How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Pertama kalinya



Cinta pertama memang tidak selalu berakhir bahagia, begitupun dengan yang Mona alami. Dia benar-benar hancur sekarang. Saat dia mendapatkan cinta pertamanya dulu yaitu David, dia dengan teganya menyingkirkan Rey yang selalu ada untuknya. Kini, saat dia ingin mengambil Rey yang telah ia campakkan, Rey sudah jauh lebih bahagia bersama orang lain.


"Aku menyesal, Rey. Hiks..hiks." Mona masih saja meracau tidak jelas sambil menangis. Saat melihat acara pernikahan Rey kemarin, disitulah dia merasa benar-benar kehilangan pemuda itu.


Mona menenggak lagi satu gelas minuman yang ada dihadapannya, sudah gelas ketujuh dan ia hampir menghabiskan satu botol minuman yang memabukkan itu.


"Satu lagi!" Ucapnya lagi pada seorang bartender yang ada dihadapannya. Lalu bartender itu kembali menuangkannya minuman untuk yang kesekian kalinya.


"Bagaimana bisa aku melepaskanmu dan lebih memilih si ******** itu! Dia tidak pantas disebut suami. Makanya aku tidak pernah mengakuinya!" Mona meracau kembali sembari menangis penuh penyesalan.


Mona sudah hampir hilang kesadaran, ia mabuk dan saat ingin berdiri, badannya terasa limbung. Dia pasrah jika harus terkapar dilantai Club malam itu.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya seorang pemuda yang menangkap tubuhnya sebelum dia benar-benar jatuh.


Mona menatap pemuda itu dengan binar dimatanya. "Rey?" Ucapnya dengan seringaian mabuk.


"Kau bersama siapa kesini?" Tanya pemuda itu lagi. Mona menggeleng, karena dia hanya seorang diri datang ke Club ini.


"Kau mabuk, seharusnya kau tidak datang sendiri jika akan mabuk!" Mona mendengarkan ucapan pemuda itu dengan seksama karena yang dia tahu didepan matanya adalah Rey yang menjemputnya. Rey memang selalu ada untuknya, tak membiarkan dia jatuh dan selalu datang tepat pada waktunya.


Mona memeluk erat pemuda itu, seolah bergantung padanya. "Rey, jangan tinggalkan aku. Aku tahu aku bersalah. Hiks..hikss" Mona kembali terisak didalam pelukannya.


"Kau mabuk karena patah hati?" Pemuda itu tersenyum miring. Ia membantu memapah Mona menuju mobilnya.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


Setelah selesai makan malam, Kinan memasuki kamar milik Rey. Barang-barang mereka juga sudah dipindah seluruhnya kedalam kamar yang berada dilantai dua. Kamar utama Rey.


"Kau sedang apa, Mas?" Tanya Kinan saat memasuki kamar. Rey lebih dulu berada disana karena Kinan ngotot akan ikut membersihkan piring di meja makan setelah selesai makan malam.


Rey menoleh kearah pintu masuk untuk melihat sang istri. "Kemarilah!" Ucapnya lembut.


"Ini hasil foto pernikahan kita kemarin?" Ucap Kinan saat melihat laptop milik Rey.


"Ya, mereka sedang mencetaknya, ini hanya sebagian yang mereka kirim dalam bentuk file ke laptopku untuk dokumentasi pribadi."


"Oh.." Kinan ikut melihati hasil-hasil foto itu, ia berdiri disamping Rey yang terduduk menghadap laptop.


"Duduk." Ucap Rey seraya menarik lembut tubuh sang istri, Kinan langsung terduduk di pangkuan suaminya itu. Kemudian, Rey melingkarkan tangannya di perut Kinan seraya mengelusnya pelan.


"Mas!" Kinan hendak protes tapi Rey malah menciumi leher belakang Kinan dari posisinya. Kinan meremang disaat yang bersamaan.


"Kau tidak ingat apa kata dokter siang tadi?" Tanya Rey dari posisinya dibelakang Kinan dan Kinan dalam pangkuannya.


"Ya-yang mana?" Kinan berani bersumpah, ini adalah posisi ter-absurd dalam hidupnya selama bersama Rey. Ia gugup setengah mati dan rasanya jantungnya ingin melompat keluar.


"Soal berhubungan." Rey mengenduss tengkuk Kinan, dan ia menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher sang istri. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita yang sangat ia rindukan itu.


"Oh.."


"Kok, Oh?" Rey bingung dengan jawaban Kinan yang ambigu.


"Hmm.." Sejujurnya Kinan merasakan deru nafas Rey yang berada sangat dekat di lehernya, ia sampai tidak bisa menjawab apa-apa lagi sekarang. Darahnya seakan terpompa dan ia bingung harus berbuat dan mengatakan apa pada Rey. Kinan bukan wanita bodoh, ia tahu dan ia mengerti jika saat ini Rey sedang menuntut hak-nya sebagai suami.


"Sayang..." bisik Rey dengan parau. Hasratnya sudah dipuncak ketika ia menciumi aroma rambut Kinan.


Kinan hanya diam dan merasakan apa yang tengah Rey perbuat padanya.


Rey mengarahkan wajah Kinan agar sedikit menghadapnya dari posisi itu. Sedetik kemudian Rey sudah memiringkan kepalanya untuk menjangkau bibir sang istri dan menyatukan dengan bibirnya sendiri.


Rey melihat Kinan memejamkan matanya, ia tersenyum melihat itu.


