
" Apa kamu ingin menyatakan cinta kepada seseorang? Kenapa melalui bukuku? " tanya Anna seperti orang bodoh.
Lim menelan ludah, ia tidak menyangka bahwa Anna akan menjadi orang yang sama sekali tidak peka.
Lim menjauhkan wajahnya dari wajah Anna. " Sudah kamu tidak perlu tahu, aku hanya ingin mencoret-coret bukumu saja. " jawab Lim seraya berjalan pulang.
" Hah? " kesal Anna melihat Lim yang hanya ingin mencoret-coret bukunya saja.
Anna mengikuti Lim dari belakang. " Kamu mengikutiku? " tanya Lim.
" Tidak, rumahku memang searah ini! "
Wajah Lim membeku, ia lupa bahwa rumah Anna dengan rumahnya sangat dekat.
" Ah iya. Lupa sepertinya pakaianku tertinggal diruang club. " kata Lim pura-pura dan membalikkan badannya untuk berpura-pura pergi kembali ke Sekolah.
Dan dalam perjalanan pergi ke Sekolah, Lim tidak senggaja melihat lampu lapangan basket yang menyala.
" Siapa yang latihan jam segini? " tanya Lim melihat lapangan basket.
Dia adalah Hirahata, kapten dari tim Seido.
Lim melihat wajah Hirahata yang sudah sangat lelah tapi tetap berlatih, meskipun hari ini tidak ada latihan. Hirahata masih tetap latihan sendirian di dalam lapangan basket.
Lim berlari kearah security untuk menanyakan tentang Hirahata. " Pak security! " panggil Lim dari arah luar post security.
Security keluar " kenapa? " tanyanya. " Kenapa masih ada di sekolah? Kamu harus pulang! " perintah Security.
" Sebentar pak, dengarkan saya dulu. Kenapa pak security membiarkan Hirahata-senpai tetap berlatih sampai jam sekarang? Apa dia memang setiap hari selalu seperti itu? " tanya Lim tidak mengerti.
Security menundukkan pandangannya, ia bahkan tidak memberitahu sekolah tentang Hirahata yang selalu berlatih sampai larut malam.
" Iya hampir setiap hari. Dari dia kelas 2. " jawab Security.
" Kenapa bapak biarin dia? "
" Karena dia memaksa, dia berkata bahwa ini semua demi sekolah. Ia harus tetap menjadikan sekolah ini juara. "
" Lalu bapak biarin saja? Kalau dia pingsan atau terluka bagaimana? "
" Dia selalu menolak. Jadi bapak tidak bisa apa-apa. "
" Tch. " desis Lim yang langsung berlari menuju lapangan basket.
" Woi kapten! Kamu berlatih sendirian lagi? Kenapa tidak mengajak yang lain?! Ingin menjadi hebat sendirian? " Teriak Lim seraya memasuki lapangan basket.
Hirahata terkejut melihat Lim yang masih ada disekolah. " Kamu sedang apa disini? " tanya Hirahata kebinggungan.
" Kap! Kamu harusnya tahu waktu dan waktu itu kamu pernah bilang kalau saya berlatih terlalu keras kap akan membagikan foto antara saya dengan Hinata. Dan lihat sekarang kap memaksakan diri sendiri. "
" Meskipun sekarang tidak berlatih, tapi ini sudah malam! Lagipula besok kita juga akan berlatih keras lagi kan dari pagi sampai sore? " lanjut Lim membuat Hirahata menundukkan pandangannya.
" Keluar Lim! " tegas Hirahata mengepalkan tangannya.
" Apa saya tidak mendengar? "
" Saya bilang keluar! "
Lim mendekati Hirahata dengan tatapan tajam. Lalu berbisik " Saya tidak akan berkata kepada siapapun, tapi biarkan saya menemani kap latihan! "
Mata Hirahata melebar terkejut dengan ucapan Lim.
" Ayo tunggu saya mengganti baju. "
Selesai Lim mengganti baju, Lim melakukan stretching terlebih dahulu.
" Lim, terimakasih dan maaf. " ucap Hirahata dengan nada rendah.
" Seorang kapten tidak boleh merendah seperti itu! " seru Lim.
" Maaf "
" Saya sudah bilang! Ah menyebalkan. " kesal Lim.
