
Rey menggendong Kinan untuk ia baringkan disebuah brankar Rumah Sakit. Kedatangan mereka membuat pintu utama Rumah Sakit itu menjadi riuh karena kekalutan Rey.
Brankar itu didorong dengan cepat menuju ruang persalinan. Disana sudah ada Dokter Anita-Dokter yang menangani kehamilan Kinan, beliau telah menunggu kedatangan Kinan, karena sebelumnya Rey sempat menelepon dokter wanita itu untuk memberitahukan keadaan urgent yang Kinan alami.
Rey sedikit mendesah lega ketika istrinya sudah berada dalam ruangan khusus persalinan dan sudah ditangani dengan orang yang tepat.
Dokter Anita melihat keadaan Kinan, meminta asistennya untuk mengecek tensi dan ia pun memakai semacam sarung tangan karet. Kemudian, ia mengecek air ketuban yang sudah banyak keluar dari jalan lahir bayi. Terdengar beberapa kali suara Kinan yang meringis dan itu tak luput dari perhatian Rey.
"Bapak Reyland.." Dokter menyapa Rey yang membeku ditempatnya. Wajah lelaki itu nampak pucat-sama pucatnya dengan istrinya yang akan melahirkan.
"Ya Dok? Bagaimana?" Rey melihat Dokter dan sesekali melirik istrinya yang masih tampak kesakitan.
"Sepertinya bayi-nya ingin cepat-cepat bertemu dengan orangtuanya. Kita akan menunggu pembukaannya lengkap dulu ya." Dokter Anita tersenyum. "Untungnya air ketubannya masih cukup dan setelah pembukaannya sempurna, ibu Kinan bisa melahirkan secara normal." Lanjutnya.
"Em, apa tidak bisa sekarang saja, Dok? Istri saya sudah terlalu kesakitan. Kenapa harus menunggu lagi? Keluarkan saja bayinya sekarang." Rey berkata seraya menghapus peluh yang membanjiri dahi Kinan.
"Tidak bisa, Pak. Ini baru pembukaan enam."
"Lalu harus menunggu sampai pembukaan berapa?"
"Sepuluh. Dan itu tidak bisa saya pastikan berapa lama pembukaannya akan lengkap." Dokter Anita menatap serius ke wajah Rey yang memucat.
Rey menyugar rambutnya sendiri, ia gusar dan tak bisa menyembunyikan rasa ketakutannya.
"Semoga Anda bisa menyemangati Istri Anda, Pak. Ibu Kinan butuh semangat dan dukungan saat ini. Ibu Kinan juga baru pertama kalinya melahirkan, bukan? Jangan mencemaskan hal buruk, banyak berdoa dan terus men-support." Dokter itu menepuk pundak Rey, seolah mengingatkan Rey akan tanggung jawabnya.
Rey terpaku. Ia menatap Kinan yang lagi-lagi meringis kesakitan. Entah apa yang ada dibenak wanita itu sekarang, yang jelas Rey tahu jika wanita itu sedang sangat-sangat kesakitan dan sangat takut. Semua bercampur menjadi satu dalam kepala Rey. Rasa takut, kalut, kasihan melihat Kinan terutama rasa tanggung jawabnya terhadap anak dan istrinya yang harus ia tunaikan sekarang. Ia harus menguatkan diri walau sebenarnya ia tidak kuasa harus berada diposisi ini.
"Agar pembukaannya lebih cepat, saya usulkan Ibu Kinan agar banyak bergerak sekarang. Berjalan, berjongkok agar pembukaannya segera lengkap dan tak perlu memakan banyak waktu." Dokter Anita menatap Kinan dengan pandangan intens. "Mau ketemu sama bayinya kan?" Sambungnya. Terlihat Kinan mengangguk dalam kesakitannya. "Ayo sekarang semangat ya bergeraknya. Agar bayinya membuka jalan lahirnya." Dokter Anita terus menyemangati.
"Sayang, kamu pasti bisa. Aku tahu kamu kuat dan kita akan segera bertemu Baby-Boo.." Rey ikut menimpali.
Dengan bantuan Rey, Kinan mulai bangkit dan mulai berjalan kesana-kemari demi mempercepat jalan lahir bayinya. Ia menyusuri ruangan persalinan VVIP itu, cukup lelah dan tentunya menyakitkan. Tapi Kinan tidak terdengar mengeluh lagi. Kinan seakan bertekad dalam hatinya sendiri jika ia bisa dan pasti bisa melewati masa ini.
Saat Kinan meringis, Rey seperti tertular, lelaki itu ikut meringis seolah merasakan kesakitan yang sama. Cukup lama mereka melakukan jalan-jalan dalam ruangan. Sesekali Kinan jongkok dan berdiri seraya memegangi sisi ranjang. Begitu terus menerus sampai ia merasakan sakit luar biasa di bagian intinya.
"Aa... S-sepertinya aku..tidak kuat lagi, Mas." Itu adalah ucapan Kinan yang Rey dengar setelah itu wanita itu terduduk dilantai.
Rey memanggil dokter dan memapah Kinan naik ke ranjang. Dokter Anita pun memeriksa jalan lahir bayi, senyuman sekilas terbit dibibirnya. "Pembukaan sudah lengkap. Ibu Kinan kita akan segera melakukan persalinan, ya." Ujar Dokter Anita yang tak dijawab Kinan. Kinan seolah kehabisan tenaga tapi mencoba semangat karena dukungan bertubi-tubi dari mulut Rey.
Dengan dibantu asistennya, Dokter Anita melakukan tugasnya dengan telaten. Kinan mengikuti semua ucapan Dokter Anita. Ia mengelus perutnya, seolah berbicara dengan anaknya.
