Love Captain Handsome

Love Captain Handsome
Episode spesial 4.



" Hei, kamu siapanya dia? " tanya pria tidak dikenal dengan keadaan mabuk.


" Anda tidak perlu tahu saya siapa dia. " jawab Lim.


" Lalu, kenapa saya tidak boleh memegang wajah cantiknya dia? "


" Saya bilang tangan anda kotor, tidak pantas untuk memegang wajah seseorang ketika tangan anda kotor. "


" Dianya juga tidak masalah kan? " tanya pria itu seraya mendekati Anna.


Tapi tertahan saat Lim mendorong bahunya dengan sangat keras. " Bocah, kamu tidak sopan!! " seru pria itu.


" Pak, anda sedang mabuk. Lebih baik pulang terlebih dahulu. Bisa jadi istri anda sedang menunggu anda pulang. " kata Lim tidak membiarkan pria itu mendekati Anna.


" Saya tidak punya istri, jadi maukah kamu bermain dengan saya? " goda pria itu membuat Anna memalingkan pandangan dengan perasaan ketakutan.


Lim menoleh sesaat kearah Anna, terlihat wajah Anna yang sangat ketakutan membuat Lim kesal dan meninju wajah pria tersebut dengan sangat keras " Bangun pak! Tidak baik berbicara seperti itu! " tegas Lim.


" Kamu.... Berani-beraninya memukul saya! " kesal pria itu mendekati Lim dan ingin membalas tinjuan dari Lim, tapi tertahan saat Lim menahan tangan pria itu dengan sangat keras yang membuat pria tersebut tidak bisa apa-apa.


Pria itu menurunkan tangannya mengurungkan niatnya untuk tidak meninju Lim.


" Saya tidak ingin berurusan dengan anak kecil. " Kata Pria itu seraya pergi meninggalkan Anna serta Lim.


Lim menghela nafas panjang lega. " Bisa-bisanya orang gila seperti itu ada disini. " oceh Lim.


Anna menundukkan kepalanya melepaskan tangan Lim dari jemari tangannya. " Terimakasih. " ucap Anna dengan nada rendah.


" Kamu harus lebih hati-hati ya, setiap malam ada pria seperti ini sangat mengkhawatirkan. " nasihat Lim.


" Tapi kamu gapapa kan? " lanjut Lim merasa khawatir.


Anna hanya menjawab dengan anggukan kepalanya. Ketika Lim ingin mendekati Anna, wajah Anna terlihat sangat ketakutan.


" Kenapa? " tanya Lim.


Tiba-tiba saja seseorang dari belakang Lim memukul kepala Lim dengan kayu. Lim membalikkan badannya melihat siapa orang yang memukulnya, dan ternyata dia adalah pria tadi.


Lim ingin membalas dengan pukulan, tapi kepalanya terlalu berat karena mengeluarkan banyak darah. Lim sulit membalas karena kesulitan berjalan dengan normal, penglihatannya pun menjadi berbayang.


Dan saat Lim merasa lemah, pria itu dengan cepat meniju wajah Lim berkali-kali sampai ia merasa puas.


" Segarnya sudah membalas " ucap pria tersebut seraya pergi meninggalkan Lim yang tergeletak ditanah dengan wajah yang sudah berlumuran darah.


Tangan Anna bergetar tidak ada hentinya karena perasaan takut, ia ingin menolong Lim tapi Anna juga kesulitan untuk berjalan.


Kakinya mati rasa sehingga Anna tidak bisa berjalan dengan baik. Tapi apapun itu Anna harus menolong pria tersebut.


Anna berjalan perlahan mendekati Lim, Lim tidak bisa bergerak. Tubuhnya terlalu sakit untuk digerakan, kepalanya bahkan sudah sangat berat.


Lim tidak bisa menahan sakitnya lagi, perlahan-lahan Lim kehilangan kesadarannya.


1 jam berlalu.


Lim membuka matanya perlahan melihat Anna yang berada di sampingnya. " Ini dimana maaf? " tanya Lim.


" Taman bermain. " jawab Anna. " Aku sudah pingsan berapa lama? " tanya Lim lagi.


