
Saat mendengar nama Anna disebut oleh Takeda, tangan Sawamura mulai terkepal dengan kuat.
" Tapi, Sawamura. Sawamura yang mana ya? " Takeda kebinggungan.
Sawamura menghela nafas, ia lega bahwa Takeda tidak mengetahui wajahnya.
Sedangkan Lim hanya melotot melihat kearah Takeda.
" Kenapa kamu melotot kearah Takeda hah? " Sano dengan gaya seorang gangster.
" Ngomong-ngomong, sebenarnya kami tidak ada urusan dengan mereka. " Zen menunjuk kearah Sawamura dan Okumura. " Kami adanya urusan dengan kamu, Lim. " Lanjut Zen mendekati Lim dan merangkul bahunya.
" Lepaskan. " Tegas Lim perlahan. " Apa? " Zen tidak mendengar ucapan Lim.
" Aku bilang lepaskan! " Seru Lim. " Kenapa kamu marah seperti itu? " Zen kebinggungan dan melepaskan tangannya dari bahu Lim.
" Kenapa marah? Kalian sudah membuat temanku luka. Jadi wajar kalau aku marah bukan?! " Lim dengan tatapan tidak berteman.
" Hahahaha. " Tawa bersamaan Zen, Takeda dan Sano.
" Dia duluan yang ikut urusan kami. Seharusnya dia tidak ikut campur. " Kata Takeda menunjuk telunjuk tangannya kearah Kuramochi yang berbaring di tanah.
Lim menyeringai, ia mencengkram telunjuk Takeda dengan sangat keras sambil berkata dengan nada tinggi. " HAH, KAMU TIDAK LIHAT PEREMPUAN YANG DISANA BENAR-BENAR KETAKUTAN KARENA KALIAN? "
Takeda melepaskan tangannya dari cengkraman Lim dengan kuat. " Dia yang mendatangi kami duluan. "
" Tidak, aku tidak.. " Seorang perempuan berseragam SMA Seido mulai berbicara dengan tatapan ketakutan. " Aku tidak mendatangi kalian, apabila kalian tidak memberiku ancaman. "
" Ancaman? " Tanya Okumura. Perempuan itu mengangguk-angguk kepalanya cepat. " Mereka berkata bahwa aku diperintahkan untuk mendekati Anna agar mereka bisa mendapatkan nomer telepon Anna. Dan jika gagal, mereka akan menyebarkan video tentang aku. " Jelas perempuan tersebut.
Sawamura memperhatikan wajah perempuan itu dengan jelas, ia merasa sangat familiar dengan wajahnya.
Dan Sawamura mulai ingat bahwa dia adalah Riko, pindahan dari SMA Fukuro. Riko juga adalah teman sekelas Sawamura.
" Riko? " Sawamura kebinggungan. " Kamu kenal dia? " Tanya Okumura.
" Dia teman kelasku. " Jawab Sawamura. " Teman kelasmu? " Kaget Okumura.
" Anna lagi, Anna lagi. " Pikir Lim yang tidak bisa menghilang pikirannya tentang Anna.
Setiap saat, otaknya selalu menghantui Lim tentang Anna dan Anna. Bahkan Lim membenci dirinya sendiri karena tidak bisa berhenti memikirkan Anna.
Dimanapun ia berada, selalu ada nama Anna.
Banyak orang yang menyukainya, dan mungkin Lim adalah salah satu dari sekian banyaknya itu. Ia juga mungkin adalah laki-laki ke 100 yang ingin mendapatkan hatinya.
Bukan hanya Lim yang ingin mendapatkan hati Anna, tapi banyak orang juga yang ingin mendapatkan hati Anna meskipun sulit.
" WAH BANYAK SEKALI YANG MENYUKAI DIA. " Teriak Lim.
Mendengar perkataan Lim membuat wajah Takeda, Zen dan Sano menjadi emosi. " Banyak? " Tanyanya bersamaan.
" Iya, aku menyukai dia. Sawamura menyukai dia, dan Okumura juga menyukai dia. " Jawab Lim asal.
" Hah? " Okumura tidak percaya dengan ucapan bodoh Lim. " Iya bukan? " Lim menyikut perut Okumura.
Okumura meringis kesakitan. " Iya, aku juga menyukainya. "
" Lihat? Sainganmu tidak sedikit. " Lim dengan nada menjengkelkan.
Takeda, Zen dan Sano yang terusik dengan ucapan Lim berjalan perlahan mendekati Lim.
Mereka adalah orang-orang yang menyukai Anna, entah bagaimana mereka bertemu tapi ketiga orang ini terlihat sangat menyukai Anna.
" Kenapa permasalahan ini menjadi perebutan perempuan? " Okumura aneh situasi saat ini.
Awal mulanya adalah karena Kuramochi yang ingin menolong Riko, tapi saat Lim datang dan mereka membicarakan tentang Anna.
