
Bora Bora, Polinesia, Prancis.
Terik matahari menyambut kedatangan pasangan pengantin baru itu, setelah beberapa hari mereka berjibaku menyelesaikan tahap dan persyaratan untuk terbang ke pulau ini, kini tibalah Rey dan Kinan di sini. Tempat mereka akan menghabiskan waktu honeymoon mereka.
Pulau Bora Bora,
Bora Bora merupakan pulau jajahan di seberang laut Prancis dan terletak di Samudera Pasifik, yang adalah objek wisata dengan perairan yang jernih dan dikelilingi pegunungan, sehingga banyak pasangan yang memilih berbulan madu ke sana.
Cuaca cukup cerah ketika Rey dan Kinan turun dari private boat.
Rey melirik istrinya yang tampak takjub dengan pemandangan yang ada di depan mata mereka.
"Kau senang?" Tanya Rey.
Kinan mengangguk seraya semakin menyurukkan wajahnya di dada bidang suaminya. Rey pun semakin merangkul erat pundak Kinan, mendekap istrinya itu semakin dalam ke pelukannya.
Mereka dipandu oleh seorang tour guide, yang akan membantu mereka selama berada di pulau ini.
"Silahkan nikmati istirahat kalian. Jika ada yang dibutuhkan atau kalian ingin berkeliling silahkan hubungi aku lagi." Ucap Alex, tour guide itu.
"Oke. Terima kasih." Jawab Rey tersenyum seraya masuk ke dalam kamar inap yang sudah ditunjukkan oleh pegawai yang bekerja di Resort itu beberapa menit sebelumnya.
°
Kamar dengan nuansa tropis namun terkesan elegan. Jendela yang langsung menghadap ke laut. Itulah kamar yang saat ini mereka tempati.
Setelah memasuki kamar tersebut, Kinan langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang. "Ah, nyamannya." Gumamnya seraya merentangkan tangan dan kakinya. Ia dalam posisi telentang dan menggesekkan kedua kakinya ke ranjang.
"Sayang, kalau kamu lelah, istirahat saja. Kita masih punya banyak waktu disini." Ucap Rey pelan.
Rey sibuk dengan barang-barangnya. Menyusunnya disudut kamar.
"Siapkan energi untuk meladeniku sepanjang malam." Goda Rey sambil terkekeh. Ia berharap Kinan menjawab godaannya dengan jawaban iya.
Hening, Rey tidak mendengar jawaban dari mulut istrinya, bahkan sekedar desisan malas dari bibir Kinan pun tak ia dapatkan.
Rey menoleh ke arah ranjang, disana ia melihat sang istri yang sudah tertidur bahkan sampai lupa melepaskan flatshoes-nya. Kaki Kinan menggantung diujung ranjang dengan posisi sepatu yang masih ia kenakan.
Rey menggeleng pelan dan berjalan menghampiri
"Apa suaraku seperti nyanyian yang bisa menidurkanmu?" Tanya Rey pelan pada Kinan yang tertidur, ia perlahan-lahan melepaskan flatshoes itu dari kaki istrinya. Kemudian Rey memutari ranjang dan bergerak ke samping istrinya yang tertidur. Ia membenarkan posisi Kinan dengan sedikit mengangkat tubuh Kinan secara pelan karena takut membangunkan sang istri.
Rey memandangi wajah Kinan yang tertidur dengan pulas, dielusnya pelan puncak kepala wanita itu dengan perasaan sayang lalu bibirnya mendarat di dahi sang istri.
Rey berjalan menuju kamar mandi, ia akan mandi sebelum memutuskan untuk tidur.
Selepas mandi, Rey menaiki ranjangnya. Lelaki itu akan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan kegiatan mereka hari ini. Ia melihat Kinan yang sepertinya masih tertidur tapi sekarang dengan posisi yang meringkuk. Rey pun berbaring di samping tubuh istrinya yang memunggunginya.