" Sekitar 1 jam. "


Lim membangunkan badannya menjadi setengah duduk, ia memegang kepalanya yang masih terasa sakit.


" Maaf, aku tidak bisa membawa kamu kerumah sakit. Jadi aku hanya perban kepalamu saja. "


" Terimakasih. " kata Lim dengan senyum kecil karena merasa bahagia Anna memperhatikannya.


Meskipun hanya sebentar, Lim merasa bahagia bisa sedekat ini dengan Anna.


" Tidak, seharusnya aku yang berterimakasih dan maaf. " tolak Anna.


" Maaf untuk? " tanya Lim. " Karena sudah membuatmu terluka " jawab Anna dengan nada rendah.


Lim tersenyum simpul " Mari pulang " ajaknya.


Ketika Lim ingin berjalan untuk pulang, Anna menahan baju belakang Lim agar tidak pergi terlebih dahulu.


" Kenapa? " tanya Lim kebingungan.


Tanpa ada jeda, Anna langsung mendekatkan wajahnya kearah wajah Lim. Lim terkejut, pipinya memerah karena tersipu malu.


Anna memakaikan plaster tepat di samping bibir Lim yang masih terluka karena tinju dari pria tadi.


Hati Lim berdegup kencang melihat wajah Anna sedekat ini dengan wajahnya.


Setelah selesai memakaikan plaster di samping bibir Lim, Anna memundurkan langkah dan berlari pulang meninggalkan Lim.


Lim hanya berdiri seperti robot, perasaannya menjadi campur aduk. Matanya terus memperhatikan punggung Anna sampai tidak terlihat lagi.


Lim tersenyum lebar, ia mengusap-usap plaster di samping bibirnya. " Lain kali kalau mau terluka mending di depan dia. " gumam Lim merasa bahagia.


" Hei Kap!! " teriak Okumura dari belakang dengan nafas terengah-engah.


" Aku mencari-carimu kemana-mana. " ujarnya sambil membawa tas Lim.


" Okumuraaaa. " kata Lim dengan senyuman sumringah.


Okumura memperhatikan kepala Lim yang sudah diberi perban, wajah Lim yang memar dan satu plaster yang berada di samping bibir Lim.


" Kamu kenapa kap? " tanya Okumura khawatir. " Ada sedikit kecelakaan " jawab Lim dengan senyuman.


" Ada kecelakaan tapi mukamu bahagia? "


" Iya karena Anna merawatku. "


" Wah, kamu serius? "


Lim menganggukkan kepalanya, senyuman diwajahnya tidak bisa dihilangkan. Karena untuk pertama kali Anna memberikan perhatian kepada Lim.


" Mungkin nanti juga ia akan lupa. " ledek Okumura.


" Hah! " kesal Lim.


" Sudah aku ingin pulang. " kata Okumura seraya melemparkan tas Lim. Lim mengambil tasnya tersebut dengan wajah kesal.


" Bye, bye. " Okumura pergi meninggalkan Lim dengan lambaian tangan kanannya.


••


Keesokan harinya, pukul 4:30 p.m


" Wajah kamu kenapa bisa babak belur seperti itu? " tanya Pak Kataoka di dalam ruangannya.


" Maaf pak kemarin saya ada kecelakaan. " jawab Lim.


" Kecelakaan apa? Kamu tidak bertengkar dengan sekolah lain kan? "


" Tidak pak, hanya seorang pria mabuk yang memukul saya. "


" Pria mabuk? "


Lim menganggukkan kepalanya. " Lain kali hati-hati lagi. " kata Pak Kataoka. " Jaman sekarang sudah lebih bahaya dibandingkan jaman dahulu, jadi kamu harus lebih hati-hati lagi. " lanjut Pak Kataoka.


" Iya pak. " Hormat Lim seraya pergi dari ruangan Pak Kataoka.


Sejak kejadian kemarin, Lim selalu diberi pertanyaan oleh teman-temannya. Bahkan perempuan-perempuan teman kelasnya memberikannya banyak ucapan cepat sembuh kepadanya yang membuat Lim sedikit merasa risih.


Dan semenjak kejadian itu pula Anna selalu memperhatikan Lim meskipun dari jarak jauh.


