Love Captain Handsome

Love Captain Handsome
Episode spesial 3



" Aku hanya ingin memberitahu kamu, wajahmu sangat pucat. " kata Lim.


" Aku tidak apa-apa. " jawab Anna seraya kembali berlari mengelilingi lapangan yang diikuti oleh Lim dari belakang.


" Jangan sakit hati!! " teriak Okumura dari jendela kelas.


Lim menolehkan kepalanya kearah Okumura dan memberi sebuah isyarat bahwa Lim akan memenggal kepalanya.


Pandangan Lim terhenti saat melihat seorang lelaki yang berdiri dipinggir lapangan sambil memperhatikan kearah Lim serta Anna.


" Sawamura? " gumam Lim yang melihat Sawamura mengumpat dari balik dinding.


20 menit kemudian.


Lari mengelilingi lapangan telah selesai, keringat Lim sudah mengucur diwajahnya seperti ia ingin pemanasan.


Lim melepas kancing baju putihnya di tengah lapangan merasa sangat panas karena sudah berlari mengelilingi lapangan sebanyak 10 putaran.


Ia duduk disebuah kursi kecil dan menghela nafas panjang.


" Kenapa kamu membuka baju? Kamu gila? " kesal Anna yang memejamkan matanya.


Lim tertawa kecil " Tenang, aku masih memakai kaos hitam. " jawab Lim.


Anna membuka matanya perlahan, dan terlihat Lim dengan kaos hitamnya.


" Aku pergi. " ucap Anna sambil melangkahkan kaki menuju kelasnya.


" Tunggu... " kata Lim menahan Anna.


" Kamu tidak lelah? Lebih baik beristirahat terlebih dahulu sebelum memasuki kelas. " lanjut Lim.


" Tidak apa-apa, aku ingin belajar. " ujar Anna dengan langkah kakinya menuju kelas.


" Ingin belajar? Aku ingin bermain basket saja. " gumam Lim.


" Lim! " teriak Okumura mendekati Lim dengan membawa sebuah botol minum dingin.


" Untuk saya? " tanya Lim. " Lim, tidak usah informal! " Seru Okumura.


" Tapi kamu dan saya baru saja kenal. " kata Lim.


" Lalu kenapa memangnya? "


Lim berpikir sejenak. " Oke "


Lalu Okumura merangkul Lim sambil memberikan botol minumnya kepada Lim.


Lim meminum botol tersebut dan kembali merasa sangat segar. " Anna mungkin merasa sangat lelah juga, apa aku berikan minum untuk dia? "


" Berikan saja, mungkin dia akan merasa terharu. "


Dalam khayalan Lim.


" Anna, aku memberikan minum ini untuk kamu. " kata Lim. Anna mengambil minum tersebut dengan wajah berseri-seri " Terimakasih Lim, kamu sungguh sangat baik dan perhatian. Aku suka denganmu! "


Okumura menepuk tangannya di depan wajah Lim membuat khayalan Lim buyar.


" Jangan bermimpi dulu. "


" Ah panas! " keluh Lim sambil berjalan memasuki kelas tidak ingin mendengar ucapan Okumura.


••


11:20.


Bel berbunyi tanda istirahat.


Lim dengan terburu-buru berjalan ke kelas Anna, terlihat Anna yang sedang merapihkan buku dimeja guru.


Lim juga sudah membawa botol minum ditangannya, ia akan memberikan minum itu kepada Anna bagaimana pun juga.


Anna keluar dari kelas dengan membawa buku, dan saat Lim ingin memberikan minum itu kepada Anna.


Ia kembali teringat saat pagi tadi Anna membentaknya yang membuat Lim mengurungkan kembali niatnya.


Lim menelan ludah tidak sanggup memberikan minum kepada Anna, Anna juga sudah berjalan pergi menuju ruang guru.


" Kamu tidak apa-apa? " tanya Sawamura dari belakang.


Lim mengepalkan tangannya merasa kesal karena menjadi seorang pengcut. " Tidak. " jawab Lim.


Lim mengurungkan niatnya untuk memberikan botol minum secara langsung, ia hanya membuang botol minum tersebut ke tong sampah dan berjalan mencari udara segar.


Ia memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana dengan pandangan tertunduk. " Gimana? " tanya Okumura dari kelas mendekati Lim.


" Kamu memberikan minumnya? " Lanjut Okumura.


" Tidak. " jawab Lim cuek. " Aku ingin berjalan-jalan sendirian. " lanjut Lim.


