
Anna yang mendengar perkataan dari Shima membuatnya kembali teringat masa lalu, saat seluruh orang menjauhinya dan tidak ada yang mempercayainya. Ia hampir saja ingin bunuh diri untuk mengakhiri seluruh hidupnya yang menyedihkan ini.
Tapi, Hanna membantu Anna untuk bangkit kembali.
Kejadian yang dialami oleh Kakak Shima hampir sama dengan Anna.
Rintikan air mata kembali menjatuhi pipinya, bahkan Lim saja bisa sejahat itu kepada seorang perempuan.
Bagaimana dengan Anna?
Lim mendesah kesal " Jadi itu salahku? Dia membuat Akira tersakiti. Bukankah seharusnya dia bangkit? Dan seharusnya kamu bisa membantu dia untuk tidak bunuh diri. " kesal Lim.
" SHIMA KAMU BERANI-BERANINYA MEMBUAT ANNA TERLUKA " lanjut Lim.
Lalu, tiba-tiba Yuki datang dan menendang wajah Shima dengan tendangan yang sangat memukau.
Membuat Lim terdiam dan melepaskan tangannya dari kerah Shima.
" Yuki-senpai! " ujar Lim.
" JANGAN SEPERTI ANAK KECIL, KAMU MEMBAWA ANNA MASUK KE DALAM PERMASALAHAN MU? SEHARUSNYA KAMU LANGSUNG SAJA MEMBUNUH LIM BUKAN DENGAN MENGANCAMNYA SEPERTI INI! MEMALUKAN!! " bentak Yuki kepada Shima.
" Lim, lepaskan ikatan Anna. " perintah Yuki kepada Lim.
Lim menganggukkan kepalanya mengerti, ia pun membuka ikatan tangan Anna serta kain yang menutup mulut Anna.
" Kamu baik-baik saja? " tanya Lim khawatir memegang pipi Anna.
" Aku baik-baik saja " jawab Anna.
" Sepulang dari sini mari kita obati lukamu ya. " ajak Lim. Anna hanya terdiam dan berjalan mendekati Yuki.
" Aku sudah tidak apa-apa, mari pulang. " ajak Anna kepada Yuki.
Ia tahu bahwa jika Yuki kesal, seseorang itu akan dibuat babak belur oleh Yuki.
Apalagi saat ini Anna terluka olehnya. Emosi Yuki semakin bergejolak tinggi. Anna hanya tidak ingin semakin banyak keributan disini, biarkan Lim dan Shima yang menyelesaikan permasalahannya.
" Kamu baik-baik saja? " tanya Yuki kepada Anna. Anna menganggukan kepalanya mengerti, ia mendorong punggung Yuki untuk menjauh dari tempat ini.
Namun, dari belakang dengan kecepatan penuh Shima mengambil pisaunya kembali dan ingin menusuk Anna.
Tapi Lim yang melihat langsung berlari dan melindungi Anna membiarkan perutnya yang terkena pisau oleh Shima.
" Aa. " Lim meringis kesakitan.
Anna tidak menyadari bahwa Shima ingin menusuknya, ia memberhentikan langkah kakinya dan membalikkan badannya melihat Lim dengan darah yang mengalir keluar dari perutnya.
Semakin lama pandangan Lim semakin buyar, kepalanya berat karena darahnya yang keluar sangat banyak.
Lim terjatuh ditanah tanpa sadarkan diri, sedangkan Anna menahan perut Lim agar darahnya tidak keluar dengan perasaan sangat khawatir dan air mata yang berjatuhan.
" Tolong tahan! " harap Anna.
Yuki yang melihat Lim terluka langsung berlari menarik Shima dan memukul wajah Shima sampai babak belur.
Tidak lama kemudian, ambulans datang membawa Lim ke dalam mobilnya.
Anna mengikuti Lim, ia juga ikut masuk ke dalam mobil ambulans.
Sedangkan Yuki menahan Shima untuk ke Kantor Polisi.
Lim diberikan oksigen oleh seorang perawat dan lukanya pun diikat oleh sebuah perban agar tidak mengeluarkan darah lebih banyak lagi.
Tangan Anna sudah sangat kotor karena darah Lim. Tangannya juga bergetar ketakutan, ia takut bahwa Lim akan meninggalkan Anna.
Sampai di Rumah Sakit, Lim segera dibawa ke ruang operasi.
Anna menunggu di depan ruang operasi dengan tangan yang terkepal seperti sedang berdoa.
" Anna! " panggil Okumura yang datang ke rumah sakit secara cepat saat Yuki menelponnya.
