
Ballroom Hotel yang luas telah dirancang sedemikian rupa, menampilkan penampilan ruangan yang elegan dan berkelas. Lampu-lampu menyorot kesemua ruangan, tamu-tamu mulai berdatangan. Itu semua karena pengusaha kaya dan cemerlang di dunia bisnis, tengah mengadakan acara resepsi pernikahan anak lelaki pertamanya, Kevin Winata.
Harun Winata-ayah Kevin, ia yang notabene-nya memang telah memiliki perusahaan bisnis secara turun-terumun dari bisnis kakeknya terdahulu, tidak mau melewatkan hari bahagia anaknya dengan acara yang biasa-biasa saja.
Ballroom hotel yang sudah didesain itu menjadi buktinya, bahwa pesta pernikahan Kevin dan Desi bukan pesta yang sederhana, melainkan sangat mewah dan megah. Semua itu tidak luput dari campur tangan Nyonya Becca, selaku Mama Kevin. Ia tahu jika suaminya menanam banyak saham di hotel ini dan ia tak mau melewatkan kesempatan untuk ikut mengatur apapun yang akan dibuat di pesta pernikahan anaknya. Bisa dibilang, ia punya andil yang besar di pesta ini.
Berbeda dengan keluarga Rey yang lebih menunjukkan kesederhanaan, keluarga Kevin lebih suka sesuatu yang glamor dan itu sudah terbiasa bagi semua yang mengenal kedua keluarga itu.
Desi dan Kevin tampak serasi, mereka menjalani proses resepsi dengan senyum semringah. Jangan tanyakan penampilan sepasang pengantin baru itu, mereka sudah jelas mengenakan yang terbaik. Kevin mengenakan tuxedo berwarna hitam dengan dasi kupu-kupu melingkari lehernya. Jangan lupakan juga gaun pengantin yang Desi kenakan, Nyonya Becca bahkan turut memilihkan yang serba berkilau, seperti seleranya. Desi mengapit Kevin dengan gaun pengantin yang menjurai indah dihiasi banyak kilauan swarovski. Mereka benar-benar terlihat serasi dan luar biasa.
______
Semua keluarga telah berkumpul, kedua orang tua Kevin, kedua orangtua Desi, beserta kakak Desi dan suaminya. Ah, jangan lupakan Keyra, adik perempuan Kevin yang manis, gadis yang selalu memperhatikan penampilannya itu juga tampak benar-benar cantik hari ini.
Doni dan keluarganya juga hadir, semua memutuskan untuk pulang ke Indonesia dan tengah mempersiapkan pernikahan Doni dan Sinta yang rencananya akan dilakukan beberapa bulan lagi. Doni duduk dengan Sinta yang mendampinginya.
Di lain sisi, Orangtua Rey yang juga sudah mengisi daftar kehadiran, tengah berbincang hangat dengan keluarga Kevin. Lalu entah bagaimana juga sudah bergabung dengan keluarga Doni di sebuah meja bundar. Mereka membahas banyak hal. Mulai dari bisnis, kegiatan, kuliner, serta hal-hal kecil mengenai hobi mereka masing-masing.
"Tant, Rey dan Kinan belum kelihatan?" Tanya Doni yang menyapa Nyonya Zehra.
"Iya, mungkin agak terlambat. Kinan sudah sulit berjalan. Tapi dia tetap ngotot mau datang kesini." Jawab Nyonya Zehra seraya tersenyum lembut khasnya.
"Iya mereka wajib datang karena ini adalah hari bahagia kami, Tant." Celetuk Kevin yang tiba-tiba saja sudah berada disana padahal sebelumnya berada di pelaminan.
"Sayang, jangan memaksakan kehadiran mereka. Kinan sedang hamil tua. Kalau dia melahirkan disini bagaimana?" Ucap Desi pada Kevin.
"Iya juga ya. Memangnya bulan ini dia akan melahirkan?"
"Katanya sih iya. Tapi perkiraannya akhir bulan." Jawab Desi.
Mereka pun melanjutkan membahas hal lain sambil memakan hidangan yang sudah tersaji. Sesekali mereka membuat lelucon hingga membuat semua dimeja besar itu tertawa. Tiba-tiba suara seseorang menyeletuk diantara mereka.
"Maaf kami baru datang." Rey datang sembari memegangi pinggang Kinan dengan posesif. Sikap keduanya terlihat sangat berhati-hati. Rey mengenakan jas hitam formal yang terlihat pas ditubuh atletisnya, nampaknya itu memang dibuat khusus untuk tubuhnya sehingga sangat pas saat ia kenakan. Sedangkan Kinan, ia menggunakan gaun berwarna senada-hitam metalic yang membentuk perut buncitnya, membuat tidak ada yang bisa menyangkal kehamilannya yang memasuki trimester akhir.