Okumura memberhentikan langkah kakinya membiarkan Lim berjalan sendirian.


Lim berjalan menuju atap sekolah, di atap sekolah angin berhembus kencang dengan beberapa bunga yang berterbangan.


Lim mengangkat wajahnya keatas melihat ke arah langit dengan bunga yang berjatuhan di atas kepalanya " Musim semi ya? " gumamnya.


Ia menolehkan kepalanya kearah kiri, melihat seorang perempuan yang berdiri dengan kepala terangkat keatas.


Perempuan itu Anna.


Lim terus menatap lekat tanpa Anna tahu. " Kamu cantik " Gumam Lim lagi dengan senyuman kecil.


Anna menolehkan pandangannya kearah Lim, Lim yang ketahuan sedang memperhatikan Anna hanya berpura-pura bersiul dengan mata berkeliling.


Anna tidak memperdulikan Lim, ia hanya keluar dari atap sekolah. Lim ingin menahannya lebih lama, tapi ia tidak bisa.


Lim tahu bahwa ada batas yang tidak bisa ia lewati begitu saja. Ada sebuah penghalang yang membuat Lim tidak bisa mendekati Anna.


Sebuah penghalang yang sangat susah untuk dirobohkan, butuh beberapa usaha untuk merobohkan penghalang itu.


Dan Lim akan terus mencobanya sampai penghalang itu roboh.


••


Bel berbunyi pulang sekolah, Lim berjalan ke menuju lapangan basket. Club akan dimulai 30 menit setelah pulang sekolah, dan Lim langsung bersiap untuk latihan lebih awal dibandingkan anggota lainnya.


Lim berganti baju menjadi baju kaos untuk latihan, mengganti sepatu dan setelah itu melakukan stretching ringan.


Ia ingin berlatih three-points, badannya selalu tegang jika ia melakukan three-points.


Maka dari itu, Lim akan berlatih keras untuk bisa melakukan three-point.


Sampai 20 kali percobaan, 15 tidak masuk dan 5 masuk kedalam ring.


" Badanmu tegang " kata Hirahata memberitahu kepada Lim. Lim menghela nafas panjang merasa sangat lelah untuk bisa menyimbangkan badan saat melakukan three-poins


Hirahata mendekati Lim dan berbisik " Kamu tidak seimbang begini apa karena seorang cewek? Aku dengar-dengar kamu sedang mendekati seorang cewek? "


" Siapa ceweknya? Beritahu aku! Apa Hinata yang baru memasuki tim cheer leadears? " lanjut Hirahat.


Lim menggeleng-gelengkan kepalanya tidak, Hirahata hanya tertawa, Ia menepuk-nepuk punggung Lim secara perlahan dan berkata " Jangan pikirkan seorang cewek! Kamu tahu Inter-High sebentar lagi? Apa kamu tidak ingin berlatih serius untuk masuk tim inti? "


" Tapi senpai, badan saya tidak seimbang dan kaku saat melakukan three-points bukan karena seorang cewek. " kata Lim membuat Hirahata terdiam.


" Lalu? " tanya Hirahata dengan nada rendah.


" Dari SMP memang saat saya melakukan three-point saya selalu tegang, dan saya tidak tahu bagian tubuh mana yang salah. Apa dari cara saya melempar atau cara saya melompatnya? Aku tidak tahu. " jelas Lim.


" Hah, kira saya tentang cewek. " Kecewa Hirahata.


" Coba perlihatkan shoot three-pointmu " lanjut Hirahat yang membuat Lim langsung mengambil bola basket dan melakukan shooting three-points.


Hirahata memperhatikan tubuh Lim, dan benar dugaan Hirahata. Tubuh Lim salah dibagiannya saat melemparnya, tangannya tidak melakukan pelepasan secara baik.


Hirahata mendekati Lim dan memberitahu kesalahan Lim, ia juga memberi sebuah saran kepada Lim agar lebih baik lagi.


30 menit kemudian.


Lim sudah melakukan pelepasan dengan baik, ia hanya tinggal menyempurnakannya.


Lim duduk sebentar untuk beristirahat karena selama 30 menit tadi ia tidak ada hentinya melakukan shooting three-points


Namun, club basket sudah dimulai. Dan Lim diharuskan untuk mengikuti kegiatannya juga.


" Kenapa mukamu terlihat sangat lelah? " tanya Okumura disamping Lim. " Aku berlatih three-point selama 30 menit. " jawab Lim.


