
Didunia ini banyak sekali hal yang tanpa disadari telah berjalan begitu cepat. Seperti waktu yang terus bergulir tanpa pernah mundur ke belakang. Begitupun dengan hidup yang terus berlanjut selama umur masih disandang.
Dua tahun telah berlalu, semua orang hidup dengan cerita dan alur hidupnya masing-masing. Suka-duka, tangis-tawa, sehat maupun sakit tak luput dari jalan hidup setiap insan. Begitu pula dengan keluarga kecil Rey. Lelaki yang dulu tak memiliki tujuan hidup, patah hati dan merasa dicampakkan oleh pacar pertamanya, Mona. Kini telah menemukan hal yang membuatnya bangkit dan tahu tujuan hidupnya.
Membahagiakan mereka.-Reyland.
Rey menatap Kirey kecil yang berlarian di taman belakang Rumah mereka, dibelakangnya Kinan terus mengikuti langkah balita itu. Sesekali Kinan menangkap dan menggendongnya, lalu membiarkan Kirey mengejarnya dengan langkah kaki yang masih tertatih-tatih. Senyum keduanya mengembang, tawa renyah pun terdengar. Kebahagiaan yang ada didepan mata Rey inilah yang membuat hidupnya terasa lengkap dan sempurna.
Rey sendiri sedang duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari anak dan istrinya. Ia memeperhatikan keduanya ditengah kesibukannya dengan pekerjaan. Saat ini, Rey sibuk mengurus proyek baru. Sejujurnya, ia sangat jengah dengan semua kegiatannya di kantor, dan belakangan hari Papa Rey malah memberikan hak penuh perusahaan kepada Rey, membuat Rey semakin banyak tanggung jawabnya.
Perusahaan mereka memiliki banyak cabang dan saham-saham yang harus dipantau perkembangannya, semua itu tak boleh luput dari perhatian Rey. Belum lagi tentang ide-ide briliant yang sering muncul dikepalanya, itu juga harus segera dikembangkan lalu direalisasikan.
Semenjak memegang penuh perusahaan, Rey sudah tidak mau repot-repot datang ke kantornya. Ia hanya perlu meminta Asisten pribadinya untuk mengantar berkas penting kerumah dan ia mengecek semuanya di ruang kerja yang tersedia dirumahnya. Lelaki itu hanya datang ke kantor untuk meeting penting dan memperhatikan kinerja para pekerjanya.
Bukan tanpa alasan ia tak mau ke Kantor, tapi semenjak Kirey lahir, Rey lebih memilih berada dirumah. Karena dengan melihat Kirey dan istrinya Kinan sedang tertawa bahagia itu adalah obat mujarab untuk pikirannya yang kacau balau akibat setumpuk pekerjaan.
Untungnya Rey dianugerahi otak yang cerdas dan cemerlang, sehingga ia bisa menghandle semua pekerjaannya dengan penuh ketelitian dan kinerja yang patut diacungi jempol.
"Sayang, bagaimana kalau kita jalan-jalan hari ini?" Rey menatap Kinan yang kini terfokus pada Kirey.
Kinan menoleh. "Kemana? Bukankah pekerjaanmu sangat banyak, Mas?"
"Ya dan ini tidak akan selesai dengan cepat, biar saja dulu. Kalau nunggu selesai kita tidak bisa jalan-jalan."
"Apa tidak apa-apa?" Kinan menggendong Kirey dan berjalan ke arah Rey.
Rey meraih Kirey dari tangan Kinan, lalu menggendong gadis kecil dengan hidung bangir itu. Mengecupi pipi gembul gadis kecilnya, lalu Kirey pun tertawa kegelian akan ulah sang Ayah. "Tidak apa-apa, Sayang. Kan aku bos nya." Jawab Rey disela-sela kegiatannya mengecupi Kirey.
"Baiklah." Kinan mengangguk, Ia tersenyum lembut menatap Kirey yang sudah berpindah kedalam gendongan Rey. "Kita jalan-jalan, yuk." Ajak Kinan pada Kirey.
Gadis kecil itu mengangguk antusias. "Jayan-jayan, nda...." Ucapnya dengan suara cadel khas balita.
"Iya, sekarang ayo kita siap-siap dulu! Ayah, tunggu kami ya. Kami mandi dulu, udah bau asem." Kinan berbicara dua arah seraya berlagak menutup hidungnya lalu ia mengambil Kirey dari gendongan Rey.
Anak dan Istri Rey itu pun bergerak menuju lantai atas dimana kamar mereka berada. Kinan memandikan Kirey dan menyiapkan segala kebutuhannya untuk bepergian.