" Kapten dan Anna sama saja. Selalu meminta maaf. "
" Anna? "
" Iya, bocah tanpa suara. Tapi akhir-akhir ini dia sangat menyebalkan. "
" Kamu menyukainya? "
" Iya, entahlah. Aku juga binggung kenapa menyukainya. Pandangan pertama? Iya mungkin karena dia sangat cantik. "
Hirahata tertawa, pertama kalinya ia mendengar Lim berbicara tentang perempuan dan menjawab dengan spontan.
" Cepat lakukan stretchingmu sehabis itu kita one on one. "
" Wah kamu menantangku. "
" Saya yakin saya menang darimu. "
" Haha, ucapkan itu setelah menang dariku! "
Hirahata dan Lim pun melakukan latihan secara diam-diam. Tidak ada satupun orang yang tahu selain mereka berdua dan Security.
Satu sama lain saling mengerti, karena mereka memiliki ambisi yang sama.
Keesokan harinya.
Lim yang masih lelah karena kemarin berlatih semalaman berjalan dengan sempoyongan menuju lapangan basket.
Sekolah sangat sepi, hanya ada beberapa club yang berlatih. Seperti basket, volley, baseball, sepak bola dan lain-lain.
Beberapa anggota tim basket sudah datang dengan wajah semangat, tapi berbeda dengan Lim yang masih sangat mengantuk.
" Ohayo. " ucap Lim.
" Ohayo Lim. " ucap Hirahata yang datang dengan wajah semangat.
Padahal kemarin mereka benar-benar berlatih sampai malam, tapi kenapa Hirahata bisa begitu semangat dan tidak lelah.
" Kamu benar-benar monster. " sindir Lim kepada Hirahata.
Hirahata hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Lim.
" Mari semuanya masuk. " Ajak Hirahata seraya membuka pintu lapangan basket.
" Hari ini aku akan berlatih dengan keras, mohon bantuannya. " Teriak Hideyoshi.
" 30 menit lagi dimulai, silahkan berganti baju terlebih dahulu. " Perintah Hirahata.
" Siap. " ucap bersamaan anggota.
30 menit kemudian.
Semua anggota sudah datang, dan sebelum memulai latihan Hirahata ingin memberitahu beberapa pengumuman penting.
" Hari ini dan besok akan ditentukan siapa yang memasuki tim inti. Ada 10 orang yang akan terpilih untuk mengikuti Inter-High. Dan jika ada yang tidak terpilih, saya minta maaf. Satu lagi, yang tidak terpilih pun tetap akan mengikuti pelatihan di Chiba serta pelatihan musim panas. " kata Hirahata membuat mata para anggota menjadi serius.
" Ah, yang memilih bukan saya. Tapi pelatih, hari ini dia akan datang. Jadi persiapkan diri kalian masing-masing. " Lanjut Hirahata.
" Siap. " ucap bersamaan para anggota.
Tidak lama kemudian, Coach datang dengan pakaian hawainya.
" Ohayo " sapanya memasuki lapangan basket.
Seluruh anggota terdiam, untuk kelas 1 ini adalah pertama kalinya melihat Coach.
Bagi kelas 2 dan 3 hal ini sudah seperti biasa.
" Coach, kamu datang dengan pakaian itu lagi? " tanya Hirahata.
" Ah maaf, maaf. Aku terlalu bersenang-senang di Hawai, jadi lupa untuk berganti baju. "
" Apa dia benar pelatih kita? " bisik Kuramochi ditelinga Lim.
Lim menggeleng-gelengkan kepalanya tidak tahu.
" Perkenalkan saya adalah Coach kalian, kalian tidak perlu tahu nama saya. Jadi panggil coach saja. " kata Coach.
Coach melihat bahwa para anggota sudah berganti pakaian dan sudah siap untuk berlatih.
" Kalian benar-benar sudah siap? " tanya Coach.
" Tidak takut? " lanjutnya lagi.
" Tidak " ucapnya bersamaan anak kelas 1.
Sedangkan kelas 2 dan 3 sama sekali tidak berbicara.
" Suara kelas 2 dan 3 kok tidak terdengar, bagaimana? " tanya coach lagi.
" Kami takut " ucap bersamaan kelas 2 dan 3.
" Hah, mereka kok takut? " tanya Kenji tidak mengerti.
