Love Captain Handsome

Love Captain Handsome
Episode spesial 35



" Maksud Kaori-senpai? " tanya Lim tidak mengerti.


" Maksud aku, dia juga menyukai kamu. " jawab Kaori.


Lim tersenyum setengah sambil berkata " Tidak mungkin. "


" Kamu tidak percaya? "


" Aku sudah menanyakan tapi dia selalu terdiam "


Kaori tertawa kecil " Kamu tidak tahu perempuan, perempuan tidak akan pernah berbicara langsung kepada kamu. Tapi dia menunjukan sifatnya dan cara tatapan dia kepada kamu. "


" Benarkah? "


" Aku ingin bertanya kepada kamu, apakah kamu serius menyukai Anna dan benar-benar ingin mendapatkan hatinya? Jangan seperti lelaki lain yang hanya datang lalu pergi. "


" HAHAHAHA. " tawa Lim dengan sangat kencang.


" Kenapa kamu tertawa? "


" Tidak hanya lucu saja berbicara dengan Kaori-senpai sangat menyenangkan. Bolehkah lain kali aku bercerita kepada Kaori-senpai? " pinta Lim.


" Kembalikan bonekaku terlebih dahulu. "


Lim melihat kearah tangannya, ia lupa menaruh boneka Kaori.


" Kamu menghilangkannya? " Duga Kaori yang melihat mata Lim sedang mencari kesana-kemari.


" Sepertinya. " ucap Lim dengan nada rendah.


Kaori yang kesal langsung mencubit perut Lim sangat kencang, dan Lim hanya meringis kesakitan.


" Kembalikan! " kesal Lim.


Namun tidak lama kemudian, Anna berlari tergopoh-gopoh menuju Lim serta Kaori.


" Ini bonekamu... Hoshh...Hoshh.. " Kata Anna yang mengatur nafasnya karena lelah telah berlarian cukup lama.


Kaori memberhentikan tangannya diperut Lim dan Lim hanya terdiam sambil memperhatikan Anna.


Anna datang diwaktu yang salah. " Maaf, aku menganggu kalian ya? " tanya Anna tidak nyaman karena melihat Lim yang sedang bersama dengan Kaori.


Kaori mengedipkan mata secara cepat dan langsung melepaskan tangannya dari perut saat melihat Anna yang tengah memperhatikannya.


" Tidak, ini tidak seperti yang kamu lihat. " ujar Kaori.


" Aku ingin mengembalikan ini ke kamu. " ucap Anna seraya memberikan sebuah boneka kepada Lim.


" Bonekaku! " seru Kaori.


Mata Anna melebar, ia kira bahwa boneka ini milik Lim. Tapi ternyata bukan.


Kaori segera mengambil boneka tersebut dan mengelus bonekanya. " Untung kamu tidak kenapa-kenapa. "


" Kalau begitu, aku pergi dulu. " Anna melangkahkan kakinya keluar dari sekolah.


" Tunggu! " cegah Lim menahan lengan Anna.


Perasaan Anna kini tidak bisa dijelaskan, hatinya terasa sangat sakit saat melihat Lim bersama dengan perempuan lain.


Dan yang terpenting adalah boneka itu.


Anna sudah terlalu percaya diri bahwa boneka ini akan diberikan kepadanya.


" Maaf, aku ada urusan. " tolak Anna tanpa menatap kearah Lim dan melepaskan tangan Lim dari lengannya.


" Anna. " panggil Gi dari jauh yang membuat Lim tidak bisa menggapai Anna lagi.


Anna melangkahkan kakinya meninggalkan Lim dan Kaori dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan.


" Kamu kenapa tiba-tiba lari? " tanya Gi kebinggungan.


" Maaf. " jawab Anna dengan nada rendah.


" Lim? " sapa Kaori yang membuat lamunan Lim buyar.


" Maaf Kaori-senpai, sepertinya hari ini aku tidak bisa berlatih. Tolong katakan kepada Coach, hari ini aku ada check up. " jelas Lim dengan berjalan perlahan.


