
" Bohong. " Lim tidak percaya dengan ucapan Gi.
" Sepertinya pembicaraan cukup sampai disini, tidak ada yang perlu dijelaskan lebih detail. " kata Gi seraya berjalan meninggalkan Lim.
Lim mengerutkan dahinya merasa sangat kesal dengan dirinya sendiri, ia hampir percaya dengan perkataan Gi.
" Kap? " sapa binggung Okumura dari belakang. " Sedang apa disini? "
Okumura melangkahkan kakinya mendekati Lim yang tengah terdiam tanpa menjawab sapaan dari Okumura.
" Kap! " seru Okumura membuat lamunan Lim buyar.
" Kamu sedang apa disini? " tanya Lim tiba-tiba.
" Seharusnya aku yang bertanya, Kap sedang apa disini! "
" Ah maaf, maaf. "
" Lelaki itu tampan Kap. "
" Siapa? "
" Itu. " Okumura menunjuk tangannya kearah Gi yang tengah berdiri di depan halte bus.
" Dia jelek. "
" Dari tadi kap melihat dia terus, kamu suka dengannya kap? " canda Okumura. " Gila " jawab Lim menggelengkan kepalanya.
" Lagipula, kamu sedang apa disini bukannya jogging! " seru Lim yang baru sadar.
" He. " Okumura bepura-pura menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Oh... " Lim mengangkat salah satu alisnya dengan tatapan sinis mendekati Okumura perlahan.
" Kap, dengar dengar " Okumura ketakutan melihat tatapan Lim.
Lalu tanpa hitungan detik, Okumura langsung berlari meninggalkan Lim tanpa berpamit dan teriakan ketakutan.
" Hahaha. " tawa Lim melihat Okumura ketakutan.
Ia hanya kembali berjalan dengan pandangan tertunduk dan kedua tangan yang dimasukan ke dalam saku celana sambil memikirkan perkataan Gi tadi.
Logikanya berkata bahwa Gi jujur dengan perkataannya, tapi hatinya berkata bahwa Gi sama sekali tidak jujur.
" Siapa laki-laki itu sih! Sehebat apa dia! " Gumam Lim kesal.
Namun, langkah kakinya terhenti saat melihat Anna berada di depannya dengan membawa sebuah bekal ( obento ).
Mata Anna melebar saat melihat Lim berada di depannya.
" Ohayo, Anna. " sapa Lim dengan senyuman kecil. " Ohayo. " sahut Anna.
" Anna!! " panggil Gi dari belakang yang mengurungkan niatnya untuk menaiki bus. " Maaf, aku merepotkanmu. " ucap Gi dengan nafas tidak beraturan karena berlarian mendekati Anna.
" Oh kamu! " kaget Gi karena Lim masih berada di dekat sini.
" Lain kali tolong jangan lupa lagi, itu merepotkanku. " sinis Anna tidak suka seraya memberikan obento tersebut kepada Gi.
Gi mengambilnya dengan senyuman lebar " Terimakasih. "
Saat ini Lim berada ditengah-tengah Gi dan Anna yang berbicara bersama-sama tanpa memikirkannya.
Lim mengepalkan tangannya menahan emosi yang bergejolak dihatinya, ia ingin sekali berbicara kepada mereka bahwa dia berada disini.
Tolong jangan abaikan dia.
" Aaaa..... " teriak Lim membuat Gi serta Anna berhenti berbicara.
Tiba-tiba tanpa jeda, Lim langsung meraih lengan Anna dan membawanya pergi menjauh dari Gi.
Hati Lim terluka melihat Anna bisa berbicara bebas dengan Lelaki lain selain dirinya.
Itu memang terlihat egois, tapi begitulah sifat Lim. Ia tidak ingin orang yang disukainya menghilang atau menjauhi dirinya.
" Hei, lepaskan! " Tegas Anna yang sudah berjalan cukup jauh. " Ini sakit "
" Maaf. " ujar Lim dengan nada rendah seraya melepaskan tangannya dari lengan Anna dan memberhentikan langkah kakinya.
