
" Kamu gila! " kesal Anna.
Lim hanya tertawa kecil dan mengambil kembali omamori dari tangan Anna.
" Sepertinya aku memang tidak akan bisa bersama kamu. " gumam Lim menyimpan omamorinya dalam saku celana.
Kereta sudah berhenti, Anna keluar bersama dengan Lim menikmati pemandangan Arashiyama.
Seluruh siswa-siswi sudah memulai menaiki Kereta-Arashiyama.
Sedangkan Anna dan Lim baru saja keluar dari kereta tersebut tanpa ada seseorang yang tahu.
Dalam perjalanan menikmati pemandangan Arashiyama, pikiran tentang ciuman Lim tiba-tiba masih melekat di dalam pikiran Anna.
Ia tidak tahu harus bagaimana, ingin marah tidak bisa. Ingin bertanya pun akan membuatnya semakin malu.
Sampai semuanya hilang saat Anna melihat daun-daun yang berjatuhan di atas sungai dengan lampu-lampu cantik di Arashiyama.
" Cantik. "
" Sangat cantik. " kata Anna tanpa sadar memberhentikan langkah kakinya.
Lim menoleh kearah Anna dan tersenyum miring " Iya cantik. "
" Aku tidak tahu bahwa tempat ini sangat cantik, aku sekalipun tidak pernah kesini. " ujar Anna sambil menoleh kearah Lim.
" Cantik. "
" Kenapa kamu sangat cantik? "
" It makes my heart flutter " lanjut Lim menatap Anna dengan penuh senyuman.
Anna mengedipkan mata secara cepat, mendengar ucapan Lim yang membuat hati Anna berdegup cepat. Wajahnya bahkan memerah saat Lim berkata seperti itu.
" Maaf, sepertinya aku tanpa sadar berkata seperti itu. Aku harus kembali ke bus. " ucap Anna seraya berjalan kembali meninggalkan Lim.
Wajah Anna ditutupi oleh kedua tangannya, karena tubuhnya begitu panas saat mendengar perkataan Lim.
" Anna, kamu mau kemana? Tunggu aku! " teriak Lim mengikuti Anna.
Lim terus mengikuti Anna tapi Anna terus menjauhinya, tidak ingin berada dekat dengan Lim.
Karena itu akan semakin membuat hati Anna ingin meledak.
" Anna, Lim. Sedang apa kalian berdua disini? " tanya Kataoka yang melihat Lim dan Anna berduaan bersama.
" Kami sedang jalan-jalan. " jawab Lim santai. "
" Jalan-jalan, bukannya kalian harusnya berada di kereta? "
" Tidak sensei, Saya dan Anna takut menaiki itu. "
" Takut? Lalu, kenapa kalian tidak bilang kepada wali kelas masing-masing? "
" Wali kelas kami ikut menaiki kereta tersebut. "
" Sudahlah, kembali ke bus. Sebentar lagi akan pulang! " perintah Kataoka kepada Lim serta Anna.
Mereka menganggukkan kepalanya mengerti, dan berjalan menuju bus kembali.
9:00 p.m
Seluruh siswa-siswi sudah kembali ke dalam bus masing-masing, dan tidak lama kemudian bus berjalan untuk pulang ke Tokyo.
Para siswa-siswi sudah mulai tidur di dalam bus, sedangkan Anna dan Lim masih membuka matanya lebar-lebar.
Haruki yang duduk di samping Anna juga hampir tertidur dibahu Anna, tapi Lim meminta Haruki untuk berpindah tempat kembali.
" Kenapa kamu berpindah tempat? Kalau guru tahu bagaimana? " keluh Anna.
" St, guru tidak akan tahu. " bisik Lim.
Anna hanya mendesis kesal dan mulai memakai headphone di telinganya.
Ciuman Lim kembali teringat oleh Anna membuatnya sedikit jengkel karena ingatan tersebut.
Ia melepaskan headphone yang berada di telinganya dan berkata kepada Lim " Apa maksud ciumanmu tadi? "
" Ah, ciuman tadi. "
" Kenapa tiba-tiba? "
" Karena aku ingin. "
" Ingin apa? "
" Menciummu. "
" Hah? "
" Kenapa? Kamu tidak suka? "
" Apa kamu pikir ciuman itu hanya mainan saja? "
" Tidak, ciuman itu memiliki banyak arti. Apa kamu tidak tahu? "
" Arti? "
" Iya bahwa aku menyukaimu. "
Anna memalingkan wajahnya dengan mata berkaca-kaca menahan air matanya.
