Love Captain Handsome

Love Captain Handsome
Episode spesial 30



Dengan emosi yang bergejolak tinggi, Lim meninju wajah lelaki itu dengan sangat keras.


Lim terkejut bahwa lelaki itu adalah Kazuya.


" Kazuya, sedang apa kamu disini?! " tanya Lim


Kazuya meringis kesakitan " Kenapa kamu menggangguku? "


" SEDANG APA KAMU DISINI! " bentak Lim.


" Aku sedang melihat Anna, kamu tidak bisa melihat? "


" KELUAR! "


" HAH? KAMU TIDAK BISA SEENAKNYA MENGUSIRKU! "


" KELUAR ATAU AKU BILANG KEPADA SATPAM ADA MURID DARI SEKOLAH LUAR YANG MASUK TANPA IZIN?! "


" Aku tidak perduli, aku ingin melihat Anna. "


Seluruh tubuh Anna bergetar ketakutan, matanya berkaca-kaca saat melihat Kazuya.


" Kenapa kamu mengumpat Anna? " tanya Kazuya ingin mendekati Anna, tapi tertahan oleh Lim yang menahan bahunya untuk tidak berjalan lebih dekat lagi.


" Jangan mendekat! " seru Lim.


" Hah? Kamu mengaku menjadi pacarnya? Tapi dia sudah punya tunangan. Jadi kamu bukanlah siapa-siapa. "


Mendengar kata " bukanlah siapa-siapa " membuat Lim kesal.


Ia tahu bahwa dirinya bukan siapa-siapa Anna, tetapi Lim tidak ingin melihat seseorang mendekati Anna selain dirinya.


" Tenang saja, suatu saat nanti aku akan menjadi suaminya. Kamu bahkan bukan tandinganku nanti. " sombong Lim.


Kazuya tertawa terbahak-bahak mendengar sesuatu yang sangat mustahil.


" Jangan bercanda! " katanya.


" Aku tidak bercanda. "


" Anna bagaimana, apa kamu akan menyukai dia? "


" Tepat saat itu tiba dia akan sangat menyayangiku. "


" Aku bertanya kepada Anna, bukan kepadamu. "


" Pergilah! "


Kazuya terdiam, ia mengangkat salah satu alisnya.


" Kazuyaaaa " Panggil Akira dari luar kelas.


" Kamu beruntung hari ini, besok besok kamu tidak akan beruntung. " ucap Kazuya seraya keluar dari kelas.


Lim menghela nafas panjang lega, ia membalikkan tubuhnya melihat Anna yang berada dalam lemari alat bersih-bersih.


Mata Anna berkaca-kaca ketakuan, seluruh tubuhnya bergetar tidak terkendali.


Nafasnya begitu sesak membuat Anna kesulitan untuk bernafas.


Lim menarik lengan Anna keluar dari lemari, tapi Anna tidak ingin.


Anna terus menggeleng-gelengkan kepalanya tidak ingin dengan wajah pucatnya.


" Maaf. " ucap Lim seraya memeluk Anna. Anna terus memberontak tidak ingin dipeluk.


" Tenang, ada aku disini. Kamu tidak perlu takut lagi. " Kata Lim menenangkan.


Nafas Anna kembali normal, seluruh tubuhnya mulai berhenti bergetar.


" Lepaskan, aku sesak. " ujar Anna.


Lim melepaskan pelukannya dan mengusap kepala Anna perlahan " Kamu baik-baik saja "


Anna melihat sudut mulut Lim yang melekung membuat senyuman, senyuman yang sangat nyaman dipandang oleh siapapun.


Senyuman yang dapat membuat hati merasa sangat senang.


" Jangan berikan senyuman itu kepada perempuan lain. " gumam Anna yang tidak terdengar oleh Lim.


" Apa katamu? " tanyanya. Anna hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan keluar dari lemari alat itu.


" Mari pulang " ajak Anna seraya berjalan keluar.


Namun kakinya terhenti saat pandangannya mulai menjadi buram.


" Hei, kenapa mataku jadi buram? " Tanya Anna tidak mengerti.


Kemudian tiba-tiba kepalanya menjadi berat dan tubuhnya mulai kehilangan keseimbangan.


Anna terjatuh dilantai tanpa sadarkan diri. Lim yang melihat Anna terjatuh langsung berlari dan membangunkan Anna.


Anna tidak terbangun, Lim tidak punya pilihan lain selain membopong Anna.


Lim membawa Anna ke dalam UKS, tapi ruang UKS sudah terkunci rapat. Lim tidak punya pilihan lain selain membawa Anna ke dalam ruang club Basket.


1 jam kemudian.