Kinan melepas rangkulan Rey di pinggangnya, dengan perlahan ia menghampiri Desi dan melakukan 'cipika-cipiki', lalu ia beralih menyalami Kevin. "Selamat untuk kalian berdua." Ucapnya.
Kinan dan Rey membaur dengan semua keluarga yang berada disana. Tak terkecuali dengan keluarga Doni yang baru sampai dua hari lalu di Indonesia. Mereka terlihat antusias dengan kehamilan Kinan.
Sementara Rey dan Kevin membahas tentang malam pertama yang akan Kevin jalani sebentar lagi. Mereka mengejek Doni yang belum menikah dan itu membuat Doni jengah dan mengibas-ngibaskan tangannya tanda tak minat dengan obrolan mereka.
"Mas, aku mau makan itu." Kinan menunjuk sebuah stand makanan yang menyajikan jajanan pasar.
"Baiklah, kamu tunggu disini aku akan mengambilkannya."
Kinan mengangguk patuh dengan wajah berbinar-binar ia menanti kedatangan Rey. Rey datang dengan senampan penuh jajanan pasar yang hampir semua berisi kue-kue-an tradisional.
"Aku mau sate, Mas." Kinan kembali menunjuk stand makanan yang lain.
"Oke. Ada lagi?" Rey tidak terkejut karrna memang naf-su makan istrinya sangat besar akhir-akhir ini. Tapi badannya tidak menggemuk, pinggangnya juga tetap ramping, hanya perutnya saja yang semakin membesar.
"Em...itu saja. Nanti kalau mau lagi aku bilang." Ucap Kinan seraya mengunyah makanan yang sudah ada didepannya.
Rey beranjak dan mengambil pesanan Kinan, ia bisa saja meminta jasa pelayan tapi jika istrinya memintanya, ia hanya bisa pasrah dan menuruti. Itu artinya Kinan tidak mau hal itu dilakukan orang lain, Kinan hanya butuh Rey untuk menurutinya.
"Aku mau dimsum." Seolah tak membiarkan suaminya itu untuk duduk, Kinan terus meminta ini itu saat Rey sudah mencapai meja mereka.
Doni, Kevin, Desi, Sinta dan Joana terkikik geli melihat Rey. Mereka merasa Rey telah dikerjai oleh Kinan.
"Lo liat aja nanti kalo istri lo hamil, lo juga gak akan bisa nolak!" Ujar Rey ke arah Kevin dengan senyum mengejek. Kevin ikut tersenyum tapi perlahan senyumnya berubah menjadi senyuman penuh ironi.
Mereka yang awalnya menertawai Rey beralih menertawai Kevin. Sementara Desi tersenyum jahil dengan penuh maksud. "Gak mesti nunggu hamil kan sayang? Kalau aku maunya sekarang kamu ambilkan aku dimsum juga, boleh gak?" Desi memandang Kevin dengan senyuman yang terkembang.
"Lo rasain tuh, Nyet!" Timpal Doni yang seketika menciut kala Sinta juga menatapnya dengan seringaian licik.
"Astaga, apa gue juga bakal disuruh ambil-ambil makanan sama Sinta seperti yang dilakukan Kinam dan Desi?" Tanya Doni dalam hati.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Pesta telah berakhir, sekarang Rey tengah memapah istrinya yang sedari awal kedatangan di pesta selalu menguyah makanan tanpa henti. Kini Kinan harus berjalan sempoyongan akibat kekenyangan.
"Aku kenyang banget, Mas." Ujar Kinan saat memasuki pintu rumah mereka.
"Ya aku tahu. Aku yang liat saja sudah ikutan kenyang." Celetuk Rey jujur.
Kinan tersenyum sekilas, kemudian dia ingin membuka flatshoes yang ia kenakan. Tapi Rey melarangnya, Rey malah berjongkok dan membantu melepas sepatu istrinya itu. Ia tahu Kinan akan kesusahan membuka sepatu itu karena perut besarnya yang menutupi.
"Ah, Mas...kenapa panas sekali." Kinan mengipas-ngipas dirinya dengan tangan. Dahinya tiba-tiba berkeringat.
"Aku sudah menyalakan pendingin ruangan." Jawab Rey seraya melepas jasnya dan menyampirkan di sisi sofa.
