How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Masa lalu



"Mona?" Rey terperangah menatap Mona yang dibawa paksa oleh ajudan yang biasa bersama Ardi.


"Ada apa ini, Om?" Tanya Rey beralih pada Ardi yang berdiri tak jauh dari Mona dan ajudan itu.


"Dialah dalang penyebar berita itu!" Ucap Ardi datar dan Rey berdecak lidah mendengarnya.


"Maafkan aku, Rey!" Ucap Mona dengan suara lirih.


"Kau!" Rey melihat Mona dengan tatapan marah. "Apa sebenarnya yang kau inginkan, Mona?" Tanya Rey. Intonasi suara pemuda itu berubah tinggi. Ia tak terima jika ini semua ulah Mona. Padahal awalnya ia mengira jika ini adalah ulah Ammar. Kenapa harus Mona?


"Rey, aku ingin kembali padamu. Tapi gadis itu merebut tempatku. Seharusnya dihatimu hanya ada aku, Rey!" Suara Mona meninggi diselingi isak tangisnya yang mulai terdengar.


Rey membuang pandangan dari arah Mona, ia menatap ke lain arah. Tak sanggup melihat gadis itu menangis.


"Tolong jangan menangis didepanku!" Ucap Rey datar. Ia merasa dejavu jika melihat Mona menangis.


"Kenapa Rey? Kau tidak bisa melihatku menangis tapi kau sumber dari tangisanku ini!" Jawab Mona dengan suara parau. Tangisnya benar-benar membuat Rey mengingat masa lalu mereka.


"Om, biarkan aku bicara berdua dengannya. Tinggalkan kami!" Pinta Rey pada Ardi. Dan tanpa bertanya, Ardi dan satu ajudannya itu pergi meninggalkan keduanya yang kini berada dalam ruangan kerja Rey dikantor.


Suasana kantor tengah sepi karena semua pegawai dan staff yang bekerja sudah pulang dari sore tadi. Kini tinggal-lah dua anak manusia itu berada dalam ruangan Rey untuk menyelesaikan masalah mereka yang sudah lama malas untuk diungkit oleh Rey.


"Rey, ku mohon maafkan aku. Aku cemburu melihatmu akan menikah. Bukankah kau berjanji akan menikah setelah aku? sekarang aku belum menikah dan kau mau menikah. Aku tidak terima, Rey!" Ujar Mona, posisinya yang terduduk di lantai membuatnya menjangkau kaki Rey dan tanpa ragu ia memeluk kaki pemuda itu.


"Jangan begini, Mona!" Ucap Rey. Entah apa yang ada dibenak pemuda ini sekarang. Ia tak mau lemah dihadapan Mona. Mona memang cinta pertamanya tapi Rey meyakinkan diri agar tidak lagi terjerumus pada gadis yang kini memeluk kakinya ini.


"Aku akan begini terus sampai kau memaafkan aku, Rey!"


"Aku sudah memaafkanmu! Sudah lama dan aku sudah melupakan semuanya!" Jawab Rey pelan.


"Tidak Rey! Kau belum melupakan aku. Aku tahu tangisanku salah satu kelemahanmu!"


"Itu dulu, Mona. Aku akan menikah dan kau bukan lagi prioritasku!"


"Kau menikah karena kau telah melecehkannya, hanya itu! Kau mencintaiku! Bukan gadis itu, Rey!" Mona terus saja men-doktrin Rey dengan ucapannya seolah kata-katanya itu akan ampuh dihadapan Rey seperti dimasa lalu.


"Mona, aku tidak mau mengatakan ini karena aku takut melukai hatimu. Tapi jika kau terus begini mau tak mau aku harus mengungkapkannya!" Jawab Rey serius. Ia menarik Mona agar berdiri dihadapannya dan gadis itu pun patuh untuk berdiri.


"Dengar Mona, mungkin dulu kau adalah seseorang yang penting bagiku, tapi sekarang tidak lagi." Jawab Rey pelan agar Mona menangkap maksudnya.


"Rey, aku sadar sekarang kebahagiaanku adalah kau, Rey!"


"Dengarkan aku, Carilah pria lain! Aku sudah melupakanmu. Aku akan segera menikah!" Tegas Rey.