Bahkan saat Lim keluar dari ruangan Pak Kataoka terlihat dari jauh Anna yang sedang berdiri seperti sedang mencari seseorang.


Lim tertawa kecil melihat tingkah laku Anna yang selama seharian ini selalu mengikuti Lim.


Ia berjalan perlahan mendekati Anna, lalu menepuk bahu Anna perlahan sambil bertanya " Sedang apa kamu disini? "


Anna membalikkan badannya merasa gugup karena takut ketahuan mengikuti Lim. " Tidak, aku hanya mencari pak Kataoka saja. " kata Anna berpura-pura.


" Dia ada di dalam ruangannya, kalau kamu ingin mengobrol lebih baik masuk kedalam ruangannya. " ujar Lim.


Anna menundukkan pandangannya. " Anu.. " ucap Anna terbata-bata.


" Kamu... Tidak apa-apa? " tanya Anna gugup.


Lim tersenyum simpul, ia ingin mengusap kepala Anna tapi dengan cepat Anna langsung menangkis tangan Lim agar tidak memegang kepalanya.


" Maaf. " ucap Anna merasa bersalah dan langsung berlari keluar gedung sekolah.


Lim mengepalkan tangannya merasa kesal karena sudah diacuhkan, Ia berpikir mungkin Anna mendekatinya karena perasaan bersalah. Lagipula Anna mendekati Lim saja sudah seperti hal yang mustahil.


Tidak mungkin Anna mendekati Lim secara tiba-tiba kalau bukan karena perasaan bersalahnya.


Lim memberantakkan rambutnya merasa bodoh sudah bahagia hanya karena Anna mendekatinya dengan perasaan bersalah.


Jika Anna tidak merasa bersalah, Anna tidak akan mendekati Lim. Dan Lim tahu itu.


Tapi Lim ingin sebentar saja bisa dekat dengan Anna, walaupun hanya sebentar.


" Kap! " Panggil Okumura dari belakang.


" Kamu latihan tidak? " tanya Okumura.


" Aku latihan, sebentar lagi akan kesana. " kata Lim seraya berjalan menuju lapangan basket.


1 Minggu kemudian.


Sudah 1 Minggu sejak kejadian pertengkaran antara Lim dengan pria yang berusia 30 tahun itu.


Luka diwajah Lim pun sudah mulai sembuh, Lim juga dapat melakukan aktivitas seperti biasa.


Meskipun dari 1 Minggu kemarin ia sudah ingin latihan, tapi Hirahata selaku kapten tidak mengizinkan Lim untuk berlatih terlebih dahulu.


Jadi, tepat hari ini Lim dapat melakukan aktivitasnya lagi.


Dan selama 1 Minggu ini juga Anna masih mengikuti Lim meski secara diam-diam.


Lim berniat untuk berkata kepada Anna bahwa dia sudah tidak apa-apa, tapi ia tidak bisa.


Lim ingin menahan Anna lebih lama.


Ada perasaan yang tidak bisa dijelaskan oleh Lim, kenapa ia sangat ingin menahan Anna.


Kenapa ia ingin terus diperhatikan oleh Anna. Lim tidak bisa menjelaskan alasannya, karena diri Lim sendiri saja tidak tahu mengapa bisa itu terjadi.


Semakin Lim berpikir, semakin ia tidak mengerti.


Di atap sekolah, Lim membaringkan tubuhnya diatas meja dan kedua tangan ditaruh ke belakang kepalanya agar dijadikan bantalan kepala Lim.


" Jadi sebenarnya, perasaan apa yang aku punya kepada Anna? " gumam Lim sambil memejamkan matanya.


" Kamu.. " panggil seseorang dari arah belakang. Suara yang sudah dikenali Lim sehingga Lim tidak perlu untuk melihat siapa orang yang memanggilnya.


Suara itu adalah suara Anna.


" Sedang apa kamu disini? " tanya Anna penasaran." Tiduran. " jawab Lim singkat.


