
"Aku rasa Apartment ini tidak usah dijual, Mas. Kita saja yang tinggal disini."
"Kamu yakin?" Rey menatap ragu pada Kinan.
"Huum." Kinan mengangguk-anggukkan kepalanya dengan senyuman yang ironi.
"Sekarang aku lega. Aku yakin kalau kamu sudah baik-baik saja. Tapi, bukan berarti kita akan tinggal disini. Kamu layak dapat yang lebih baik dari ini."
"Mas, ini sudah cukup untuk kita."
Rey menggelengkan kepalanya. "No! buat kamu.. harus diatas kata cukup." Rey mengedipkan sebelah matanya ke arah Kinan lalu ia gegas menuju ke lemari yang terletak disisi kamar.
"Sebenarnya salah satu niat aku mengajak kamu kesini, memang untuk memastikan kondisi kamu, Sayang." Ucap Rey yang tengah sibuk mengeluarkan barang-barang dalam lemari pribadinya itu.
"Tapi, aku akan meminta orang untuk mengurus penjualan Apartment ini secepatnya." Lanjut Rey kekeuh.
"Kenapa kamu tetap mau menjual Apartment ini, Mas? Aku gak masalah kalau kita harus tinggal disini. Serius." Kinan pun menunjukkan dua jari yang dia acungkan membentuk huruf V.
"Kemarilah.." Rey berbalik badan untuk menatap Kinan.
Kinan mendekat ke arah suaminya dan Rey langsung mengecup pucuk kepala Kinan dengan sayang lalu membelai pipi Kinan dengan sangat lembut. "Aku akan jual Apartment ini, karena tidak akan ada yang menempatinya. Itu akan mubazir.." Jawab Rey seraya tertawa renyah.
Sebenarnya Rey punya alasan tersendiri menjual Apartment yang dulu sering ia tinggali ketika masih lajang. Apartment ini adalah tempat pelariannya dari sang Ayah. Satu-satunya tempat tujuannya ketika ia kalut dan tak bisa menemukan ketenangan dimanapun. Tapi ia juga menyadari akan perbuatannya. Ia telah berbuat hal kotor ditempat ini. Bukan hanya Kinan yang merasa trauma disini. Tapi bisa dibilang, Rey pun tidak jauh berbeda. Bagaimana bisa ia harus tinggal di Apartment ini jika ia harus dibayangi rasa bersalah terhadap Kinan. Ditambah lagi jika ia dan Kinan akan tinggal bersama disini. Rasanya pasti akan canggung. Bisa-bisa ia tak nyenyak tidur, walaupun Kinan sudah memaafkannya. Semua ini bukan hanya karena Kinan, tapi lebih kepada Rey dengan perasaannya sendiri.
"Aku akan membereskan dulu barang-barang pentingku yang ada disini. Sisanya nanti biar diurus orang-orangku dan dibawa ke Rumah kita."
"Maksudnya Rumah Mama?"
"Bukan, tapi Rumah kita." Rey tersenyum cerah, sedangkan Kinan masih berfikir tentang jawaban ambigu dari mulut suaminya itu.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Setelah menempuh jarak kurang lebih empat puluh lima menit dari Apartment Rey, Kinan merasa aneh dengan rute perjalanan pulang mereka. Rey tidak mengemudikan mobilnya menuju kediaman orangtuanya. Beberapa kali Kinan menanyakan tujuan mereka kepada Rey, tapi Rey tidak memberikan jawaban pasti untuk Kinan. Kinan semakin keheranan ketika mobil mulai melambat disebuah kawasan perumahan elite yang belum pernah ia kunjungi sebelumnya.
"Sebenarnya kita mau kemana, Mas?" Kinan kembali bertanya pada Rey pertanyaan yang sama.
"Ke Rumah." Jawab Rey singkat pada akhirnya.
"Rumah? Rumah siapa?" Kening Kinan berkerut ketika Rey kembali tak menjawab pertanyaannya. Tak lama, lelaki itu malah menghentikan mesin mobil dan membuka pintu untuk keluar dari kendaraan yang sedari tadi ia kendalikan.
"Ayo keluar.." Suara Rey mengejutkan Kinan yang sempat termenung beberapa saat, Kinan masih menelaah dimana posisi mereka saat ini. Tapi tak urung ia keluar juga melalui pintu mobil yang sudah dibukakan Rey dari arah luar.
Kinan menatap Rumah yang ada dihadapannya. Rumah itu adalah Rumah desain Minimalis dengan dua lantai. Ber-cat putih gading dengan gradasi abu-abu kehitaman. Pilarnya tidak terlalu besar, tapi tampak kokoh dengan warna putih yang sama, disertai aksen warna gold yang memberikan kesan glamor tapi tidak berlebihan. Pagarnya tidak menutupi tinggi Rumah itu, tampak minimalis dengan tampilan garis-garis. Didepannya, ada tangga yang menghubungkan ke pintu masuk, bisa dikatakan jika tangga itu adalah akses untuk masuk kedalam Rumah.
Disisi kiri dan kanan tangga, terdapat taman kecil yang dihiasi rumput hijau dan beberapa tanaman hias untuk mrnambah kesan asri dan sejuk. Kinan juga mendengar gemericik air yang ternyata berasal dari kolam ikan yang serumpun di bagian bawah tangga.
"Rumah siapa?" Pertanyaan pertama yang Kinan tanyakan seraya menatap Rey disisinya. Pandangan wanita itu nampak penuh keheranan.