Rey dan Kinan sepakat untuk membesarkan dan menjaga Kirey tanpa bantuan baby sitter, itu semua karena mereka tak mau melewatkan tumbuh kembang anak mereka. Lagi pula, Oma dan Opa Kirey sering ikut menjaga gadis kecil itu, sehingga Kinan tak kewalahan menjaganya. Tak jarang, Tuan Yazid dan Nyonya Zehra membawa Kirey ke Rumah utama untuk menginap disana. Kadang Oma dan Opa Kirey juga berebut untuk tidur dan bermain dengan Kirey. Seolah anak balita itu tidak punya Rumah untuk pulang. Selalu dicegah untuk pulang ke Rumah Rey dan tak mau berpisah lama-lama dari cucu manisnya.
Papa dan Mama Rey sangat amat menyayangi Kirey, mereka sangat suka anak perempuan, mungkin karena dirumah mereka dari dulu tidak punya anak perempuan. Meski sempat mengangkat Siska-kakak angkat Rey, menjadi anak angkat. Tapi, Siska tidak dirawat dari bayi seperti Kirey jadi tetap saja ada hal yang baru dan berbeda buat kedua orangtua yang sudah menjadi kakek-nenek itu.
Dan lagi, kasih sayang kakek dan nenek kepada cucunya, terbilang sangat besar dan sulit diutarakan. Makanya, Rey dan Kinan memaklumi sikap Mama dan Papa Rey itu. Apalagi Kirey cucu pertama mereka. Jadi terkadang, mau tak mau Rey juga menikmati jika Kirey berada di Rumah Orangtuanya. Baginya, Mama dan Papa berarti memberikan waktu untuk Rey dan Kinan berduaan saja dirumah. Sejujurnya, itu juga membuat Rey senang lalu memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin.
Setelah ketiganya siap, mereka pun pergi jalan-jalan ke Mall bersama. Rey mendorong stroller Kirey dan mengikuti kemanapun Istrinya melangkah.
"Sayang, kita makan dulu?" Kinan melihat ke arah Rey dan diangguki oleh lelaki itu. Menemani Kinan belanja, memang perlu mengisi tenaga lebih dulu.
Mereka makan disebuah foodcourt, Kirey duduk anteng disebuah baby chair. Sesekali Rey dan Kinan bergantian menyuapinya makan. Kirey anak yang aktif tapi ketika makan ia akan duduk dengan tenang dan menerima makanannya sampai habis.
Setelah makan, mereka lanjut berbelanja. Mulai dari kebutuhan Kirey, yang selalu diutamakan Kinan. Lalu Rey meminta Kinan untuk membeli keperluannya. Wanita itu selalu menolak jika Rey memintanya berbelanja hal yang tidak dibutuhkan. Kinan selalu membeli hal yang dia butuhkan saja. Jarang sekali membeli keinginan wanita seperti tas, sepatu dan baju yang ia rasa jarang untuk ia gunakan dan bukan sebuah kebutuhan.
"Sayang, belanjalah..Setidaknya bantulah suamimu ini untuk menghabiskan uang!" Rey terus memaksa Kinan yang malas berbelanja hal yang tidak perlu. Kinan menggeleng. "Uangnya ditabung saja untuk masa depan Kirey."
Rey berdecak, selalu itu jawaban Kinan. Istrinya yang polos seolah tidak tahu jika suaminya itu memiliki banyak uang, bahkan untuk masa depan Kirey dan semua keturunan mereka nanti.
Rey menarik tangan Kinan dan memasuki toko tas wanita dengan brand ternama. Lelaki itu meminta Kinan memilih namun Kinan tidak mau. Akhirnya, Rey yang malas berdebat pun memilih sendiri, ia menunjuk tas-tas simple yang ia duga sesuai selera Kinan. Tanpa mendengar ucapan istrinya, Rey membayar semua yang ia pilih di kasir.
Selanjutnya, Rey membelikan Kinan sepatu dan baju. Kini Kinan hanya terdiam melihat ulah suaminya itu. Pada akhirnya Kinan mengalah dan mengikuti saja kemauan Rey.
"Sekarang kamu kan sering ikut aku ke pertemuan-pertemuan penting. Jadi kamu bisa pakai itu semua, Sayang." Ucap Rey dan Kinan hanya mengangguk saja, mencoba mengerti keinginan suaminya walau ia sendiri merasa ini terlalu berlebihan.
Setelah membeli cukup banyak untuk istrinya, Rey mengajak Kinan ke toko perhiasan. Dia memilihkan Kinan beberapa set perhiasan dan sepertinya Kinan benar-benar menyukai sesuatu yang simple. Wanita dengan senyum lembutnya itu, memilih sebuah liontin dengan bandul love yang kecil dan bermata ke-ungu-an. Rey membelikannya dan menambah beberapa model lainnya juga untuk Kinan.
"Mas, terima kasih banyak." Ucap Kinan disela-sela perjalanan mereka menuju pintu keluar Mal.