Anna membuka matanya perlahan, terlihat dinding langit yang sangat terang.


" Aku dimana? " gumam Anna yang matanya melihat sekeliling.


Ada sebuah poster wanita seksi, ada juga sebuah spanduk dan bola basket yang berserakan.


Anna ingin membangunkan tubuhnya menjadi setengah duduk, namun pinggangnya tertahan oleh tangan seseorang yang membuatnya tidak bisa membangunkan tubuhnya.


Anna menolehkan kepalanya kearah kiri, terlihat Lim yang sedang tertidur di sampingnya dengan tangan yang memeluk pinggul Anna.


" Hei, bangun! " seru Anna.


Lim sama sekali tidak terbangun, ia masih tidur dengan sangat pulas.


" Hei bangun! Kalau ada yang melihat berbahaya! " kesal Anna.


Lim tetap tidak terbangun, Anna yang kesal langsung mencubit perut Lim agar terbangun.


" Aaaaa..sakittt. " Lim meringis kesakitan.


" Kamu kenap..." kata Lim memberhentikan ucapannya karena melihat tubuhnya yang sangat dekat dengan Anna.


" Cepat menjauh! " seru Anna mendorong tubuh Lim menjauh.


Wajah Lim memerah merasa sangat malu, ia juga merasa sangat canggung karena tidak sengaja memeluk Anna saat Lim tertidur pulas.


Krek-


" Aku datang membawa minu..." antusias Okumura seraya memasuki ruang club.


Okumura memberhentikan ucapannya saat melihat Lim dan Anna berjauhan.


Terlihat ada kecanggungan antara mereka berdua.


" Kalian melakukan apa disini? " tanya Okumura asal.


" Kami tidak melakukan apapun! " Kata Lim dan Anna bersamaan.


" Kalian berdua melakukan apa? "


" Kami tidak melakukan apapun! "


" Ish, sudahlah aku membawa kalian minum. " ucap Okumura memberikan minuman.


Tanpa bertanya terlebih dahulu kepada Okumura, Lim langsung meminum sebuah botol soju dengan satu kali tegukan.


" Kap! " tegas Okumura.


" Kenapa minuman ini sangat aneh? " tanya Lim tidak mengerti.


" Itu soju, anak seusia kita tidak boleh meminum itu. Dan soju itu untuk Ayahku, bisa mati aku kap! " jawab Okumura.


Lim tidak bisa mendengar suara jelas Okumura, pandangannya buyar dan kepalanya terasa berat.


" Anna, kenapa kamu menjadi dua? " Lim berbicara tidak jelas seperti orang yang sedang mabuk. Anna hanya terdiam dan meminum botol air putih.


Lim terus memperhatikan Anna membuat Anna sedikit tidak nyaman. Tatapan Lim seperti orang mesum.


" Menjauhlah " Anna geli terhadap tatapan Lim.


Lim mendekatkan tubuhnya kearah tubuh Anna dengan keadaan mabuk.


Tanpa aba-aba atau sinyal, Lim langsung mencium bibir Anna.


Okumura yang sedang meminum sesuatu langsung terdiam dan membiarkan air tersebut mengalir dimulutnya.


Anna terdiam, ia mendorong bahu Lim untuk menjauh tapi Lim sama sekali tidak melepaskan ciumannya.


Semakin lama ciuman Lim, semakin lama Anna susah untuk bernafas.


Okumura mengedipkan matanya secara cepat dan langsung membantu Anna untuk menjauhkan Lim.


Dan saat Okumura melepaskan Lim dari Anna, mata Lim terpejam.


Lim sudah tertidur saat mencium bibir Anna.


••


Keesokan harinya.


Dalam kelas 1-2


" Okumura, kenapa sih si Anna itu terus menjauh dariku? " kesal Lim karena selama seharian ini Anna terus menjauhinya.


Okumura tidak menjawab.


" Hei Okumura!! Kenapa kamu tidak menjawab? " lanjut Lim.


" Kap, apa kamu tidak mengingat kejadian memalukan kemarin? " tanya Okumura dengan pandangan kosong.


Okumura mengingat saat kemarin malam yang terkena tamparan oleh Anna adalah dirinya.


Sedangkan Lim tertidur lelap dengan bau alkohol.


" Ingatan terakhirku saat aku meminum soju Ayahmu. " jawab Lim.


" Hah. " Okumura kecewa menaruh kepalanya di atas mejanya.


" Katakan padaku!! " Tegas Lim.


" Kamu benar-benar ingin aku katakan? "


Lim menganggukkan kepalanya.


Saat Lim tiba-tiba mencium Anna, Anna yang salah menampar. Dan saat perjalanan pulang Lim muntah-muntah di tengah jalan membuat Okumura kesulitan untuk membawa Lim pulang.


