
" An, maafkan aku. " ucap lembut Lim.
Setelah sekian lama Anna tidak mendengar ucapan selembut itu dari seorang lelaki, tapi ingatan itu kembali lagi.
Semua pria hanya akan mempermainkannya saja, ucapan lembut itu hanya sementara. Anna membencinya, sangat membencinya.
" Kalau begitu aku pergi dulu. " kata Lim seraya keluar dari atap sekolah.
Lim ingin memeluk Anna mendekati Anna, tapi kakinya selalu terhenti.
Ada sebuah tembok yang tidak bisa Lim lewati sampai sekarang. Lim mengepalkan tangannya merasa kesal dengan dirinya sendiri.
" Kamu sedang apa disana? " tanya Hinata.
" Tidak, hanya berjalan-jalan saja " jawab Lim. " Lagipula kamu juga sedang apa disini? Bukankah kaki kamu masih sakit? " lanjut Lim.
" Tidak, kakiku sudah sembuh meskipun belum sembuh sepenuhnya. "
" Kalau begitu mari kita pergi dari sini " ajak Lim kepada Hinata sambil mendorong Hinata agar tidak berada di atap sekolah lagi.
" Kamu tidak masuk kelas? " tanya Hinata kepada Lim yang berjalan bersamaan di lobby sekolah.
" Sepertinya aku harus membolos sekali. "
" Kenapa? "
Lim menundukkan kepalanya memikirkan wajah Anna yang kesakitan karena genggaman tangan Lim.
" Hei. " kata Hinata menepuk tangannya di depan wajah Lim yang membuat lamunan Lim buyar.
" Maaf, sepertinya aku sedang banyak pikiran. "
" Aku ingin masuk kelas dan mengikuti pelajaran. Jadi, aku lebih dulu masuk kelas. Dah, Lim. " ujar Hinata seraya memasuki kelasnya yaitu 1-4.
Lim menjawab ucapan Hinata dengan senyuman kecil, ia berjalan kembali mengelilingi sekolah dengan kedua tangan yang dimasukan kedalam saku.
Lalu tidak senggaja Lim mendengar suara pertengkaran antara seorang perempuan dan laki-laki.
Lim ingin menghiraukan tapi tiba-tiba saja mereka berkata " Anna " yang membuat Lim dengan terpaksa melihat pertengkaran tersebut secara diam-diam.
Pertengkaran antara Maki dengan Guru sejarah yaitu Silka-sensei.
" Bu, aku tidak bisa melakukan ini lagi. Anna terlalu sulit untuk aku dan lagi masalah dimasa lalu itu sudah seharusnya terselesaikan. Kita tidak harus berhutang kepadanya. " keluh Maki.
Silka-sensei menampar wajah Maki dengan sangat kencang " Tidak bisa! Kehidupan Anna berubah karena ini. Jadi, kamu harus tetap baik kepadanya. Mengerti? "
Maki mendesis kesal. " Iya. " jawab Maki terpaksa.
Lim mengerutkan dahinya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
" Masa lalu? "
" Hutang? "
" Apa maksud dari semua ini. " Pikir Lim tidak mengerti.
" Diam, sepertinya ada seseorang " ucap Silka-sensei yang merasa sedang mendengar percakapan mereka.
Lim yang merasa risih langsung berlari dengan kecepatan penuh tanpa ketahuan oleh Silka-sensei.
Ia terus berlari sampai akhirnya berhenti saat Lim tidak sengaja menabrak kepala seseorang dan yang tidak lain tidak bukan dia adalah Kataoka sensei.
Lim terdiam membeku, tubuhnya seperti robot. Kataoka sensei yang merasa kesal langsung menarik baju Lim dan meminta Lim untuk berdiam diri di tengah lapangan.
" Kamu tidak masuk kelas malah berlari-lari seperti orang gila! " tegas Kataoka sensei di tengah lapangan yang dilihati oleh para siswa-siswi lainnya.
" Diam disini atau kamu ingin bersih-bersih seluruh sekolah saat pulang nanti? "
" Tidak pak. " jawab Lim.