Air mata Anna berjatuhan, Okumura mendekati Anna dan bertanya " Kap kenapa? "
Anna merapatkan bibirnya tidak bisa berkata, jika saja waktu itu Anna lebih berhati-hati Lim tidak akan terluka seperti ini.
Mengingat kejadian tadi, tangisan Anna semakin dalam. Okumura yang tidak bisa apa-apa hanya menepuk pundak Anna perlahan " Tenang, semua akan baik-baik saja " Okumura menenangkan.
3 jam kemudian.
Dokter keluar dari ruang operasi dan bertanya kepada Anna serta Okumura " Apakah kalian berdua keluarga dari pasien? "
Okumura dan Anna menggelengkan kepalanya.
" Dimana keluarga pasien? " tanya dokter kembali.
" Dia berada di u.s dan tidak ada satupun keluarganya yang tinggal di Jepang. " jawab Okumura.
" Kalau begitu saya katakan kepada kalian, luka tusukan dari pisaunya sangat dalam sehingga pasien membutuhkan banyak jaitan dan pasien juga kehilangan banyak darah. Karena itu membuatnya koma, saya tidak tahu kapan ia akan bangun. Tapi saya mohon, untuk segera menelepon kedua orangtuanya. " jelas Dokter seraya berjalan kembali ke ruangannya.
Kaki Anna mati rasa, ia terjatuh dilantai. Okumura yang terkejut langsung membantu Anna untuk berdiri, tapi Anna tidak ingin.
" Ini semua salahku. " kata Anna menyalahkan dirinya sendiri.
" Tidak, kap pasti tidak menyukai ini. Jadi tolong kamu lebih berpikir ke depan dan berdoa agar kap sadar dari koma. "
Lebih dari 1 Minggu Lim belum terbangun.
Orang tua Lim bahkan tidak datang untuk menjenguk Lim, karena Edward sudah berkata kepada Lim. Ia tidak akan membantu Lim apapun itu meskipun Lim terluka.
Anna, Okumura, Yuki dan teman basket Lim menunggui Lim untuk terbangun dari komanya.
Tubuh Anna sudah sangat lemas karena hampir 1 Minggu ia tidak tertidur.
" Lebih baik kamu istirahat. " pinta Yuki kepada Anna di ruang rawat Lim.
" Tidak, bagaimana bisa keluarganya tidak datang kesini padahal anaknya sedang terluka? Benar-benar sangat sedih. " kata Anna membayangkan dirinya menjadi Lim.
" Aku tahu, tapi lebih baik kamu istirahat dulu. Biarkan aku yang menjaga dia. "
" Kak, bagaimana dengan penjahatnya? "
" Pengacara Lim meminta untuk penjara seumur hidup dan hakim menyatakan bahwa Shima dipenjara seumur hidup di dalam penjara di bawah umur. "
" Sama seperti orang-orang yang sudah melukaiku. "
" Anna! " kata Yuki khawatir.
" Aku tidak apa-apa Kak, jadi aku mohon biarkan aku sendiri disini. " Harap Anna.
Yuki tidak punya pilihan selain menerima permohonan Anna, ia berjalan keluar dari ruang rawat Lim dan membiarkan Anna sendirian bersama Lim.
1:00 a.m
Tangan Lim mulai bergetar, mata Lim juga sudah mulai terbuka perlahan.
Mata Lim berkeliling mengamati sekitar, ia ingat bahwa perutnya ditusuk oleh Shima.
Lim menolehkan kepalanya melihat Anna yang tertidur dengan kepala yang berada di atas kasur dan badan duduk dikursi.
" Anna. " ucap Lim perlahan membangunkan Anna.
Anna tidak kunjung bangun, Lim mengusap perlahan rambut Anna " Anna bangun. "
Mendengar suara Lim, Anna membuka matanya.
Terlihat Lim yang tengah mengelus kepala Anna dengan senyuman hangat kepada Anna.
" Kamu sudah bangun? Aku panggilkan dokter ya. " Ujar Anna terburu-buru.
Anna segera memanggil dokter dengan perasaan sangat senang karena sudah 1 Minggu Lim tidak terbangun.
Dokter serta suster segera memeriksa Lim, mulai dari mata Lim dan detak jantung Lim.
Semua sudah normal, hanya tinggal Lim beristirahat menunggu jaitan perutnya kering.
Lim juga diberitahu oleh Dokter bahwa dia tidak boleh bermain basket selama lebih dari 2 bulan.
" Tidak bermain selama 2 bulan? " gumam Lim hampir putus asa.