Situasi mulai berubah, dan situasi kali ini terlihat sedang memperebutkan cinta seorang perempuan yang bahkan tidak berada disini.
" Ngomong-ngomong, kami mengincar kamu karena sebuah foto antara kamu dan Anna yang bersamaan. " Kata Takeda. Zen memperlihatkan foto Anna dan Lim yang berjalan bersamaan di tengah kota Arashiyama.
" Hebat juga kamu dapat foto ini. " Kagum Lim. " Kalian benar-benar penguntit Anna. "
" Tapi, ngomong-ngomong. "
" Kalian mengikuti Anna terus-menerus? " Lanjut Lim dengan tatapan serius.
Takeda, Zen dan Sano melirik kearah Riko yang menundukkan kepalanya dengan tangan yang bergetar ketakutan.
" Jadi dia yang memberikan foto ini? " Duga Lim karena mata mereka secara bersamaan melirik kearah Riko.
" Kalian juga yang meminta Riko untuk meminta nomer Anna, kalian ini pengecut ya? " Ledek Lim. " Tidak berani berbicara secara langsung dan memintanya. "
" Kamu ingin mati ya? " Kesal Takeda. " Iya, kamu benar-benar ingin mati. " Zen mengikuti. " Hari ini kamu mati. " Sano ikut nimbrung.
" Tunggu-tunggu. " Tahan Lim. Ia memberikan sebuah foto lagi kepada Takeda, Zen dan Sano.
Foto Lim yang mencium bibir Anna saat sedang Festival Budaya. " Lihat, aku hebat bukan? "
Tanpa berbasa-basi, Takeda membuang handphone Lim dan menghajar wajahnya tanpa pandang bulu.
Okumura dan Sawamura meleraikan mereka, tapi karena pertengkaran anak kecil ini mereka terkena imbasnya.
Yaitu wajah mereka terkena hajar dari Zen dan Sano.
Sawamura dan Okumura tidak bisa menerimanya, mereka juga menghajar wajah Zen dan Sano.
Pertengkaran karena satu perempuan tidak jelas ini membuat mereka ditangkap oleh Polisi yang sedang berpatroli.
Muka Lim sama sekali bersih, hanya sebuah luka kecil di bawah bibirnya karena pukulan pertama dari Takeda yang tidak bisa ia hindari.
Sedangkan wajah Takeda benar-benar sudah berdarah-darah karena pukulan Lim yang tiada ampunnya.
Berbeda dengan Okumura, Sawamura, Zen dan Sano yang lukanya di wajah mereka yang sama tidak ada bedanya.
" Kalian masih anak SMA sudah main pukul-pukulan. Kalau sudah besar ingin jadi apa?! " Tegas seorang petugas polisi yang membawa mereka ke kantor polisi.
" Pemain basket. " Jawab Lim.
" Pemain Tim Nasional Jepang basket. " Okumura mengikuti.
" Seorang yang bisa menikah. " Sawamura ikut-ikutan.
" Mencintai Anna. " Takeda menjawab yang membuat Lim langsung menoleh sinis kearah Takeda.
Masing-masing sudah menelepon orang tua dan mereka sudah dipersilahkan untuk pulang apabila orang tua mereka sudah datang.
Kecuali Lim yang tidak bisa menelepon orang tuanya.
" Kamu tidak menelepon orang tua kamu? " Tanya petugas kepolisian. Lim hanya terdiam tidak menjawab.
" Lihat data profil dia. " Perintah seorang polisi kepada bawahannya.
Data orang tua Lim terlihat dan tertulis bahwa Ayahnya berada di luar negerti. Sedangkan Ibunya sudah meninggal.
" Ayahmu di luar negeri? "
" Iya. "
" PERMISI, MAAF SAYA TELAT. " ucap suara berat memasuki kantor polisi. Lim menoleh kearah suara itu dan ternyata dia adalah wali kelas Lim, Todoroki.
Tidak butuh waktu lama, Lim sudah dikeluarkan oleh kepolisian dan dibawa oleh Todoroki.
" Ini untukmu. " Todoroki memberikan sebuah minuman hangat kepada Lim.
Cuaca malam yang sangat dingin, dan semestinya waktu saat ini adalah waktu untuk tidur.
Tapi Todoroki membela untuk tidak tidur dengan mendatangi diri ke kantor kepolisian membawa Lim pulang.
" Terimakasih Sensei. " Lim mengambil minuman hangat dari tangan Todoroki.
" Katakan, kenapa? " Todorki penasaran. " Hanya masalah kecil. " Jawab Lim
" Masalah kecil itu apa sampai kalian masuk ke dalam penjara seperti ini? "
Pertanyaan Todoroki sama sekali tidak dijawab oleh Lim, ia tahu bahwa sifat Lim memang seperti itu.
