Love Captain Handsome

Love Captain Handsome
Episode spesial 34



Wajah Lim memerah, ia tidak mengerti kenapa Anna tiba-tiba melakukan hal yang sangat berani seperti itu.


" Anna, apa maksud kamu tiba-tiba mencium pipiku? " tanya Lim gugup.


" Hanya membalas saat tadi kamu mencium keningku. " jawab Anna.


" Kamu tahu itu? "


" Jelas aku tahu. "


" Perutmu sudah baik-baik saja? "


Anna mengangguk-anggukan kepalanya. " Terimakasih pijitannya. "


" Ini sudah malam, kenapa kamu tidak pulang? "


" Aku menunggu kamu, mari pulang. " ajak Anna yang membuat Lim segera membersihkan seluruh bola yang berada di lapangan dan berganti baju untuk segera pulang bersama dengan Anna.


Dalam perjalanan pulang, Lim sama sekali tidak berbicara.


Anna melipat kedua bibirnya merasa canggung karena harus memulai pembicaraan terlebih dahulu.


" Itu.. "


" Apa kamu sangat menyukai basket? " lanjut Anna.


" Aku sangat menyukainya. "


" Lalu, apa rasa suka kamu untuk aku sama dengan rasa suka kamu ke basket? "


Lim memberhentikan langkah kakinya. " Tidak, rasa sukaku kepada basket lebih daripada rasa suka aku untuk kamu. "


" Hm. " Anna memberhentikan langkah kakinya.


" Apa kamu menyukaiku Anna? " tanya Lim tiba-tiba.


Anna tidak bisa menjawab, Anna tidak bisa menganggap perasaan yang ia rasakan kali ini adalah perasaan suka terhadap Lim.


" Kamu tidak bisa menjawab? " Lim menyeringai.


" Maaf. " ucap Anna dengan nada rendah.


" Tidak apa-apa, kamu memang seperti itu. " kata Lim seraya berjalan kembali meninggalkan Anna.


" Anna? " panggil suara berat dari belakang yang membuat Anna membalikkan badannya.


" Maaf, anda siapa? " tanya Anna kebinggungan dengan dua orang pria yang berada di hadapannya.


Pria pertama terlihat seperti seorang pria tua yang berumur sekitar 40 tahun dengan wajah seperti orang Korea, sedangkan untuk pria yang berada di sampingnya terlihat sangat muda dan wajahnya seperti blasteran Korea-Prancis.


" Kamu lupa dengan paman ya? "


" Ini Paman Eun Gi, teman Ayah kamu. " Lanjut Eun Gi


" Maaf, saya Anna anak dari Eiji. "


" Iya saya tahu, dan ini anak saya Gi dia lebih tua 2 tahun dari kamu. "


" Saya Gi. " katanya dengan senyum manis.


" Anna. " Anna sopan.


" Ngomong-ngomong saya baru pindah kesini, jadi mohon bantuannya. " ujar Eun Gi.


" Iya paman. "


" Kamu baru pulang sekolah? " tanya Gi yang melihat Anna masih menggunakan pakaian sekolah.


" Tadi saya ketiduran di sekolah. " jawab Anna.


" Tidak usah berbicara formal kepadaku. "


" Salam kenal, Anna. " Lanjut Gi.


" Salam kenal Kak Gi. "


" Kalau begitu, paman antar kamu ke rumah ya. Ini sudah malam dan sekalian saya ingin berbicara dengan Ibumu sebentar. " pinta Eun Gi.


" Iya paman. "


Anna, Eun Gi dan Gi berjalan bersamaan menuju rumah Anna.


Anna masih tidak percaya dengan orang-orang yang berada di sampingnya sehingga ia membuat jarak yang lumayan jauh dengan mereka.


Gi tertawa kecil karena melihat Anna yang berjalan jauh darinya. " Kenapa menjauhiku? " tanya Gi mendekati Anna.


" Maaf. " jawab Anna canggung.


