
" Anna " ucap Lim kaget. Anna memegang jemari tangan Lim sambil berkata manja " Kamu tadi bilang ingin bermain sama aku, kenapa sekarang sama dia? "
Lim mengangkat satu alisnya tidak mengerti dengan sikap Anna.
" Anna, kamu benar-benar berbeda sekarang. " kata Hinata dengan senyum liciknya.
" Apa maksud kamu? Aku tidak mengerti. " ujar Anna angkuh.
" Ayo pergi dari sini. " ajak Anna menarik jemari lengan Lim untuk pergi meninggalkan Hinata.
Anna terus menggenggam jemari Lim sampai keluar dari gedung sekolah. Lim hanya terus tertawa karena menurutnya, Anna sedang cemburu kepada Hinata.
" Kamu sebenarnya kenapa Anna? Apa kamu cemburu? " tanya Lim yang membuat Anna memberhentikan langkah kakinya.
" Kamu suka dengan keadaan ini? "
" Aku tanya kamu suka? " lanjut Anna seraya melepaskan tangannya dari genggamannya ditangan Lim.
" Kamu kenapa jadi marah? "
Anna tidak bisa berkata bahwa dia merasa sangat tidak ingin Lim dimiliki oleh siapapun. Itu akan membuat Anna masuk ke dalam sebuah lubang besar, ia akan kembali sakit kembali.
" Apa Hinata berbicara tentang masa laluku? "
" Tidak. "
" Kenapa dia tahu tentang masa laluku? Kamu juga ingin tahu? "
" Iya, aku ingin tahu. "
" Kenapa kamu ingin tahu? "
" Karena aku ingin mengenal kamu lebih jauh. "
" Kamu yakin? Kamu tidak akan kecewa? "
" Tidak. "
Semua orang akan berkata tidak kecewa, tapi saat mendengar masa lalu Anna mereka akan menjauh dan menganggap Anna sebagai wanita rendahan.
Maka dari itu, Anna tidak bisa mempercayai siapapun. Ia juga tidak bisa menceritakan masa lalunya kepada orang lain.
Karena hanya ada luka dalam masa lalu Anna, senyuman dan bahagia semua menjadi sirna karena kenangan pahit yang Anna rasakan.
" Aku pergi dulu. " ucap Anna dengan nada rendah. Lim menahan lengan Anna agar tidak pergi meninggalkannya " Apa kamu tidak bisa menceritakannya kepadaku? "
" Tidak bisa, biarkan Hinata saja yang menceritakannya. Tapi aku tidak tahu bagaimana Hinata tahu tentang masa laluku. " kata Anna seraya melepaskan tangan Lim dari lengannya.
" Aku pergi, maaf. " ucap Anna seraya berjalan meninggalkan Lim.
Dari belakang Hinata terus memperhatikan kearah Lim serta Anna.
Ia hanya tersenyum bahagia karena rencana pertamanya berhasil yaitu membuat Anna pergi menjauh dari Lim.
" Jadi, kamu sudah ditolak berapa kali? " Hinata yang tiba-tiba datang menghampiri Lim.
" Diam! " tegas Lim.
" Kamu benar tidak ingin mengetahui masa lalu Anna? "
" Aku lebih tidak ingin Anna menjadi tunangan seseorang daripada mengetahui masa lalunya! "
" Wah benar-benar hebat. "
" Jadi aku tidak perlu mengetahui masa lalu Anna. "
" Tapi kalau kamu mengetahui masa lalu Anna, apa kamu akan tetap menyukai dia? "
" Aku menyukai Anna yang sekarang bukan masa lalunya. Bagiku, masa lalu Anna tidak penting. "
" Kamu tahu kenapa sifat Anna menjadi sangat dingin? Itu karena masa lalunya. Kalau kamu ingin mendapatkannya, kamu harus bisa menyembuhkan luka Anna. Tapi sepertinya tidak mungkin. "
Hinata mendekati Lim perlahan dan berbisik " Karena aku akan terus membuatnya terluka. "
Lim mengangkat kerah Hinata merasa kesal dengan sifat Hinata " Jangan pernah kamu sentuh dia! Atau kamu akan mati ditanganku. " Ancamnya.