"Sayang, cepat lahir ya. Mama mau ketemu kamu." Ucap Kinan lembut seperti membujuk anaknya untuk keluar. Ia berujar dengan rasa sakit luar biasa.
Dengan menarik nafas dalam seraya mengejan, akhirnya kepala bayi mulai terlihat. Beberapa kali Kinan melakukan hal yang sama dan pada detik terakhir rasa mulas menyerangnya, sekali hentakan dari perut yang ia lakukan, membuat bayi itu keluar sepenuhnya dari bawah sana. Suara nyaring bayi pun terdengar menggema diruangan itu.
"O..wekkk.. Owekkk"
"Selamat, Pak Rey dan Ibu Kinan. Bayinya Perempuan dan sangat cantik." Ucap Dokter Anita.
Mata Rey berbinar, mata hazel itu seperti ada cahaya lampu yang menyala ketika menatap bayi yang sudah berada ditangan Dokter Anita. Rey menghujani kening istrinya dengan kecupan. "Kamu hebat, Sayang...Aku tahu kamu hebat. Kamu kuat." Ujarnya seraya terus mengecupi kening istrinya. "Terima kasih sayang. Terima kasih banyak." Lanjutnya.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Rey menatap istrinya yang sedang berbaring dengan selang infus terpasang di sebelah tangannya. Kinan nampak tertidur lelap setelah malam tadi kehabisa tenaga untuk melahirkan bayi mereka. Setelah proses melahirkan selesai, Kinan dilarang keras untuk tidur. Sehingga pagi ini lah baru ia diminta tidur lebih dulu untuk memulihkan kondisi tubuhnya.
Rey mengamati wajah tidur istrinya itu. Ia memandang dengan intens dan setetes airmatanya jatuh. Menangis karena wanita? Ah, baru Kinan-lah yang membuatnya seperti ini. Kinan serungkali membuatnya menangis, baik itu tangisan sedih ataupun tangisan kebahagiaan.
Klek!
Pintu ruangan itu terbuka, menampilkan sosok wanita setengah baya yang tentunya paling dikenali oleh Rey dan juga Pria tua yang selalu tampak dengan aura dinginnya. Nyonya Zehra datang bersama Tuan Yazid. Mereka memandang Rey seolah hawa permusuhan mulai berkobar memenuhi ruangan.
"Maaf, Ma. Aku terlalu kalut dan takut, aku juga tidak berpikir yang lain kecuali istri dan anakku saja." Jawab Rey sambil tertunduk.
"Karena itulah, Mama takut kamu yang pingsan, Rey! Kalau kamu sampai pingsan bagaimana nasib menantu dan cucu Mama!"
"Sudahlah, Ma." Papa Rey menengahi. "Yang penting Kinan dan cucu kita sudah baik-baik saja." Lanjutnya.
Pandangan mata Nyonya Zehra menuju ke Kinan dan seketika itu juga tatapannya melembut. "Ah, menantuku satu-satunya. Untunglah dia baik-baik saja." Ujar Nyonya Zehra, tangannya terulur seolah membelai wajah Kinan yang tertidur.
"Jangan berisik, Ma. Biarkan Kinan istirahat." Kembali Tuan Yazid yang bersuara.
"Mana cucu Mama?"
"Sehabis dibersihkan tadi, mereka membawanya keruangan khusus bayi."
"Kenapa tidak disini saja?"
"Mereka membiarkan Kinan istirahat dulu, Ma. Sebentar lagi pasti sudah kembali." Jawab Rey.
Dan benar saja, perawat datang setelah ucapan Rey selesai. "Bayinya haus, sekarang sudah boleh belajar minum susu dan Ibunya juga belajar menyusui ya." Ujar perawat itu dengan senyuman ramah.
Bayi perempuan itu sudah rapi dengan kain pink yang membalutnya. Pipinya kemerahan. Wajahnya lebih dominan seperti Rey. Dari bentuk wajah, hidung dan mata Hazelnya. Namun bibirnya mirip Kinan.
"Sini Mama gendong. Ah, cucu Oma..Sini."
"Papa saja, dia pasti mau sama Papa."
Dan kedua orangtua itu berebut mau menggendong sang bayi kecil.
"Ma..Pa..kan suster udah bilang kalau bayinya mau minum susu. Biar Kinan yang gendong." Rey menghampiri ranjang Kinan dan membangunkan istrinya dengan perlahan.
Kinan mengerjap pelan sebelum akhirnya sadar dan tersenyum lembut. Rey menyampaikan pada Kinan apa yang perawat tadi ucapkan dan Kinan dengan senang hati mulai menyusui bayi mungil itu.
"Siapa namanya Rey?" Tanya Papa Rey.
"Baby Boo.." Jawab Rey.
"Maksud Papa nama aslinya Rey!" Ucap Nyonya Zehra menimpali.
Rey menatap Kinan dan wanita itu tersenyum.
"Kirey" Jawab Rey sambil memasang senyum miring khasnya.
"Sudah Papa duga jika kalian tidak kreatif." Ujar Tuan Yazid, ia menyangka Kirey berarti Kinan dan Rey.
"Kirey? Bagus juga. Apa artinya?" Berbeda dengan Papa Rey, Nyonya Zehra tampak antusias.
"Kirey artinya anak perempuan yang cantik, Pa. Bukan hanya singkatan tidak bermakna." Jawaban Rey seolah menyindir isi kepala sang Ayah.
"Nama panjangnya?"
"Kirey Shezan Denizer."
.
.
.
Bersambung ...