" Sewaktu kecil kita selalu bermain bersama saat kamu berusia sekitar 3 tahun saat berada di Korea. "


" Maaf, saya sudah lupa. "


" Aku sudah bilang untuk tidak berbicara formal kepadaku. "


" Maaf. "


5 menit kemudian, Anna, Eun Gi dan Gi sudah sampai di depan rumah Anna.


" Ini rumah saya. " kata Anna seraya mengetuk pintu rumahnya.


Hanna membuka pintu dan langsung memukul punggung Anna dengan sangat keras karena membuat Hanna khawatir.


" Kamu kemana saja! Ibu khawatir! Pulang jam segini! Kamu kemana saja. " kesal Hanna.


" Sakit Bu sakit. " Anna meringis kesakitan.


" Selamat malam Hanna. " sapa Eun Gi membuat Hanna memberhentikan pukulannya kepada Anna.


" Eun Gi!! " Hanna kaget.


" Olaenman-iya "


" Apa kabar, kamu baik-baik saja? " tanya Hanna.


" Baik, bagaimana dengan kamu dan Eiji? "


Hanna menoleh sesaat kearah Anna yang sudah menundukkan kepalanya. " Mari berbicara di dalam. " ajak Hanna kepada Eun Gi dan Gi.


" Anna, kamu segera mandi dan tidur. Besok kamu harus sekolah. " Perintah Hanna kepada Anna karena tidak ingin Anna mendengar pembicaraan tentang Eiji.


Anna mengangguk-anggukan kepalanya mengerti, ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya untuk segera membersihkan seluruh badannya.


Setelah membersihkan seluruh badannya, perkataan Lim kembali teringat oleh Anna.


" Apa kamu menyukaiku Anna? "


Perkataan yang membuat Anna tidak bisa berbicara, Anna terus memberantakkan rambutnya dengan handuknya.


Merasa sangat frustasi dengan pertanyaan itu, Anna sendiri tidak tahu apa dirinya menyukai Lim atau bukan.


Ia juga tidak tahu bahwa apakah perasaan ini bisa diartikan sebagai perasaan " Suka "


" Ah, menyebalkan. " keluh Anna.


Jika Anna menyukai Lim pun, Anna tidak akan bisa menerima perasaannya. Ia akan selalu menolak karena bagaimanapun Anna tidak ingin terluka.


••


Keesokan harinya..


Lim yang sudah bersiap-siap untuk berangkat dengan sepedanya tidak sengaja melihat Anna berjalan bersama dengan seorang lelaki tinggi.


Seragam sekolah yang lelaki pakai itu terlihat seperti seragam sekolah dari SMA Okawa.


" Apa dia Kazuya? " Pikir Lim.


Ketika Lim ingin menghampiri Anna, Lim kembali teringat tentang Anna yang dibuat terluka oleh Shima.


" Sadar! " Seru Lim kepada dirinya sendiri.


Ia harus menjauhi Anna bagaimana pun juga, Lim tidak ingin melihat Anna terluka atau menangis lagi karenanya.


Melihat Anna terluka dan menangis saja sudah membuat hati Lim terasa sangat sakit.


Lim hanya menggowes sepedanya tanpa memperdulikan Anna dengan lelaki yang berada di sampingnya.


Bahkan Lim saja tidak menyapa Anna sama sekali, Anna yang melihat punggung Lim hanya mengepalkan tangannya merasa kesal.


Dahulu pasti Lim selalu menyapanya, dan kini tidak. Anna merasa ada sesuatu yang hilang dari hidupnya.


" Kamu baik-baik saja Anna? " tanya Gi.


" Saya baik-baik saja. "


" Kamu tidak perlu mengantarkan saya, saya bisa sendiri. Jadi selamat tinggal. " Pungkas Anna seraya berjalan meninggalkan Gi.


Sekolah Gi dan Anna berbeda, Gi sekolah di SMA Okawa sedangkan Anna bersekolah di SMA Seido.


Jalan yang ditempuh Gi pun berbeda dengan Anna, Gi harus menggunakan bus untuk kesekolahnya. Sedangkan Anna hanya tinggal jalan saja.


4:00 p.m


Bel pulang sekolah berbunyi.