" Wah menakutkan sekali. "
" Hinata! " sapa Ryuzaki dari belakang yang membuat Lim melepaskan tangannya dari kerah Hinata.
" Hai Ryuzaki. " sapa balik Hinata sambil merapihkan bajunya yang berantakan.
" Kenapa kamu bersama dengan dia? " tanya Ryuzaki kepada Hinata.
" Tidak, aku hanya berbicara sebentar dengannya mengenai masa lalu Anna. Dulu saja kamu sangat menyukai Anna, tapi sejak kamu tahu masa lalunya. Kamu tidak menyukainya lagi bukan? "
Ryuzaki mengangguk-anggukan kepalanya " Dia benar-benar wanita rendahan. "
Mendengar kata " Rendahan " membuat Lim geram dan langsung meninju wajah Ryuzaki dengan sangat keras.
" Jaga omonganmu! " seru Lim.
Ryuzaki meringis kesakitan " Kamu bahkan tidak tahu masa lalunya, jangan seenaknya meninju orang tanpa sebab! "
Lim menyeringai kesal " Berbicara dengan kalian berdua membuat otakku rusak. " kata Lim seraya berjalan meninggalkan Ryuzaki dan Hinata dengan emosi yang bergejolak.
••
Anna yang sudah sampai rumahnya terus mengurung dalam kamar, pikirannya menjadi campur aduk karena Hinata.
Ia terus berpikir bagaimana Hinata tahu tentang masa lalunya, apakah Hinata teman saat SMP-nya dulu yang tidak pernah Anna kenali.
Atau Hinata mendengar cerita tersebut dari orang lain.
Pikiran itu semakin membuat Anna merasa tidak nyaman.
Apalagi pikiran tentang Lim yang ingin mengetahui masa lalu Anna.
Itu semakin membuat Anna takut, takut akan seseorang yang meninggalkannya lagi. Dan takut orang-orang akan menatap Anna dengan penuh kebencian.
Tanpa sadar, percikan air mata menjatuhi pipi Anna.
Dadanya sesak karena teringat masa lalu yang sangat menyedihkan itu.
Dan Anna terjatuh dilantai kamarnya tanpa sadarkan diri.
7:00 p.m
Anna membuka matanya perlahan, melihat dinding-dinding berwarna putih dengan lampu yang sangat terang dimata Anna.
Namun, seseorang menutupi wajah Anna sehingga lampu itu tertutup oleh badannya.
" Dasar lemah " ledek Hanna.
Seseorang yang menutupi wajah Anna adalah Hanna, Hanna juga yang membantu saat Anna pingsan tiba-tiba dilantai.
" Ibu. " ucap Anna.
" Serangan cemas kamu semakin meningkat dibanding sebelumnya? " Hanna khawatir.
" Tidak tahu. " jawab Anna.
" Apa sebaiknya kita ke dokter? "
" Tidak. "
" Apa kamu akan terus seperti ini? "
" Aku juga tidak tahu. "
Krek-
Pintu depan rumah terbuka dan terdengar suara Ryuzaki yang baru saja pulang " Aku pulang. "
Hanna menggelengkan kepalanya, selama lebih dari 1 Minggu Ryuzaki selalu pulang larut malam dan tidak pernah berkata kepada Hanna.
Hanna merasa sangat kesal karena sikap Ryuzaki yang kurang sopan kepadanya.
" Ryuzaki! " tegas Anna seraya keluar dari kamar Anna dengan tatapan penuh kekesalan.
" Maaf aku pulang telat. " kata Ryuzaki sambil memasuki kamarnya, namun lengannya tertahan oleh Hanna yang menggenggam lengan Ryuzaki.
