
" Ini juga untuk kamu, tolong dipelajari ya. " Pinta Anna membuka tasnya dan memberikan buku kepada Lim.
Ia melambaikan tangannya dan seraya melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Lim.
Meskipun hanya beberapa saat, hati Lim terasa sangat sakit. Ia meninggalkan Anna tanpa tahu Anna sudah menunggunya sangat lama.
Lim hanya memikirkan perasaannya sendiri, ia terlalu egois karena takut kembali diacuhkan oleh Anna. Harusnya Lim dapat bersabar dan tidak terburu-buru ingin mendapatkan Anna.
" Bodoh. " Keluh Lim dengan tangan terkepal.
••
2 hari sebelum ujian mid semester.
" PERUSAHAAN TERNAMA DI JEPANG CEO TANAKA MEMBERIKAN JABATAN CEONYA KEPADA SEKRETARIS NYA YAITU HIRASHI BUKAN KEPADA ANAKNYA. INI ADALAH SEBUAH KABAR YANG MENGHERANKAN. "
Berita televisi yang mulai heboh di seluruh Kota Jepang, karena dahulu Tanaka pernah memberitahu akan memberikan perusahaan dan jabatannya kepada anaknya.
Tetapi kali ini, ia memberikan jabatannya kepada Sekretarisnya yang bahkan bukan darah daging dari keluarga Tanaka.
Para reporter dan wartawan juga sudah mengelilingi gedung sekolah SMA Seido karena ingin bertanya kepada Ryuzaki secara langsung selaku anak dari Tanaka.
" Banyak Repoter sekali. "
" Iya, Ryuzaki dimana? "
" Tidak tahu. " Bisik seluruh kelas 1-1, sedangkan Anna hanya menopang dagunya tidak perduli.
Menurutnya memang seharusnya seperti itu, perusahaan Tanaka akan gagal jika dipegang oleh Ryuzaki.
Lalu, tiba-tiba Ryuzaki datang memasuki kelas dan menarik lengan Anna untuk keluar kelas menuju ruang musik.
" Lepaskan! " Seru Anna yang memaksa Ryuzaki melepaskan tangannya.
" Tanda tangan ini. " Ryuzaki memberikan sebuah kertas surat perjanjian pertunangan antara Anna Yuo dan Tanaka Ryuzaki.
" Apa-apaan ini. " Kesal Anna tidak percaya apa yang ia lihat. " Kamu ingin aku menandatangani kontrak ini? "
" Iya, sudah tanda tangani saja. Aku harus menjadi Ceo dengan ini dan kamu akan mendapatkan uang yang banyak dari aku. "
" Tch. " Anna merobek kertas surat perjanjian tersebut. Ryuzaki kesal dengan Anna dan langsung menampar pipi Anna kencang.
" Kamu gila ya? Padahal karena kamu, aku gagal menjadi penerus dari keluarga Tanaka! "
" Karena aku? Itu semua karena kebodohan kamu! " Pekik Anna memegang pipinya.
" Tidak, Ayahku ingin aku bertunangan dengan kamu. Dan dia terus memaksaku sampai aku benar-benar putus asa. "
" Tapi kamu menggagalkan seluruh rencana aku dan Ayahku! "
" Lihat sekarang, aku gagal menjadi penerus. Dasar perempuan tidak tahu malu. " Kasar Ryuzaki yang tidak memikirkan perasaan dari Anna.
" Perempuan tidak tahu malu? " Gumam Anna.
" Masa lalumu, apa kamu mau aku menyebarkan tentang masa lalu kamu dan video itu? "
Mendengar perkataan Ryuzaki, Anna terdiam membeku tidak bisa bergerak.
Ingatannya mulai menghantuinya lagi, padahal Anna mencoba untuk melupakan semuanya saat berada di Jepang. Tapi malah yang terjadi adalah ia selalu mengingat kembali seluruh kenangan.
Sebuah video terburuk yang pernah Anna dapatkan.