Ketika Lim tahu tentang kemarin itu membuatnya malu dan langsung terdiam.


Bel berbunyi pulang sekolah.


Lim keluar kelas bersama dengan Okumura. Sepanjang di dalam kelas Lim hanya terdiam karena mendengar cerita yang sangat menjijikan baginya.


Langkah kaki Lim terhenti saat melihat Anna yang berdiri di depan kelasnya dengan tas gendong yang berada di punggungnya.


" Minta maaf dengan dia. " kata Okumura.


Lim berjalan mendekati Anna, Anna menolehkan kepalanya kearah Lim dan matanya melebar melihat Lim.


Perasaan dag-dig-dug masih terasa di dalam hati Anna.


Anehnya meskipun ciuman Lim tidak sadar, tapi Anna merasa sangat senang dengan ciuman itu.


Anna kesal karena hatinya berdegup cepat saat melihat Lim.


" Anna. " panggil Lim. Anna memundurkan langkah kakinya menjauhkan dari Lim.


" An. " panggilnya lagi.


Ketika Anna ingin berlari, Lim dengan cepat menahan lengan Anna agar tidak berlari menjauhi dirinya.


" Lepaskan! " seru Anna. Lim sama sekali tidak melepaskan genggamannya dari lengan Anna.


" Anna, dengarkan penjelasanku terlebih dahulu. " pinta Lim.


" Penjelasan apa? "


" Soal kemarin. "


" Tidak ada yang perlu dijelaskan. Aku tahu itu hanya kesalahpahaman saja. "


" Tapi dengarkan aku. "


" Tidak, sudah tidak apa-apa "


" Lalu, kenapa kamu menjauh dariku "


Anna terdiam tidak bisa menjawab, tidak mungkin Anna berkata bahwa hatinya berdebar kencang karena Lim.


" Lepaskan aku mohon. " kata Anna dengan nada rendah.


Lim tetap tidak melepaskan genggamannya.


" Kamu dengar dia minta kamu untuk melepaskan genggamannya tidak?! " Teriak Ryuzaki mendekati Lim dan Anna.


Okumura yang melihat akan ada pertengkaran antara mereka langsung menjauh dari sana dan membiarkan mereka bertiga berbicara satu sama lain.


" Apa urusanmu?! " kesal Lim.


" Tangan dia bisa sakit, kamu tidak kasihan kepadanya? " tanya Ryuzaki.


Ryuzaki melepaskan genggaman Lim dari lengan Anna secara paksa.


" Dia tunanganku. Jangan dekat-dekat! "


Lim mendesah kesal. " Tunangan? Kamu saja tidak pernah ada untuk Anna. Bagaimana bisa dikatakan tunangan? "


" Anna, aku tunanganmu bukan? " Ryuzaki dengan tatapan tajam kepada Anna.


Anna menundukkan kepalanya takut untuk menatap Ryuzaki, Lim menyeringai kesal melihat tatapan Ryuzaki yang sama sekali tidak lembut kepada Anna.


Lim mengambil jemari tangan Anna dan membawa Anna ke belakang punggungnya.


" Dia wanitaku, jangan dekat-dekat. " kata Lim membalikkan ucapan Ryuzaki.


Berbeda dengan ucapan Ryuzaki, ucapan Lim terlihat sangat serius dan membuat hati Anna berdebar.



Tangan Anna yang dierat oleh Lim seakan-akan mengatakan bahwa Anna adalah milik Lim, tidak boleh ada siapapun yang mendekatinya.


" Lepaskan dia tunanganku! " seru Ryuzaki.


Lim tersenyum simpul " Dia wanitaku, kamu hanya sekedar tunangan yang bisa kapan saja dibatalkan. Kalau dia wanitamu berarti selamanya tidak akan kamu lepas karena dia wanitamu tidak boleh ada satupun orang yang mendekatinya! "


Ryuzaki mendesis kesal. " Tch "


Lim menarik lengan Anna membawa Anna pergi meninggalkan Ryuzaki.


Sampai di Taman Belakang Sekolah, Lim melepaskan lengan Anna.


" Kenapa dia masih menganggapmu sebagai tunanganmu? " kesal Lim.


" Ah kesal! "


Lim menendang sebuah bola sepak dengan sangat kencang ke dinding membuat Anna terkejut.


" Anna, kalian beneran sudah bertunangan? " tanya Lim dengan nada kekesalan.


" Tidak, kami saja bahkan belum bertukar cincin. " jawab Anna dengan nada rendah.