'Cup...


Satu kecupan. Bibirnya hanya menempel sejenak pada bibir Kinan.


Kinan membuka matanya, dan melihat wajah Rey dari jarak yang sangat dekat. Ia merindukan Rey. Jangan lupakan jika mereka tidak pernah lagi berciuman setelah Kinan mengetahui tentang siapa Rey sebenarnya waktu itu. Ini benar-benar keadaan canggung yang Kinan rasakan kembali.


'Cup


Rey kembali mendaratkan kecupan lembut pada bibir istrinya, ia menyapu bibir atas dan bawah milik Kinan dengan penuh perasaan.


"Aku ingin kau mengatakan jika kau mencintaiku!" Bisik Rey didepan wajah Kinan, sesaat setelah ia melepaskan ciumannya.


Rey tidak pernah mendengar jika Kinan mengatakan hal itu. Dia yang selalu mengucapkannya pada Kinan. Dan sekarang ia ingin menuntut istrinya agar mengatakan tentang cinta.


"Aku mencintaimu, Mas." Ucap Kinan lembut. Pandangan mereka kembali bertubrukan. Rey tersenyum mendengar ucapan itu. Dia menangkup kedua pipi Kinan dan memberikan sentuhan lembut disana. Rey kembali memiringkan kepala dan sekarang ia menjelajahi rongga mulut Kinan dengan lidahnya. ******* dan megulummnya.


Rey berusaha meredam ***** yang sudah meluap-luap. Dia sudah berjanji akan melakukannya secara perlahan. Bagaimanapun Kinan adalah seseorang yang amatir soal ini. Rey tidak tahu sejauh apa Kinan dan Ammar dalam urusan ranjang dulu, karena Rey tidak mau menanyakan hal pribadi itu pada Kinan kecuali Kinan sendiri yang mengatakannya. Rey hanya meyakini jika ketika ia melakukannya pada Kinan dulu, saat itu Kinan masih suci dan belum terjamah.


Rey melepas bajunya sendiri, dan kini ia tengah gugup karena akan membuka kancing piyama Kinan. Otaknya berfikir tentang keadaan psikis Kinan, tapi ******* sudah diubun-ubun. Rey berusaha konsentrasi untuk menyeimbangkan keduanya. Bagaimanapun, ia akan menyentuh Kinan jika memang Kinan sudah siap.


"Mas!" Kinan menghentikan tangan Rey yang sedang membuka kancing piyamanya itu.


"Huum?" Rey menatap Kinan. Ia takut jika histeria istrinya akan kambuh sekarang.


"Jangan sekarang Kinan!" Pekik Rey dalam hati.


"Kau belum siap?" Pandangan Rey sudah berkabut bercampur dengan ******.


Kinan menggeleng. "Aku gugup, ini-ini yang per..tama kali."


Rey tersenyum miring. Ia mengerti keadaannya sekarang. Rey kembali me***at bibir Kinan seraya tangannya melanjutkan aksi yang tertunda tadi.


Rey menuntun istrinya menuju tempat tidur seraya terus menciumi Kinan. Rey melepaskan celana pendek yang melekat padanya lalu membaringkan sang istri disana.


Kinan menyilangkan kedua tangannya didepan dada yang masih terbungkus *** hitam itu.


"Jangan ditutupi. Aku ingin melihatnya, Ki." Ucap Rey dengan serak.


Rey benar-benar tidak bisa lagi mengontrol otaknya. Jawaban Kinan tadi, membuat otaknya kalah oleh has***. Ia melepas pengait yang berada dibelakang tubuh istrinya dan menarik turun penutup itu.


Rey menepis pelan tangan Kinan yang hendak menutupi itu kembali. Rey melihatnya sejenak, ia tersenyum kemudian mulai mengisi mulutnya dengan itu.


"Ahh, Mas...!" Suara Kinan membuat Rey semakin terpacu. Ia ingin mendengar itu terus. Bagaikan candu, ia bergantian meng***** kiri dan kanan. ********** perlahan-lahan.


"Mas..Rey!" Tubuh Kinan bergetar hebat, ia merasakan mulut Rey berada disana lalu tangan suaminya sudah memilinn itu. Kinan merasa gugup, malu dan nikmat disaat bersamaan.


"Sayang, dengar aku. Apa kau yakin akan melakukannya malam ini?" Tanya Rey, ia merangkak dan menatap mata istrinya yang berada dibawah kungkungannya.


Kinan mengangguk.


"Aku tidak akan berhenti nanti, jadi jika kau ingin menghentikannya atau tidak mau melakukannya, tolong katakan saat ini sebelum terlalu jauh." Bisik Rey kembali dengan suara parau.


Kinan melingkarkan tangannya di leher Rey, kemudian ia tersenyum menatap mata hazel itu. "Iya, Mas. Lakukanlah! Aku juga menginginkannya!" Jawab Kinan jujur, sedetik kemudian wajahnya memerah akibat malu karena mengucapkan hal itu.


Rey tidak tahan lagi, melihat istrinya memerah seperti saat itu membuat ********* semakin terpompa.


_____Skipppppp______


Bersambung...


.


Bubar-bubar!!! Jangan ikutan yee.. biar mereka berdua aja yang lanjutin🤣🤣


Mau liat adegan apa kaleyann hah?😂


gak ada!!! karena author sensor dari jarak jauh😁😁😁


astaga ngakakkkk asli😋