapi perasaannya masih takut. Takut untuk berhadapan dengan seseorang.


Semakin larut dalam pikiran, semakin mata terpejam.


Dan Anna terlelap dengan sangat cepat.


9:00 p.m


Tok-tok-tok


Terdengar lagi suara ketukan pintu yang membuat Anna terbangun dari tidurnya.


" Anna " Panggil Ryuzaki dari luar kamar Anna.


Anna hanya terdiam dengan mata yang masih sangat berat untuk dibuka.


" Aku lapar, kamu ingin makan tidak? " tanya Ryuzaki.


" Tidak, kamu bisa makan ramen kan. " jawab Anna.


" Ramen dirumahmu sudah habis. "


Anna teringat bahwa Ibunya berkata bahwa membawa Ryuzaki untuk makan di luar.


" Kalau begitu tunggu sebentar! " Pinta Anna yang mengganti bajunya menjadi pakaian hangat.


Setelah mengganti bajunya, ia membuka pintu dan berjalan keluar rumahnya yang diikuti oleh Ryuzaki.


Anna berjalan keluar mencari-cari tempat makan yang enak dan ia bertemu dengan sebuah tempat makan ramen yang berada di dekat hatle bus.


Tapi sebelum melihat ke dalam tempat makan tersebut, Anna memberi isyarat kepada Ryuzaki apakah tempat ini ramai atau tidak.


Ryuzaki menggelengkan kepalanya tidak.


Anna memasuki tempat makan ramen tersebut dan benar, tidak ada satupun orang yang datang.


" Mau pesan apa? " tanya Anna kepada Ryuzaki.


" Terserah. " jawab Ryuzaki. " Aku ingin ramen pedas. " ucap Anna.


" Aku sama kaya kamu. " kata Ryuzaki.


Anna mengerutkan dahinya. " Kalau begitu kamu yang pesan, aku yang mencari tempat duduk. "


Anna mencari tempat duduk yang nyaman untuknya ditempati, dan dapat pojok kiri dekat sebuah jendela kecil.


Tidak butuh 20 menit, ramen dan Ryuzaki sudah datang menghampiri Anna.


Ryuzaki memberikan ramen pedas kepada Anna serta minum hangatnya, dan ia juga menaruh ramennya dimejanya.


Mereka makan malam tanpa ada perbincangan sedikit pun, sampai seseorang datang.


" Permisi pak. " katanya. Anna menoleh kearah suara itu, dan dia adalah Lim.


Anna tersedak terkejut karena melihat dia berada disini, Anna mengambil minum dan menekan dadanya agar tidak merasa sakit kembali.


" Kamu baik-baik saja? " tanya Ryuzaki khawatir.


Anna hanya menganggukkan kepalanya, ia memalingkan wajahnya agar tidak ketahuan oleh Lim.


Tapi Lim tahu Anna, Lim tahu tubuh Anna dan rambut Anna.


Lim menghampiri Anna dengan membawa ramennya. " Boleh aku duduk disini? " tanya Lim dengan sinis.


" Maaf, kamu siapa? " tanya Ryuzaki tidak tahu.


" Saya teman SMA Anna, Lim. " jawab Lim seraya duduk tepat di samping Ryuzaki.


" Teman SMA Anna? Saya Ryuzaki. " Perkenalan Ryuzaki.


" Tidak usah formal seperti itu, kamu anak SMA kan? " tanya Lim. Ryuzaki mengangguk-anggukan kepalanya " Iya, selesai liburan aku pindah ke SMA Seido. " kata Ryuzaki.


" Ah, kamu ini teman atau saudara Anna? ". Lim penasaran seraya menyuapkan ramennya ke dalam mulutnya.


" Aku tunangan Anna. " kata Ryuzaki membuat sumpit Lim terhenti.


Lim menoleh kearah Anna, Anna hanya terdiam dengan memakan ramennya tersebut.


" Maaf, aku menganggu kalian ya? " Lim tidak nyaman.


" Ah tidak, aku juga beruntung sudah bertemu teman pertama Anna. "


Lim kembali memakan ramennya dengan hati yang terluka. Lim berpikir bahwa ia seharusnya tidak menanyakan pertanyaan itu.


Lagi dan lagi, Lim terluka tanpa Anna sadar.


" Kamu liburan musim panas kemana? " tanya Ryuzaki yang tidak ingin ada keheningan.