" Boleh aku bertanya sesuatu? "


" Apa? "


" Hari ini kamu latihan? "


" Iya. "


" Apa kamu sudah baik-baik saja? "


Mendengar pertanyaan itu, mata Lim langsung terbuka. " Tidak, kepalaku masih sedikit merasa pusing. " jawab Lim yang berbohong kepada Anna.


" Cepat sembuh, maafkanku. " kata Anna seraya pergi meninggalkan Lim.


" Tch " desis Lim tidak suka mendengar Anna yang terus-menerus meminta maaf kepadanya.


" Apa-apaan sih perempuan itu selalu saja meminta maaf. " keluh Lim.


Drettt-Drettt


Sebuah panggilan telepon masuk dari handphone Lim, Lim segera mengambil handphonenya dan melihat siapa yang meneleponnya saat perasaannya sedang buruk.


Dan telepon itu berasal dari Okumura. Lim mengangkat telepon tersebut dengan nada kesal " Kenapa? "


" Bentar lagi latihan, kap dimana? "


" Aku lupa, sebentar lagi aku akan kesana. " ucap Lim yang langsung berlari terburu-buru menuju lapangan basket.


4:40 p.m


Seluruh anggota sudah siap untuk melakukan latihan, hanya tinggal Lim saja belum datang.


Dan latihan ditunda 10 menit karena menunggu Lim.


" Aku datang, maaf terlambat. " ucap Lim dengan nafas tersengal.


" Kamu darimana saja? " tanya Hirahata.


" Maaf, tadi kepala saya sedikit pusing dan saya beristirahat diatap sekolah. Jadi saya kelupaan bahwa hari ini ada latihan. " jelas Lim.


" Kalau kamu masih merasa pusing lebih baik istirahat saja. "


" Tidak, saya tidak apa-apa. Saya hanya tinggal ganti baju saya. "


" Kalau begitu, cepat ganti baju! " perintah Hirahata yang membuat Lim langsung mengganti pakaiannya menjadi pakaian olahraga.


Para anggota pun mulai berlatih begitu juga dengan Lim yang merasa sangat bahagia bisa berdiri dilapangan lagi.


Dan intinya bisa memegang bola setelah sekian lama.


Lim terus memeluk erat bolanya dengan senyuman lebar. Okumura dan Hideyoshi yang memperhatikan Lim hanya menggelengkan kepalanya merasa Lim sangat menjijikan.


3 jam latihan pun selesai.


Tubuh Lim tidak seperti seminggu yang lalu, fisik Lim sedikit menurun karena tidak berolahraga selama seminggu.


Keringat Lim pun terus mengucur tidak ada hentinya, dada Lim sedikit terasa sesak karena berlatih terlalu keras.


" Istirahat, ganti baju. " ucap Okumura.


Lim menganggukkan kepalanya mengerti.


Setelah selesai berganti baju, Lim berjalan untuk pulang ke rumahnya karena merasa sangat lelah.


" Capenya. " keluh Lim sambil meregangkan tangannya keatas karena merasa sangat lelah.


Tiba-tiba saja Lim memberhentikan langkah kakinya, melihat seorang perempuan berdiri di depan gerbang sekolah seperti sedang menunggu seseorang.


Perempuan itu adalah Anna.


Lim segera melangkahkan kakinya kembali menuju Anna. " Anna? " panggil Lim dengan nada kebinggungan.


Anna hanya menundukkan pandangannya " Kamu sudah pulang? " tanya Anna.


" Kamu sedang apa disini, bukankah seharusnya kamu pulang? Ini sudah malam "


" Mari pulang bersama. " ajak Anna yang membuat wajah Lim memerah.


" Iya. " jawab Lim tidak percaya bahwa Anna mengajaknya untuk pulang bersama.


Lim pun pulang bersama dengan Anna untuk pertama kalinya seperti mimpi yang menjadi kenyataan bagi Lim.


" Kamu masih sakit? " tanya Anna dalam perjalanan pulang.


Lim menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal " Aku masih sedikit merasa pusing dan saat tadi olahraga saja aku merasa sangat pusing. " kata Lim berbohong.


" Kalau kamu masih merasa pusing, seharusnya kamu beristirahat. "


" Tidak, Inter-High sebentar lagi. Aku tidak bisa beristirahat terus-menerus. "


Ucapan Lim membuat Anna tidak bisa berkata lagi, hanya ada keheningan dalam perjalanan.


