How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
SEASON II - Kau akan tahu siapa lawanmu



Ammar memasuki ruangannya, hari ini ia begitu sibuk sampai melupakan beberapa berkas penting yang harus ia tanda tangani. Ia mengabaikan berkas-berkas itu begitu saja tadi dan memutuskan melakukan virtual meeting diruangannya. Selanjutnya, Ammar malah menemui klien disalah satu Restoran di pusat kota. Hingga baru sekaranglah ia harus kembali menuju kantor untuk menandatangani berkas yang sempat ia abaikan tadi.


Ammar benar-benar kewalahan, bisnis yang baru ia mulai lagi di beberapa bulan belakangan, mulai naik drastis kembali, ia tak memungkiri ini semua juga berkat bantuan Rey dan jaringan lelaki itu yang luas. Tapi Ammar juga memiliki keahlian dibidangnya, sehingga ia mampu mengembangkan usaha yang sudah terbentang nyata dihadapannya.


Bukan tanpa sebab ia merasa kewalahan hari ini, seorang sekretaris tak cukup membantunya karena itu hanyalah sekretaris biasa yang akan pulang tepat pada waktunya. Ammar jadi memikirkan harus mempunyai setidaknya satu asiten pribadi untuk mempermudah urusannya. Jadi, ia tinggal meminta asisten itu untuk mendatanginya dengan membawa berkas penting ini kepadanya tanpa perlu merepotkannya seperti ini--dengan kembali ke kantornya--untuk menandatangani berkas yang bahkan hampir saja ia lupakan.


Ya, tampaknya ia harus punya asisten untuk mempermudah bahkan untuk mengingatkannya.


Malam mulai larut, tentu saja Ammar hanya sendiri dalam gedung yang sudah ditinggalkan para karyawan sejak sore tiba. Pertemuannya dengan klien penting tadi, membuatnya menghabiskan banyak waktu untuk menjamu orang yang ia anggap akan berpengaruh besar untuk bisnisnya.


Ammar pun cepat-cepat menyelesaikan tugasnya--yang sudah tertumpuk diatas meja kerjanya. Hanya menyoretkan beberapa tanda tangan di beberapa lembar kertas penting itu dan selesailah pekerjaannya hari ini.


Ponsel Ammar berdering dan ia menerimanya dengan segera karena ia juga akan segera pulang.


"Ammar, kamu dimana?" suara Latifa terdengar aneh dipendengaran Ammar.


"Aku masih dikantor, Ma. Sebentar lagi aku pulang." kata Ammar.


"Ammar, Shaka belum pulang."


"Apa? Bukankah Shaka bersama Joana?" Ammar mengingat tadi siang Joana mau menjemput Shaka sepulang sekolah dan mengantarkannya pulang. Ammar melirik jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Ammar memijit pelipisnya sendiri, ia terlalu sibuk hari ini bahkan ia tak menanyakan lagi kabar Joana dan Shaka setelah Joana mengonfirmasi padanya lewat panggilan telepon--jika Joana sudah bertemu Shaka di sekolah.


"Mama sudah menelpon Joana tapi ponselnya tidak bisa dihubungi." Latifa menghela nafas berat. "Mama pikir kau ikut bersama mereka." sambungnya.


"Tidak, Ma. Aku sibuk sekali hari ini. Baiklah, Mama dan Lesya baik-baik dirumah. Aku akan mencari keberadaan mereka." kata Ammar menenangkan Latifa.


"Kabari Mama secepatnya, Ammar."


"Ya."


Ammar menutup panggilan teleponnya, gegas ia menuruni gedung tempatnya berpijak dan memasuki mobil untuk menuju Mansion Doni. Barangkali Joana membawa Shaka kesana-pikirnya.


Beberapa kali Ammar menelepon Joana, tapi nomornya tidak aktif. Begitupun dengan Doni, panggilan itu tak kunjung dijawab oleh Doni.


Tak sampai setengah jam, mobil Ammar sudah tiba dikawasan elite tempat Mansion keluarga Doni berada, kawasan yang letaknya memang tak jauh dari gedung kantornya berada.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya seorang security penjaga Mansion itu.


"Bisa saya bertemu dengan Doni?"


"Tuan Doni sedang tidak berada di Mansion. Dia sedang berada diluar kota." ucap lelaki yang tak terlalu muda itu.


Ammar menghela nafasnya dengan berat. Lalu ia menatap security itu lagi dan bertanya dengan perasaan bimbang. "Bagaimana dengan Joana? Apa dia sedang berada Mansion sekarang?"


"Nona Joana belum kembali sejak keluar siang tadi."


Ammar mendengus mendengarnya.


"Apa Bapak punya nomor ponsel pengawal yang biasa menjaga Joana?"


"Emm..." Security itu mengernyit menatap Ammar dan Ammar seakan mengerti dengan kebingungannya.


"Begini Pak, Joana pergi dengan anak saya dan mereka sama-sama belum pulang, jadi ingin mengetahui keberadaan mereka karena saya mulai khawatir."


Security itu mengangguk paham, sesaat kemudian dia memberikan nomor ponsel salah satu pengawal Joana yang cukup dekat dengannya.