" Oke bagus. Kalau begitu, untuk kelas 1 jogging 10 putaran selama 5 menit dan untuk kelas 2 jogging 10 putaran selama 10 menit. " perintah coach.
" Kenapa kelas 1 hanya dalam 5 menit dan kelas 2 serta kelas 3 10 menit, apakah tidak terlalu aneh? " tanya Tama
" Katanya kalian tidak takut. "
Ucapan anak kelas 1 menjadi bumerang bagi mereka sendiri.
" Cepat. " seru coach meniupkan peluit.
Anak kelas 1 berlari dengan cepat seperti sprint, sedang kelas 2 serta kelas 3 berlari dengan santai.
" Rasakan itu. " gumam Hideyoshi yang senang melihat kelas 1 menjadi bahan lelucon untuk coach.
" Hideyoshi kalau kamu tertawa lagi, kamu juga akan dapat hukuman. " ucap Coach membuat wajah Hideyoshi kembali datar.
5 menit selesai.
Kelas 1 selesai jogging, nafas mereka terengah-engah. Ini seperti mereka melakukan sprint.
" Selanjutnya stretching. " ujar Coach membuat kelas 1 melakukan stretching lebih dahulu dibandingkan kelas 2 dan 3.
10 menit selesai stretching.
" Selanjutnya, lari sprint 50 bolak-balik dalam waktu 10 menit. Jika tidak bisa, kalian akan kembali mengulangnya dari awal sampai bisa. " Perintah coach kepada kelas 1.
" Ini neraka, dia Iblis. " gumam Tama.
" Kenapa hanya anak kelas 1 saja? " tanya Kenji.
Peluit berbunyi, tim kelas 1 sudah melakukan sprint bolak-balik.
Lim sudah melakukan sebanyak 50 putaran selama 5 menit, Sawamura melakukan 50 putaran selama 7 menit. Dan Okumura melakukan 50 putaran selama 8 menit.
10 menit selesai.
Dan untungnya seluruh kelas 1 berhasil melakukan sprint sebanyak 50 bolak-balik dalam 10 menit.
Hanya tinggal kelas 2 dan 3 yang melakukan sprint sebanyak 50 putaran dalam waktu 15 menit.
Dan 15 menit pun selesai.
Seluruh anggota sudah melakukan latihan awal.
" Oke pemanasan sudah selesai. " ucap Coach.
" Hah, baru pemanasan? " keluh Kuramochi.
" Kalau begitu, istirahat 1 menit dan selanjutnya. Shooting 3 point sebanyak 50 kali per-orang. "
" Dia benar-benar iblis " bisik Hideyoshi kepada Yuki.
" Hei, aku mendengarmu Hideyoshi. " goda Coach membuat Hideyoshi hanya senyum-senyum kecil.
5:00 p.m
Pelatihan selesai.
Seluruh anggota membaringkan tubuhnya di lantai, hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi mereka.
Berbeda dengan yang lain, Hirahata dan Lim masih berdiri dengan tegak meskipun nafasnya mulai sesak.
" Kalian tidak lelah? " tanya Coach kepada Hirahata dan Lim.
" Kami lelah coach " jawab bersamaan Hirahata dan Lim.
" Kalau kalian tidak lelah, kalian masih bisa berlatih lagi. "
Hirahata dan Lim menggeleng-gelengkan kepalanya tidak ingin.
Selesai beristirahat dan berganti baju. Para anggota berjalan untuk pulang, sedangkan Hirahata dan Lim masih berada di lapangan tanpa mengganti baju.
Lim mengintip pintu kearah luar memastikan bahwa seluruh anggota sudah pulang.
Lim mengacungkan jempol bertanda semua sudah pulang, Hirahata dan Lim pun kembali berlatih one on one.
Mereka tahu bahwa latihan seperti ini akan membuat tubuh mereka semakin lelah, tapi kecintaannya terhadap basket melebihi apapun.
Lalu tiba-tiba saja, coach datang dengan tatapan serius.
" Kalian bilang, kalian tidak lelah. "
Lim dan Hirahata membeku ketakutan. " Kalian sudah berlatih banyak hari ini lebih baik pulang! " seru coach.
" Tapi coach.. " Keluh Lim.