"Mbak Isna, tolong bereskan semuanya ya. Juga tas dan sepatu istriku." Rey meminta bantuan pada ART-nya, dan diangguki oleh perempuan seengah baya itu. Kemudian Rey meraih tubuh Kinan dan menggendongnya menuju kamar. Kinan hanya bisa pasrah seraya melingkarkan tangan di leher suaminya itu.
"Mas, nyalain Ac-nya. Panas banget!" Kinan kembali kepanasan saat Rey tengah membantunya mengganti pakaian. Wanita itu tidak bisa bergerak lagi karena kenyangnya.
Rey mengernyit heran, dia sudah menyalakan pendingin ruangan kamar. Dari lantai bawah Kinan juga sudah merasa kepanasan padahal Rey sendiri tidak merasa kepanasan. Biasa saja, sama seperti hari biasanya dirumah ini.
"Mas kok basah?" Kinan memegang kasur yang ia tiduri. Pakaiannya yang sudah berganti menjadi piyama terlihat basah.
"Astaga, Sayang!" Rey memekik melihat cairan yang merembes ke bed cover. "Sepertinya kamu akan melahirkan." Rey mendadak panik, padahal ia sudah belajar mengenai apa yang harus dilakukan disaat seperti ini pada saat ikut kelas kehamilan.
Rey membuka dua kancing kemejanya karena belum sempat berganti baju. Ia sibuk membantu Kinan mengganti piyama, sampai lupa bahwa dirinya sendiri belum berganti pakaian. Ia menarik lengan kemeja sampai batas siku kemudian ia kembali menggendong Kinan untuk turun kebawah. Sedangkan Kinan, ia yang mendadak terdiam karena Rey bilang ia akan melahirkan.
"Mbak Isna...tolong suruh Pak Iwan siapkan mobil. Istriku akan melahirkan." Rey memekik dari lantai atas. Dalam hati ia mengumpat kenapa kamar tidurnya harus dilantai atas disaat genting begini.
Supir Rey yang bernama Pak iwan pun langsung tancap gas begitu Kinan dan Rey sudah memasuki kursi penumpang.
"Sayang, ayo bicara jangan diam saja." Bila tadi Kinan yang berkeringat dan merasa kepanasan, sekarang Rey yang merasakan hal itu.
"Aku takut, Mas." Satu kalimat yang Kinan ucapkan itu membuat dada Rey mendadak terasa teriris. "Tapi aku akan berusaha melahirkan anak kita." Ujarnya kemudian dengan senyuman yang dipaksakan. Peluh membasahi dahi wanita itu.
Jujur saja, dalam hati Rey saat ini sama takutnya dengan Kinan. Bahkan bisa dibilang, ia lebih takut dari Kinan. Membayangkan sesuatu terjadi pada anak dan istrinya. Entahlah.. Rey menarik nafas berulang kali agar ia bisa menyembunyikan rasa takut dan kekalutannya dimalam ini.
"Jangan takut, ada aku. Semua akan baik-baik saja. Kamu harus kuat. Oke?" Rey mencoba membujuk Kinan dan menyemangatinya padahal ia sendiri tak kuat melihat Kinan seperti ini.
"Arkkh..M-mas!!" Kinan menge-rangg tertahan.
"Kenapa?" Rey mengelus wajah Kinan yang mulai nampak pucat pasi dipangkuannya, menyeka peluh yang membanjiri pelipis wanita itu. Sementara mobil terus berjalan menuju Rumah Sakit.
"M-mas..Sakit, sa-sakit seka..li.." Kinan mulai mengalami sakitnya kontraksi.
"Pak, lebih cepat lagi. Istriku kesakitan!" Pekik Rey pada Pak Iwan.
Rey terus menggenggam tangan Kinan, seolah menyalurkan energi untuk istrinya. Baru saja ia melihat istrinya begitu lahap saat makan di pesta Kevin tadi, walau ia harus kesana-kemari menuruti kemauan Kinan di pesta. Tapi itu lebih baik daripada ia melihat wajah kesakitan Kinan saat ini. Tangan Kinan terulur dan Rey mengecupi bertubi-tubi tangan wanita yang dicintainya itu.
"Kuat sayang. Kamu harus tahan ya. Sebentar lagi kita sampai." Ujar Rey yang hanya dijawab Kinan dengan deheman pelan.
"Kita akan operasi sc saja!" Ujar Rey yang dijawab Kinan dengan gelengan. Ia tak sanggup lagi melihat istrinya kesakitan seperti itu.
"Aku...takut.. A-aku lebih..takut m-masuk ruang ope..rasi"Jawab Kinan sambil menahan sakitnya yang semakin menjadi.
Bersambung...