" Kamu takut? Kalau gitu nanti kamu harus tanda tangan. " Ancam Ryuzaki.
" Tidak mungkin ada video, semua video tersebut sudah dihapus. "
" Kamu tidak percaya? " Ryuzaki mulai memainkan video tersebut yang membuat kaki Anna lemas tidak berdaya dan terjatuh.
" Darimana kamu dapat? " Anna ketakutan.
" Dari seorang informan. " Senyum Ryuzaki licik. " Setelah ulangan, aku akan memberikan surat perjanjian lagi. Jadi tolong tanda tangani surat tersebut. " Lanjut Ryuzaki melangkahkan kakinya keluar.
Sebuah kenangan buruk mulai kembali teringat, saat video itu tersebar keseluruh sekolahan. Anna mulai menjadi bahan pembicaraan dan semua orang semakin menjauhinya tanpa tahu kebenaran.
Anna dianggap buruk karena video tersebut.
Nafasnya mulai kembali sesak, ingatan buruk itu benar-benar sudah mengendalikan seluruh tubuh Anna.
Ia kesulitan bernafas, Anna mencoba mengeluarkan inhaler nya kembali dan menghirup dengan perlahan.
Beberapa saat kemudian, Anna sudah mulai tenang kembali. Nafasnya juga sudah mulai normal, hanya tinggal tangan serta kakinya saja yang terus bergetar ketakutan.
Suara pintu terbuka, tubuh tinggi dan badan yang terlihat seperti atletis mendekati Anna.
Mata Anna masih buram karena sesak nafasnya tersebut, ia membantu Anna berdiri dan memeluk kembali Anna.
" Sebenarnya siapa orang ini? " Pikir Anna.
Seseorang yang selalu membantunya saat ia tengah kesusahan dan kesulitan. Seseorang yang tahu kelemahan Anna.
" Ada aku disini. " Katanya menenangkan dengan suara yang sangat familiar ditelinga Anna.
" Apa dia? "
" Kak Yuki? " Pikir Anna yang memikirkan suara familiar.
Tidak lama kemudian, seseorang itu melepaskan pelukannya dari Anna dan berjalan keluar ruangan musik.
11:30 a.m
" Anna, bangun! " Todorki membangunkan Anna yang tertidur di dalam ruang musik.
Anna terbangun dan melihat Todorki di sampingnya.
" Maaf sensei. " Anna yang langsung berdiri dan mulai berjalan keluar kembali dengan pikiran kosong.
Saat berjalan keluar ruang musik, ia tidak sengaja melihat Lim yang sedang berjalan di depannya bersama dengan Okumura.
Kaki Anna terhenti sesaat ketika matanya dengan mata Lim saling bertemu satu sama lain. Wajah Anna yang memucat hanya berjalan pergi untuk tidak berhadapan dengan Lim.
Tapi lengan Anna terhenti oleh Lim. " Kamu baik-baik saja? " Tanya Lim. Anna melepaskan tangan Lim perlahan. " Aku baik-baik saja. " Jawab Anna dengan melangkahkan kakinya kembali.
Okumura menyikut perut Lim. " Kalian masih bertengkar? "
Lim hanya tidak menjawab dan berjalan kembali, tetapi Todoroki keluar dari ruang musik yang dimana Anna keluar.
" Lim! " Sapanya. " Sensei, kenapa kamu ada disini? " Lim tidak mengerti.
" Tadi saya hanya ingin mengambil buku. "
" Ah iya, Anna juga disini. Sepertinya dia pingsan. " Lanjut Todorki. " Pingsan? " Lim kebinggungan.
Todoroki menganggukkan kepalanya. " Kamu dan Anna sudah belajar bersama kan? "
" Iya. " Lim menggaruk kepalanya yang tidak gatal, berpura-pura bahwa ia sudah belajar bersama dengan Anna.
" Kalau begitu nanti tunjukan hasil belajar kamu. " Todorki menepuk pundak Lim sambil melangkahkan kakinya.
Bel pulang sekolah berbunyi.
