
Setelah terakhir pembicaraan antara Anna dan Lim, mereka sudah tidak berbicara selama berhari-hari.
Mereka seperti orang asing yang tidak mengenal satu sama lain.
Lim bukan tidak ingin berbicara dengan Anna, hanya saja kekesalannya masih menumpuk dalam hatinya. Ia tidak bisa menerus mendengar Anna yang selalu berkata maaf kepadanya.
Tapi semakin lama Lim semakin merasa aneh semenjak Anna menjauhi Lim.
Perasaannya campur aduk, Lim selalu merasa sepi, jenuh dan gundah.
" Menyebalkan " kesal Lim ditribun lapangan sekolah.
Lim menolehkan kepalanya kearah kelas Anna, terlihat Anna yang sedang menopang dagunya sambil membaca salah satu buku.
" Lihat kesini. " gumam Lim.
" 1 "
" 2 "
" 3 ".
Anna hanya menoleh sesaat kearah Lim lalu membaca kembali bukunya. Lim mendesah kesal, ia memberantakkan rambutnya itu merasa frustasi karena berhari-hari tidak berbicara dengan Anna.
" Sedang apa? " tanya Hinata mendekati Lim.
" Melamun " jawab Lim.
Hinata duduk berdampingan bersama Lim. " Tidak olahraga? "
" Tidak. "
" Kenapa? "
" Sedang tidak ingin saja. "
" Wah mengejutkan. "
" Lagipula, kamu sedang apa disini? Tidak istirahat? "
" Tidak, aku lupa membawa bekal. "
" Hm. "
" Kamu berhari-hari ini selalu melihat kearah kelas 1-1 ya? "
" Bagaimana kamu tahu? "
" Kelihatan saja. "
Lim menengok-kan kepalanya kearah Hinata, menatap mata Hinata. " Apa benar-benar kelihatan? " tanya Lim.
Hinata mengedipkan matanya secara cepat, Lim menatapnya yang membuatnya merasa gugup.
Hinata menganggukkan kepalanya. " Berarti lain kali aku harus secara diam-diam. " ucap Lim.
" Aku pergi dulu ya, sepertinya aku belum mengerjakan tugas yang diberikan guru bahasa Jepang. " kata Hinata seraya berjalan dengan tergesa-gesa.
" Apa kamu dekat dengan Hinata kap? " tanya Okumura tiba-tiba dari arah belakang.
Lim tidak menjawab, matanya tetap melihat kearah jendela kelas 1-1. Saat Lim berbicara dengan Hinata, tidak senggaja ia melihat Anna yang sedang memperhatikan kearahnya.
Namun saat Lim sudah tidak berbicara lagi dengan Hinata, Anna tidak memperhatikannya lagi.
Okumura yang merasa diacuhkan langsung menepuk tangannya di depan wajah Lim. " Apaan sih " Kesal Lim karena Okumura membuat lamunannya buyar.
" Sepertinya kap tidak dekat dengan Hinata, mata kap saja masih terus memperhatikan kearah Anna. " gumam Okumura.
" Hah kenapa? " tanya Lim yang tidak mendengar ucapan Okumura.
" Tidak, aku hanya memberitahu saja jangan lupa untuk latihan! " seru Okumura sambil berjalan kembali ke kelas.
" Tenang saja, kapan kamu lihat aku bolos latihan! " Teriak Lim.
" Nanti juga kap bolos karena Anna. " Jawab Okumura dengan nada tinggi.
" HAH! "
••
Bel berbunyi pulang sekolah.
Hirahata memberitahu ke kelas 1,2 dan 3 bahwa hari ini tidak ada latihan dikarenakan lapangan sedang di renovasi kembali.
Lim berjalan keluar kelas bersama dengan Okumura merasa sangat jenuh karena hari ini tidak jadi latihan.
" Aku gabut, kita bermain dulu kap. " ajak Okumura.
" Kemana? " tanya Lim seraya memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana.
" Kap ingin kemana? "
Lim memberhentikan langkah kakinya melihat Anna keluar kelas denga headphone yang berada ditelinganya.
" Mengikuti Anna. " jawab Lim tanpa sadar.
" Hah? " Kaget Okumura dengan jawaban Lim.
Lim tanpa sadar mengikuti Anna dari belakang dan Okumura mengikuti Lim bagaikan sebuah pengikut.
Anna terus berjalan tanpa menyadari Lim mengikutinya. " Kap kenapa kita mengikuti dia? " bisik Okumura.
" Sudah diam! " seru Lim.