"Hmm..." Rey bergumam seraya tersenyum simpul. Istrinya selalu mengucapkan kata itu setiap waktu. Padahal Kinan memang berhak dan layak untuk dapat semua yang Rey berikan.
Jika wanita lain akan berterima kasih setiap dibelikan barang-barang mahal, lain halnya dengan Kinan yang selalu mengucapkan terima kasih dalam banyak hal, termasuk hal kecil."
"Terima kasih ya, Mas sudah mengajariku mengemudikan mobil."
"Mas, Terima kasih mengajakku jalan-jalan."
"Kamu baik, terima kasih sudah membantuku memotong sayur."
"Makasih sarapannya, Suamiku.."
Dan banyak lagi ucapan terima kasih yang lain.
Sejak Rey menuruti kemauan Kinan untuk membuatkannya sarapan dipagi hari. Rey mulai terbiasa dan itu berlanjut sampai sekarang. Rey selalu membuatkan istrinya sarapan pagi. Diawal-awal rasanya memang tidak bisa diutarakan, tapi lama-kelamaan rasanya mendekati lumayan dan layak dikonsumsi.
Apalagi semenjak ada Kirey. Jika Kinan sibuk menyiapkan kebutuhan Kirey, Rey pun selalu siap sedia menyiapkan semua keperluan Kinan ditengah kesibukannya sendiri. Mereka kompak dan saling membantu satu sama lain.
"Rey...." Suara wanita yang menyapa membuat Kinan dan Rey menoleh ke belakang. Disana terlihat wanita dengan barang belanjaannya. Sedikit terkejut, karena itu adalah Mona dengan penampilan bobot tubuh yang baru. Sudah lama sekali tak melihatnya, ia nampak 'berisi' dengan pipi chubby dan wajah orientalnya.
"Ya. Kau disini?" Jawab Rey seraya bertanya pada Mona yang tak sengaja bertemu di Mall yang sama.
Rey dan Kinan saling memandang, dalam benak mereka terheran dengan sikap Mona yang ramah. Apakah ini sandiwara Mona atau wanita itu benar-benar tulus?
"Mianne...(Maaf-Korea)" Mona menatap Rey dan Kinan bergantian. "Maafkan aku.. aku baru bisa melihat bayi kalian sekarang. Aku terlalu lama mengurus restoranku di Seoul." Ucapnya basa-basi dengan ramah, seolah tak ada masalah apa-apa diantara mereka. Ya, memang tidak ada masalah sebenarnya.
"Siapa nama bayi kalian? Boleh aku menggendongnya?" Mata Mona berkaca-kaca tapi ucapan Mona benar-benar membuat Rey terheran dan mengernyit.
"Kirey..." Jawab Kinan seadanya. Ia masih belum paham sikap ramah yang Mona tunjukkan.
"Ah, Kinan.. kau pasti tidak nyaman ya dengan sikapku. Aku tahu dulu aku banyak bersalah. Aku melihat kebahagiaan kalian dan aku turut bahagia." Jawab Mona dengan senyum tulus.
"Kau tidak sedang akting kan?" Rey tersenyum miring.
"Rey!! tega sekali kau.. Aku serius, aku bahagia jika kalian sudah bahagia. Patah hatiku sudah habis dan sudah terobati." Ucapnya.
"Benarkah?" Kini Kinan yang seolah tak percaya ucapan Mona.
"Tentu saja. Tidak sia-sia aku kembali ke Seoul dengan membawa patah hatiku. Disana, aku bertemu dengan teman-teman baru. Mereka membuat konten mukbang-(Makan besar) di restoranku, kadang aku juga ikut memakan semua makanan itu. Restoranku jadi terkenal dan sangat di gemari. Aku sibuk dan aku melupakan sakit hatiku." Jawab Mona dengan antusias. "Apa kalian tidak lihat perubahan berat badanku? Ini karena aku bahagia." Sambungnya.
Kinan dan Rey terperangah. Mereka akhirnya mengizinkan Mona menggendong Kirey, dan tanpa diduga Kirey yang sebelumnya tenang didalam stroller malah menjerit kencang ketika Mona menggendongnya.m, itu membuat Mona kewalahan.
"Astaga...nampaknya aku memang belum cocok menjadi seorang ibu." Ucap Mona.
"Setuju! Kau tidak memiliki sisi keibuan." Celetuk Rey yang membuat Mona memanyunkan bibirnya.
"Menikahlah dulu baru berpikir untuk menjadi ibu." Usul Kinan dengan bijak.
"Calon saja tidak punya." Mona semakin cemberut dan tampaknya ia benar-benar bersedih.
"Nanti kau pasti akan menemukannya." Jawab Rey dan Kinan serentak.