" Kamu kenapa sih? " kesal Anna karena Lim yang secara tiba-tiba mengenggamnya.
" Kamu bisa tidak berbicara dengan pria lain tidak di hadapanku? "
" Kamu bisa tidak jangan dekat dengan pria lain? "
" Dan kamu.... " Lim tidak bisa melanjutkan perkataannya, ia memberantakkan rambutnya merasa bodoh karena cemburu dengan hal seperti itu.
" Apa maksud kamu aku tidak mengerti. " Anna tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Lim.
" Tidak lupakan saja! "
Sejujurnya, Lim ingin bertanya kepada Anna tentang ucapan Gi. Ia ingin tahu apa maksudnya Gi berkata seperti itu.
Tapi, kalau ucapan Gi ternyata benar itu akan menyulitkan Lim dan membuat hati Lim tidak bisa menerima kenyataan tersebut.
" Tch " desis Lim dengan ekspresi wajah mengeras.
Anna yang khawatir dengan Lim mendekatinya dan bertanya " Kamu baik-baik saja? "
" Menjauh. "
" Menjauh dariku!!! " bentak Lim tanpa sadar.
Mendengar bentakan Lim, Anna memundurkan langkah kakinya dan berjalan menjauhi Lim.
Saat ini perasaan Lim tidak bisa dijelaskan, sedih, kesal, marah dan kecewa menjadi satu.
Bodohnya Lim karena ingin mendapatkan Anna seutuhnya. Namun, kenyataan membuat Lim menyadari bahwa dia dan Anna tidak akan pernah bersatu.
Jika mereka bersatu pun, salah satu akan terluka.
Entah itu Lim atau Anna, ataupun keduanya akan sama-sama terluka.
••
Mereka membawa banyak perhiasan kepada Anna, dan Hanna berkata bahwa keluarga Tanaka akan mengadakan acara pertunangan antara Ryuzaki dan Anna.
" Tunggu sebentar pak.. " Cegah Hanna yang tidak ingin menikahkan putrinya kepada lelaki tidak tahu malu.
" Kenapa? " tanya Tanaka kebinggungan.
" Anna tidak pernah setuju menjadi tunangan Ryuzaki, bahkan waktu itu Ryuzaki hampir ingin menampar saya. " jawab Hanna.
" Itu tidak mungkin.. "
" Mungkin pak, lihat saja saat ini Ryuzaki tidak tinggal dirumah bersama kami. "
" Tapi Ryuzaki berkata bahwa Anna telah menyetujui pertunangan tersebut. "
" Anna katakan kepada mereka! " perintah Hanna kepada Anna.
Kedua tangan Anna terlipat dibawah, ia takut untuk berkata. Tatapan Tanaka terlihat seperti tatapan seseorang yang membuat Anna terluka.
Untuk menatap mata Tanaka saja Anna sudah bergetar ketakutan.
" Iya, aku tidak pernah.. "
" Bilang bahwa aku... "
" Menyetujui... " ucap Anna perlahan-lahan.
" Kenapa kamu tidak menyetujui? Bukankah ini bagus untuk kedua perusahaan kita? " Tanaka kebinggungan.
" Mungkin itu bagus untuk kedua perusahaan, tapi tidak bagus untuk mental anak saya. " Tegas Hanna.
" Jadi maaf, semua perhiasan atau uang ini saya tolak. " lanjut Hanna.
" Kalau begitu, kami permisi. " kata Ibu Ryuzaki seraya berdiri untuk keluar rumah Anna sambil membawa perhiasan serta uangnya.
Kaki Anna bergetar ketakutan, matanya sudah berkaca-kaca karena takut dengan tatapan Tanaka.
Ia terjatuh di lantai dengan seluruh tubuh bergetar. " Aku takut, aku takut. " teriak Anna.