" Dan sekarang harus melakukan sprint 20 putaran? Sial sekali kamu. " ledek Okumura membuat Lim merasa jengkel.


" Selesai kalian sprint 20 putaran, akan dilakukan one by one. Setiap kelas 1 dengan kelas 1, kelas 2 dengan kelas 2 dan kelas 3 dengan kelas 3. Lalu setelah itu bergantian kelas 1 dengan kelas 2 dan 3. " jelas Hirahata.


10 menit selesai sprint 20 putaran.


Istirahat selama 1 menit untuk minum, nafas Lim juga sudah sangat terengah-engah. Ia terus meminum satu botol minum sampai habis.


" Ah segar " kata Lim.


" Babak pertama, putaran pertama antara Lim dengan Kuramochi, putaran kedua Hideyoshi dan Kunimi. Dan putaran ketiga Hirahata dan Yuki. "


" Babak kedua, putaran pertama Okumura dan Sawamura, putaran kedua Hadji dan Hayi. Putaran ketiga Kazuma dan Kurama. "


" Babak ketiga akan dibacakan setelah babak kedua. " Jelas dari manajer Kaori.


Lim menelan ludahnya, babak pertama ia akan bersama dengan Kuramochi.


Peluit berbunyi, istirahat berakhir.


" Permainan hanya selama 5 menit, tapi siapapun yang mencetak gol pertama. Dia yang menang " Kata Hirahata.


" Lim dan Kuramochi harap memasuki lapangan. " perintah Kaori.


Lim dan Kuramochi memasuki lapangan dan saling berhadapan, Hirahata yang menjadi seorang wasit melemparkan bola setinggi mungkin.


Dengan cepat Lim segera mengambil dari Kuramochi dan mendribble, tapi dengan cepat juga Kuramochi menahan Lim.


Tapi bagi Lim, Kuramochi terlalu lambat. Lim dengan cepat melewati Kuramochi dan melakukan dunk.


Peluit berbunyi " Stop, pemenang Lim. "


" Selanjutnya Hideyoshi dan Kunimi. "


Kedua orang tersebut memasuki lapangan, bola dilemparkan. Dan seperti biasa, Hideyoshi dengan cepat memenangkan pertandingan itu.


" Selanjutnya Hirahata dan Yuki. "


Mereka memasuki lapangan, bola dilemparkan oleh Kurama. Hirahata mendapatkan bola, tapi tidak dengan kecepatan Hirahata melawan Yuki.


Dengan tipuan yang membuat lawan merasa terpojok, dan Hirahata berhasil mencetak gol sambil melakukan dunk.


" Jadi ini kapten kita, benar-benar licik. " pikir Lim.


" Selanjutnya Okumura dan Sawamura. "


Okumura dengan tatapan tidak seperti biasanya berjalan memasuki lapangan dengan berhadapan dengan Sawamura.


Bola dilemparkan dengan cepat Okumura mengambil, saat Okumura ingin melakukan three points tertahan oleh Sawamura.


" Bukankah kamu tidak bisa melakukan shooting inside? " bisik Sawamura dalam permainan.


Okumura terus ingin melakukan shooting outside, tapi tidak bisa. Ketika ia ingin melakukan shooting inside, pikiran saat SMP kembali terganggu dan membuat keseimbangannya goyah.


Lim memperhatikan permainan Okumura yang berbeda, ia juga mengingat saat pertandingan melawan kelas 2.


Okumura hanya mencetak gol outside, tidak berani melakukan inside. Saat ia berada diinside, Okumura selalu membaginya kembali kearah Lim.


Karena keseimbangan Okumura goyah, dengan cepat Sawamura mensteal dan melakukan lay-up.


" Berhenti, selanjutnya. " kata Hirahata.


Okumura berjalan keluar lapangan dengan pandangan tertunduk.


Setelah beberapa menit selesai game antara kelas 1,2 dan 3. Dan yang menjuarai pertama pertandingan ini adalah Hirahata, kedua Lim dan ketiga Hideyoshi.


Lim melihat sekitar tidak ada Okumura, ia berjalan keluar mencari Okumura dan terlihat Okumura yang sedang duduk ditribun lapangan sekolah dengan pandangan tertunduk.


Lim mendekati Okumura. " Pakai ini. " kata Lim memberikan sebuah handuk kecil kepada Okumura.


Okumura hanya terdiam, Lim mendesis kesal. Ia hanya melemparkan handuk itu kearah kepala Okumura dan duduk berdampingan.


" Jadi sejak kapan? " tanya Lim.