Dokter keluar bersama dengan Suster, Anna menundukkan kepalanya sopan.
" Kamu baik-baik saja? Kamu mengenal aku kan? " tanya Anna.
" Kepalaku tidak terbentur jadi aku masih mengingat kamu dengan jelas. " jawab Lim.
" Maafkan aku. " kata Anna.
" Ah, aku tidak ingin mendengar perkataan itu " Keluh Lim.
Anna hanya terdiam.
" Anna, apa kamu sudah menjagaku selama 1 Minggu ini? "
Anna menganggukkan kepalanya.
" Aku sudah merepotkanmu ya, maaf. " ucap Lim tidak nyaman.
" Tidak, tidak apa-apa! " tolak Anna.
" Kamu lebih baik istirahat kembali Anna, aku bangun di malam hari menganggu tidur malammu. "
" Tidak apa-apa. "
" Atau kamu ingin tidur disampingku? " goda Lim.
Anna mengerutkan dahinya merasa kesal karena Lim yang sudah menggodanya saat baru bangun dari komanya.
" Menyebalkan. " kesal Lim karena tidak bisa tertawa.
" Kamu baik-baik saja? " tanya Anna khawatir memegang tangan Lim.
Lim melepaskan tangan Anna dari tangannya " Anna, ini perintahku. Kamu tidur sekarang dan besok kita akan berbicara. "
" Apa tidak bisa sekarang? "
Lim menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Kalau begitu, aku tidur. " ucap Anna seraya tidur di sofa.
Lim mengepalkan tangannya merasa sangat kesal dengan dirinya sendiri.
Seharusnya Shima tidak melibatkan Anna dalam permasalahan.
Itu membuat Lim semakin merasa bersalah kepada Anna dan membuat Anna terluka lagi.
Padahal Lim sudah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan membuat Anna kembali terluka.
Tapi kali ini, Lim sudah membuat Anna terluka kembali.
" Maafkan aku An. " gumam Lim.
Keesokan harinya.
Anna membuka matanya perlahan, ia melihat kasur yang kosong tidak ada Lim.
Dengan perasaan khawatir, Anna dengan cepat membangunkan tubuhnya dan berlari mencari Lim.
Dari kamar mandi tidak ada, di luar tidak ada. Di kantin tidak ada.
Sampai akhirnya Anna bertanya kepada suster, dan suster berkata bahwa Lim sedang menjalankan terapi.
Anna segera berlari ke ruang terapi dan benar Lim sedang berada disana.
Seluruh tubuh Lim kaku karena tidur selama 1 Minggu, saat pagi tadi Suster datang membawa sarapan.
Di saat itulah Lim meminta suster untuk membantunya terapi meskipun seharusnya dilakukan besok saat Lim sudah benar-benar pulih.
Lim berjalan perlahan dengan tangan yang memegang sebuah tongkat.
Kaki Lim sangat kaku, ia terjatuh ketika baru berjalan selama 10 menit.
Dari kejauhan, Anna segera membantu Lim berdiri sambil bertanya " Kamu tidak apa-apa? "
" Jangan bersikap baik, mencemaskanku atau membantuku. "
Perkataan Lim membuat Anna terdiam tidak mengerti.
" Apa maksudmu? " Anna tidak mengerti.
" Aku bilang jangan bersikap baik, mencemaskanku atau membantuku. "
" Kenapa? "
" Aku tidak bisa mendapatkan itu dari kamu. "
" Kamu sudah menyelamatkanku dan membantuku, bukankah itu hal yang wajar aku ingin balas budi kepadamu? "
" Jangan Anna, aku tidak pantas. "
" Kenapa? "
" Karena aku sudah melukaimu, coba saja aku tidak mendekatimu dan tidak berkata bahwa kamu adalah wanitaku. Dengan begitu Shima tidak akan melukaimu untuk mengancamku. "
" Aku sudah membiarkan kamu masuk ke dalam permasalahanku. "
" Kalau saja aku tidak menyelamatkan kamu, mungkin saja waktu itu kamu akan berbaring disini dan aku akan menyalahkan diriku sendiri. Aku tidak ingin. " Lanjut Lim dengan pandangan tertunduk.
Anna memeluk Lim perlahan dan berbisik " Ini bukan salahmu, ini juga salahku karena membiarkan kamu mendekatiku. "
" Anna, maafkan aku. " Lim menahan tangisnya.
Lalu, Lim mendorong bahu Anna agar menjauhi dirinya. " Jadi aku mohon, tolong jauhi aku. Aku tidak ingin kamu terluka. " Pinta Lim.
