How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Dugaan yang salah



Pintu ruangan itu terbuka, menampilkan sesosok orang yang Rey kenali berada diambang pintu, Rey tersenyum miring melihat kedatangan Kevin ke kantornya. Kevin pun melangkah masuk kedalam ruangan itu tanpa dipinta.


"Apaan lo dateng kesini pagi-pagi? Gue masih banyak kerjaan noh!" Rey menunjuk tumpukan map yang ada disudut meja kerjanya menggunakan dagunya sendiri.


"Nggak usah sok sibuk lo, Nyuk! Mau apa lo nyuruh gue nyari tau tentang bini orang? Emang udah gila lo ya!" Mulut Kevin nyerocos seperti tidak ada rem nya.


Rey mendengus, tapi ia tetap mengetik sesuatu pada keyboard dan matanya tetap fokus melihat layar laptop didepannya.


"Woy kunyuk! Gue lagi ngomong sama lo! Lagian lo punya asisten ngapa nyuruh-nyuruh gue terus cari informasi yang nggak jelas maksud dan tujuannya?" Kali ini suara Kevin mulai naik satu oktaf.


Rey menghentikan kegiatannya dan mulai menatap Kevin yang sudah duduk di sofa putih disudut ruangan. Rey bangkit dan menghampiri sang kawan.


"Asisten gue cuma buat urusan kerjaan, Nyet! Kalo gue suruh cari tau hal lain bisa-bisa bokap nyokap gue tau!" Rey menatap Kevin dengan serius sembari menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.


Kening Kevin berkerut seolah memikirkan sesuatu.


"Ya ya ya, baeklah! Gue bakal bantu lo lagi, Nyuk! Tapi yang ini enggak gratis!" Kevin memasang wajah sumringah sambil menaik-naikkan alisnya menggoda Rey.


"M*nyet emang lo! Udah mulai perhitungan sama gue lo ya!" Protes Rey pada Kevin. Rey berdecak-decak sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.


Kevin menahan tawanya, ia menepuk punggung tangan Rey.


"Well, minimal lo kasi tau gue alesan kenapa gue harus cari tau soal bini orang itu!" Kevin menatap mata Rey dengan serius kini.


"Lo gue bayar aja deh! Berapa?" Tawar Rey pada Kevin.


"Big no! Gue cuma mau lo bayar pake penjelasan." Kevin menyilangkan kedua tangannya membentuk huruf X. Ia harus menuntaskan rasa penasarannya, mengapa Rey menyuruhnya hal yang tidak-tidak dari kemarin. Mencari identitas Ammar, dan sekarang mencari latar belakang istrinya. Hah apa lagi ini?-batin Kevin.


Setelah diam dan berpikir singkat, Rey memutuskan untuk ikut duduk disofa, menyamankan posisi dengan menyilangkan kaki untuk ia bercerita dan menjelaskan apa hal yang melilitnya pada Kevin.


Kevin mendengar penjelasan Rey dengan begitu serius, wajahnya yang selalu dipasang dengan mimik jenaka kini tampak terkejut ketika mendengar kenyataan yang diungkap Rey.


Rey dengan susah payah menceritakan pada sahabatnya bahwa Kinan adalah gadis yang pernah ia renggut kehormatannya. Rey tertunduk saat mengucapkan kebenaran itu.


"Serius lo? What the.... Astaga Nyuk!" Kini Kevin memijat pelipisnya, pening tiba-tiba menjalar dikepalanya setelah tahu kebenaran yang terucap dari mulut Rey.


"Pusing kan lo? Apalagi gue!" Suara Rey masih terdengar ditelinga Kevin, walau sekarang fokusnya hanya pada wanita yang telah dinodai Rey.


"Jadi, dia masuk RSJ gara-gara lo perk*sa Nyuk?" Kevin mulai bicara dengan berapi-api.


Rey membekap mulut Kevin.


"Nyet, Lo mikir lah kalo ngomong! Lo pikir ini dimana? Lo mau gue tinggal nama, kalo bokap gue sampe denger?"


Kevin mengangkat kedua tangannya seolah meminta ampun dan Rey pun perlahan-lahan membuka bekapan tangannya dimulut Kevin.


"Dia masuk kesana setelah dia tahu kalo dia hamil" ungkap Rey.


"What? Hamil?"


Rey memelototi Kevin yang masih bicara kuat karena terkejut.


"So-sorry" Kevin sedikit ciut melihat tatapan membunuh dari mata Rey.


"Gue bilang juga apa, Nyuk! Lo udah kelewatan batas, bro!" Ujar Kevin kemudian dengan suara pelan dan tercekat.


Rey mendesah, ia menyandarkan kepalanya di sofa dan menatap langit-langit.


"Justru itu, gue mau tanggung jawab. Gue udah ngehancurin hidup Kinan. Makanya gue mau lo cari tahu latar belakangnya, terutama kenapa dia bisa menikah dengan lelaki itu!" Rey tertunduk lesu.


"Lo mau tanggung jawab gimana? Dia hamil? Emang lo mau nikahin dia? Atau lo cuma mau tanggung jawab sama anak yang dia kandung?"


"Ya" jawaban gantung yang tak jelas sarat dan maknanya dipendengaran Kevin.


"Ya apanya? Apanya yang ya?" Kevin menatap bingung pada wajah Rey.


"Gue mau nikahin dia, Nyet! Gue mau tanggung jawab sama dia dan juga anaknya sekalipun itu bukan anak gue, karena gue udah hancurin hidup dia!" Kini Rey yang malah berapi-api seolah tak bisa menahan amarahnya pada diri sendiri.