"Mas.." Suara Kinan membuat Rey kembali membuka matanya yang baru saja ia tutup.
"Huum?"
"Apa kau bahagia menikah denganku?" Tanya Kinan. Pertanyaan itu membuat Rey sedikit terkejut dan memutuskan untuk duduk di atas ranjang. Ia menggaruk tengkuknya sebentar sebelum memutuskan untuk menjawab Kinan.
"Kenapa kamu menanyakan hal itu?" Tanya Rey lembut. Ia menatap tubuh Kinan yang sama sekali tak bergerak dari posisinya, tetap membelakangi Rey.
"Aku..."
"Tentu saja aku bahagia, Sayang."
"Aku takut jika harus mengecewakanmu."
Rey menyentuh pundak Kinan dan mengelusnya pelan. "Kau tidak yakin padaku?"
Kinan bangkit dari posisinya. "Mas, aku yakin padamu tapi aku tidak yakin pada diriku sendiri jika aku bisa membahagiakanmu." Ungkap Kinan. Ia menatap mata hazel Rey yang juga tengah menatapnya.
Rey menarik nafas seraya mengembuskannya perlahan.
"Dengar aku, Aku yang akan membahagiakanmu. Kau tetaplah menjadi dirimu sendiri, aku sudah bahagia dan cukup dengan hal itu."
Kinan menunduk.
"Kenapa? Kau bermimpi buruk lagi?" Tanya Rey. Karena semenjak pernikahannya, ia masih sering mendengar Kinan bergumam dalam tidur akibat mimpi buruknya. Dan sebelum tidur tadi, Rey yakin ia dan Kinan tidak pernah membahas hal ini.
"Aku takut, Mas." Ucapan itu tercetus dari bibir mungilnya.
"Takut?"
"Yah.."
"Kau masih tidak mau menceritakan mimpimu akhir-akhir ini padaku?"
"Aku..."
Rey mengangkat dagu istrinya dengan jari telunjuknya, ia menatap lekat-lekat pemilik wajah ayu itu. "Apapun yang kamu pikirkan, ayo kita mencari jalan keluar bersama-sama. Bukankah aku ini suamimu?"
Kinan mengedipkan matanya sekali, sesaat setelah itu tanpa pernah ia duga Rey mengecup bibirnya dengan sangat dalam dan cukup lama. Bibir mereka bertemu satu sama lain, bersentuhan dan saling memberi gelenyar aneh di masing-masing pemiliknya.
"Aku tahu kau bermimpi tentang masa lalumu lagi kan?" Tanya Rey dengan senyuman miring. "Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Ammar di masa lalu, Ki. Dan aku tidak mau tahu." Lanjutnya.
"Mas.." Kinan tidak bisa berkata-kata, karena ia tidak yakin Rey mendengar gumaman tidurnya sampai dimana dan seperti apa.
"Tapi, yang aku ingin tahu, kenapa kau terus memimpikan masa lalumu itu? Apa kau masih memiliki perasaan pada pria itu?" Rey terlihat memijat pelipisnya.
Kinan menggeleng cepat.
"Aku takut tidak bisa membahagiakanmu karena aku sudah pernah gagal berumah tangga dimasa lalu. Aku tidak pernah membahagiakan Mas Ammar, aku takut mengulangi hal yang sama saat denganmu."
"Kau tahu, itu semua terjadi karena dia saja yang bodoh. Dia tidak menjagamu!" Suara Rey naik satu oktaf. "Aku tidak bodoh seperti dia. Aku akan menjagamu dan membahagiakanmu!" Lanjutnya.
Kinan mengangguk lemah. "Aku juga tidak tahu kenapa mimpi itu selalu datang. Mimpi saat Mas Ammar menemukanku di kamar mandi dan wajahnya berubah bengis." Tiba-tiba air matanya mengalir karena membayangkan wajah murka Ammar saat itu. Sangat mengerikan, itu menyisakan trauma mendalam pada batinnya.
"Apa?" Rey terkesiap mendengar itu, ia menghapus air mata Kinan dengan cepat.