" Sebenarnya kamu kemana saja? Kalau orang tuamu menanyakan tentang kamu bagaimana?! "
" Itu bukan urusanmu, katakan saja aku sedang di luar. "
" Tidak bisa. "
" Bisa, kamunya saja yang lemah tidak bisa berbohong. "
" Kamu itu tunangan Anna, kamu juga akan menjadi menantuku nanti. "
" Tidak, aku bukan tunangan Anna. "
Mata Hanna melebar terkejut dengan sikap Ryuzkai yang berbeda daripada sebelumnya.
" Apa maksudmu? " Tanya Hanna tidak mengerti.
" Aku bukan tunangan Anna, Anna saja bahkan belum menyetujui pertunangan itu. " jawab Ryuzaki.
Anna yang mendengar keributan dari luar langsung berjalan keluar kamar dengan sempoyongan.
" Ada apa? " ucap Anna lemas.
" Kenapa kamu bisa berkata seperti itu? Saat itu kami ingin menjadi tunangan Anna! " Kata Hanna tidak mengerti.
" Itu dulu, tapi sekarang berbeda. " Ryuzaki dengan nada tinggi. " Jadi lepaskan aku dan besok aku akan pindah dari tempat ini. " lanjut Ryuzaki melepaskan tangan Hanna dari lengannya.
Tapi Hanna terus menahan Ryuzaki, sehingga Ryuzaki menampar Hanna dengan sangat keras.
Anna yang melihat Ryuzaki menampar Ibunya membuat dia kesal dan berjalan melindungi Hanna.
" Kenapa kamu menampar dia?! " seru Anna.
Hanna meringis kesakitan, tamparan Ryuzaki sangat keras.
" Jangan sentuh aku, kalian berdua menjijikan. " ucap Ryuzaki yang membuat Anna serta Hanna terluka.
Dahulu, Ryuzaki tidak seperti ini. Ia sangat lembut dan sangat menenangkan hati.
Tapi sekarang, Ryuzaki benar-benar berbeda. Tatapannya juga menjadi sangat dingin daripada sebelumnya.
" Ryuzaki!! " teriak Anna.
" Diam wanita rendahan, masa lalumu sangat menjijikan. "
Kini semuanya menjadi sesuai perkiraan Anna, saat seseorang mengetahui masa lalunya. Dia akan menjauh dan menganggap Anna sebagai wanita rendahan.
Pikiran Anna kembali kepada Lim, ia berpikir bagaimana jadinya kalau Lim mengetahui masa lalunya.
Apakah dia akan tetap menyukai Anna atau akan seperti Ryuzaki?
" Jaga ucapanmu! Keluar kamu dari sini! " Tegas Hanna seraya memeluk Anna erat.
Ryuzaki mendesis kesal, ia merapihkan seluruh barangnya dan keluar dari rumah Anna.
Hanna terus memeluk Anna, air mata Anna terus mengalir tidak henti.
Hatinya terasa sangat sesak saat Ryuzaki berkata seperti itu.
" Tenang, ada Ibu disini. " Hanna mengusap rambut Anna perlahan.
Kasih sayang seorang Ibu tidak akan pernah terkira, Ibu akan tetap menyayangi dan melindungi anaknya meskipun ia sendiri terluka.
Dan Ibu adalah seseorang yang akan mempercayai anaknya apapun itu.
Karena bagi seorang Ibu, tidak ada yang lebih penting dari anak.
Saat Hanna mengetahui tentang kabar bahwa Anna selalu dibully, hatinya terluka. Ia selalu menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi Anna.
Ketika Anna menjauhi hubungan sosial pun, Hanna ingin menjadi satu-satunya yang dipercayai olehnya.
Hanna ingin menjadi Ibu yang baik di hadapan Anna.
3 hari kemudian.
Selama 3 hari Anna tidak memasuki sekolah karena dikabarkan Anna sedang sakit.