Selama berada di sekolah, Lim sama sekali tidak bisa diam. Pikirannya terus menghantui tentang Anna dengan lelaki yang berada di sampingnya tadi.


Ia sangat penasaran dengan lelaki yang bisa berjalan berdampingan bersama Anna.


" Ah kesal. " Lim frustasi.


" Kap, kamu tidak ingin ke lapangan basket? Ini sudah pulang sekolah " Tanya Okumura kebinggungan karena dari pagi Lim selalu bolak-balik menuju kelas Anna.


" Aku lupa, kalau begitu aku lebih dahulu ya. " ucap Okumura seraya keluar dari kelas.


Lim bersama dengan Ketua Kelas melakukan piket harian, Ketua Kelas menyapu dan mengepel kelas sedangkan Lim membersihkan jendela kelas.


Namun, Lim tidak sengaja melihat Anna bersama dengan Ryuzaki di tribun dekat lapangan outdoor.


Wajah Anna terlihat sangat ketakutan sedangkan Ryuzaki terlihat seperti sedang memarahi Anna.


Lim yang kesal langsung menjatuhkan lap dan berlari menuju lapangan.


Ryuzaki hampir ingin menampar Anna, tetapi dengan cepat Lim menahan lengan Ryuzaki.


" Apa-apaan kamu ini! " tegas Lim dengan perasaan kesal.


" Lepaskan! Kamu tidak perlu ikut campur! " seru Ryuzaki.


" Kamu berani menampar Anna? Sudah ingin mati?! "


" Wah, kamu ingin membunuhku? "


Lim yang sangat kesal langsung meninju wajah Ryuzaki. " Aku bisa kapan saja membunuh kamu! "


Ryuzaki yang terjatuh karena pukulan Lim hanya meringis kesakitan.


Anna menahan tubuh Lim yang ingin memukul Ryuzaki kembali.


" Berhenti, aku tidak apa-apa. " kata Anna.


" Apa kalian pacaran? Wah kamu hebat sekali Anna. " sindir Ryuzaki.


" Diam kamu! " Kesal Lim. Anna yang tidak punya pilihan lain selain menarik lengan Lim untuk pergi dari lapangan menuju Taman belakang Sekolah.


" Kamu kenapa selalu menggunakan tangan kamu? " ucap Anna seraya memberhentikan langkah kakinya.


" Aku tidak menyukai kamu disakiti oleh orang lain. "


Anna menghela nafas panjang dengan mata berkaca-kaca, ia duduk di sebuah kursi panjang dengan mata terpejam menahan air matanya.


" Aku tidak apa-apa, jadi jangan khawatirkan aku. " kata Anna.


" Kamu tidak apa-apa? Bagaimana bisa kamu tidak apa-apa! "


" Aku benar-benar baik-baik saja. "


Tapi tidak lama kemudian, rintikan air mata jatuh dipipi Anna.


" Loh? " Anna kebinggungan.


Ia terus ingin menghapus air matanya, tapi air matanya tidak kunjung berhenti.


Lim hanya melihat Anna dengan mata lembutnya, ia tidak bisa melihat Anna menangis.


Itu membuat hatinya terluka. Lim ingin membuat Anna tidak menangis kembali, ia mencari-cari sebuah barang disaku celananya tapi sama sekali tidak ada.


" Tunggu sebentar aku akan kembali lagi. " Lim berlari terburu-buru.


Lim mencari kesana kemari sesuatu untuk membuat Anna tidak menangis, dan suatu keberuntungan Lim bertemu dengan Kaori.


" Kaori-senpai. " panggil Lim dengan nafas tersengal.


" Lim, ada apa? "


" Apa kamu mempunyai sebuah boneka atau apa? "


" Aku membawa boneka kesukaanku, kenapa? "


" Boleh aku meminjam sebentar saja? " Mohon Lim.


Kaori mengeluarkan sebuah bonekanya serta memberikannya kepada Lim, dengan cepat Lim segera mengambil dan berlari sambil berteriak " TERIMAKASIH NANTI AKAN AKU KEMBALIKAN. "


Lim berlari menuju Anna kembali, Anna masih tetap menangis.