Saat Anna ingin membantu Lim untuk berdiri dari belakang Suster sudah terlebih dahulu membantu Lim berdiri dan berjalan kembali ke ruang rawat.
Ketika Anna mendengar kata " Jauhi aku " itu membuat hatinya terluka.
" Apa aku salah membantu kamu? " Pikir Anna.
Anna ingin membantu Lim bukan karena terpaksa, tapi karena hatinya ingin menolong Lim.
Ruang rawat.
Lim dibantu oleh Suster untuk sarapan pagi. Sedangkan Anna membereskan seluruh barangnya di dalam ruang rawat Lim.
" Kalau begitu aku pergi. " ucap Anna seraya keluar dari ruang rawat.
" Hati-hati dijalan. " ujar Lim.
" Dia selama 1 Minggu selalu disini dan menemani kamu, apa tidak apa-apa membiarkannya pergi? " tanya Suster.
" Tidak apa-apa. " jawab Lim.
" Dia juga selalu tidur malam dan membantu kamu untuk mandi. "
" Mandi? "
" Iya, dia bilang kalau dia tunangan kamu jadi sudah wajar. "
Lim menelan ludah tidak mungkin Anna sudah melihat isi dalam Lim.
" Dia juga mengganti pakaian kamu. " lanjut Suster membuat pikiran Lim semakin tidak jelas.
" Sudah, sudah biarkan saja. " kata Lim tidak ingin mendengar lagi.
" Tapi yang lebih terpenting, dia selalu memegang jemari kamu dan berdoa untuk kamu cepat bangun. Saya terharu dengan sikapnya. "
" Hm. " ucap Lim dengan senyuman.
Setelah Anna keluar dari ruang rawat Lim, dan beberapa jam Lim selalu sendiri.
Lim memutuskan untuk pergi ke kamar mandi untuk mencuci mukanya karena wajahnya sangat berminyak.
Namun, Lim tiba-tiba terdiam karena tidak sengaja melihat sesuatu yang tidak harus ia lihat.
Yaitu sebuah pakaian dalam dari Anna yang tergantung di dalam kamar mandi.
Lim menutup matanya rapat-rapat " Kenapa dia lupa bawa " Keluh Lim.
Dengan perasaan canggung, Lim menelepon Yuki agar Anna kembali datang karena barang Anna ketinggalan.
Kurang dari 5 menit, Anna sudah sampai di ruang rawat Lim dengan nafas terengah-engah.
" Apa barangku ketinggalan? " tanya Anna.
" Kamu lihat saja dalam kamar mandi. " jawab Lim.
Anna melihat ke dalam kamar mandi dan benar pakaian dalamnya masih berada di dalam kamar mandi.
Wajah Anna memerah karena merasa sangat malu dengan dirinya sendiri.
Ia menaruh pakaian dalamnya tersebut dalam kantong jaket agar tidak ketahuan oleh siapapun.
" Terimakasih sudah memberitahuku. " Kata Anna malu.
" Seharusnya kamu lebih rapih, kamu itu perempuan. " Nasihat Lim.
" Iya maaf, kalau begitu aku keluar. "
" Tunggu! " Seru Lim menahan Anna agar tidak keluar.
" Kenapa? " Tanya Anna.
" Apa kamu yang membantuku mandi dan berganti pakaian? "
Anna menelan ludah, ia lupa bahwa sewaktu Lim koma Anna selalu membersihkan tubuh Lim.
" Iya. " Jawab Anna canggung.
" Kalau begitu, aku boleh minta tolong lagi? "
" Apa? "
" Tolong bersihkan tubuhku dan aku ingin berganti pakaian. "
" Apa kamu tidak bisa sendiri? "
" Tanganku diinfus dan perutku sangat sakit. "
Anna tidak punya pilihan lain, ia menyiapkan sebuah baskom ( tempat air pencuci tangan atau muka )
Lalu membantu Lim untuk membuka bajunya, terlihat perut Lim yang kotak-kotak karena rajin berolahraga.
Anna mengusap tubuh Lim perlahan dengan kain basah yang berada ditangannya.
" Apa kamu tidak malu An? "
" Seharusnya aku tanya, apa kamu tidak malu? "
" Aku malu ini pertama kalinya seorang perempuan melakukan hal seperti ini kepadaku. "
" Hmm. "
Lim mendekatkan wajahnya kearah wajah Anna dan berbisik tepat ditelinga Anna " Kita sudah seperti sepasang suami istri ya? "