"Turunin suara lo satu oktaf, Nyuk! Lo lupa ini dimana?" Kevin seolah mengingatkan Rey pada kata-katanya sendiri.


Rey terdiam.


"Sa ae lo, Nyet!" Rey berdiri dari posisinya, merapikan jas yang ia kenakan.


"Terus rencana lo selanjutnya apa? Bukannya dia istri orang?"


Rey diam tanpa kata. Lalu menggelengkan kepalanya.


"Terus lo bilang apa tadi? Itu bukan anak lo? Darimana lo yakin itu bukan anak lo? Kalo gue sih yakin nya itu anak lo! Secara kan lo yang ud--"


"Sutttssssshh" Rey menyuruh Kevin diam. Ia makin pusing mendengar ucapan Kevin yang tiada habisnya.


"Udalah lo tenang aja dan lo lakuin aja yang gue suruh! Itu juga semata-mata biar gue tau sejauh mana hubungan Kinan sama lelaki itu!"


"Suaminya bro!" Kevin mengingatkan Rey bahwa lelaki itu suami Kinan.


"Terserahlah! Berisik lo! Udah sana lo buru cari tau, Nyet! Gue penasaran karena feeling gue, tuh laki nggak pernah nyentuh Kinan!"


"Iyalah pasti! Lo yang udah meraw*nin dia, b*go! Parah lo!" Kevin berdiri dan beranjak meninggalkan Rey diruangannya.


Rey melambai-lambaikan tangan seolah mengusir Kevin dari sana sebelum akhirnya Kevin benar-benar keluar dan menutup pintu.


💠💠💠💠💠💠


Ammar berkecak pingggang diteras depan. Ia memikirkan ucapan sahabat Kinan, Desi.


Ya, sore kemarin selepas Ammar cekcok dengan Latifa dan Shirly diteras belakang, Ammar memutuskan menemui Desi di rumahnya. Bermodalkan alamat Desi yang ia ketahui dari buku harian milik Kinan.


"Kinan itu tidak punya pacar, Mas!" Jelas Desi pada Ammar.


"Bahkan setahu saya, dia belum pernah pacaran. Dia tidak punya teman lelaki ataupun dekat dengan lelaki manapun, saya juga terkejut mendengar kabar Kinan sudah menikah!" Itulah jawaban Desi ketika Ammar menanyakan siapa pacar Kinan.


Tentunya Desi tidak tahu Kinan menikah dengan siapa, karena Kinan sedikit tertutup dengan hal pribadi seperti itu.


Sedangkan Desi menyambut kedatangan Ammar hanya karena tahu bahwa Ammar adalah saudara Kinan yang adalah suami dari Wina. Desi tak pernah tahu Ammar lah yang menikah dengan Kinan.


"Saya juga sudah lama tak mendengar kabar Kinan, Mas! Semenjak dia menikah kami lost contact!" Ungkap Desi.


Kata-kata Desi sungguh menjadi pikiran untuk Ammar, Ammar terus memikirkan keadaan Kinan karena prasangka nya. Sampai-sampai hari ini Ammar tak bersemangat untuk bekerja. Ia memilih izin dari kantornya dan pulang sebelum sore.


"Apa dugaanku kalau Kinan berselingkuh memang salah?" Gumam Ammar, ia memijat pelipisnya.


"Aku terlalu telat untuk mencari tahu yang sebenarnya sekarang! Dan untuk mempercayai Kinan bahwa ia sudah dilecehkan, rasa-rasanya aku belum bisa!" Batin Ammar masih menolak hal yang terjadi.


Ammar terlalu mengingat akan kejadian dimana ia menemukan jejak-jejak Kissmark dileher dan dada Kinan. Ia terlalu emosi dan tak berfikir jernih, ia menggulung semua kata hati yang muncul, hanya percaya pada keadaan yang ada didepan mata. Bahwa Kinan telah ternodai.


Itu membuat Ammar kalut dan sulit mengendalikan emosi. Membuatnya berfikir yang tidak-tidak, lalu sulit mempercayai Kinan. Karena apa yang didepan matanya sudah merupakan bukti yang nyata buatnya.


Hubungan yang terlalu singkat tanpa adanya pendekatan, membuat kepercayaan Ammar pada Kinan belum sepenuhnya ada. Ia tak tahu dan tak bisa menilai istrinya itu berkata jujur atau tidak. Ia sama sekali buta tentang hal yang bersangkutan dengan Kinan. Padahal Kinan adalah istrinya.


Setelah berkecamuk dengan pikirannya cukup lama. Ammar mengusap kasar wajahnya dengan tangannya sendiri.


"Aku terlalu mengulur waktu, aku menyesal tidak belajar mengenalinya. Aku telah salah sangka dan sekarang aku juga menyesal tidak mempercayainya!" Ucap Ammar lirih pada akhirnya.


Ammar merogoh saku celananya, mengambil kunci mobil. Ia memutuskan mengunjungi Kinan di Rumah Sakit.


"Kinan, apa kau mau memaafkanku?" Tanyanya pada dirinya sendiri ditengah-tengah perjalanannya menuju Rumah sakit.


Ammar tak peduli hari sudah menjelang sore, walaupun sampai disana ia harus menemui Kinan yang mungkin sudah terlelap ataupun ia sudah lewat batas waktu untuk berkunjung. Ammar ingin membawa Kinan keluar saja dari rumah sakit itu. Entah kenapa kini Ammar mengikuti hati nuraninya.


.


.


.


.


Bersambung...