
1 Minggu kemudian.
Anna telah menyelesaikan magangnya dan diterima menjadi manajer club basket.
Ia mendapatkan sebuah kaos club basket yang tidak ada nomernya dan sebuah jaket club basket.
" SELAMAT MENJADI MANAJER " teriak bersamaan pemain club basket kepadanya.
Lim yang selama seminggu itu pun tidak berbicara kepada Anna, selalu saja menjauhi Anna. Entah kenapa itu membuat Anna merasa sedikit aneh dan berbeda.
Ketika Anna ingin berbicara sedikit kepada Lim, Lim selalu menjauhinya. Dalam pikiran Anna, mungkin dia punya salah terhadapnya.
Atau kata-kata saat Minggu kemarin membuatnya sakit hati dan Anna ingin meminta maaf. Tapi Anna tidak punya keberanian untuk berbicara seperti itu.
Anna berjalan perlahan mendekati Lim yang tengah meminum botol air mineral-nya itu, saat Anna hampir saja mendekatinya. Lim langsung berlari menjauhi-nya kembali.
" Sebenernya apa salahku? " gumam Anna.
" ANNA! " panggil Clara dari belakang sambil menepuk pundak Anna. Anna menoleh kearah Clara " SELAMAT MENJADI MANAJER, akhirnya aku mendapat pengganti " ucap Clara antusias.
" Terimakasih ka. "
Lalu Sawamura pun datang dan menjulurkan tangan kanannya. " Selamat " katanya. " Terimakasih, aku mau pulang " kata Anna tanpa berjabat tangan dengan Sawamura.
Ia hanya meninggalkan Sawamura dan Clara begitu saja. " Dia memang seperti itu? " bisik Clara kepada Sawamura. " Entahlah mungkin suasana hatinya sedang tidak bagus " jawab Sawamura.
" HEI LIM! " panggil Clara membuat Lim yang sedang pendinginan terkejut. " KAMU DAN ANNA KENAPA? " tanya Clara sambil berteriak.
Lim tidak menjawab, dia hanya memalingkan pandangannya dari Clara. Clara mendesah kesal, karena tadinya Clara ingin mengajak Anna untuk makan bersama tapi karena susana hati Anna yang sedang tidak bagus membuatnya mengurungkan niatnya kembali.
" Lim.... Dia pulang sendiri loh, apa kamu ga takut dia kenapa-kenapa? " goda Clara kepada Lim.
Sawamura yang mendengar perkataan langsung berlari mengejar Anna. Lim menatap tajam kearah Sawamura. Okumura mendatangi Lim dengan wajah menahan tawanya itu.
" Sakit! " keluh Okumura. " Kamu kan tidak seharusnya menginjak kakiku! " lanjutnya.
" Ha? Kamu ngomong apa, hah! " kesal Lim. " Ampun, ampun " kata Okumura ketakutan.
••
Weekend, 7:00 p.m
Anna melangkah keluar dari rumah dengan menggunakan celana pendek hitam, kaos putih polos, sepatu putih dan tas selempang berwarna hitam dengan rambut terurai pendek sebahu.
Ia berjalan menuju mini market, karena hari ini Ibunya menemani Ayahnya untuk bisnis di Korea. Maka dari itu, hari ini Anna sendirian di rumah dan tidak mempunyai makanan sedikitpun untuk di makan.
Setelah sampai mini market dan membeli makanan untuk di makan, Anna kembali pulang. Lalu tiba-tiba seseorang menepuk pundak Anna yang membuatnya menoleh kebelakang melihat kebelakang.
Terlihat seorang dengan topi hitam, baju kaos putih dan celana panjang berwarna hitam. Wajahnya tertutup oleh topi.
Anna ketakutan, ia memundurkan langkah kakinya. Saat ia hampir saja terjatuh, seseorang itu memegangi belakang punggung Anna agar tidak terjatuh.
Terlihat wajah yang sangat familiar dia adalah Lim. Anna menatap lama Lim " H-A-L-L-O " sapanya membuat lamunan Anna buyar.
Anna kembali berdiri tegak dengan menatap sinis kearah Lim, Lim yang tersenyum kecil mendekati Anna. Anna menjauhinya, Lim mendekatinya. Namun Anna menjauhinya lagi. Tapi lagi-lagi Lim mendekatinya.
" Mau kamu apa?! " Tegas Anna. Lim hanya terdiam membisu yang dia inginkan hanya untuk didekat Anna saja.
" Kamu saat aku mendekati langsung menjauh, sekarang malah terus mendekatiku terus. Sebenernya mau kamu apa? Kamu tiba-tiba tidak berbicara denganku, menjauhiku. Seperti seseorang yang sedang marah tanpa alasan yang jelas. Aku ingin minta maaf karena mungkin saat minggu kemarin aku membuat kamu sakit hati. Tapi kamu malah menjauhiku seperti itu. " Jelas Anna membuat Lim terdiam.
Lim terkejut dengan ucapan Anna. Lim berjalan perlahan mendekati Anna " kamu mau apa! " Kata Anna.
Lim melingkarkan tangannya di leher Anna, memeluk Anna dengan sangat hangat. Anna yang merasa malu dan canggung, ingin melepaskan pelukannya dari Lim. Tapi ia tidak bisa melepaskan pelukan itu karena Lim memeluknya dengan sangat erat.
" Sebentar.. aku ingin seperti ini saja karena bahagia " ucapnya dengan nada rendah.