How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
SEASON II - Membantumu



Joana tidak habis pikir, apa yang sebenarnya Ammar butuhkan sampai lelaki itu nekat berjalan menghampirinya di sisi Sofa. Melihatnya meringis kesakitan Joana pun menjadi tidak tega.


"Kau terlalu banyak bergerak, apa yang sebenarnya kau butuhkan?" tanya Joana seraya menatap Ammar.


Namun jawaban Ammar selanjutnya berhasil membuat Joana melongo.


"Ini sudah sore, saatnya aku membersihkan tubuh. Bisakah bantu aku membersihkan diri?"


Dalam hatinya, Joana merutuki dirinya sendiri. Pagi tadi, dia sendiri yang merasa tidak rela jika sampai Ammar dibantu oleh perawat wanita untuk membersihkan diri. Joana akan merasa bahagia jika dilibatkan dalam hal mengurus Ammar, tapi kenapa sekarang dia juga terlalu malu untuk membantu Ammar melakukannya?


"Jo, bisakah? Mama sudah pulang tadi karena anak-anak tidak ada yang menjaga sepulang mereka sekolah." kata Ammar lagi.


Joana larut dalam keheningan tanpa bisa mengeluarkan suaranya.


"Shaka dan Lesya perlu makan siang dan hal lainnya, jadi aku menyuruh Mama pulang. Maaf jika akhirnya harus merepotkanmu."


"Em, tidak. Aku tidak merasa direpotkan."


"Terima kasih, Jo."


"Hmm.."


"Lalu, bagaimana? Apa bisa kau--"


"Em, aku harus memulainya darimana?" potong Joana gugup.


Ammar terkekeh kecil. "Semangat sekali?" godanya.


Joana membuang pandangan ke arah lain. "Tidak!" sanggahnya. "Aku akan meminta perlengkapannya dulu pada perawat." Joana pun berlalu dari hadapan Ammar dengan jantung yang berdegup kencang.


Tak sampai sepuluh menit, perempuan itu sudah kembali dengan perlengkapan untuk Ammar membersihkan diri. Dia membantu Ammar agar duduk disebuah kursi roda--agar memudahkan Ammar supaya tak banyak bergerak.


Sesampainya dikamar mandi, Ammar melihat wajah Joana yang sudah merah padam.


"Aku akan membersihkan diriku sendiri, Jo!" ucap Ammar pada akhirnya.


"Ti-tidak, aku-aku akan membantumu." kata perempuan itu.


Ammar mengangkat bahu dan dia meminta Joana mengambilkan sikat dan pasta giginya, setelah itu Ammar tentu bisa melanjutkan sendiri.


Selesai dengan hal tadi, Ammar kembali bersuara.


"Aku bisa melakukannya sendiri, aku tahu kau terlalu malu untuk ini, Jo." ucap Ammar pelan tapi tetap terdengar dipendengaran Joana.


"Keluarlah, aku bisa." kata lelaki itu lagi.


Joana keluar dari kamar mandi dengan perasaan setengah lega setengah tak tega.


Selang beberapa menit, Joana tak mendengar suara apapun lagi dari kamar mandi. Mendadak dia menjadi cemas.


"Ammar, apa kau bisa?"


Hanya terdengar gumaman Ammar yang tak jelas.


"Ammar, kau butuh dibantu?" tanya Joana lagi.


Namun Joana tak mendengar jawaban dari Ammar. Perempuan itu sontak membuka pintu kamar mandi yang memang tidak dikunci.


"Astaga." Joana terkejut, ia refleks menutup sekaligus membanting pintu kamar mandi dengan sedikit kuat. Apa yang baru dilihatnya membuat dia malu setengah mati. Samar-samar terdengar kekehan Ammar dari dalam kamar mandi, entah kenapa Joana merasa suara Ammar seperti sedang mengejeknya.


Joana berjalan menghentak-hentakkan kakinya hingga ia sampai di sofa. Ia menghempaskan bokoongnya disana dengan perasaan kesal bercampur malu. Ia bersedekap dan bibirnya mencebik.


"Dasar mesum!" umpatnya dan terdengar lagi suara kekehan Ammar yang menertawainya.


"Jo, bantu aku.." jerit Ammar dari kamar mandi.


"Tidak mau! Kau pakai saja dulu celanamu!" jawab Joana tak acuh. Bibirnya tetap cemberut karena bayang-bayang yang sempat ia lihat dikamar mandi tadi memenuhi kepalanya.


"Hahaha, aku tidak tahu kau akan masuk. Aku hanya sedang membersihkan tubuh bagian bawah." Kilah Ammar sambil terus terkekeh nyaring.


Mendengar tak ada sahutan dari Joana, Ammar menghentikan tawanya.


"Tolong bantu aku membersihkan tubuh belakangku, Jo.. aku tidak bisa melakukannya." ucap Ammar melirih.


"Bersihkan sendiri! Atau aku panggil perawat saja." ucap Joana tak acuh.


Mereka masih berkomunikasi dari jarak beberapa meter dan Ammar masih berada didalam kamar mandi yang pintunya sudah ia buka lagi.


"Astaga, apa ini salahku? Aku tidak dengan sengaja memperlihatkannya!" Ammar tergelak. "Ayolah, Jo! tinggal bagian sini." Kata Ammar seraya memperlihatkan bagian punggungnya.