Tapi tiba-tiba saja Silka-sensei datang dan memohon agar Lim tidak dikeluarkan dengan alasan bahwa Lim hanya disuruh oleh Silka-sensei untuk pergi mengambil barang yang disuruh olehnya saat pelajaran dia nanti.
Kataoka sensei menerima alasan dari Silka-sensei, ia mengampuni Lim dan tidak jadi menghukum Lim.
" Lain kalo kamu katakan kepadanya harus lebih berhati-hati! " tegas Kataoka sensei.
" Iya pak. Terimakasih " Ujar Silka-sensei.
Silka-sensei mendekati Lim dan berbisik tepat ditelinga Lim " Ikuti saya. " pinta Silka-sensei yang diikuti oleh Lim dari belakang.
Sampai ditempat pertengkaran tadi antara Silka-sensei dengan Maki. " Kamu mendengar semuanya? " tanya Silka-sensei.
" Tidak, aku hanya mendengar tentang masa lalu dan hutang. " jawab Lim.
" Kamu serius? "
Lim menganggukkan kepalanya. " Kalau begitu lebih baik saya jelaskan daripada ada kesalahpahaman dan kamu memberitahu kepada orang-orang. " kata Silka-sensei.
" Sewaktu saya masih hamil anak terakhir saya di Korea, saya bertemu dengan Anna yang mungkin waktu itu berumur 10 atau 12 tahun. Waktu itu Anna sangat ceria dan mungkin semua orang yang berada di dekatnya sangat menyukainya, saya menjadi guru privatnya Bahasa Jepang. Karena Ayahnya orang asli Jepang, dia ingin anaknya bisa berbahasa Jepang. Maka dari itu saya dijadikan guru privat Anna selama 1 tahun. "
" Tapi saat baru saja 6 bulan dan ketika saya sedang mabuk ada yang mengambil kesempatan dalam kondisi tersebut. Ia menghamili saya tetapi dia tidak ingin bertanggung jawab dan hanya berkata bahwa itu hanya kecelakaan saat dia sedang mabuk. Saya marah dan menceritakannya kepada Anna, Anna yang masih seorang anak kecil tidak mengerti apa-apa. "
" Saya kesal karena Anna tidak mengerti, saya membawa Anna pergi ke tempat malam. Tapi anak saya yang bernama Maki menghampiri saya dan menampar saya, ia dengan tegas ngomong " NGAPAIN IBU BAWA ANAK ORANG KESINI? UNTUK APA? UNTUK DIJADIKAN TUMBAL? IBU BODOH? " perkataan itu yang membuat saya terbangun dan saya menyuruh Maki untuk pulang. "
" Saya membawa Anna kembali lagi ke rumahnya dengan perasaan bersalah, karena jika saya bilang saya akan dipecat dan bagaimana saja bisa menghidupkan keluarga saya. "
" Tanpa Anna tahu, saya mencoba untuk bunuh diri di tengah jalanan. Tapi apa kamu tahu? Anna menolong saya dan menyelamatkan bayi saya. "
" Anna koma selama lebih dari 1 bulan, saya di pecat. Dan karena saya merasa sangat bersalah, saya memberikan semua uang saya kepada Ayah Anna. "
" Ayah Anna menolak, ia hanya meminta saya untuk meminta maaf kepada Anna. "
" Anna terbangun dari komanya, dan orang yang pertama kali ingin dia lihat adalah saya. Ia berkata kepada saya bahwa jangan menyia-nyiakan kehidupan karena hidup hanya sekali tapi kematian selamanya. "
" Ucapan Anna yang masih kecil membuat saya terbangun betapa bodohnya saya. Tapi dokter berkata bahwa salah satu saraf kaki Anna terputus, jadi Anna tidak bisa melakukan kegiatan berat lagi. Untuk berlari saja mungkin dia akan kesusahan, itu karena saya. Tapi Anna selalu berkata bahwa dia tidak apa-apa, sampai saat ini saya masih sangat bersalah. Mungkin karena kejadian itu sekarang Anna lebih menyendiri daripada sebelumnya. "
" Anna juga tidak mengenal saya saat dia bersekolah disini. " Jelas dari Silka-sensei.