" Lalu, kenapa dia masih menganggapmu sebagai tunangan? "


" Aku juga tidak tahu! "


" Kamu serumah dengannya mana mungkin kamu tidak tahu. "


" Aku bilang aku tidak tahu!! "


" Anna! "


" Kamu kenapa jadi keras kepala seperti ini? Aku sudah bilang aku tidak tahu! " kesal Anna seraya berjalan meninggalkan Lim.


Emosinya bergejolak tinggi saat bertengkar dengan Lim.


Lim hanya memberantakkan rambutnya sambil berkata " SIAL! "


" Kamu baik-baik saja? " Tanya Hinata tiba-tiba datang menghampiri Lim.


" Mau apa kamu? " sinis Lim.


" Jangan sinis seperti itu. "


" Diamlah, aku sedang tidak ingin bercanda. "


" Anna sangat istimewa bagimu bukan? "


" Apa mau kamu sebenarnya. "


" Tidak, aku tidak ingin apapun. "


" Lalu? "


" Aku cuman ingin membuat Anna menyetujui tunangannya dengan Ryuzaki. "


Lim mengerutkan dahinya menahan kekesalan " HAH? KAMU GILA?! "


" Aku gila karena aku tidak bisa melihat Anna bahagia. "


" Apa maksudmu? "


Hinata melangkahkan kakinya mendekati Lim dan berbisik tepat ditelinga Lim " Karena dia bisa mendapatkan hati kamu sedangkan aku tidak. "


" Karena dia berbeda, kamu **** dan dia tidak. "


" Aku ****? Bukankah dia lebih **** dari aku? "


" Apa maksud kamu? "


" Kamu bahkan tidak tahu masa lalunya, jadi bagaimana kamu bisa berkata bahwa aku lebih **** daripada dia? "


" Masa lalu Anna? "


" Kamu tidak tahu bukan? Anna juga tidak pernah memberitahu kamu, benar bukan? "


" Sebenarnya apa mau kamu?! "


" Anna tidak akan membiarkan masa lalunya diketahui oleh orang yang sudah menyukainya, itu akan membuatnya kembali terluka. Tapi bukankah kamu harus tahu karena kamu sudah menganggap Anna sangat istimewa. "


Lim terdiam, ia hanya mendengar ucapan Hinata.


" Kamu ingin tahu masa lalu Anna? " lanjut Hinata memundurkan langkah kakinya.


Tidak lama kemudian, Anna kembali ke Taman Belakang Sekolah karena saat ia keluar gerbang Sekolah.


Anna melihat seseorang yang pernah menggodanya dahulu.


Dan saat Anna kembali, Anna tidak sengaja melihat Hinata serta Lim yang sedang berbincang-bincang.


Ketika Hinata menoleh kearahnya, Anna dengan cepat langsung mengumpat dibalik dinding.


Hinata mengetahui bahwa Anna berada dibelakang dinding, kesempatan inilah yang tidak akan pernah dilewatkan oleh Hinata.


" KAMU INGIN TAHU MASA LALU ANNA? " teriak Hinata.


" Kenapa suaramu menjadi sangat keras? " Tanya Lim kebinggungan.


Anna berpikir sejenak bagaimana Hinata tahu soal masa lalu Anna.


" Kamu ingin tahu? Kalau kamu ingin tahu, KAMU HARUS MENJADI PACARKU SELAMA 1 BULAN. KITA BISA BERPURA-PURA UNTUK PACARAN DIHADAPAN ANNA DAN SETELAH 1 BULAN KITA PUTUS. "


Lim terdiam sejenak, ia ingin tahu tentang masa lalu Anna. Tapi untuk berpacaran dengan Hinata adalah hal yang mustahil untuk dilakukan oleh Lim.


" Tida.." Belum saja ucapan Lim selesai, Anna tiba-tiba datang menemui Hinata serta Lim.


" Katanya kamu ingin bermain denganku. " Goda Anna mendekati Lim.


Lim terkejut melihat sikap Anna yang berbeda, sebenarnya Anna tidak ingin melakukan hal geli seperti ini.


Namun, tiba-tiba saja tubuhnya bergerak sendiri.


Hatinya terlalu sakit saat mendengar perkataan Hinata, apalagi Hinata mengetahui masa lalunya.


Itu membuat kenangan masa lalunya kembali.


Tapi, Anna ingin satu orang saja percaya dengan Anna.


Dan Anna ingin tidak ada yang menjauhinya lagi saat mengetahui masa lalu Anna.


Dalam hati Anna juga ingin Lim tetap di sampingnya. Anna tidak ingin Lim pergi menjauh darinya.


Untuk semenit, tidak untuk sedetik saja tidak ingin.


Karena bagi Anna, Lim sudah sangat berarti.