Lebih baik diam daripada harus berbohong, prinsip Lim.
" Kamu tidak bisa berbicara? " Todoroki meminum sake miliknya. " Maaf. " Ucap Lim dengan nada rendah.
" Sensei, aku akan mengembalikan uang kamu. " Lim membuka dompetnya. Tapi tertahan oleh Todoroki yang tidak ingin Lim membayar uangnya kembali.
" Kamu tidak perlu mengembalikannya. "
" Tapi Sensei. "
" Dengan satu syarat. "
" Syarat? "
" Nilai kamu harus melebihi 50 saat ujian 1 Minggu lagi. "
Lim mengedipkan matanya secara cepat, untuk mendapat nilai di atas 30 saja sudah sulit untuk Lim. Apalagi nilai di atas 50, itu sangat mustahil.
" Tidak bisa? " Duga Todoroki yang melihat wajah Lim memucat. " Tenang saja aku sudah menduganya maka dari itu saya sudah meminta Anna untuk membantumu belajar. "
" Anna?! "
" Iya, sudah pulang besok kamu akan kena hukuman Pak Kataoka. " Perintah Todorki sambil menepuk punggung Lim dan melangkahkan kakinya meninggalkan Lim.
Wajah Lim memucat mendengar nama Anna lagi, ia berpikir apa selama hidupnya akan selalu mengingat Anna.
Keesokan harinya.
" KALIAN BODOH ATAU BAGAIMANA? BERANI-BERANINYA BERTENGKAR DI MALAM HARI. " Bentak Kataoka di tengah lapangan.
Seluruh siswa-siswi memperhatikan kearah Lim, Sawamura , Okumura dan Kuramochi dengan tatapan penasaran karena wajah mereka yang dipenuhi luka.
" Benar-benar bodoh! " Tegas Kataoka memukul kepala Lim, Sawamura, Okumura serta Kuramochi dengan sebuah buku.
" SUDAH SELAMA 3 HARI KALIAN TIDAK BOLEH IKUT BELAJAR, HARUS MEMBERSIHKAN SELURUH KELAS! " Kata Kataoka seraya berjalan menuju ruangannya kembali.
Anna yang baru memasuki kelas hanya menoleh sesaat kearah jendela, terlihat Lim dan Okumura yang berdiri di tengah lapangan.
Sedangkan Sawamura bersama Kuramcohi sudah berlari kencang agar tidak ketahuan oleh Anna.
" Eh mereka bertengkar? "
" Iya, dengan siapa? " Bisik para siswa-siswi di kelas 1-1.
Mata Anna terus memperhatikan kearah Lim, hanya luka kecil diwajahnya tapi membuat Anna merasa sangat khawatir dengannya.
Bel berbunyi pertanda pelajaran sudah dimulai.
Para siswa-siswi sudah mulai berhenti memperhatikan kearah lapangan dan mulai belajar kembali, hanya Anna yang masih memperhatikan kearah Lim.
Dan saat Lim melirik kearah Anna, Anna memalingkan wajahnya agar matanya tidak saling bertemu.
" Dia menghidarimu. " Sindir Okumura, Lim hanya mencengkram pipi Okumura dengan kuat sambil berkata " DIAM! "
5:00 p.m
" Akhirnya selesai. " Ujar Okumura meregangkan tubuhnya.
Setelah seharian penuh Okumura, Lim dan Sawamura membersihkan sekolah.
" Aku pergi duluan " Ucap Sawamura seraya berlari terburu-buru menuju lapangan basket, sedangkan Kuramochi sudah berada di lapangan basket.
Okumura kebinggungan. " Kenapa dia terburu-buru begitu? "
Lalu, Lim dan Okumura mulai berjalan perlahan keluar gedung sekolah. Namun, di depan gedung sekolah seorang perempuan berdiri seperti sedang menunggu seseorang.
Sawamura menatap lekat perempuan itu, saat perempuan tersebut membalikkan badannya dengan angin yang menerapa membuat wajahnya menjadi sangat cantik.
Perempuan itu adalah Anna.
" Aku pergi kap. " Okumura memundurkan langkah kakinya karena ia sudah tahu akan seperti apa nantinya dan Okumura tidak ingin mengganggu.
" Sedang apa kamu disini? " Tanya Lim dengan tatapan dingin. Anna mendekati Lim perlahan dan Lim terus menjauh darinya. " Menjauh dariku! " Seru Lim dengan tatapan tajam.
" Aku ingin berbicara denganmu. " Pinta Anna dengan memberhentikan langkah kakinya.
" Apa yang perlu dibicarakan? "
" Sesuatu. "
" Maaf, aku tidak bisa. " Tolak Lim melangkahkan kakinya, tapi Anna menahan lengan Lim agar ia tidak pergi. " Tunggu sebentar aku ingin berbicara. "