" Jadi karena sensei merasa punya hutang kepada Anna, sensei membuat Maki mendekati Anna? " tanya Lim.
" Iya " Jawab Silka-sensei. " Meskipun Maki tidak menyukainya? " tanya Lim lagi.
" Iya. "
" Tapi bukankah seharusnya sensei yang membalas hutang kepada Anna daripada Maki? "
" Saya tidak bisa, seusaha apapun saya tetap tidak bisa. Bahkan Maki saja tidak bisa mendekati Anna. "
" Lalu, sensei ingin apa? Tidak mungkin membiarkannya saja kan? "
" Saya akan berbicara kepada Anna secara langsung dan keluar dari pekerjaan ini. "
" Keluar? Apa nanti Anna akan menyukainya? "
" Tidak, tapi saya sudah mempunyai suami. Dan suami saya tidak ingin saya bekerja. Karena itu saya harus berbicara kepada Anna untuk terakhir kalinya. "
" Tapi Lim, apa kamu akan menberitahu semuanya tentang ini? "
" Tidak. Lagipula itu akan menyakiti Anna, aku tidak ingin. Kalau sensei berbuat yang lebih jahat mungkin aku akan menyebarkannya. "
Silka-sensei tersenyum kecil " Apa kamu menyukai Anna? " tanya Silka-sensei.
Lim memalingkan pandangannya " Tidak. "
" Terimakasih Lim, semoga kamu sukses mendekati Anna. " ucap Silka-sensei.
Dan saat Silka-sensei ingin pergi, Silka-sensei lupa mengatakan sesuatu lagi kepada Lim.
" Kata Maki mendekati Anna susah bukan? Seperti ada sebuah dinding yang menghalangi. Benar bukan? "
Lim hanya terdiam karena memang perkataan itu benar, ada sebuah dinding yang susah sekali untuk dihancurkan.
Tidak hanya Lim yang merasa seperti itu, Maki juga merasakan apa yang Lim rasakan.
" Kalau kamu ingin meruntuhkan dinding itu kamu perlu keseriusan dan kesabaran. Saya yakin, saat kamu serius ingin mendapatkan Anna. Kamu bisa meruntuhkan dinding itu dan mendapatkan hati Anna sepenuhnya. " kata Silka-sensei yang membuat Lim berpikir lagi.
Selama ini Lim juga selalu berpikir seperti itu, keseriusan dan kesabaran. Tapi Lim saja tidak mengerti dengan perasaannya sendiri, jadi bagaimana ia ingin meruntuhkan dinding tersebut
" Saya pergi dulu, dah. " ucap Silka-sensei seraya melambaikan tangannya.
••
Bel berbunyi tanda pulang.
Lim yang masih memikirkan perkataan Silka-sensei berjalan tidak karuan keluar kelas dan bahkan salah memasuki ruang club.
Okumura yang melihat Lim seperti seorang linglung langsung mendekati Lim dan bertanya " Kap, kamu tidak apa-apa? Kita harus latihan! "
Lim mengedipkan mata secara cepat, bodohnya ia berpikir tidak jelas. Ia harus berlatih, bukan memikirkan hal yang tidak penting.
" Maaf sepertinya kepalaku tidak benar lagi. " jawab Lim seraya berjalan menuju ruang club basket sambil bersiul-siul.
Latihan dimulai.
Karena bagi Lim, ambisi lebih penting dari segalanya.
Dan ambisi Lim saat ini adalah menjadi tim inti basket SMA Seido. Lalu mengikuti pertandingan Inter-High yang akan dilaksanakan 2 bulan lagi.
" Three-pointmu sudah bagus dan seimbang " Puji Hirahata.
" Terimakasih " kata Lim seraya mengambil minum untuk istirahat sebentar.
Tapi matanya terhenti saat melihat seorang perempuan berjalan dengan headphone ditelinganya.
Dia adalah Anna.
