Love Captain Handsome

Love Captain Handsome
Anda jahat.



" Aku bilang, aku dan Anna bulan depan akan menikah " papar Gi dengan angkuh.


Lim mengepalkan tangannya kesal, tidak Anna tidak bisa menikah dengan siapapun melainkan dengannya.


Lim sangat mencintai Anna sampai mati pun ia rela untuk Anna.


" Kamu harus mengikhlaskan dia. " lanjut Gi.


Lim mendesah kesal " Jadi kamu berbicara kepadaku hanya ingin mengatakan itu? " Kesal Lim.


" Aku tidak percaya. " Lanjut Lim.


Gi dengan rasa percaya diri langsung mengangkat tangan kirinya yang sudah ada sebuah cincin di jari tengahnya.


Lim tersenyum miring " Hanya karena cincin doang? Aku tidak percaya. "


" Kalau kamu tidak percaya tidak apa-apa, kamu hanya perlu tunggu undangan pesta pernikahan dari aku atau Anna. " jelas Gi langsung berdiri dan keluar dari Caffe.


Perasaan Lim campur aduk, Anna tidak boleh di rebut oleh siapapun. Lim sangat mencintai Anna.


Ia tidak rela Anna menikahi orang lain selain dirinya.


Lim keluar dari caffe dengan kepala tertunduk, dan tidak senggaja melihat sebuah sekolah lamanya.


Sekolah dimana ia dengan Anna menjalin sebuah hubungan yang sangat istimewa, sekolah dengan kenangan yang sangat bahagia yang pernah di dapatkan oleh Lim.


Lim berjalan mendekati sekolah lamanya tersebut, kenangannya masih sangat melekat di hati Lim sehingga untuk melepaskan ingatan itu pun tidak bisa.


" Jadi sekarang kamu sudah berada jauh dari aku ya. " gumam Lim.


Tanpa sadar air matanya telah menjatuhi pipinya, Lim tidak bisa lagi menahan nangisnya. Hatinya sangat terluka, sangat sangat terluka.


••


Anna baru selesai mandi dengan menggunakan baju handuk berwarna putih, ia mengeringkan rambutnya terlebih dahulu di kamar, namun bel apatonya berbunyi membuatnya langsung keluar dan membuka pintunya.


" Siapa " tanya Anna.



Lim langsung menarik tangan Anna memasuki apatonya Anna dan menutup pintu apato Anna dengan sangat keras.


" Hei, kamu kenapa bisa ada disini? " tanya Anna tidak mengerti.


Lim tidak menjawab, tatapannya kosong.


" Hei jawab aku!!! " seru Anna seraya melepaskan tangannya dari genggaman Lim.


Lim mengambil jemari Anna melihat tangan Anna yang sudah di pasangkan sebuah cincin yang sama dengan Gi di jari tengah.


" Jadi benar kamu akan menikah dengannya? " kesal Lim dengan nada rendah.


" Kamu kenapa? " tanya Anna penasaran.


Lim langsung mencium bibir Anna dengan cepat, membuat Anna tidak bisa bernafas.


Dan Anna mendorong tubuh Lim untuk menjauh.


" Hei! " Jengkel Anna menatap Lim dengan kesal.


" Tolong sekali ini saja biarkan aku mengingat kembali masa lalu. " kata Lim nada yang sangat terluka.


Air mata Lim langsung saja menjatuhi pipinya, setelah sekian lama Lim menangis di hadapan Anna.


Membuat Anna khawatir.


Anna langsung menghapus air mata Lim dari wajahnya " Tidak apa-apa, kamu akan baik-baik saja. " ucap Anna menenangkan.



Wajah Lim memerah, ia melingkarkan tangannya di pinggang Anna seperti seseorang ingin memeluk.


" An, aku merindukan kamu. " Bisik Lim.


Lim mencium bibir Anna dengan lembut, ciuman yang membuat Anna mengenang masa lalu. Anna menjawab ciuman Lim.


Namun setelah lama, ciuman itu semakin bergairah dan membawa mereka berciuman sampai di kamar Anna.


Lim menjatuhkan Anna di ranjang, dan membuka bajunya lalu mencium bibir Anna kembali dengan bergairah.


Ketika Lim ingin melakukan hubungan yang lebih intim dengan Anna, Anna menahan tangan Lim seraya berkata " Kita tidak bisa seperti ini ".


Tapi tetap saja Lim ingin melanjutkan dengan nafsunya tidak terkendali, Anna langsung menampar pipi Lim dengan sangat kencang.


Lim tersadar kembali, amarahnya merenggut kesadarannya. Kecemburuan nya juga merenggut kesadarannya.


Anna menelan ludah tidak ingin melihat wajah Lim. Lim kembali berdiri tegak dan memakai bajunya kembali.


" Maafkan aku. Aku emosi " ucap Lim seraya keluar dari apato Anna.


Anna hanya menangis menjerit menutup kedua wajahnya dengan tangannya, perasaan itu kembali lagi. Perasaan itu pun tidak bisa hilang, ia selalu datang di waktu yang sangat tidak tepat.


" Dasar bodoh " kesal Anna kepada diri sendiri.