Lim yang khawatir dengan Anna selalu mendatangi rumah Anna saat Anna tidak masuk sekolah, rumah Anna begitu gelap sehingga Lim tidak bisa melihat melalui kaca.
Setiap Lim menekan tombol bel tidak ada satupin yang menjawab.
Hampir setiap hari Lim juga menanyakn kepada Ryuzaki, tetapi Ryuzaki hanya terdiam dan berkata bahwa dia sudah pindah sehingga ia tidak tahu apapun tentang Anna.
Pikiran Lim semakin tidak jelas tentang Anna, perasaannya sangat khawatir. Dalam mengikuti pelajaran pun Lim selalu tidak fokus. Dan saat latihan pun, shootingan Lim selalu meleset.
Perasaan serta pikiran seperti inilah yang membuat Lim kesal dengan dirinya sendiri.
" AH KESAL! " Teriak Lim dalam ruang club.
Okumura yang sedang berganti pakaian hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuakuan Lim selama 3 hari tidak berubah.
" Sebentar lagi kita akan melakukan trip sekolah, kamu ingin satu bis denganku tidak Kap? " tanya Tama.
" Tidak! " Tolak Lim.
Okumura berbisik kepada Tama " Jangan dia sedang emosi akhir-akhir ini, lagipula dia akan satu bis dengan wanitanya. "
" Wanitanya? Siapa? "
" Sudahlah kamu tidak perlu tahu. "
" Sepertinya aku perlu berlatih lagi. " kata Lim sambil berjalan keluar ruangan club.
" Menyebalkan. " kesal Okumura yang mengikuti Lim dari belakang.
" Kap! " panggil Okumura yang sama sekali tidak dijawab oleh Lim.
" Kap! "
" Kap!! "
Lim memberhentikan langkah kakinya. " Kenapa? "
" Sebenarnya kamu kenapa kap? "
" Entahlah, aku juga binggung. "
" Soal Anna yang tidak masuk sekolah? "
" Mungkin. "
" Kamu jangan seperti itu, tidak seperti kap yang biasanya! "
" Lalu, aku harus bagaimana? Berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja? Tidak bisa. "
" Kap. "
" Aku khawatir dengan Anna, aku juga tidak ingin seperti ini. Ini menjengkelkan tapi aku tidak bisa. " Lim menahan tangisnya.
Okumura yang merasa bersalah mendekati Lim perlahan. " Kap. "
" Diam disitu! " perintah Lim tidak ingin Okumura semakin mendekatinya.
" Aku tidak akan berlatih, jadi biarkan aku sendiri terlebih dahulu. " Lanjut Lim seraya berjalan kembali.
Lim berjalan kesana-kemari mengelilingi rumah Anna, lampu rumah Anna sangat gelap.
Kondisi seperti ini membuat Lim frustasi, tidak ada kabar soal Anna.
Jika Anna sakit pun tidak ada satu orang yang memberitahu tentang dimana Anna dirawat.
Lim menunggu rumah Anna selama lebih dari 2 jam, tapi Anna tidak kunjung datang. Lampu rumah Anna juga tidak menyala.
" Kamu kemana An? " gumam Lim khawatir.
Ia berjalan kembali ke Taman Bermain dekat rumahnya, Lim juga terus mencari-cari Anna disana.
Sampai akhirnya Lim sudah menyerah dengan dirinya sendiri.
Air mata yang sudah tidak bisa tertahan oleh Lim kini menjatuhi pipi Lim.
Lim mendesah kesal, baru saja 3 hari tapi Lim sudah sangat khawatir.
Bahkan air matanya saja tidak bisa tertahan oleh Lim.
" Aaaaa! " suara teriakan perempuan yang sangat familiar ditelinga Lim.
Lim berlari kearah suara tersebut, namun teriakan itu hanya sekali sehingga Lim tidak tahu jelas dimana suara tersebut.
Di kejauhan, Lim tidak sengaja melihat Yuki yang sedang belari.