7:00 p.m


Lim keluar dari rumahnya dengan pakaian yang sangat rapih untuk segera pergi menuju Rumah sakit, tapi saat keluar Lim tidak sengaja melihat seorang lelaki yang berdiri di depan rumah Anna.


Lelaki itu adalah lelaki yang ia lihat saat pulang sekolah.


Dia adalah Gi.


Tidak butuh waktu yang lama, Anna keluar dengan baju panjang serta switer putih yang ia pakai.


Anna berjalan keluar bersama dengan Gi, mereka pergi ke suatu tempat yang diikuti oleh Lim.


Dan tempat itu adalah sebuah Toko Buku dekat SMA Seido.


Diam-diam, Lim mengikuti Anna serta Gi dari belakang. Ia juga selalu mengumpat saat Anna hampir ingin mengetahuinya.


Anna merasa diikuti oleh seseorang yang membuat dirinya tidak nyaman, Anna meminta izin kepada Gi bahwa ia ingin ke kamar mandi terlebih dahulu.


Tapi Anna berjalan tidak menuju kearah kamar mandi, melainkan kearah Lim yang sedang mengumpat di balik rak dengan wajah yang tertutupi oleh buku.


" Sedang apa kamu disini? " tanya sinis Anna.


Lim mengigit bawah bibirnya, penyamarannya diketahui oleh Anna.


" Aku sedang mencari buku. " Lim mencari alasan.


" Buku? Untuk apa? "


" Untuk..... " pikir Lim sesaat.


" Edward Lim? " panggil suara perempuan dari arah belakang Lim.


Seorang perempuan cantik, putih, tinggi dan rambut yang panjang.


" Apa kabar? " antusiasnya mendekati Lim.


" Yuna-senpai? " kaget Lim karena mengetahui Kakak kelasnya saat SMP berada disini.


" Kamu sedang apa? Sudah lama tidak bertemu. "


Lagi dan lagi Anna melihat seorang perempuan yang mendekati Lim membuat suasana hatinya berubah menjadi sangat buruk.


" Aku pergi dulu. " Anna dengan kesal.


" Anna! " tahan Lim dengan memegang lengan Anna kembali.


Anna yang kesal langsung melepaskan tangan Lim dari lengannya dengan keras. " Jangan sentuh aku! "



Perkataan Anna membuat seluruh pembeli di dalam Toko tersebut menoleh kearahnya.


Ia hanya berjalan keluar dari Toko Buku tersebut dengan wajah kesalnya.


" Maaf senpai, saya harus pergi dulu. " Lim yang berjalan mengikuti Anna.


Lim terus berteriak memanggil Anna, tapi Anna sama sekali tidak menjawab. Ia terus berjalan tanpa memperdulikan suara Lim.


Sampai akhirnya, Lim memegang jemari Anna yang membuat Anna tidak bisa berjalan dan hanya terus dipegang erat oleh Lim.


" Dengarkan aku. " Tahan Lim tidak ingin Anna berjalan lebih jauh lagi.


" Lepaskan, jika ada siswa atau siswi dari sekolah kita yang melihat. Itu akan merepotkan. "


" Aku tidak perduli. "


" Tapi aku perduli! "


" Kalau begitu biarkan orang-orang membicarakan aku yang dicampakan oleh Anna. "


" Dicampakkan? " desah Anna. " Kamu mempunyai banyak perempuan, kenapa harus merasa aku mencampakkan kamu? "


" Aku punya banyak perempuan? "


" Iya kamu disukai oleh Hinata, Kakak kelas kemarin dan perempuan tadi. "


Lim tertawa terbahak-bahak karena lucu melihat Anna yang salah paham antara mereka semua.


" Kalau mereka menyukaiku aku tidak perduli, aku hanya menyukaimu saja. "


" Dan lagi, apa kamu cemburu? " tanya Lim seraya mendekatkan wajahnya kearah wajah Anna.