"Apa Kamu suka?" Bukannya menjawab, Rey malah memberi pertanyaan juga pada Kinan.
Kinan mengangguk samar, sungguh ia belum mengerti keberadaan mereka dirumah ini.
"Ini yang ku maksud sebagai Rumah kita. Ini adalah hadiah untuk istriku." Rey tersenyum cerah.
"Mas?"
"Ya?"
"Kamu bercanda?" Kinan menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. Tiba-tiba ia merasa terharu dan ada air yang terasa menganak-sungai di pelupuk matanya.
"Tentu saja aku serius." Jawab Rey tenang.
Rey menaikkan sebelah alisnya ketika menatap Kinan yang tak bereaksi. Dilihatnya istrinya itu hanya terdiam sembari membungkam mulut dengan jemarinya sendiri.
"Kamu tidak menyukainya?"
Kinan menggeleng. Sepersekian-detik berikutnya, ia menghambur kedalam tubuh Rey yang tidak menyangka akan dapat pelukan secara tiba-tiba.
"Terima kasih, Mas." Ucap Kinan dengan perasaan haru, ia memeluk erat suaminya yang hampir saja terhuyung kebelakang akibat reaksi Kinan yang tidak disangkanya.
"You'r welcome.." Rey membalas pelukan istrinya dan menyurukkan kepala Kinan kedalam dekapannya.
"Selamat datang di kediaman baru kita, Nyonya Reyland." Rey meletakkan satu tangannya didepan dada seraya badannya membungkuk hormat kearah Kinan. Ia bersikap ala bangsawan yang tengah menyambut tamu kehormatan yang akan memasuki Rumah itu.
Kinan terkikik geli tapi tetap melangkah masuk. Setelah masuk, ia pun begitu terkesima karena ternyata Rumah ini sangat sesuai dengan seleranya. "Mas, terima kasih banyak." Lagi-lagi hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulutnya, disertai bulir-bulir air yang tadi berada diujung matanya ikut keluar juga, ia tak bisa membendung perasaannya yang terharu.
"Aku yang harusnya mengucapkan terima kasih banyak padamu, Sayang. Kau memberiku banyak hal dan baru sekarang aku bisa membalasnya walaupun ini belum sepadan dengan yang kau beri padaku." Rey mendudukkan Kinan di sebuah sofa ruang tamu yang tak jauh dari pintu masuk.
"Apa kita akan tinggal disini?"
"Ya, Sayang."
"Tapi apa kamu sudah membicarakannya dengan Mama dan Papa?"
"Sudah, mereka memutuskan semuanya kepada kita. Walau sebenarnya mereka ingin kita tinggal disana saja bersama mereka. Tapi aku rasa kita perlu mandiri."
"Hmm, kau benar Mas."
"Oh ya ada satu lagi yang ingin aku katakan."
"Apa itu?"
"Aku sudah mendaftarkanmu kelas kehamilan. Kita bisa pergi kesana bersama-sama."
"Benarkah? Mas..kamu sangat perhatian. Aku saja sampai lupa mendaftar kelas kehamilan." Kinan tertunduk lesu.
"Tak apa sayang, kita bisa memulainya sekarang. Aku meminta saran dari Mama dan Mama menganjurkan itu. Aku pikir itu memang perlu karena kita akan menjadi orangtua baru dan lagi ini pertama kalinya untuk kita. Benar bukan?" Rey mengacak rambut Kinan dengan rasa sayang.
Kinan mengangguk setuju. Sekali lagi ia berterima kasih pada suaminya itu.
"Jangan terus berterima kasih. Aku sudah bilang bahwa kamu yang telah memberiku banyak hal. Coba pikir, kamu memberiku maaf, menerima lamaranku, mau menjadi pendamping hidupku dan kamu mau mengandung anakku dan akan melahirkan penerusku." Rey berlutut dikaki Kinan yang masih duduk di sofa. Tangannya mengelus kedua tangan Kinan lalu jempolnya menyusuri buku-buku jari istrinya.
"Aku mencintaimu, Mas."
"I know, Ki.. aku juga mencintaimu."
Rey menatap lamat-lamat wajah istrinya dari posisinya yang berlutut, ia menipiskan bibir dan mulai memikirkan sesuatu. "Lalu, kapan kamu mau kita menempati Rumah ini?"
"Kapan saja, Mas."
"Kamu sudah siap menempati Rumah ini?"
Kinan mengangguk yakin.
"Bagus. Kalau begitu bagaimana kalau kita sedikit berkeliling lalu kita mencoba perabotnya."
"Mencoba perabotnya?" Dahi Kinan mengerut atas pernyataan suaminya.
"Iya kita bisa mulai menilai kualitas perabot disini, Sayang. Aku akan memulainya dari yang paling sering kita gunakan, Ranjang misalnya. Kita bisa mencoba ranjangnya." Rey menatap Kinan dengan senyuman penuh maksud yang terselubung.
(Sa' ae lu, Rey 🤣🤣🤣)
.
.
.
.
Bersambung...
Sorry kemarin gak sempat kasi Up episode baru🙏 semoga part ini bisa ngobatin ya buat yang udah nungguin dari kemarin..❤️
Terima kasih buat yang udah vote, like, love, hadiah dan kirimin komentar yang memotivasi aku buat update terus. Aku gak bisa janji-in crazy up, tapi aku usahain biar part-part menuju ending ini bisa memuaskan yah💕
Salam sayang buat semua Reader-ku🤗
-CR