Lim yang terkejut tidak senggaja memuntahkan minumannya.
" Woi Lim jorok! Woi! " kesal Hirahata.
" Maaf kap. " ucap Lim.
" Aish! " keluh Hirahata yang terkena air muntahan dari mulut Lim.
" Kamu kenapa sih sampai muntah seperti itu. " Lanjut Hirahata.
" Saya melihat perempuan cantik kap. " kata Lim keceplosan.
Hirahata membuka matanya lebar-lebar dengan tatapan tajam " Jadi karena wanita cantik ya. " ucap Hirahata dengan aura ingin membunuh.
Lim hanya tertawa kecil dengan wajah ketakutan. Ia ingin berlari tapi tidak bisa, kepalanya tertahan oleh ketiak Hirahata sehingga Lim tidak bisa kemana-mana.
" Bau kap. " ledek Lim yang membuat Hirahata semakin kencang mencekik kepala Lim.
" Sakit kap. " keluh Lim.
" Sa. Kit. "
Seluruh anggota tertawa melihat ekspresi wajah Lim saat dicekik oleh Hirahata, ia bukannya berekspresi sakit. Lim memperlihatkan ekspresi wajah datar yang menyatakan bahwa cekikan Hirahata tidak apa-apa bahkan tidak terasa sedikit pun.
Setelah selesai latihan, Lim berjalan keluar gerbang bersamaan dengan Okumura.
" Besok libur, waktunya istirahat " ucap Okumura senang akhirnya bisa beristirahat.
Lim tidak menjawab, Okumurs melihat wajah Lim yang matanya sedikit mengerut tidak seperti biasanya.
" Jadi, hari ini kap kenapa dengan Anna? " tanya Okumura penasaran.
" Tidak apa-apa " Jawab Lim. " Aku pergi duluan. " lanjut Lim yang berjalan menuju arah rumahnya yang berlawanan dengan Okumura.
Sebelum Lim pulang di perjalanan pulang ia ingin mampir ke supermarket terlebih dahulu untuk membeli sebuah minuman dingin agar menyegarkan tubuhnya.
Ketika Lim memasuki sebuah supermarket dan ingin mengambil minuman kesukaannya tidak sengaja tangan Lim bersentuhan sesaat dengan tangan perempuan.
" Maaf, silahkan diambil " Lim mengalah.
Perempuan itu mengambil minuman dengan kepala yang tertutup oleh tudung dan wajah tertutup oleh masker.
Lim mengambil minumannya dan menunggu antrian kasir di belakang perempuan tersebut.
Lim merasa mengenal perempuan ini, tapi dilihat dari tubuhnya sangat mirip dengan Anna.
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya tidak mungkin. Itu hanya imajinasi Lim, itu hanya khayalan Lim saja.
Selesai membayar ke kasir, Lim berjalan menuju pulang. Arah perempuan tadi sama dengan arah Lim.
Lim yang sangat penasaran langsung berlari dan membuka tudung belakang kepala perempuan itu.
Perempuan itu adalah Anna, tepat seperti dugaan Lim.
" Kenapa kamu ada disini malam-malam hari seperti ini? " tanya Lim penasaran.
Anna tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajahnya dari Lim.
" Hei jawab, kamu tidak takut dengan pria mabuk lagi? "
Mata Anna melebar perasaan takutnya masih ada, maka dari itu ia memakai pakaian seperti seorang pria.
" Kamu tidak ingin jawab, apa aku harus memaksa kamu biar kamu jawab? "
Anna masih tidak menjawab, Lim menggengam erat lengan Anna. Anna meringis kesakitan, Lim melepaskan genggamannya dan terlihat sebuah memar merah dilengan Anna yang membuat Lim merasa bersalah.
" Aku berpakaian sepe..rti ini kare..naa agaar ti..daak.. diketahui pria mabuk itu lagi. Dan aku kesini untuk membeli sebuah perban serta minuman. "
" Maaf kalau itu membuatmu tidak nyaman. Aku permisi. " ucap Anna seraya pergi meninggalkan Lim.