Joana berdecak, ia berusaha mengalah dan menghampiri Ammar dengan masih sedikit kesal, Ammar telah memakai celananya kembali. Joana pun mengambil washlap yang Ammar sodorkan kepadanya. Washlap itu sudah ia pegang, tapi melihat tubuh Ammar yang bertelanjangg dada membuatnya kembali ragu. Perasaan gugup kembali menyelimutinya.


"Anggap aku pasienmu. Jangan berpikiran yang tidak-tidak." kata Ammar membuyarkan lamunan Joana yang sudah berdiri dibelakangnya.


"Berpikiran yang tidak-tidak, heh! Apa maksudnya?" elak Joana sok cuek.


"Jangan berpikiran mesum!" jawab Ammar seraya terkekeh kecil.


Joana berdesis mendengar penuturan Ammar. Jelas-jelas Ammar yang sudah mesum tadi. Tapi kalau dipikir-pikir bukan mesum juga, kan Ammar memang tengah membersihkan diri?


Akhirnya dengan perasaan gugup, Joana mulai menggosok punggung terbuka Ammar dengan washlap. Tangannya gemetaran karena dia tidak bisa menganggap Ammar pasien biasa, walau bagaimanapun Ammar dan dia memiliki ketertarikan satu sama lain. Apalagi ini adalah pengalaman pertama Joana memegang punggung terbuka seorang lelaki dewasa. Terlebih Joana bukan Dokter umum yang biasa melihat tubuh pasiennya. Tentunya dia tidak terbiasa!


Joana terdiam namun tangannya terus bekerja ditubuh bagian belakang milik Ammar.


Sedangkan Ammar, disentuh Joana membuat jantungnya bertalu-talu, pembuluh kapiler didalam tubuhnya mungkin sudah membesar, darahnya pun entah kenapa terasa berdesir hebat.


"Jo, supaya kau tidak malu lagi. Bagaimana kalau kita menikah saja?" tanya Ammar serius.


"Hah?"


Ammar terkekeh, ia menikmati keterkejutan Joana dan juga aktifitas yang Joana lakukan. Sebagai lelaki normal, kegiatan ini cukup membuat gairahnya naik. Berbeda jika yang melakukannya adalah orang lain. Tapi ini dilakukan oleh Joana yang adalah kekasihnya. Apalagi Joana menggosok punggungnya yang terbuka dengan sangat lembut.


"Aku mau menikahimu." kata Ammar lagi, ia memejamkan matanya menikmati sentuhan Joana dibelakang sana.


Joana terdiam, sedetik kemudian dia melempar washlap ke pangkuan Ammar yang terduduk dengan agak kasar.


"Sudah selesai!" ucap Joana seraya ingin melangkah keluar kamar mandi.


Ammar mengernyit melihatnya. Sebelum Joana benar-benar pergi, ia menarik pergelangan tangan perempuan itu.


"Kenapa?" tanya Ammar. Dia heran melihat Joana, bukankah ia mengajak Joana menikah kenapa pula sekarang perempuan ini tampak marah?


"Kau bertanya kenapa?" Joana menatap Ammar. Ammar pun menganggukkan kepalanya.


"Kau melamarku didalam kamar mandi Rumah Sakit?" Joana memutar bola matanya malas. "Yang benar saja!" sambungnya.


Ammar langsung tersadar akan apa yang telah ia lakukan. Ia menepuk jidatnya sendiri.


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


"Kau sudah makan malam?" tanya Ammar pada Joana yang nampak kembali banyak diam.


"Sudah." jawab perempuan itu singkat.


"Kau kenapa? Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Ammar lembut seraya menatap Joana yang duduk di sisi ranjangnya.


Joana menggeleng. "Tidak ada. Istirahatlah, sudah malam." kata Joana menghindar.


"Hmm.."


Hening, tidak ada pembicaraan lagi diantara mereka berdua. Joana berjalan menuju sofa, ia akan tidur disana saja seraya menemani Ammar di ruang rawat malam ini.


"Maaf jika caraku salah, tapi aku serius dengan kata-kataku bahwa aku mau menikahimu." ucap Ammar tiba-tiba, membuat Joana refleks menghentikan langkahnya. Joana menoleh kearah Ammar dan Joana tersenyum sekilas. Entah apa yang tengah Joana pikirkan sekarang.


"Aku memang tidak romantis, Jo! Ku pikir umurku sudah tidak pantas melakukan hal-hal demikian, tapi melamar di dalam kamar mandi Rumah Sakit juga lebih tidak pantas lagi." kata Ammar seraya menatap langit-langit kamar. "Aku akan memikirkan cara yang tepat setelah aku pulih," sambungnya.


Joana merasa tubuhnya membeku ditempat, ia tidak bisa bergerak dan suaranya nyaris tercekat tak bisa ia keluarkan. Apa yang ia takutkan kini terjadi juga.


Takut? Ya, Joana takut Ammar akan menanyakan perihal pernikahan lagi. Bukannya dia tidak ingin serius dalam menjalani hubungan dengan Ammar, tetapi dia belum berani mengutarakan niat Ammar itu pada keluarganya. Dengan menerima lamaran Ammar, mau tidak mau dia harus membuka status Ammar yang sesungguhnya didepan keluarganya. Itulah yang paling dia takutkan, karena selama ini hal itu yang dia tutup rapat dari keluarganya.


Ya, Joana terlalu takut untuk jujur pada keluarganya dan kejujuran itu akan berakhir dengan penolakan yang akan menyakiti hatinya dan juga hati lelakinya.


...Bersambung ......