" Tapi kap! "
" Diam! "
Mereka terus mengikuti Anna, dimulai dari toko buku, tempat makanan kecil sampai akhirnya di sebuah taman dekat rumah Anna.
Taman serta lapangan outdoor basket. Anna duduk dikursi dekat lapangan basket tersebut.
" Kap ada lapangan basket. Lebih baik kita berlatih disini. "
" Sebentar. "
Tidak lama kemudian, ada 3 lelaki dengan pakaian sekolah lain mendekati Anna.
Mereka menggoda Anna dan membuat mata Anna berkaca-kaca karena ketakutan. Anna ingin berlari, namun tertahan oleh 3 lelaki itu
Lim tidak pernah melihat wajah Anna ketakutan seperti ini sebelumnya. Dengan perasaan kesalnya, ia berjalan mendekati Anna.
" Hei, mau apa kamu dengan pacarku? " ucap Lim dengan mata penuh kemarahan.
" Hah pacar? Tadi perempuan ini terlihat sendirian saja. " ucap salah satu lelaki dengan wajah seperti preman.
" Saya ke supermarket terlebih dahulu untuk membelinya makanan, tapi kalian anak SMA dengan wajah preman berani-beraninya mendekati pacarku. "
" Kamu juga anak SMA! " seru bersamaan ketiga lelaki tersebut.
Lim mendekati ketiga lelaki tersebut, melihat nametack dibaju mereka.
" Kamu Kato. "
" Kamu Shu "
" Dan kamu Ham. "
Lim berpikir sejenak, ia seperti pernah mendengar nama ini sebelumnya. Dan Lim teringat bahwa ketiga nama tersebut adalah nama yang dulu selalu dikagumi oleh para pemain basket saat mereka masih SMP.
" Wah, kalian pemain basket yang terkenal saat SMP itu kan? " tanya Lim.
" Itu kamu tahu. " ucap Kato.
" Saya tidak menyangka ternyata pemain hebat bisa-bisanya menggoda seorang perempuan. " sindir Lim.
Lalu tiba-tiba saja Lim merangkul Anna sambil menatap Kato, Shu dan Ham dengan serius " Apa mereka menyentuh kamu? Kamu ingin mereka dibalas dengan apa? Sebuah pukulan atau apa aku harus membunuhnya juga? " bisik Lim tepat ditelinga Anna.
Mata Anna melebar terkejut dengan ucapan Lim, Anna mengepalkan tangannya. Ia tidak bisa berbicara karena terlalu takut.
Lim melihat mata Anna yang sepertinya ketakutan karena ucapannya. " Maaf, sepertinya aku menakutimu " ucap Lim dengan mengelus kepala Anna agar tidak ketakutan kembali.
" Hah, memang siapa kamu berani-beraninya berbicara seperti itu! " kesal Ham.
" Saya Edward. "
Shu mendekati Lim perlahan " Kamu terlihat sombong, bagaimana kalau kita bermain basket? Siapa yang menang dia akan mendapatkan perempuan itu. " ajak Shu.
Lim tersenyum setengah " Setuju. "
" Tapi, melihat kalian bertiga sedangkan saya sendirian. Bukankah terlihat sangat curang? " lanjut Lim.
" Kalau begitu one on one. " Kata Shu.
" Kamu yakin? " tanya Lim meyakinkan.
" Yakin. "
" Kalau begitu, mari dimulai. "
Anna terdiam membeku dikursi, bagaimana bisa dia dijadikan sebuah pertaruhan antara para lelaki.
Anna kembali mengingat masa lalunya, dulu ia juga dijadikan pertaruhan para lelaki. Anna merintikan air matanya ketakutan, ingatan yang tidak ingin ia ingat kembali teringat.
Semua lelaki memang bajingan. Hanya menjadikan perempuan sebagai bahan permainan mereka agar mereka senang.
" Cepat kabur! " ucap Okumura dari belakang Anna.
" Cepat! " Lanjut Okumura terburu-buru.
" Tenang, Lim akan menang. Jadi cepat kabur. "
Anna tidak perduli dengan Lim, ia memang ingin kabur diwaktu yang tepat. Dan untungnya ada seseorang yang membantunya. Anna berlari kencang untuk pergi dari Taman tersebut.
Bola dimulai dari Ham, Ham dengan cepat mendribble bola tersebut tapi terhalang oleh Lim.
Ham terus berlari kesana kemari mencari tempat kosong untuknya shooting, tapi Lim sama sekali tidak memberikan celah.
" Saya dengar-dengar kamu adalah pemain dengan kecepatan, tapi lihat sekarang kamu hanyalah seorang pecundang yang tidak bisa melewati satu orang saja. " sindir Lim kepada Ham.