Matanya seperti sedang mencari seseorang, dan menurut Lim tidak ada satupun yang bisa membuat Yuki khawatir selain Anna.
Lalu, Lim terus mencari di sudut-sudut kecil dalam perumahan.
Keadaan sudah sangat sunyi dan sepi.
Suara teriakan perempuan itu pun hanya sekali.
Lebih dari 1 jam akhirnya Lim menemukan Anna.
Ia menemukan Anna dengan mulut yang tertutup oleh sebuah kain dan tangan yang terikat oleh tali.
Lim menemukan Anna yang berada di belakang sebuah mini market.
" Anna. " ucap Lim perlahan mendekati Anna yang tengah memejamkan matanya.
Namun, tiba-tiba saja Anna membuka matanya. Dan mata Anna langsung melebar terkejut karena dari belakang Lim ada seseorang yang sudah ingin menusuknya.
Anna terus berteriak di depan Lim, tapi suaranya sangat tidak jelas.
Dan seseorang tersebut hampir ingin menusuk perut Lim, Lim dengan cepat menahan lengan seseorang tersebut dengan tangannya tanpa membalikkan tubuhnya.
" Apa-apaan kamu ini! " tegas Lim mencengkram keras lengan seseorang yang berada dibelakangnya.
Lim membalikkan tubuhnya seraya menepis pisau yang berada ditangan seseorang yang tidak dikenal itu.
" Siapa kamu ini? " tanya Lim emosi karena orang yang tidak dikenali itu menggunakan penutup wajah sehingga Lim tidak mengetahui siapa orang tersebut.
" Kamu berani-beraninya membawa wanitaku! " seru Lim.
" Hahahaha. " tawa dari pria bertopeng.
Dengan tenaga yang kuat, pria bertopeng itu melepaskan tangan Lim dari lengannya sambil memundurkan langkah kakinya.
" Hei, siapa kamu? " Kesal Lim.
Pria bertopeng itu membuka topengnya, terlihat bentuk wajah oval yang sangat dikenali oleh Lim.
Dia adalah Shima.
" Halo, Lim " Sapanya.
Mata Lim melebar, tangannya terkepal menahan emosinya.
Lim memundurkan langkah kakinya agar menjaga Anna.
" Kenapa kamu melakukan ini? " tanya Lim tidak mengerti.
" Kalau ditanya kenapa karena aku ingin melihat wajah Lim yang terluka. " jawabnya.
Lim mengigit bawah bibirnya merasa emosinya tidak bisa ia tahan lagi.
" Lihat, wajah cantiknya dia ternodai oleh luka. " kata Shima memancing emosi Lim.
Lim yang sudah tidak memperdulikan apapun langsung berlari kearah Shima dan menahan lengan serta leher Shima agar tidak pergi kemanapun. Lim akan menghabisi Shima bagaimana pun juga.
" Diam atau aku bunuh! " seru Lim.
" Menakutkan, tapi kamu sudah membunuh seseorang bukan? "
" Apa maksudmu? "
Anna yang mendengar perkataan Shima langsung terdiam.
" Tidak mungkin dia membunuh seseorang " pikir Anna.
" Kamu sudah membunuh Kakak-ku, Senya. " jawab Shima.
Lim menutup rapat bibirnya. " Kamu tidak bisa berbicara bukan? " sinis Shima.
" Jelaskan kepadaku! " pinta Lim.
" Dia bunuh diri karena kamu, dia sangat mencintai kamu. Tapi kamu tidak bisa mencintai dia. Kamu bahkan menganggap dia sebagai wanita murahan, itu membuatnya stres. Seluruh sekolah membencinya dan dia menjauhi hubungan sosial. Itu semua karena kamu! " jelas Shima.
Rahang Lim terkatup. " JADI BAGAIMANA BISA AKU MEMAAFKAN KAMU!! " teriak Shima kesal seraya menarik kerah baju Lim.