Mendengar perkataan manis Lim membuat perasaan Anna menjadi terombang-ambing, ia tidak tahu apa perasaan ini.


Tapi saat mendengar perkataan manis itu, hatinya sangat senang.


" Tidak. " kata Lim semakin mendekatkan wajahnya.


Anna tidak boleh terpancing dengan perasaan ini, meskipun ia bahagia sesaat. Tapi kesedihan akan mendatanginya lagi.


Apalagi, masa lalunya yang sampai kapanpun tidak akan bisa Anna lupakan.


Sesuatu yang menyakitkan akan sulit untuk dilupakan, tapi suatu kebahagiaan hanya sementara dan setelah itu akan terlupakan oleh luka yang datang.


" Tolong lepaskan, pacarku bisa marah " ucap Anna asal agar Lim melepaskannya.


Mata Lim melebar mendengar kata pacar dari bibir Anna.


" Hah, pacar? " Lim tidak percaya.


" Iya, kamu bisa membuatku bertengkar dengan dia. "


" Siapa pacar kamu? "


" Anna. " Panggil Gi dengan nafas tersengal karena mencari Anna kesana-kemari.


" Dia pacarku. " jawab Anna.


Lim menolehkan pandangannya kearah Gi, Lim diberikan suatu kenyataan yang tidak ingin ia tahu.


Selama ini Anna tidak pernah berbicara bahwa ia memiliki pacar, tentang Ryuzaki yang menjadi tunangannya pun Anna menolak dengan keras.


Tapi kali ini berbeda, Anna menganggap Gi sebagai pacar.


Meskipun Lim tahu bahwa itu hanya kebohongan, hatinya tetap sakit saat mendengar itu.


Lim menyeringai " Kamu bohong. " ujarnya seraya melepaskan tangannya dari jemari Anna.


" Aku jujur. "


Tanpa berpamit kepada Anna, Lim berjalan cepat dengan pandangan tertunduk.


Hampir saja Lim ingin menangis di hadapan Anna.


" Kamu kemana saja? " tanya Gi penasaran mendekati Anna.


" Maaf, tadi aku tidak enak badan. Jadi aku pergi duluan. "


" Lalu, dia siapa? " Gi yang penasaran karena tadi melihat seorang lelaki yang menggenggam jemari Anna.


" Ah, dia temanku. Tadinya ia ingin mengantarku, tapi tidak jadi karena kamu sudah datang. "


" Kalau begitu mari kita pulang. " Ajak Gi seraya memapah Anna.


••


Beberapa hari kemudian.


Dalam 3 hari, Lim tidak mengajak berbicara Anna. Ia juga tidak menatap Anna sama sekali.


Anna pun juga sama, ia hanya menutup tirai jendela kelasnya agar tidak melihat Lim yang selalu berada di lapangan outdoor.


Meskipun hanya dalam 3 hari Lim tidak berbicara, tanpa berbicara dengan Anna membuat ia merasa frustasi.


Tidak berada dekat dengan Anna dalam 3 hari juga membuatnya sangat tertekan.


Dan pada akhirnya, saat pulang sekolah.


Ketika seluruh siswa-siswi sudah pulang dan tinggal Anna serta Lim saja berada di lobby.


Lim menahan tangannya di depan dada Anna yang berjalan di sampingnya.


Anna menahan tangan Lim agar tidak menyentuhnya sambil berkata kaget " APA-APAAN KAMU INI! "



" Berhenti sebentar, aku ingin berbicara. "


" Berbicara tentang apa? Tidak ada yang perlu dibicarakan bukan? "


" Ada, tentang kamu dan aku. "


" Kamu dan aku? "


" Iya jadi tolong dengarkan aku. "


" Tidak ada yang perlu aku dengarkan. "


" Kenapa, kenapa kamu menolak? " kesal Lim.