Lim tidak menyukai keheningan ini, ia ingin terus berbicara dengan Anna. " Anna " kata Lim memecahkan keheningan.


" Iya? "


" Kamu selama seminggu ini selalu memperhatikanku ya? Apa kamu tidak lelah? "


" Kamu tahu itu ya. "


" Iya, karena setiap kamu memperhatikanku wajahmu sangat lucu. " kata Lim dengan tawa kecilnya.


Anna menoleh sesaat kearah Lim melihat tawa Lim.



Aku ingin bisa tertawa seperti itu. Pikir Anna.


Ia tidak bisa tertawa, untuk tersenyum saja susah. Tapi bagi Anna itu tidak penting, tawa dan senyum hanya kepalsuan.


Hanya kebahagiaan sementara.


" Lalu kenapa kamu tidak bilang dan membiarkan aku terus memperhatikan kamu? " tanya Anna.


" Hmm, karena lucu jadi aku membiarkannya. " jawab Lim yang membuat mata Anna melebar terkejut dengan ucapan yang seperti memainkan Anna.


Anna menundukkan kepalanya " jadi kamu mempermainkanku ya? " ucap Anna dengan nada rendah.


" Ti.. " Belum saja Lim berbicara, Anna sudah memotongnya " Ah maaf, aku harus buru-buru. Ibuku sudah banyak mengirim pesan khawatir, jadi aku pergi duluan. " kata Anna seraya berlari menuju rumahnya.


Lim mengerutkan dahinya merasa binggung dengan sikap Anna yang berubah secara tiba-tiba. " Apa aku salah berbicara? " gumam Lim tidak mengerti dengan sikap Anna.


••


Sejak ucapan Lim kemarin, seharian ini Anna sama sekali tidak mengikuti Lim.


Anna hanya selalu duduk dikursi kelasnya sambil memperhatikan kearah lapangan.


Dan setiap Lim melihat Anna dari arah lapangan, Anna selalu menutup tirainya seperti tidak ingin dilihat oleh Lim.


Ketika Lim ingin berbicara kepada Anna pun, Anna selalu menjauhi Lim. Membuat Lim sedikit kesal karena Anna menjauhinya.


" Sebenarnya aku salah apa? " tanya Lim kesal karena melihat Anna yang seharian ini menjauhinya.


Lim tidak ingin Anna menjauhinya, ia hanya ingin Anna terus berada di dekatnya.


Tapi kenyataan menghampiri Lim bahwa ia tidak bisa terus menahan Anna. Karena Anna tidak memiliki perasaan apapun kepada Lim, jadi untuk apa Lim menahan Anna.


Itu hanya akan membuat Lim menjadi pria bodoh karena memaksa Anna untuk terus berada di dekatnya.


Lim mengigit bawah bibirnya merasa sangat kesal. Ingin berbicara kepada Anna pun saja susah, ingin bertanya kenapa Anna menjauhinya lagi pun tidak bisa.


" SIAL! " kesal Lim memukul dinding kamarnya.


Lim mengambil sebuah bingkai foto dari mejanya, terlihat seorang perempuan cantik bersama dengan Lim.


Dia adalh Ibu Lim.


Lim mengelus bingkai foto tersebut. " Kenapa dia sangat mirip dengan Ibu? " gumam Lim.


" Bu, dia sangat mirip denganmu. Dari cara tatapannya yang sangat lembut dan bicaranya yang sangat halus. "


" Apa aku benar-benar menyukainya? "


" Atau aku mencintainya? "


" Tapi itu mustahil, hanya baru beberapa Minggu saja. "


" Atau karena dia sangat mirip dengan Ibu, jadi membuat aku terus ingin dekat dengan dia? "


" Katakan padaku bu! Apa yang harus aku lakukan. "


" Aku ingin dia bersama denganku. Apa itu mustahil? "


" Aku tidak bisa apa-apa, aku hanya seorang lelaki yang lemah Bu. "


" Tapi, aku ingin berada didekatnya. Karena.. "


" Aku sangat menyukainya. "