" Aku ingin berhenti bermain basket jika aku tidak bisa melawan ketakutan ini. Dan sampai sekarang, ketakutannya tidak menghilang. Memang benar aku seharusnya berhenti bermain basket. " Ocehan dari Okumura yang membuat Lim marah dan menarik kerah baju Okumura dengan tatapan tajam.


" Berhenti? Hei, aku tahu kamu menyukai basket dari siapapun. Bukankah terlihat sangat pengecut? Seharusnya kamu bisa melawan sedikit demi sedikit! Tidak hanya mengeluh saja! " bentak Lim kepada Okumura.


" Tapi sampai kapan? Aku sudah berusaha! " jawab Okumura.


" Sampai kamu sudah tidak bisa berusaha lagi! " seru Lim.


Okumura tercengang mendengar ucapan Lim, ia tidak bisa menjawab. Lim melepaskan tangannya dari kerah baju Okumura dan memberantakkan rambutnya itu.


" Kalau memang takut shooting inside, bukankah lebih baik meningkatkan lagi kemampuan shooting outside. Lagipula, aku lemah dioutside. Jadi aku membiarkan kamu terus yang akan melakukan shooting outside. Kita ini tim, jadi kita harus bekerja sama. Dan jika salah satu teman merasa putus asa, tim harus membantunya bangkit kembali. Bukankah seperti itu? "


Okumura mengepalkan tangannya merasa menjadi seorang pengecut.


" Tetap semangat! " Seru Lim.


" Terimakasih, kap. " Kata Okumura dengan nada rendah.


Lim yang mendengar ucapan Okumura langsung tercengang. " Apa maksudnya? " tanya Lim tidak mengerti.


" Aku bilang kap, kapten. "


" Hei, aku bukan kapten! "


" Tapi nanti kamu bakal menjadi kapten. "


" Tidak itu mustahil. "


" Kenapa? "


" Aku hanya seorang maniak basket yang hanya memikirkan diri sendiri, bagaimana bisa aku menjadi seorang kapten? "


" Hahaha, memikirkan diri sendiri? Lalu kenapa kamu menyemangatiku? Bukankah untuk tim? "


Lim menundukkan pandangannya, kata-kata dari temannya saat SMP membuatnya kembali teringat.


" Kamu itu bukan kapten! "


" Kamu itu hanya mementingkan diri sendiri "


" Kami tidak bisa mengikuti alur permainan kamu. "


" Kamu hanya seorang yang suka memerintah, untuk apa menjadi seorang kapten? "


Okumura menepuk pundak Lim yang membuat lamunan Lim buyar. " Tenang kap, aku percaya kamu akan menjadi kapten yang dapat diandalkan. "


" Gay. "


" Hah. "


" Gay. "


" Kap!! "


Lim tersenyum kecil mendengar ucapan Okumura.


" Kap, bukankah itu Anna? " tanya Okumura sambil menunjuk kearah perempuan yang sedang berjalan keluar gerbang.


Lim melihat perempuan itu dan benar, dia adalah Anna.


Dengan kecepatan penuh Lim berlari mengikuti Anna.


" Permisi. " ujar Lim kepada Anna.


Anna hanya terdiam tidak menjawab ucapan dari Lim.


" Boleh aku menitip sesuatu? " tanya Lim berpura-pura.


" Rumah kita searah, tapi melihat kamu berjalanan sendirian malam seperti ini. Apa tidak takut? " lanjut Lim.


Anna masih terdiam dalam sepanjang jalan, sekolah pun sudah semakin jauh. Lim lupa tidak membawa tasnya di lapangan basket.


" Kalau begitu, biarkan aku mengikutimu saja dari belakang. "


Anna terdiam, ia ingin membalikkan badannya kearah Lim. Namun tertahan saat ada seorang pria berusia sekitar 30 tahun yang memegang pundaknya.


Bau alkohol sangat menyengat dari badan pria tersebut. " Maaf, bisa anda lepaskan? " Tegas Anna.


Pria itu sama sekali tidak melepaskan tangannya dari pundak Anna, dan saat pria itu ingin memegang wajah Anna.


Tangan Anna bergetar ketakutan, matanya sudah berkaca-kaca. Kenangan masa lalunya kembali ia ingat membuat hatinya terluka.


Tapi, Lim dengan cepat menangkis tangan pria itu agar tidak memegang wajah Anna dan menggengam jemari Anna agar Anna tidak ketakutan.


" Jangan pegang-pegang, tangan anda kotor! " Seru Lim dengan tatapan serius.