Mona tak terima dengan ucapan Rey, ia berjinjit untuk mencapai leher pemuda itu dan melingkarkan tangannya disana, sedetik kemudian ia mendaratkan ciuman ke bibir pemuda itu. Rey refleks mendorong tubuh Mona karena terkejut dengan aksi gadis itu yang tiba-tiba.


"Apa-apaan kau? Apa yang kau lakukan?" Bentak Rey seraya mengelap bibirnya sendiri.


"Aku ingin memastikan jika kau memang sudah hilang rasa padaku!" Ucap Mona sambil tersenyum dan ia seperti hendak mengulangi perbuatannya lagi.


"Cukup, Mona! Kau benar-benar membuatku muak!" Rey beranjak untuk meninggalkan Mona, biarlah Ardi dan ajudan itu saja yang akan mengurusnya-pikir Rey. "Kau tidak bisa diajak bicara baik-baik. Kau lebih suka dengan kekerasan!" Ujar Rey marah. Mona sampai terkejut dan gemetar melihat kemarahan Rey. Sebelumnya Rey tak pernah kasar padanya.


"Rey!" Pekik Mona dengan rasa takut-takut tapi tetap juga ia lakukan. "Tolong jangan ingkari janjimu!" Mona menangis tersedu-sedu.


Rey merasakan dejavu itu lagi. Ia seperti tertarik ke masa-masa saat bersama Mona dimasa kuliah.


*Flashback On


Rey bolos jam mata kuliah dan memutuskan mencari angin segar di atap gedung kampusnya. Rey memandang jauh kedepan lalu memutuskan untuk menghubungi Doni dan Kevin agar bergabung bersamanya. Tapi suara isak tangis seseorang menyadarkan Rey jika ia tidak berada seorang diri disana. Rey melihat seorang gadis duduk meringkuk dengan memeluk lututnya sendiri di salah satu sudut ruangan terbuka itu.


"Kau kenapa?" Tanya Rey pada gadis yang meringkuk sambil menangis itu. Gadis itu hanya menggeleng dan tak berniat menunjukkan wajahnya.


"Kalau kau tidak berniat bicara juga tidak apa-apa. Aku juga tidak tertarik dengan permasalahan orang lain." Jawab Rey cuek. Ia ingin melangkah meninggalkan gadis itu. Tapi baru selangkah ia malah mendengar suara gadis itu mencegat langkahnya.


"Tunggu!" Suara gadis itu menghentikan langkah Rey. Ia berbalik dan melihat gadis itu sudah dengan mata yang memerah dan ternyata wajah bulat itu penuh dengan luka memar dan lebam kebiruan.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi denganmu?" Tanya Rey terkejut saat melihat memar diwajah gadis itu. Ia mendadak prihatin sekaligus ngeri diwaktu bersamaan.


"Kau pikir aku bodoh, tidak bisa membedakan yang mana akibat jatuh dan yang mana akibat dipukuli?" Ucap Rey sarkas.


Gadis itu kembali memeluk lututnya tapi sekarang tak malu lagi untuk menunjukkan wajahnya. "Yah kau benar, ini akibat KDRT." Ucap gadis itu sambil tergugu.


"Kau harus melaporkan ini ke polisi!" Saran Rey. "Apa masih banyak yang lain?" Tanya Rey karena merasa prihatin.


Gadis itu ternyata malah menunjukkan memar dan luka dibagian tubuh yang lainnya tanpa ada rasa malu pada Rey. Ia memperlihatkan luka dibagian punggung dengan sedikit menyingkap kemeja belakangnya. Lalu ia menunjukkan lebam lain yang berada di perutnya. Rey terperangah sekaligus iba melihat gadis itu.


"Aku dipukuli oleh Ayah tiriku!" Ujarnya seraya kembali menangis. "Siapa namamu? Aku Mona." Ucap Gadis itu memperkenalkan diri. Ia masih terisak ketika mengulurkan tangan pada Rey.


"Aku Reyland." Rey menyambut uluran tangan Mona.