" Kamu ingin membantah? Besok kamu harus tetap berlatih! Kamu tahu sendiri kan kap besok akan seperti apa? "
Hirahata menundukkan kepalanya, ia tahu bahwa besok akan menjadi penentuan antara anggota.
Dan besok adalah terpilihnya anggota Inter-High sementara.
Meskipun hanya sementara, tapi tetap saja orang yang disebutkan akan menjadi penyemangat agar mereka terus bisa dalam line up sedangkan yang tidak akan menjadi pemicu untuk tetap menunjukkan bakatnya.
Hirahata menepuk punggung Lim " Lebih baik kita pulang atau kita tidak akan mempunyai kesempatan untuk masuk dalam line up. " ucap Hirahata yang membuat mata Lim melebar.
Ia tidak punya pilihan lain selain menerima. Lim mengambil tasnya dan berjalan pulang dengan kekesalan dalam hatinya.
Lim ingin membuang kekesalan itu dengan cara apapun. Dan tidak senggaja matanya melihat seorang perempuan yang sedang memainkan ayunan sendirian di taman bermain.
Lim mendekati perempuan itu sambil berbisik tepat ditelinganya " Nama kamu siapa? "
Dan dengan cepat perempuan itu memukul wajah Lim dengan buku yang berada ditangannya.
Lim meringis kesakitan, ia membuka matanya. Perempuan yang ada di hadapannya saat ini adalah Anna.
" Kamu adalah orang yang benar-benar tidak ingin aku lihat hari ini. " kesal Lim.
Anna terdiam, matanya berkaca-kaca entah kenapa. Ada sesuatu yang tidak bisa Anna jelaskan.
Sejak ia di kamar tadi, ada seseorang yang meneleponnya dan mengancamnya akan memberitahu seluruh SMA Seido tentang masa lalu Anna.
Anna berlari keluar rumah dan terus menangis tanpa henti. Ia ingin sendirian, tapi entah dari mana asalnya ada pria menjengkelkan di hadapannya.
" Apa mau kamu? Apa kamu juga ingin mengancamku? Meledekku? Atau menjahiliku? Kamu suka itu semua kan! " kata Anna tanpa jeda.
Lim mengerutkan dahinya tidak mengerti, ia ingin mengelus kepala Anna agar lebih tenang sedikit. Tapi Anna menangkisnya, tangisan Anna semakin membesar.
Lim tidak tahu harus bagaimana, orang-orang sekitar memperhatikan Lim seperti orang jahat karena sudah menyakiti seorang perempuan.
Anna tidak suka menangis di depan orang seperti ini, tapi tangisannya tidak kunjung berhenti.
Ketika ia terdiam, ingatannya kembali menghantuinya lagi. Seakan-akan ingatan dalam masa lalunya sudah menggerogoti seluruh kenangan indah Anna.
Anna memeluk kedua lututnya sambil menangis. " Kamu kenapa? Maafkan aku. " ucap Lim merasa bersalah.
Anna terus menangis membuat Lim semakin kebinggungan. Lim berpikir sejenak apa yang harus dilakukan seorang pria saat perempuan sedang menangis.
Lim berbicara tentang lelucon yang kemarin ia dengar dari Okumura tapi tidak membuat tangisan Anna berhenti.
Lim bergaya-gaya seperti orang gila Anna tetap tidak melihatnya. Lim tidak mempunyai pilihan lain selain memeluk Anna.
Namun, Lim berpikir kembali. Jika ia tiba-tiba memeluk Anna, Anna akan memberontak dan semakin menangis.
Lim memberantakkan rambutnya merasa frustasi karena tidak bisa apa-apa. Tiba-tiba saja Lim teringat masa kecilnya, ketika adik perempuannya sedang menangis Lim selalu menepuk punggungnya secara perlahan agar Adiknya tidak menangis.
Ia pun mencoba cara seperti itu, Lim menepuk punggung Anna secara perlahan. Sambil menenangkannya dengan berkata " cup, cup. "
" Jangan menangis. "
Tangisan Anna berhenti saat mendengar ucapan Lim. " Kamu berhenti? Asik! " bahagia Lim karena cara seperti ini berhasil.
Anna berdiri, ia menghapus air matanya di pipi Anna. " Kamu anak kecil ya? " ledek Anna seraya berlari menuju rumahnya kembali.