Meskipun hatinya berdebar untuk Lim, tapi ia tidak bisa memiliki perasaan kepada siapapun.
Dan sekali lagi Anna tidak ingin hatinya terluka.
" Maaf, aku ingin tidur. Jangan ganggu aku. " kata Anna memejamkan matanya.
Lim tahu bahwa sampai kapanpun, Anna tidak akan bisa menjadi miliknya.
Namun, Lim ingin terus berusaha sampai ia benar-benar memiliki Anna seutuhnya.
••
Di tengah dini hari, siswa-siswi SMA Seido baru saja sampai di gedung SMA Seido.
Ada beberapa siswa-siswi yang menginap di sekolah, dan ada juga yang pulang jika rumahnya dekat.
Anna pulang sendirian menuju rumahnya, ia harus pulang karena jika tidak Hanna akan khawatir dengannya.
Udara yang dingin membuat Anna melipat kedua tangannya didada.
Untuk pertama kalinya ia pulang semalam ini tanpa seseorang yang menemaninya.
Mata Anna mengelilingi sekitar, jalanan ke rumahnya sudah sangat sepi dan sunyi.
Sama sekali tidak ada orang, tangan Anna bergetar ketakutan.
Ia mulai berjalan cepat karena mendengar suara-suara yang aneh ditelinganya.
Anna yang terlalu fokus berjalan tidak sengaja membuat seseorang yang berada di depannya terjatuh.
" Maaf " ucap Anna tidak enak sambil mengulurkan tangannya, seseorang itu mengangkat wajahnya.
Dan dia adalah Hinata.
Mata Hinata melebar terkejut melihat Anna berada di depannya.
" Kamu tidak apa-apa? " tanya Anna.
Hinata membangunkan dirinya sendiri tanpa mengambil tangan Anna.
" Jangan pura-pura baik denganku " jawab sinis Hinata.
" Maaf, aku membuat kakimu terluka. "
" Aku bilang jangan pura-pura baik denganku! " kata Hinata dengan mata yang berkaca-kaca.
" Kamu baik-baik saja? " Anna khawatir mendekatkan dirinya kearah Hinata.
Hinata hanya memalingkan wajahnya " Jangan sentuh aku! " seru Hinata.
" Anna? " panggil Gi dari belakang dan jarak yang lumayan jauh.
" Kamu baru pulang? " Gi mendekati Anna. Anna kembali membalikkan kepalanya, tapi Hinata sudah tidak ada di sampingnya lagi.
Anna mencari kesana-kemari, Hinata tidak bisa berlari dengan cepat karena lututnya yang terluka.
" Kamu sedang mencari apa? " tanya Gi.
" Tidak. " jawab Anna.
" Sudah pulang, Ibumu mungkin sudah khawatir. "
" Iya, baik. "
Gi dan Anna kembali pulang bersama, Anna kembali kerumahnya sedangkan Gi mengantarkan Anna terlebih dahulu.
Keesokan harinya.
Setelah tour sekolah, SMA Seido meliburkan siswa-siswi kelas 1 untuk beristirahat dirumah.
Dan untuk kelas 2 serta 3, mereka akan memasuki sekolah.
Lim yang tertidur di dalam ruang club basket bersama teman-teman kelas 1nya.
" Aaaa. " Lim membuka matanya sambil menguap.
Ia melihat sekitar teman-temannya yang tertidur sangat pulas, begitu juga Okumura yang tertidur tepat dipinggul Kuramochi.
" Woi bangun! " Lim membangunkan Okumura dengan kakinya.
" Bangun! "
" Tunggu 1 menit. "
" Tidak, kita harus pulang! "
" Sebentar! " kesal Okumura.
Lim mendesah kesal melihat Okumura yang susah untuk bangun, ia memulai membangunkan teman-teman lainnya. Tapi tetap saja tidak terbangun.
" BANGUN!!!! " teriak Lim kesal dalam ruang club.
Okumura berserta anggota basket lainnya terbangun mendengar suara teriakan Lim, mereka juga mulai merapihkan diri karena melihat tampang Lim yang sangat kesal.
" Mari pulang " ucap bersamaan Okumura dan anggota basket lainnya.
" Kalian mau kemana? " Sinis Lim.
" Pulang. " Okumura dengan wajah ketakutan.