Itulah pertemuan pertama Rey dan Mona. Sejak saat itu, Rey dan Mona menjadi akrab dan Rey menjadi sandaran untuk Mona. Dimanapun dan kapanpun, Rey bersedia dan selalu ada untuk Mona. Bahkan ketika tubuh gadis itu diinjak-injak oleh Ayah tirinya, Rey pasang badan untuk membelanya. Beberapa kali mereka melaporkan Ayah tiri Mona, tapi pria tua itu bisa lolos dengan uang jaminan. Entahlah, Rey tidak mengerti hukum pada saat itu.


Rey seringkali melihat Mona menangis dalam keadaan mengenaskan. Sejak itu pula ia menjadi terngiang-ngiang akan tangisan Mona.


"Suatu saat, kita akan menikah!" Ucap Mona pada suatu hari ketika keduanya sudah akrab satu sama lain.


"Benarkah? Apa itu berarti kau akan menikah denganku?" Tanya Rey.


"Entahlah, tapi kau harus berjanji! Jika aku tidak menikah denganmu, kau harus memastikan aku menikah lebih dulu baru kau bisa menikah juga!" Ucap Mona dan Rey mengangguk setuju. Mereka melakukan janji dengan menautkan jari kelingking mereka satu sama lain.


*Flashback Off


"Rey!!" Mona kembali berteriak sat Rey menyentuh handle pintu. Sebenarnya Rey tak tega pada Mona. Ia tahu Mona gadis yang lemah dan selalu bergantung padanya, tapi itu dulu. Mona tak boleh terus bergantung padanya. Dan Rey harus tegas sekarang karena ia telah memiliki Kinan. Rey tak mau Kinan tersakiti, karena Rey amat menjaga perasaan wanitanya itu. Terlebib Kinan pernah terang-terangan cemburu pada Mona dihadapan Rey.


"Apa?" Jawab Rey setengah marah.


"Kau tidak akan menikah kan sebelum aku?" Tanya Mona sambil berbinar menatap Rey.


"Kau benar-benar memaksaku mengungkapkan semuanya, ya?" Tanya Rey sambil mencebik.


"Mengungkapkan semua, apa?" Mona menatap Rey heran.


"Ayolah Mona! Kau pikir aku tidak tahu kalau kau sudah menikah dengan David? Aku tahu semuanya, Mona! Dan sekarang kalian sudah bercerai lalu kau mau kembali padaku?" Rey menatap Mona yang berubah pias secara mendadak akibat ucapan Rey. Darimana Rey mengetahui kenyataan ini?-Batin Mona.


"Kau sudah pernah menikah, artinya aku menepati janjiku karena sudah memastikanmu menikah kan? Tapi aku tidak pernah berjanji memastikan hubungan pernikahanmu akan baik-baik saja!" Ujar Rey sambil tersenyum miring.


"Kau--" Mona tak sanggup melanjutkan kalimatnya, karena mulutnya terasa tercekat.


"Kenapa? Kau bingung aku tahu darimana? Didunia ini tidak ada namanya rahasia. Semua akan terungkap pada waktunya!" Ucap Rey datar dan ia segera membuka pintu ruangan itu untuk keluar dari sana.


"Tunggu Rey, apa kau benar-benar sudah jatuh cinta pada gadis itu?" Mona masih belum yakin jika Rey yang dulu mati-matian membela dan mengejarnya sudah berpaling sekarang.


Rey mengangkat bahu. "Kau tahu kan, aku tidak pernah main-main dengan semua ucapanku!" Jawab Rey ambigu. Tapi Mona sudah dapat mengerti maksud dari kalimat itu.


"Baiklah." Mona tertunduk lesu.


Rey keluar dari ruangan itu tanpa mendengar ucapan terakhir dari Mona, ia melihat Ardi dan ajudan itu berdiri di samping pintu. "Urus dia. Jangan sampai hal seperti ini terjadi lagi." Ucap Rey datar seraya melangkah keluar untuk meninggalkan gedung perkantoran.


.


.


.


.


Bersambung...


**Oke guys... Next part kalian semua diundang ya ke acara nikahnya Rey dan Kinan. Jangan lupa pakai masker, cuci tangan dan jaga jarak..hihihi😂 Stay healthy yups❤️🙏🙏🙏


Tinggalkan jejak yuk😘😘😘** Vote + like + komentar + hadiah \= Rame deh lapak eyke🤣 Terimakasih🙏