
Setelah acara itu selesai dan Anna telah menjawab lebih dari 50 pertanyaan. Anna membaringkan tubuhnya di kasur kamarnya.
Merasa sangat lelah karena acara tersebut. Untuk pertama kalinya Anna membuat acara seperti itu dan gratis siapapun boleh memasukinya.
Anna melihat jam yang sudah menunjukan pukul 10:00 p.m.
" Ahh " keluh Anna merasa benar-benar sangat lelah.
Foto Anna dan Lim yang dahulu di tutup oleh Anna, kini ia paparkan di dalam kamarnya. Dan bahkan fotonya berada di sebelah kasur Anna sehingga Anna bisa kapan pun melihat foto itu.
Anna kembali melihat foto tersebut dan tersenyum kecil, betapa ia rindu dengan Lim.
Kalau boleh pun, Anna ingin ke masa-masa SMA waktu itu. Masa yang sangat bahagia bagi Anna.
Lalu tiba-tiba saja suara telepon Anna berdering, membuat Anna segera menjawab telepon tersebut dan mengetahui bahwa Kirei yang menelepon nya.
" Ada apa? " tanya Anna.
" Kamu sekarang liat tv, cepat-cepat! " perintahnya membuat Anna segera menyalakan televisi.
Dan terlihat sebuah wawancara antara Lim dengan seorang reporter sport.
Dan reporter itu bertanya mengenai Lim yang mempunyai istri atau tidak.
Lim menjawab " Aku tidak mempunyai istri atau tunangan. Tapi ada seseorang yang sangat aku cintai. Dan kini aku akan menemuinya dan memberinya sebuah kepastian. "
Mendengar ucapan Lim dalam televisi, Anna mengingat-ingat lagi kejadian saat acara tadi. Anna juga menjawab hal yang sama persis dengan yang Lim katakan.
Sebenarnya ada apa ini, kenapa Lim bisa menjawab pertanyaan yang sama dengan Anna.
Bahkan Lim saja masih berada di Amerika, bagaimana ia tahu apa yang Anna ucapkan.
" Kira-kira siapa yang kamu kira? " tanya Kirei.
" Aku. " Jawab Anna dengan percaya diri.
" Hei, aku tahu kamu mencintai dia. Tapi setelah 3 bulan ini, kepastian apa yang kamu tunggu? "
" Dengan melihat ini aku tahu bahwa aku memang pantas untuk menunggunya dan sebentar lagi ia akan memberiku kepastian. "
Kirei yang kesal dengan jawaban Anna langsung menutup panggilannya, sebenarnya Kirei tidak menyukai Anna kembali dengan Lim.
Karena Kirei tahu seberapa Anna waktu itu sering menangisi Lim.
Dan Kirei tidak ingin melihat Anna kembali seperti dahulu hanya karena Lim.
••
Karena hari ini adalah hari libur, Anna kembali pulang kerumah lamanya. Ia di jumpai oleh Ayah, dan Ibunya serta beberapa saudara-saudara imutnya itu.
Ia melihat kamar lamanya yang ternyata masih sangat rapih karena selalu di rapihkan oleh Ibu.
Ibu dan Ayah juga terlihat semakin menua, wajahnya yang terlihat sedikit mengerut karena perubahan usia membuat Anna sedikit khawatir akan mereka.
Anna melihat foto-foto dia bersama Lim masih terpampang di dinding, dan Hanna bahkan belum membuang foto tersebut meski waktu itu Anna sudah meminta Hanna untuk membuangnya.
" Waktu itu dia datang kesini dan melihat foto kamu disini, dan dia langsung menangis. Saat itu ibu ingin membuangnya, tapi karena melihat dia menangis Ibu jadi mengetahui seberapa cinta nya dia kepada kamu. " Jelas Hanna membuat Anna tersenyum kecil.
" Dia saja bodoh, padahal aku sudah dimiliki oleh seseorang tapi tetap saja dia ingin merebutku apapun itu. " Jawab Anna.
" Nanti kamu harus datang dengan dia ya temui Ibu dan Ayah. "
" Entah kapan itu Bu. "
Hanna hanya tersenyum kecil melihat putri satu-satunya sudah tumbuh besar.
Lalu tiba-tiba seseorang membuka pintu kamar Anna perlahan. Dan terlihat seorang perempuan kecil menghampiri Anna dengan sangat lucu.
Ia menggengam jemari Anna dan berkata " Ka Anna, aku menyukai seseorang apa itu boleh? "
Anna berdiri setingkat dengan anak perempuan itu dan mencolek hidung nya dengan tawa kecil menjawab " Kamu boleh menyukai seseorang, tapi ingat kamu tidak boleh memaksa seseorang itu untuk menyukai kamu. Dan satu lagi, kamu masih kecil jadi tidak boleh. "
Anak perempuan itu hanya menganggukkan kepalanya mengerti " Kalau begitu mari kita makan " ajak Anna membawa Anak perempuan yang bernama Yuni itu ke dapur.
••
Setelah makan-makan bersama keluarga, Anna berjalan keluar mencari udara. Ia membayangkan bagaimana nanti jika ia bersama dengan Lim dan keluarganya makan bersama seperti ini selayaknya seorang keluarga.
Dan Anna membayangkan juga bagaimana nanti jika ia memiliki seorang anak perempuan atau pun seorang anak laki-laki. Wajah Anna memerah karena membayangkan hal yang belum tentu terjadi.
Sampai disebuah lautan yang sangat indah, Anna terdiam. Ia terkagum dengan lautan biru yang sangat indah.
Tapi dalam hati yang kagum akan kekaguman ini, ia merindukan Lim.
Anna ingin Lim berada disini saat ini.
Angin berhembus sangat kencang, tiba-tiba seseorang lelaki mendatangi Anna dan berkata " Apa kabar? "