" Tch " Lim mendesah kesal karena setiap saat Anna selalu meminta maaf.
Meski Anna tidak memiliki kesalahan apapun, ia selalu meminta maaf. Meski Lim yang salah, Anna selalu meminta maaf.
Sebenarnya apa yang membuat Anna seperti itu? Apakah dari sifat aslinya atau memang ada sesuatu yang merubah Anna?
Pikiran Lim semakin menjadi, bahkan untuk melupakan Anna di dalam pikirannya saja Lim tidak bisa.
Minggu.
Pukul 5:00 p.m
Lim keluar dari rumahnya menuju rumah sakit untuk memeriksa kepalanya lagi, Dokter berkata untuk memeriksa lagi karena takut terjadi gejala lain seperti amnesia.
Ia berjalan menuju rumah sakit tempat ia memeriksa kepalanya saat ia baru saja terkena pukulan dikepala oleh kayu.
Sesampai disana, Lim harus menunggu terlebih dahulu karena banyak pasien yang juga sedang menunggu Dokter Shunsin.
Dokter yang menangani Lim.
1 jam berlalu.
Akhirnya giliran Lim, Lim memasuki ruangan Dokter Shunsin.
" Lim, apa kabar? " tanyanya itu.
" Baik dok, bagaimana dengan dokter? " tanya Lim balik.
" Baik juga, jadi bagaimana kepalamu? "
" Entahlah, kadang masih terasa sangat pusing dan kadang tidak. "
" Kalau begitu lebih baik melakukan CT-scan agar terlihat lebih jelas "
" Baik dok. "
Lim memasuki ruangan untuk melakukan CT-scan, ia membaringkan diri di alat CT-scan dengan kedua tangan tepat di samping.
Lalu perlahan alat tersebut gerak, Lim memejamkan matanya. Alat tersebut hanya menscan bagian kepala Lim saja.
10 menit CT-scan selesai.
Lim keluar dari ruangan tersebut, dan dokter meminga Lim untuk menunggu lebih lama lagi karena dokter perlu melihat hasil awalnya agar bisa didiagnosis.
Sekitar 30 menit, Dokter Shunsin baru saja memanggil Lim kembali dan berkata bahwa Lim sudah tidak apa-apa.
Ia hanya perlu meminum obat satu Minggu lagi untuk menambah darahnya kembali.
Lim keluar dari rumah sakit dengan membawa obat ditangannya, ia berjalan menuju rumahnya.
Namun di tengah perjalanan, Lim melihat Anna yang tengah duduk sendirian di Taman Bermain. Lim mendekati Anna perlahan " Anna " Sapa Lim.
" Kamu tidak apa-apa? " tanya Anna.
" Dokter sudah bilang aku baik-baik saja dan hanya perlu minum obat seminggu lagi saja. " jawab Lim.
" Maafkan aku. " kata Anna dengan perasaan bersalahnya.
" Apa kamu harus meminta maaf setiap saat? Aku kan sudah bilang tidak apa-apa! " seru Lim mendekatkan wajahnya kearah wajah Anna.
" Maaf " ucap Anna lagi dengan pandangan tertunduk.
" Berhenti meminta maaf, aku tidak menyukainya. Dan berhenti mengkhawatirkanku itu menjengkelkan. "
Mendengar perkataan Lim, mata Anna melebar terkejut dengan ucapan Lim. Anna mengangkat wajahnya menatap mata Lim yang penuh akan kekesalan.
" Apa itu mau kamu? " tanya Anna lagi dengan menatap mata Lim.
" Iya! " tegas Lim.
Tatapan Anna yang lembut kini menjadi dingin kembali seperti saat Lim pertama kali bertemu dengan Anna.
Tatapan tidak perduli dengan orang-orang sekitar.
" Kalau begitu aku akan berhenti memperhatikan kamu karena kamu sepertinya sudah baik-baik saja. Dan sekali lagi terimakasih sudah menyelamatkanku. " ucap Anna seraya pergi meninggalkan Lim.
Anna merasa bodoh karena sudah memperlakukan Lim secara baik-baik.