How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Menolong



Terima kasih buat yang udah vote, like dan komen. Semoga kita semua sehat selalu ya🤗


Happy Reading 💕


________________________


"Nyuk, sorry gue ganggu lo. please..tolongin gue, gue baru aja nabrak orang!"


Satu kalimat yang Rey dengar dari sambungan telepon itu berhasi membuat wajah lelaki itu terkejut dan pias seketika.


"Kenapa Mas?" Suara Kinan terdengar menanyai Rey, tapi suaminya itu tampak diam dan tak menjawab. Ia terlalu terkejut mendengar kabar yang baru saja ia terima.


"Mas?" Kinan sedikit mengguncang lengan Rey untuk mendapatkan jawaban. Rey menghela nafas sejenak, entah apalagi yang ia dengar dari sambungan telepon diseberang sana.


"Sekarang lo tenang dulu, lo shareloc posisi lo sama gue sekarang!" Rey menjawab pada seseorang itu dari panggilannya. Ia pun memutus panggilan sebelah pihak, lalu mencoba menjelaskan pada Kinan apa yang baru saja ia dengar dari telepon.


"Sayang, kamu dirumah dulu sama Mama. Aku harus buru-buru pergi, karena.." Rey ragu harus menjelaskan atau tidak pada istrinya itu.


"Karena apa, Mas? Tolong jelaskan semuanya dan jangan pergi sebelum rasa ingin tahu ku terjawab." Ucap Kinan yang diangguki oleh Nyonya Zehra.


"Doni..dia abis nabrak orang. Sekarang dia butuh bantuan aku. Aku urus sebentar ya." Jawab Rey berusaha tenang didepan istrinya itu.


"Apa?" Nyonya Zehra dan Kinan spontan serentak ikut terkejut.


"Iya, semua pasti baik-baik saja. Tunggu aku pulang. Oke?" Ucap Rey sambil mengecupi tangan Kinan. Kemudian dengan langkahnya yang panjang, lelaki itu berlarian ke arah kamar untuk mengganti bajunya secara tergesa-gesa. Kinan ikut menyusul, tapi karena langkahnya lambat akibat kehamilannya, Kinan pun harus melihat Rey yang sudah keluar kamar dengan sudah memakai hoddie dan celana jeans panjang.


"Aku tidak akan lama." Ucap Rey. Ia menatap wajah istrinya yang terlihat khawatir. Baru selangkah ia meninggalkan Kinan, ia berbalik lagi dan mem-bombardir istrinya itu dengan banyak kecupan.


Cup..cup..cup..cup!


Kecupan itu mendarat di pipi kiri, kanan, dahi dan terakhir di bibir Kinan. Kinan semakin tampak tak rela melepas kepergian suaminya, tapi ia mengerti jika saat ini Doni pastilah sangat membutuhkan bantuan Rey.


"Setelah selesai langsung pulang ya, Mas!" Ucap Kinan berat hati.


"Hemm" Rey mengusak rambut dikepala istrinya lalu ia pun gegas meninggalkan rumah.


Rey fokus mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju lokasi yang sudah Doni kirimkan beberapa saat lalu melalui sebuah pesan, sebuah Rumah Sakit Umum.


Rey mencoba menghubungi Kevin, tapi panggilan itu tidak tersambung.


Sesampainya di lokasi yang Doni kirimkan, Rey segera memarkirkan mobilnya di pelataran Rumah Sakit Umum itu.


"Gimana, Dal?" Tanya Rey pada Doni yang terlihat gelisah didepan ruangan IGD.


Doni menggeleng lemah. Ia benar-benar kusut dan tak tahu harus melakukan apa.


"Keputusan lo bawa ke Rumah Sakit udah bener kok! Lo tenang ya. Ini pasti bisa diselesaikan dengan baik-baik." Ucap Rey mencoba mendinginkan hati dan pikiran Doni.


Rey menepuk-nepuk pelan punggung Doni, sedikit banyak Rey merasa prihatin karena keluarga Doni saat ini masih berada di London semua. Maka pantas saja pemuda itu meminta bantuan Rey atau Kevin. Tapi masalahnya Kevin tidak bisa dihubungi.


Rey membuka ponselnya dan ada beberapa pesan dari Kinan yang menanyakan keberadaannya. Rey pun membalas pesan istrinya itu dengan jujur dan memintanya untuk tidak khawatir.


"Kalo dia meninggal gimana, Nyuk?" Tanya Doni frustasi. Ucapan itu berhasil membuat Rey menatap keadaan Doni yang menyedihkan. Pemuda itu tampak mencengkram kepalanya sendiri. Ia terduduk dilantai Rumah Sakit, sementara Rey masih berdiri disampingnya.


"Lo jangan pikirin hal buruk, lo berdoa aja. Mudah-mudahan doa lo diterima!" Ucap Rey dengan nada serius.