Tanpa menunggu, Ammar langsung melakukan panggilan ke nomor itu dan hanya dalam hitungan detik, panggilan itu sudah dijawab dari seberang sana.


"Dengar aku baik-baik, aku Ammar. Katakan dimana Joana berada saat ini." tanya Ammar saat panggilannya tersambung, ia yakin pengawal itu mengenalnya karena beberapa kali ia dan Joana pergi diikuti oleh mereka.


"........."


"Apa? Aku akan segera kesana."


Sesampainya Ammar di lokasi yang diberitahukan salah satu pengawal Joana tadi, ia langsung bertemu dengan dua orang pengawal Joana yang cukup ia hafal wajahnya.


"Apa maksud kalian jika Joana tidak kembali?" tanya Ammar tanpa basa-basi.


"Begini Tuan, kami tadi memang mengawal kepergian Nona Joana dan anak kecil yang dia jemput dari sekolahnya. Tapi..." Salah seorang pengawal itu menjawab dengan ragu dan menyikut temannya yang lain untuk lanjut menjelaskan.


"Itu Shaka, anakku! Lalu dimana mereka sekarang?" Ammar menatap tajam kearah dua orang berbadan tegap didepannya.


"Mereka tadi bermain di taman ini. Lalu saya melihat mereka pergi ke toilet dan ingin mengikuti tapi Nona Joana melarangnya, karena mereka hanya akan menuju Toilet taman yang berada disudut sana." jelas pengawal yang satunya lagi seraya menunjuk arah toilet yang ia maksud.


"Lalu?" Ammar mengernyit, jawaban mereka kenapa setengah-setengah tidak langsung ke point nya saja.


"Mereka tidak juga kembali. Saya dan rekan saya menyusul mereka setelah setengah jam kemudian tapi kami..."


"Kenapa? Apa yang terjadi? Katakan!!" Ammar mulai tersulut kemarahannya.


"Mereka tidak ada disana dan tidak dapat kami temukan diseluruh area taman ini." Pengawal itu tertuntuk, ia jelas sudah bisa membaca kemarahan Ammar sekarang.


"Sial!!!" Ammar mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.


"Kami sudah mencari kemana-mana Tuan. Saya juga sudah melapor ke bagian keamanan taman."


"Apa ada petunjuk?"


"Kami mencurigai seseorang, Tuan."


"Siapa?" tanya Ammar seraya menduga-duga jawabannya sendiri yang sejak tadi ia pikirkan.


"Dugaan kami, lelaki yang selama ini dihindari Nona Joana. Akibat lelaki ini juga lah kami ditugaskan untuk mengawal Nona."


"Kepa-rat!!" Ammar benar-benar emosi sekarang, karena yang ia pikirkan jelas saja adalah Xander. Yang ternyata lelaki itulah juga yang diduga oleh dua pengawal Joana.


"Kami sudah mengecek CCTV taman, tapi sekitaran toilet memang tidak ada dalam rekaman CCTV itu, karena menyangkut privasi oranglain." jelasnya.


"Apa tidak ada yang mencurigakan di CCTV bagian taman yang lain?"


"Ada Tuan, di sekitaran pelataran parkir, kami melihat seorang lelaki yang kemungkinan adalah Xander."


"Kalian yakin? Apa kalian sudah pernah melihat wajah Xander sebelumnya?"


"Belum, tapi hanya lelaki itu yang berpostur dan berparas asing. Wajahnya tidak seperti orang Indonesia. Dia--"


"Oke aku paham." Ammar kembali melangkah ke mobilnya dan meninggalkan dua pengawal itu.


Kini Ammar berada dalam mobilnya sambil memukul-mukul kemudi yang berada dihadapannya.


"Breng-sek!!" umpatnya. Ammar begitu kesal, kenapa lagi-lagi lelaki itu harus mengusik kehidupan Joana. Apalagi sekarang Shaka harus terbawa-bawa dalam masalah ini.


Jika Ammar yang dia jadikan pelampiasan mungkin Ammar akan menerima karena memang Ammar-lah yang memulai hubungan dengan Joana. Tapi Ammar benar-benar tak terima jika Shaka anaknya harus disangkut-pautkan, terlebih lagi Ammar juga memikirkan Joana. Dua orang yang begitu penting saat ini untuk Ammar--mereka sekarang entah dimana dan kemungkinan besar berada dalam kekuasaan Xander.


"Aku harus mencarinya!" Batin Ammar. Ammar langsung teringat gedung Apartemen Joana, disanalah Xander juga menyewa sebuah Apartemen untuk tempat tinggalnya selama di Indonesia. Ammar mengingat cerita Joana dulu yang pernah dibawa Xander secara paksa ke Apartemen itu.


"Baiklah, kita mulai semuanya dan Kau akan tahu lawanmu siapa dan seperti apa." Tekad Ammar sambil mengepalkan tangannya penuh amarah.


...Bersambung......


..._______...


Tolong beri dukungan terus untuk karya ini dengan like, komen, vote dan hadiah... karena SEASON II ini kemungkinan gak akan terlalu panjang. Kita bakal tuntaskan yah, karena alur ceritaku gak akan terlalu berbelit-belit. Ini hanya konflik ringan yang sesukanya penulis aja mau dibawa kemana. Hehehe...


Tinggalkan jejak guys🎉