Ham semakin kesal dengan pikirannya terganggu Ham langsung melakukan shooting dari jarak yang lumayan jauh tapi dengan cepat Lim langsung menangkis shootingan Ham.
Dan langsung mengambil bola tersebut, mendribble bola sampai kearah ring. Lalu melakukan dunk yang membuat Ham, Shu serta Kato terdiam.
30 menit telah berlalu.
Lim vs Ham : 30-10
Lim vs Shu : 40-10
Lim vs Kato : 50-10
Lim memenangkan pertandingan dan hanya memberikan 10 point kepada mereka.
Lim tetap berdiri tegak sedangkan Ham, Shu dan Kato sudah terkapar ditanah dengan nafas terengah-engah.
" Kemampuan kalian cuman segini, tapi berani-beraninya kalian mendekati perempuanku! Sekali lagi saya melihat kalian menggoda dia, saya akan menyebarkan video kekalahan kalian melalui media sosial! " ancam dari Lim.
" Hah video, memang kamu daritadi memvideokan pertandingan ini. Tidak kan? " tanya Shu.
" Okumura! " panggil Lim, Okumura langsung mendekati Lim dan memberikan handphonenya.
Lim memperlihatkan mereka video kekalahannya. Mereka terkejut dan langsung berlari ketakutan menjauhi Lim.
" Kerja bagus kap! " kata Okumura.
" Anna dimana? "
" Sudah pulang. "
" Hah, pulang? "
" Iya, aku menyuruhnya. "
" Berani-beraninya kamu!! " kesal Lim mendekati Okumura.
" Kap, wajah dia sudah benar-benar pucat. " jawab Okumura takut.
Lim menghela nafas panjang " Aku tahu. "
" Sudah lebih baik kita juga pulang " ajak Lim dengan nada rendah.
Keesokan harinya.
Pukul 1:30 p.m
Bel istirahat berbunyi, Lim keluar dari kelas menuju Kantin.
Tapi langkah kakinya terhenti saat ada seseorang yang memanggilnya. " Lim "
Lim menolehkan kepalanya, terlihat Maki yang sedang menyandarkan tubuhnya didinding.
Maki mendekati Lim. " Kenapa? " tanya Lim penasaran.
" Itu, terimakasih sudah mendengarkan cerita dari Ibuku. "
" Dan terimakasih tidak memberitahu siapapun. "
Lim menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal " Tidak apa-apa, itu sudah menjadi privasi kalian. "
" Besok saya akan pindah bersama Ibu kembali ke Korea, tolong beri salam kepada Anna. "
" Kenapa kamu tidak memberitahunya secara langsung? "
" Tidak berani, dan saya juga tidak ingin dia tahu kalau saya anak dari guru privatnya dulu. "
" Kamu harus berani. Lagipula itu urusanmu bukan urusan saya. "
Maki terdiam memikirkan kembali niatnya. " Kalau begitu, saya pergi dulu. " ucap Lim seraya pergi ke Kantin.
Setelah Lim membeli roti di Kantin, Lim melihat Anna sedang berbicara dengan Maki dari arah jendela kelasnya.
Pembicaraan mereka terlihat sangat serius, wajah Maki saja sampai memerah karena Anna.
Meskipun Lim yang menyuruh Maki untuk berbicara secara langsung, tapi Lim juga merasa tidak ingin Maki dekat dengan Anna.
" Menjengkelkan " jengkel Lim sambil memakan rotinya dengan kekesalan.
" Lim, kamu dipanggil Silka-sensei. Katanya disuruh ke kantornya. " Teriak Ketua Kelas kepada Lim.
Lim menaruh rotinya diatas meja dan berjalan menuju ruang guru.
" Permisi " ucap Lim sopan memasuki ruang guru.
" Lim! " panggil Silka-sensei, Lim mendekati meja Silka-sensei.
" Kenapa anda memanggil saya? " tanya Lim.
" Kamu sepertinya sudah tahu ya dari Maki kalau besok saya akan pindah."
" Iya. "
" Kamu bisa memberikan surat ini kepada Anna? "
" Kenapa orangtua dan anak sama? Meminta saya memberikannya kepada Anna, bukankah seharusnya sensei yang memberikannya kepada Anna? "
" Berbeda dengan Maki, sensei lebih penakut. Sensei tidak ingin berbicara secara langsung, jadi sensei hanya memberikan surat ini kepada Anna. "
" Kalau begitu, silahkan berikan secara langsung. "
" Tidak, Sensei tidak bisa melihat wajah Anna. "
" Taruh saja di loker sepatu Anna. "
Silka-sensei terdiam, ia tidak pernah terpikir sampai sana. Lim menundukkan kepalanya sopan dan keluar dari ruang guru.