" Besok aku akan ke U.S "


" U.S? Aku sudah sering kesana tapi hanya setiap liburan musim dingin. Apa rumahmu disana? "


" Iya Ayahku menyuruh pulang karena tidak sengaja mendengar suara perempuan dari teleponku. "


" Suara perempuan? "


" Iya saat dia sakit, tapi dia tidak mengetahuinya sedikit pun. "


" Kenapa kamu tidak memberitahunya? "


Lim terdiam, matanya menatap Anna. " Meskipun aku memberitahunya, ia tidak akan pernah mengaku. "


" Apa kamu tidak ingin pulang kerumah Ayahmu? "


" Tidak, karena jika aku sudah disana aku akan ditahan. Aku tidak diperbolehkan kembali ke Jepang. "


Anna memberhentikan makannya, ia telah selesai makan. Anna tidak ingin mendengar ocehan para lelaki lagi.


" Aku sudah selesai, aku duluan. Aku akan menunggu di depan. " kata Anna seraya keluar dari tempat makan ramen tersebut.


Lim kembali makan bersama dengan Ryuzaki sampai selesai.


" Aku ke kamar mandi dulu ya, kamu duluan keluar saja. " Pinta Ryuzaki.


Lim melangkahkan kakinya keluar dan terlihat Anna yang sedang berdiri di depan tempat makan.


Lim yang terbawa emosi mengambil lengan Anna dan membawanya ke lorong dekat tempat makan ramen tersebut.


Anna mengerutkan dahinya dan melepaskan tangan Lim dari lengannya.


" Apa mau kamu! " bentak Anna ketakutan.


" Kamu beneran sudah bertunangan dengan dia? " tanya Lim serius.


" Kenapa? Kamu tidak suka? Itu tidak ada urusannya sama kamu! "


" Ada! " bentak Lim membuat mata Anna melebar terkejut karena untuk pertama kalinya melihat Lim yang sangat emosi.


" Aku menyukai kamu, harus berapa kali aku ngomong? " lanjut Lim.


Anna menyeringai kesal. " Kamu menyukai aku? " gumam Anna.


Anna menatap mata Lim, begitu juga dengan Lim yang menatap mata Anna.


" Aku sudah punya tunangan, kamu tidak suka? Bukankah kamu harusnya menjauh? " sinis Anna membuat Lim terluka.


Kata-katanya tidak bisa Lim terima, karena selama ini Lim terus mendekati Anna tanpa merasa lelah.


Lalu, menjauh hanya karena Anna sudah mempunyai tunangan?


" Itu tidak mungkin! " tolak Lim.


Bibir Anna bergetar, tidak tahu harus bagaimana menghadapi seorang Lim yang sangat keras kepala.


" Kenapa kamu selalu tidak peka? Apa kamu memang seperti itu atau kamu hanya ingin menguji perasaanku? " tanya Lim dengan tatapan serius.


Lim melangkahkan kakinya ke depan Anna perlahan, Anna tidak bisa berjalan ke belakang karena tubuhnya sudah tertahan oleh dinding.


Lim mendekatkan wajahnya kearah wajah Anna. Perlahan semakin dekat antara bibir Lim dan Anna.


" Anna! " panggil Ryuzaki yang membuat Lim mengurumgkan niatnya.


Ia menundukkan kepalanya, perasaan semakin besar. Lim ingin memiliki Anna sepenuhnya, ia hanya tidak ingin Anna dimiliki oleh siapapun selain dirinya.


" Kamu boleh membiarkanku pergi? Ryuzaki sudah memanggil! " seru Anna dengan mata berkaca-kaca.


Lim memundurkan langkah kakinya membiarkan Anna pergi.


Tapi sebelum Anna pergi, Lim berbisik tepat ditelinga Anna " Aku tidak tahu akan pulang ke Jepang kembali atau tidak. Aku hanya tidak ingin kamu melupakanku, apa itu berlebihan? "


Anna mengigit bawah bibirnya, kini Anna takut dengan sikap Lim.


Ia selalu saja seenaknya kepada Anna.


Anna merintikan air matanya dan berjalan menjauh dari Lim.


" Apapun itu, aku tidak akan membuka hatiku untuk kamu! " ucap Anna.


Mata Lim melebar, kenyataan menghamlirinya.


Lim tahu bahwa Anna tidak akan membuka hatinya untuknya, tapi Lim tetap saja ingin Anna.


Karena bagi Lim, Anna sempurna. Ia tidak pernah bisa melihat seorang perempuan sempurna dimatanya kecuali Anna.


Hanya Anna yang dapat membuat Lim merasa bahwa perempuan ini berbeda.


Dia tidak seperti perempuan lainnya, dan Anna adalah perempuan pertama yang dapat membuat Lim melakukan hal-hal bodoh hanya untuk dia.


Tapi Anna sedikitpun tidak ingin memberi hatinya untuk Lim.


Harapan Lim sudah tidak ada. Saat ini untuk berada dekat dengan Anna saja sudah tidak bisa.


Seusaha apapun Lim, Anna tidak akan merubah hatinya.


" SIAL! " kesal Lim.