" Bukankah kamu yang meminta untuk aku menjauhi kamu, sekarang aku menjauhi kamu. Puas? "


" Aku tarik kembali kata-kataku, aku tidak bisa berada jauh dengan kamu. "


" Aku tidak perduli! " seru Anna berjalan tanpa memikirkan Lim.


Dengan cepat, Lim langsung menarik Anna ke dalam pelukannya.


" Tolong dengarkan aku sebentar. " bisik Lim.


Anna terdiam, ia membiarkan Lim untuk berbicara sebentar.


" Aku tahu bahwa lelaki yang kemarin bukanlah pacar kamu, kamu tidak pandai untuk berbohong. Jadi, aku akan berkata seperti ini. " ucap Lim terhenti.


Lim menelan ludahnya merasa sangat canggung untuk berkata secara langsung meskipun ia sudah mempersiapkan hal ini.


" Kamu begitu istimewa, setidaknya bagiku. Dan aku ingin menjadi soulmate-mu. " lanjut Lim dengan pipi yang memerah.


" Soulmate? " Anna mendorong bahu Lim untuk menjauh darinya.


Lim mengangguk cepat. " Apa itu soulmate? " tanya Anna tidak mengerti.


" Itu. " jawab Lim terbata-bata memikirkan perkataan yang jelas untuk memberi penjelasan kepada Anna.


" It's a-well, it's like a best friend but more. "


" It's the one person in the world who knows you better than anyone else. "


" Someone who makes you a better person. "


" Actually, they don't make you a better person, you do that yourself. "


" Because they inspire you "


" A soulmate is someone who you carry with you forever. "


" It's the one person who knew you and accepted you and believe in you before anyone else did. "


" And no matter what happens you'll always love them "


" Nothing could ever change that. " Terang Lim.


Mendengar perkataan Lim membuat mata Anna berkaca-kaca, ia percaya dengan apa yang dikatakan oleh Lim.


Hanya saja apakah masih ada orang seperti itu di dunia ini.


" Maaf, sepertinya aku banyak bicara. Apa kamu mengerti apa yang aku bicarakan? Aku hanya tidak bisa menjelaskannya lewat bahasa Jepang. " lanjut Lim dengan menatap Anna.


" Anna kamu kenapa? " tanya Lim dengan khawatir karena melihat mata Anna yang berkaca-kaca.


" Maaf. " jawab Anna.


Anna ingin berkata bahwa dirinya ingin Lim menjadi soulmatenya. Ia percaya bahwa Lim bisa merubah sifatnya saat ini, tapi yang Anna tidak inginkan adalah ia akan terluka lagi karena mencintai seseorang.


Ia takut akan terluka karena terlalu mempercayai seseorang.


" Kamu bahkan tidak tahu masa laluku dan belum mengenal sifat asliku. Bagaimana bisa kamu ingin menjadi soulmateku? " tanya Anna penasaran.


" Ini bukan tentang masa lalu kamu, tapi ini tentang aku yang ingin menjadi soulmatemu tanpa melihat masa lalu kamu. "


Anna mengepalkan tangannya, Lim hanya menyukai dirinya saat ini. Bahkan Lim tidak ingin tahu masa lalu Anna.


Masa lalu yang menjadi titik terpenting dari Anna saat ini.


" Maaf, aku menolak. " tegas Anna. " Kenapa? " tanya Lim kebingungan.


" Karena aku tidak menyukaimu, bagaimana kamu menjadi soulmateku jika aku saja tidak menyukaimu. " jawab Anna seraya memalingkan pandangannya dan berjalan meninggalkan Lim.


Sebuah kenyataan menyakitkan menghampiri Lim.


Ia tahu bahwa Lim akan ditolak, tapi Lim tidak tahu Anna menolaknya dengan sangat tegas sehingga hatinya terluka karena itu.


Logikanya selalu meminta Lim untuk menyerah dan berhenti bermimpi, tak lupa logika juga menyuruh Lim untuk tahu diri.


Bahwa, Anna tidak menyukai Lim.