Namun langkah kakinya terhenti saat melihat Anna sudah berdiri tepat di depan ruang guru.
Lim menatap mata Anna sesaat begitu juga dengan Anna, dan saat Anna ingin memasuki ruang guru lengan Anna digenggam oleh Lim yang membuat Anna tertahan.
" Kamu tidak apa-apa? " tanya Lim khawatir.
Anna melepaskan tangan Lim dari lengannya dengan keras. " Tidak apa-apa! " jawabnya seraya memasuki ruang guru.
••
Pukul 4:00 p.m
Bel pulang sekolah berbunyi, Lim yang sudah mengganti bajunya menjadi baju latihan.
Tapi ia akan sedikit terlambat, karena Lim harus melakukan piket terlebih dahulu.
30 menit Lim bersih-bersih kelas, akhirnya ia selesai.
Lim keluar kelas dan tidak senggaja melihat Anna yang masih di dalam kelas sambil membaca secarik kertas yang sepertinya diberikan oleh Silka-sensei.
Lim terdiam memperhatikan Anna dari luar kelas, air mata menjatuhi pipi Anna.
Ingin sekali Lim memeluk atau menjadi alasan Anna untuk kembali cerita. Tapi ia tidak bisa, Lim hanya sekedar orang yang menjengkelkan bagi Anna.
" Kap! Mari latihan kamu sudah ditungguin " teriak Okumura dari lobby.
Lim tidak lagi memperhatikan Anna, ia hanya berjalan kembali untuk latihan. Yang harus Lim fokuskan saat ini adalah menjadi tim inti basket SMA Seido.
Lim berlatih sangat keras, dimulai dari dribble, shooting, passing dan strategi. Ia sangat berpikir keras untuk strategi apa saja yang bisa ia lakukan untuk membawa tim menang.
Hirahata yang melihat Lim terlalu berlatih berlebihan langsung berteriak menggoda Lim " Dengar-dengar Lim dekat dengan seorang perempuan cantik loh. "
Seluruh anggota langsung bertanya secara bersamaan " Siapa? "
" Dia adalah Hinata dari club cheerleaders. "
" Hah yang benar kamu Lim! " kata Yuki mendekati Lim.
Lim menggeleng-gelengkan kepalanya tidak. " Tidak, tidak! "
" Itu benar, lihat ini fotonya mereka berbicara bersama ditribun. Dan juga Lim menggendong Hinata sampai UKS. " kata Hirahata.
" Berani-beraninya kamu Lim! " kata Yuki dengan perasaan iri.
" Tidak senpai, tidak seperti itu. "
" Kamu baru kelas 1 sudah mendapatkan perempuan, aku kelas 1 sama sekali tidak. " ucap Hideyoshi merendahkan diri.
Seluruh anggota langsung tertawa dan menghajar Lim secara perlahan. Mereka iri karena mereka fokus untuk latihan serta Inter-High sedangkan Lim fokus dengan perempuan.
Hirahata menepuk kedua tangannya sambil berteriak " SEMUANYA BERKUMPUL " perintah Hirahata membuat seluruh anggota berkumpul.
" Bulan depan sehabis kita ulangan mid semester dan sports day, kita akan ke Prefektur Chiba untuk melakukan pelatihan disana. Pelatihan bersama dengan sekolah-sekolah lain selama 3 hari. Setelah itu selama 3 harinya lagi kita akan melakukan pelatihan dipantai. " Kata Hirahata.
" Apa itu pelatihan musim panas? " tanya Hideyoshi.
" Tidak, pelatihan musim panas akan dilakukan selesai ulangan akhir semester pada bulan Juli. Pelatihan ini hanya sebagai undangan dari SMA Sense, dan kita juga harus berterimakasih kepada Oikawa-sensei karena sudah memberikan kesempatan ini. "
Seluruh anggota menundukkan kepalanya sambil berkata bersamaan " Terimakasih sensei! "
" Ah, tidak apa-apa! " Ucap Oikawa merasa tidak nyaman.
Lim tersenyum bahagia untuk pertama kalinya ia akan melakukan pelatihan keluar dan pertandingan melawan sekolah lain.
" Ini dia maniak basket " ledek Okumura yang melihat senyuman Lim tidak henti.
" ini pasti akan menyenangkan. " sumringah Lim.