" Kalian ada latihan hari ini, lupa? Latihan pagi! "
" Ah, aku lupa. "
" Lupa?! Cepat ganti baju dan mulai lari pagi! " Seru Lim membuat Okumura dan anggota basket lainnya mulai lari pagi.
Lim menahan kerah baju Okumura, ia binggung melihat Sawamura yang sudah tidak ada di dalam ruang club.
" Sawamura kemana? "
" Aku tidak tahu kap. " jawab Okumura. " Kap, yang bangun duluan seharusnya kap tahu. " lanjut Okumura.
" Kalau begitu, lari lah. " Lim melepaskan tangannya dari kerah baju Okumura.
Membiarkan Okumura lari pagi bersama anggota basket lainnya.
Sekitar 5 menit kemudian, Sawamura datang dengan tubuh yang berkeringat.
" Kamu darimana saja? " Lim penasaran.
" Aku habis lari pagi. "
" Benarkah? "
" Tidak lihat tubuhku berkeringat dan wajahku kusam? "
" Kalau begitu.. " ucap Lim terhenti dan berjalan mendekati Sawamura " Tolong jaga ruang club sebentar, aku ada urusan untuk pulang sebentar ke rumah. " Bisik Lim seraya keluar dari ruang club.
" Kapten itu! " kesal Sawamura.
Lim yang sudah terbebas dari ruang club berjalan menuju rumahnya.
Ia meregangkan seluruh tubuhnya yang kaku karena tidur tanpa kasur dan bantal.
" Aku ingin tidur sebentar dirumah. " gumam Lim.
Langkah kakinya terhenti saat melihat Gi yang berada di depan rumah Anna.
Anna melambaikan tangannya kearah Gi dan Gi berjalan pergi menuju sekolah.
" Dia lagi? " kesal Lim mengumpat di balik tong sampah.
Gi berjalan dengan headphone putih ditelinganya, Lim mengikutinya dari belakang tanpa Gi tahu.
Sampai Gi memberhentikan langkah kakinya karena merasa sudah diikuti " Kenapa kamu mengikutiku? " tanya Gi membalikkan badannya.
Lim berpura-pura membalikkan tubuhnya sambil bersiul.
" Jangan pura-pura bodoh seperti itu! " seru Gi.
Lim mengigit bawah bibirnya dan berhenti bersiul. " Kamu keluar dari rumah Anna, kamu siapa dia? "
" Anna? Kamu kenal dia? "
" Tentu aku kenal. "
" Kenapa kamu keluar dari rumah Anna? " lanjut Lim.
" Apa kamu melihat aku keluar dari rumah Anna? "
" Iya aku lihat. "
" Hahaha, sepertinya penglihatan kamu buyar. "
" Apa maksudmu? "
" Aku tidak keluar dari rumah Anna, aku menghampiri rumah Anna untuk sekedar menyapa Anna. "
" Menyapa Anna? "
" Iya, aku harus menyapanya. "
" Kenapa? "
Gi tidak menjawab, ia tidak mungkin berkata asal-asalan kepada orang yang sama sekali tidak dikenalinya.
" Tunggu sebentar, kamu siapa dia? Kamu stalker dia?! "
" Tidak, tidak. Aku temannya. "
" Teman? Tapi pagi-pagi begini sudah mengikutiku dan melihatku keluar dari rumah Anna. Kamu benar-benar pengikut Anna. "
" Tidak!! Aku benar-benar temannya, lagipula aku baru saja ingin pulang ke rumah. "
" Anna tidak pernah berkata bahwa dia memiliki teman. "
" Hah? " kaget Lim mengepalkan tangannya.
" Kenapa kaget begitu? Anna benar-benar berkata seperti itu. "
" Ya mungkin aku tidak bisa dianggap sebagai teman. "
" Lalu, kamu siapa dia? "
" Tidak tahu " Jawab Lim dengan nada rendah.
Gi menatap mata Lim yang sepertinya sedang terjebak dalam hubungan yang tidak jelas bersama Anna.
" Oke aku percaya kamu teman Anna. " kata Gi dengan senyuman.
" Kalau begitu kamu siapa dia? " Lim membalikkan pertanyaan.
" Anna berkata, bahwa kamu pacarnya. Tapi itu hanyalah kebohongan, jadi kamu siapa dia? " lanjut Lim dengan tatapan serius.
Gi tersenyum kecil " Benar, aku pacarnya. "