Lim terdiam seperti robot, apapun yang Lim lakukan akan selalu terlihat buruk di mata Anna.
" Menyebalkan sekali perempuan itu! " kesal Lim.
••
Hari pemilihan Inter-High sementara.
Para anggota tim basket Seido berlatih dengan keras, apalagi hari ini adalah hari pemilihan.
Tidak ada satupun yang bercanda, semua bermain mengeluarkan kemampuan terbaiknya.
Dan yang paling diutamakan dalam latihan ini adalah battle three on three.
Siapa yang paling terlihat mencolok, serta dapat kerja sama dengan baik. Dia yang akan terpilih.
Battle pertama antara Lim, Sawamura, dan Kuramochi melawan Hideyoshi, Kunimi dan Hadji.
Battle start.
Lim yang menjadi play maker mengatur jalannya pertandingan, Lim meminta Sawamura untuk mundur terlebih dahulu dan tetap berada di outdoor.
Lim juga meminta mundur kepada Kuramochi, tetapi Kuramochi tidak menuruti Lim. Ia hanya tetap maju dan bermain cepat agar mencetak skor lebih awal.
Tapi tidak segampang itu, tim kelas 2 sudah mengetahui kemampuan kita masing-masing dan sifat kita. Jadi mereka tidak akan mudah termakan dengan kecepatan.
" Hei mundur! " tegas Lim.
Kuramochi sama sekali tidak mendengar, ia tetap maju dan mengangkat tangannya untuk Lim membagi kearahnya.
Lim tidak memperdulikan Kuramochi, ia hanya bermain berdua bersama Sawamura.
Sampai akhirnya, Lim serta Sawamura mencetak three point.
Kuramochi mendekati Lim perlahan, lalu meninju wajah Lim dengan keras. " APA MAKSUDNYA! KALIAN INGIN BERMAIN DUA TANPA MELIHAT KEARAHKU? KALIAN SUDAH HEBAT?! "
Lim meringis kesakitan, Lim menatap tajam Kuramochi " HAH? Kamu seharusnya lebih sabar, kelas 2 sudah tahu kemampuan kita masing-masing jadi jangan harap dengan kecepatan bisa ada celah dari mereka. Kamu juga tahu gimana kecepatan Hideyoshi-senpai "
Kuramochi terdiam merapatkan bibrnya. Lalu Lim berbisik tepat ditelinga Kuramochi " Permainanmu seperti itu saja sudah diperhatikan oleh Coach, lihat ke depannya harus bagaimana! " seru Lim.
Permainan kembali dimulai.
Lim mengatur jalannya permainan dan Kuramochi hanya mengikuti permainan dari Lim.
10 menit sudah berlalu.
Pemenang dari three on three adalah kelas 1, dengan skor 25-24.
Lim menahan sakit dipipinya, ia keluar lapangan basket untuk mencari udara segar sebentar.
" Kuramochi sialan, pipiku sangat sakit. " keluh Lim.
Lim berjalan-jalan selama lebih dari 5 menit dan saat ingin kembali. Lim tidak senggaja melihat Anna yang sedang mengumpat di balik pintu lapangan basket.
Ia seperti sedang mencari seseorang, tapi tidak punya keberanian untuk memasuki lapangan basket.
Lim berjalan mendekati Anna dan berbisik " Sedang apa? "
Anna terkejut dan hampir terjatuh, tapi untungnya ia memegang gagang pintu agar tidak terjatuh.
Lim tertawa terbahak-bahak melihat Anna yang hampir terjatuh.
Anna menampar Lim dengan sangat kencang yang membuat Lim terdiam.
" Itu tidak lucu, kalau aku jatuh dan terluka. Apa kamu tetap tertawa? "
" Aku akan menolongmu " jawab Lim dengan nada rendah.
Anna membalikkan badannya dan ingin kembali pulang. Tapi tiba-tiba saja ada bola basket yang hampir ingin mengenai kepala Anna.
Dengan cepat, Lim menahan tubuh Anna agar tidak terjatuh dan menghempaskan bola basket tersebut.
" Kamu gapapa? " tanya Lim khawatir.
Anna terdiam, bibirnya bergetar ketakutan.
" Aku sudah bilang aku akan menolong kamu, apa kamu tidak percaya? "