Perasaan Lim sangat tidak nyaman saat mengetahui bahwa Anna pingsan dan satu orang pun tidak ada yang tahu. Bahkan dia saya tidak ada di sampingnya saat Anna tengah pingsan.
Itu membuatnya tidak berguna, ia selalu berkata kepada Anna dengan berani kalau ia menyukai Anna. Tapi saat Anna sedang kesulitan, Lim tidak berada di sampingnya.
Ini membuat pikirannya sebagai pria jahat yang hanya ingin mendapatkan Anna dengan perasaan yang egois.
" Kap! " Panggil Okumura yang membuat lamunan Lim buyar. " Tidak pulang? "
" Mari pulang. " Lim mengambil tas dan berjalan keluar untuk pulang.
Namun, ia melihat Anna yang berjalan ke Perpustakaan. Dengan terburu-buru, Lim mengikuti Anna tanpa berbicara terlebih dahulu kepada Okumura.
" Kap! " Teriak Okumura kebinggungan.
Anna berjalan mencari sebuah buku untuk ulangan yang sebentar lagi akan dilaksanakan, sedangkan Lim mengikuti Anna terus menerus tanpa Anna ketahui.
Berjam-jam Lim duduk di belakang, melihat Anna dari kejauhan.
Langit sudah menggelap, udara mulai terasa sangat dingin dan lampu-lampu sekolah mulai dimatikan.
Lim yang tertidur pulas dengan tangan yang menjadi bantalan di atas meja, ia membuka matanya saat seorang satpam membangunkan.
" Bangun, sudah malam waktunya pulang. " Katanya membangunkan Lim.
Mata Lim perlahan terbuka, pertama yang ia lihat saat terbangun adalah Anna yang juga tertidur di dalam perpustakaan.
Ketika satpam mencoba untuk membangunkan Anna, Lim langsung menepuk pundak satpam. " Maaf pak, tunggu sebentar. Jangan dibangunkan terlebih dahulu. " Ucap Lim dengan nada perlahan.
" Tapi sudah waktunya pulang. " Tolak satpam. " Sebentar saja saya mohon. " Pinta Lim.
Satpam tidak punya pilihan selain menerima permohonan Lim. " Ingat sebentar. " Peringatannya dengan berjalan keluar Perpustakaan.
" Siap. " Jawab Lim dengan sebuah senyuman.
Ia berjalan menghampiri Anna yang kepalanya tertidur di atas buku. Wajahnya yang memucat membuat Lim merasa sangat khawatir.
Kertas-kertas yang berserakan di mejanya, Lim membaca isi kertas tersebut dan tertulis sebuah nama di paling atas. " Untuk lelaki yang disuruh oleh Todoroki-sensei. "
Sudut bibir Lim melengkung membuat sebuah senyuman, Anna berusaha membuat kertas ini untuk Lim. Sebagai penggantinya ia juga harus belajar dengan rajin dan masuk ke dalam 50 besar.
" Maafin aku ya. " Bisik Lim mengelus rambut Anna dan berjalan keluar Perpustakaan.
Satpam sudah berdiri tegak dengan tangan yang menyilang di dada. " Sudah?! " Tegasnya.
" Sudah pak, silahkan. "
Lim berjalan keluar gedung sekolah, tapi langkah kakinya terhenti di depan gedung sekolah. Ia ingin menunggu Anna.
Udara dingin mulai terasa di tubuh Lim, sudah sekitar 20 menit Anna tidak keluar. Perasaan Lim mulai tidak enak.
Tetapi, tiba-tiba saja Anna keluar dari gedung sekolah dengan mata lelahnya.
Kaki Anna terhenti melihat Lim dengan kepala yang memiring menyentuh dinding dan sebuah senyuman yang terlukis di wajahnya.
" Konbanwa, Anna. "
••
MAAF KETERLAMBATAN UPDATE, KARENA KONDISI AUTHOR YANG SEDANG TIDAK BAIK. AUTHOR MOHON MAAF DAN TERIMAKASIH.