"Semoga saja. Aku ingin bahagia seperti kalian juga. Doni dan Kevin juga sudah menikah dan menunggu kelahiran bayi mereka. Aku... benar-benar iri.." Mona menyunggingkan senyum kecut. "Aku melihat postingan mereka di media sosial dan membuatku ikut bahagia." Lanjutnya dengan senyum bahagia yang tulus.
"Yah, semoga kau juga menemukan kebahagiannmu." Kinan menepuk pundak Mona seolah memberinya semangat.
"Memangnya di Korea tidak ada Oppa?-(Panggilan dari gadis untuk lelaki dewasa di Korea)" Tanya Rey dengan nada mengejek.
Mona tertunduk malu-malu dengan wajahnya yang memerah. "Ada.." Jawabnya singkat.
"Ya sudah. Itu saja jika tidak ada pilihan lain." Gumam Rey.
Mona membeku akibat mencerna kalimat Rey, hingga ia tak menyadari jika Rey dan Kinan sudah pamit dan berlalu meninggalkannya.
...๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ๐ธ...
Pada akhirnya, semua yang kita inginkan, semua yang kita harapkan dan semua yang kita bayangkan, memang seringkali tak sesuai ekspektasi kita. Tapi semua yang terjadi tidak luput dari campur tangan DIA yang meciptakan kita. DIA pasti ingin yang terbaik untuk semua umatnya dan DIA sudah merancang hidup kita sedemikian rupa.
Kinan menatap matahari pagi yang baru muncul dari balkon kamarnya, meresapi udara yang masuk ke indera pernafasannya. Ia memandang jauh kedepan. Kirey masih tertidur pulas di box bayi sudut kamar. Ini adalah pagi yang istimewa, ia sudah banyak melewati pagi-pagi yang menyedihkan dalam hidupnya dan sekarang ia melewati pagi dengan senyuman. Kinan percaya jika semua sudah diatur oleh Maha pencipta. Kesedihan yang berlalu digantikan dengan kebahagiaan. Walau jalan hidupnya tidak seindah yang ia bayangkan, walau cerita dan kisahnya tidak seperti harapannya tapi pada akhirnya ia mendapatkan juga apa yang pernah ia idam-idamkan selama ini. Keluarga yang bahagia.
Sepasang tangan melingkari pinggang rampingnya dari belakang tubuhnya. Memeluknya dengan erat, hembusan nafas hangat terasa mengenai kulit bahunya. Kinan pun merasakan bahu itu sudah ditindi-hi oleh sebuah dagu yang kini bersandar disana. Aroma maskulin yang selalu membuatnya mabuk kepayang setiap hari menyeruak di penciumannya.
"Sayang..." Rey melihat wajah istrinya dari belakang dan Kinan pun tersenyum namun tetap memandang matahari terbit didepannya. "Sarapannya sudah siap." Lanjut Rey dengan suara serak. Lelaki itu mengecupi tengkuk istrinya dan berlama-lama disana. Kinan mempunyai feromon-(;semacam aroma alami tubuh atau hormon yang bisa memikat lawan jenis dan menyebabkan sangat cocok satu sama lain terutama dalam urusan ranjang.) Aroma itu lah yang digilai suaminya itu, membuat Rey betah dan candu dengan tubuh istrinya.
Kinan menggenggam jemari Rey yang berada diperutnya. Melingkupi itu dengan genggamannya, ia menoleh untuk melihat suaminya yang ternyata sudah tersenyum dengan begitu manis. Ah, salah satu nikmat pagi yang selalu ia bayangkan ternyata dikabulkan oleh sang pencipta. Ia menjadi yakin, dibalik semua mimpi yang tak terwujud dalam hidupnya, Tuhan juga menyisipkan hal-hal kecil yang dulu pernah ia impikan.
___________________________
...-The End-...
.
.
.
.
Beneran tamat dong ya?
tenang nanti aku kasih bonus episode.
Aku sedih harus menamatkan novel ini tapi endingnya memang sudah nampak didepan mata๐๐๐
Tolong kasi apresiasi karya aku dong dengan like, komen, vote dan kalau bisa hadiah yang banyak...
Novel ini butuh berbulan-bulan buat namatinnya. Bukan males atau apa tapi aku punya kesibukan dengan dua bocil yang juga minta diurus dan kadang minta diajak jalan-jalan. heheheeee...
Aku mau seperti Kinan yang gak bosen-bosen ucapin Terima Kasih....
Buat Readers setia....
TERIMA KASIH UDAH SUPPORT AKU dan dukung karya aku terus ๐๐
Insya Allah nanti aku buat season 2 ya cerita nya Mas Ammar.. tapi gak dalam waktu dekat sih. Mungkin bulan depan, karena aku lagi belajar mengatur waktu agar up novelnya teratur gak amburadul๐คฃ๐คฃ sekali lagi makasih banyak ya gaesss๐