Bahkan tangisannya lebih kejer daripada sebelumnya.


" Hallo Anna. " sapa Lim dengan suara seperti seorang perempuan.


Lim mengeluarkan sebuah boneka dari tangan belakangnya dan berkata dengan manis.


" Kanashimanaide " ( jangan menangis )


" Genki o dase " ( semangat dong )


" Namida fuite.. " ( Hapus air matanya )



Pipi Lim memerah karena ia sangat malu harus menggunakan suara perempuan untuk membuat Anna tidak menangis kembali.


" Kamu anak-anak ya? " ledek Anna dengan rintikan air mata yang sudah tidak jatuh kembali.


" Aku harus bagaimana? Aku tidak suka melihat kamu menangis. "


Anna tersenyum kecil untuk pertama kalinya ada seorang lelaki yang dapat membuat Anna tidak menangis kembali.


" Terimakasih. " kata Anna.


Mendengar Anna berbicara terimakasih dengan sangat lembut membuat hati Lim berdegup cepat.


" Apa tadi kamu bilang? " goda Lim.


" Terimakasih. "


" Apa? Aku tidak mendengar "


" Terimakasih. "


" Sekali lagi. "


Anna mendekatkan wajahnya ingin berkata tepat ditelinga Lim, tapi Lim tiba-tiba menengok-kan kepalanya kearah Anna.


Membuat wajah Anna dan Lim berada sangat dekat.


Lim menelan ludah karena merasa gugup, sedangkan Anna hanya memundurkan tubuhnya untuk menjauh dari Lim.


Hatinya berdebar-debar, bahkan wajah Anna pun memerah.


Mereka terus memalingkan pandangannya selama 5 menit karena hati mereka masih terus berdebar kencang.


" Itu. " Anna memecahkan keheningan.


" Iya Anna? " jawab Lim cepat.


" Jangan tiba-tiba menghindariku atau berkata untuk menjauh dariku. " kata Anna.


" Karena aku tidak bisa. " lanjut Anna.


" Kenapa? "


" Aku tidak bisa menjelaskannya. "


" Kamu tidak bisa menjelaskannya? "


" Iya dan intinya jangan menjauhiku. Aku harus membalas budiku kepada kamu. "


" Membalas budi? "


Anna menganggukkan kepalanya cepat sambil berlari menuju gerbang sekolah. " Aku pulang terlebih dahulu. " kata Anna.


Wajah Lim mengkeruh. " Balas budi ya? " gumam Lim.


Tanpa berpikir panjang, Lim berlari mengikuti Anna karena ia belum mengerti perkataan dari Anna.


Namun, sebuah pandangan yang tidak ingin dilihat oleh Lim kini ia lihat.


Seorang lelaki menunggu Anna di depan gerbang dengan sebuah senyuman manis, lelaki dengan tinggi yang sama saat Lim lihat tadi pagi.


Dan untuk pertama kalinya, Lim tidak ingin merasa kalah tampan dengan Gi.


Lalu, saat Lim ingin menghampiri mereka. Kaori menahan lengan Lim untuk tidak pergi.


" Kembalikan bonekaku. " ujar Kaori.


" Tunggu sebentar Kaori-senpai. " Lim terburu-buru.


" Tidak! " Tahan Kaori.


" Sebentar saja tolong. "


" Tidak!! "


Saat Lim tengah ditahan oleh Kaori, Anna dan Gi sudah tidak ada. Mereka sudah berjalan untuk pergi meninggalkan sekolah.


" Ah dia pergi. " Keluh Lim.


" Siapa? " Tanya Kaori tidak mengerti.


" Perempuan yang aku sukai. "


" Ah, perempuan dengan pembalut itu ya. "


" Bagaimana kamu tahu? "


" Bagaimana tidak, tatapan kamu sudah terlihat sangat menyukai dia. "


" Tapi dia tidak menyukaiku. "


Kaori mengerutkan dahinya, sepengetahuan ia sebagai perempuan tatapan Anna kepada Lim bisa diartikan sebagai " Suka "


" Menurutku tidak, sepertinya dia juga menyukaimu. "