"Aku tidak tahu kenapa wajah bengisnya selalu berputar-putar dikepalaku, Mas. Itu satu hal yang membuatku takut. Aku takut jika kau juga akan melihatku dengan wajah seperti itu."
Rey menggeleng. "Sebenarnya apa yang terjadi waktu itu?" Tanya Rey semakin penasaran.
Kinan mulai menceritakan pada Rey, sangat terlambat Rey tahu tentang hal ini. Mengingat ia pun hanya berfokus pada dirinya sendiri yang menyisakan trauma mendalam pada Kinan, tapi ternyata bukan hanya dia yang menyisakan trauma. Ammar pun juga begitu, bahkan trauma tentang Ammar masih melekat dihati Kinan sampai sekarang.
"Lalu kenapa saat denganku kau tidak takut? Bagaimanapun aku adalah orang yang--" Ucapan Rey itu terhenti.
"Mungkin karena saat itu aku tidak melihat wajahmu ketika kau melakukannya, Mas." Jawab Kinan. "Meski saat malam pertama kita, aku sedikit takut dan tak berani memejamkan mataku." Lanjutnya.
"Aku akan bicarakan hal ini pada Joana. Biar dia melanjutkan terapinya denganmu lagi." Ucap Rey.
"Bagaimana kalau Joana sudah pulang ke London?"
"No! Kalau perlu, aku akan memintanya tinggal disini sampai kau benar-benar sembuh."
Rey mengelus pipi Kinan. Ia bertekad dalam dirinya sendiri, jika ia tidak akan berbuat seperti yang Ammar lakukan pada Kinan, sekalipun Kinan melakukan kesalahan, Rey berjanji pada dirinya sendiri jika ia akan menanyakan hal itu baik-baik. Sebuah pelajaran yang Rey ambil dari masa lalu Kinan.
"Sekarang, kau jawab aku!" Ucap Rey menangkup kedua pipi istrinya.
"Hmm"
"Apa kau masih memiliki perasaan pada pria itu?" Rey tak sudi menyebut nama Ammar.
Kinan tersenyum menatap Rey. Senyuman penuh maksud. "Apa aku harus menjawabnya?" Tanya Kinan.
"Harus dan wajib!"
"Aku adalah wanita yang beruntung, karena bisa menikah dengan lelaki yang pertama kali aku cintai dalam hidupku."
"Maksudnya?"
"Kau adalah lelaki itu, Mas."
"Aku?" Rey tampak bingung sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Hmm"
Lelaki yang sulit untuk ditaklukan itu, tiba-tiba merona. Wajahnya merah padam saat mengetahui jika dirinya adalah laki-laki pertama yang Kinan cintai.
"Jadi aku--"
"Sebenarnya aku sudah jatuh cinta padamu saat pertemuan pertama kita di Rel kereta api." Ucap Kinan, tapi sedetik kemudian ia membungkam mulutnya sendiri, ternyata ia keceplosan.
"Apa?"
Kinan menggeleng cepat.
"Coba katakan lagi tadi kau bilang apa, Sayang?"
Kinan tetap menggeleng sambil membungkam mulutnya. Rey gemas karena ia ingin Kinan mengulangi lagi pernyataan cinta itu. Rey menggelitiki tubuh istrinya sampai Kinan tertawa sangat kencang.
"Cepat katakan lagi."
"Ampun, Mas." Jawab Kinan sambil menahan geli dan tawa.
Rey menghentikan kegiatannya itu lalu menatap Kinan dengan intens.
"Tadi aku ingin tidur, tapi kau membuat rasa ngantuk-ku hilang, sekarang kau harus bertanggung jawab, Sayang!" Ucap Rey.
"Ta-tanggung jawab apa?"
"Membuatku lelah, lalu menidurkanku." Jawab Rey sambil tersenyum penuh maksud.
.
.
.
Bersambung...
Vote dong! Biar lanjut 🙏
.