Hanna yang khawatir langsung mendekati Anna dan memeluk tubuhnya dengan erat.
" Tidak apa-apa, ada Ibu disini. " Hanna menenangkan Anna.
Keesokan harinya..
Anna diperintahkan oleh Ibunya untuk bertanya kepada Ryuzaki soal permasalahan kemarin, meskipun Anna takut tapi ia harus memiliki keberanian.
Karena jika permasalahan ini tidak selesai, kedua keluarga akan bertengkar hebat.
" Bicara apa? " tanya Ryuzaki mendekati Anna yang berada di Taman belakang sekolah.
" Kenapa kamu berbicara seperti itu kepada Ayahmu? " Anna tidak mengerti.
" Karena aku ingin menjadi pewaris selanjutnya dari Ayahku. " tukas Ryuzaki. " Tapi kamu tidak perlu berkata bahwa aku akan menjadi tunanganmu, kita sudah sepakat untuk tidak bertunangan! " seru Anna dengan berani.
" Tidak, Ayahku ingin aku bertunangan dengan kamu. "
" Kalau begitu, cari cara selain bertunangan denganku! "
" Aku tidak bisa, bertunangan dengan kamu akan membuat penaikan keuangan perusahaan meningkat. "
" Jadi, kamu ingin bertunangan denganku hanya karena sebuah perusahaan? "
" Betul. "
" Menjijikan.. " sinis Anna seraya berjalan meninggalkan Ryuzaki.
Tapi Ryuzaki menahan Anna untuk tidak pergi, saat Anna berjalan kekanan Ryuzaki mengikuti. Dan saat Anna berjalan kekiri Ryuzaki pun mengikuti.
" Minggir! " kesal Anna.
" Tidak sampai kamu berkata kepada Ayahku bahwa kamu setuju. "
" Aku tidak akan setuju. "
" Kamu tidak punya pilihan, atau... " Ryuzaki berjalan perlahan mendekati Anna. " Aku akan membongkar seluruh masa lalu kamu. " bisiknya tepat ditelinga Anna.
Mata Anna melebar terkejut dengan ucapan Ryuzaki.
" Hah, kamu memang tahu masa laluku? "
" Aku tahu, soal kamu bersama lelaki lain di ranjang.. "
Tangan Anna terkepal, semua kenangan kembali teringat olehnya.
Kenangan buruk, pahit, menjijikannya berada dikepala Anna saat ini.
Nafasnya mulai sesak karena kenangan menyakitkan itu, matanya berkaca-kaca mengingat seluruh kenangan buruknya.
" Jangan berlebihan! " Ryuzaki dengan tatapan tajam.
Ia mencengkram pipi Anna kuat " Kamu tinggal bilang saja kalau kamu ingin menjadi tunanganku dan mungkin aku tidak akan bilang kepada seluruh sekolah. "
" Haha. " Anna tidak takut. Ia menepis tangan Ryuzaki dari pipinya sambil berkata " Katakan saja kalau kamu berani, berarti kamu tidak akan menjadi pewaris selanjutnya. Aku tidak takut. "
Ryuzaki menyeringai kesal dan saat ia ingin menampar Anna, seseorang menahan lengannya agar tidak menampar Anna.
Dia adalah Lim.
" Berani-beraninya kamu menampar perempuan. " ucap dingin Lim.
Lim kesal karena sudah dua kali Ryuzaki ingin menampar Anna, ia mencengkram lengan Ryuzaki dengan sangat kencang membuat Ryuzaki meringis kesakitan.
" Jangan sentuh dia aku bilang atau kamu mati! " Ancam Lim.
Namun, tiba-tiba saja Anna terjatuh di tanah tanpa sadarkan diri. Lim menolehkan kepalanya kearah Anna dan langsung melepaskan cengkraman dari tangan Ryuzaki.
" Anna, kamu kenapa? " khawatir Lim menenukkan kakinya.
" Anna! "
" Anna! "