"Iya dari tadi juga gue udah berdoa, B*go! Tapi ya itu masalahnya, boro-boro dikabulin, doa gue diterima aja udah syukur, Nyuk!" Ucap Doni pesimis. Rey tersenyum miring mendengar ucapan sahabatnya itu.


Hari beranjak malam, tapi mereka masih menunggu pintu ruang IGD itu terbuka. Setelah kurang lebih satu jam mereka menunggu didepan ruang IGD itu, pintu ruangan itu pun terbuka dari dalam.


"Gimana keadaannya, Dok?" itu adalah suara Rey. Doni tetap dengan posisinya yang terduduk, pemuda itu bahkan tidak sanggup untuk menanyakan keadaan pasien yang baru saja ia tabrak.


"Apa Anda keluarga pasien? Atau walinya?" Pandangan Dokter itu tampak menyelidik pada Rey.


"Emm, begini Pak. Pasien sepertinya terseret cukup jauh. Beberapa rusuknya patah. Tulang kakinya juga patah. Tapi yang paling serius adalah pendarahan di kepalanya." Jelas dokter itu, Rey mendengarkan dengan seksama dan tampak mengerti.


"Jadi apa tindakan selanjutnya, Dokter? Upayakan apa saja asal pasien bisa sembuh." Doni ikut menimpali. Ia merasa takut sekaligus terguncang akibat peristiwa yang baru saja terjadi.


"Tindakan selanjutnya kami akan melakukan operasi. Pertama memasang pen di bagian-bagian tulang yang patah dan kedua untuk pendarahan dikepala, semoga pendarahan itu bisa berhenti agar tidak mengganggu sistem saraf dikepalanya." Jelas Dokter itu. Setelah menjelaskan beberapa detailnya, dokter itu undur diri untuk segera menyiapkan tindakan operasi.


"Lo liat ada saksi mata di tempat kejadian, Dal?" Tanya Rey ketika Doni mulai tenang.


"Gue gak tau, Nyuk!"


"Gimana bisa kejadian gini sih?"


"Posisi jalan itu lurus, kecepatan gue juga standart. Tapi tiba-tiba tuh cowok melintas didepan gue! Gue refleks, jadi gue rem mendadak, dia keburu kebentur kap depan mobil tuh kan, tapi posisi gue yang rem mendadak mungkin buat tubuhnya nyeret. Ah entahlah." Tiba-tiba Doni menendang udara dengan kesal mengingat kejadian yang tadi ia alami.


"Terus lo langsung angkut kesini?" Tanya Rey lagi dan Doni mengangguk.


"Gue harus gimana, Nyuk? Apa gue bakal di penjara akibat nabrak orang?" Tanya Doni lagi-lagi dengan ke-frustasi-an-nya.


Rey menghela nafas panjang, ia juga tidak tahu pasti harus menjawab apa. Ulah Doni mungkin tidak diketahui orang lain atau ada saksi mata, tapi disepanjang jalanan yang Doni detail-kan sebagai tempat kejadian, disana terdapat banyak kamera CCTV.


Rey mencoba meminta bantuan Papanya untuk meng-hack jaringan CCTV yang berada disekitaran jalan itu. Menunggu beberapa saat, semua CCTV itu berhasil di hack oleh koneksi Tuan Yazid. Rey tersenyum puas tapi masih ada keraguan terbersit di kepalanya. Bagaimana jika ada saksi mata ditempat kejadian itu?


"Lo kenal sama orang yang lo tabrak?" Tanya Rey lagi.


"Enggak, dia laki-laki. Seumuran lah sama kita-kita. Atau mungkin lebih tua beberapa tahun. Ah gue gak tau pasti, Nyuk!"


Rey kembali menghubungi Kevin, tapi tetap tidak bisa tersambung.


"Si M*nyet kemana sih, Dal?" Tanya Rey ikut frustasi. Setidaknya jika ada Kevin, ia bisa bertukar pikiran untuk menemukan jalan keluar buat Doni.


"Gue juga udah nelpon dia buat minta tolong tapi gak nyambung."


"Hmm"


Sambil menunggu operasi pasien kecelakaan itu, Rey terus mencoba menghubungi Kevin. Sementara Doni tetap dalam posisinya yang meratapi nasib. Tak berapa lama, muncul dua orang pria dihadapan Rey dan Doni.


"Permisi, Pak! Selamat malam." Ucap salah satu diantara pria itu.


"Selamat malam." Jawab Rey, Rey melirik Doni sekilas, lelaki itu tampak menundukkan kepala diantara lututnya yang tertekuk.


"Kami dari kepolisian, apa benar pasien yang baru saja masuk IGD tadi adalah pasien akibat kecelakaan di Jalan Sudirman?" Polisi yang satunya menyerahkan tablet yang ia bawa, dan disana Rey melihat rekaman amatir yang sudah ia duga pasti akan segera ditemukan oleh pihak kepolisian. Kekhawatiran Rey benar terjadi. Ada yang melihat kejadian itu dan merekamnya.


"Ada seorang saksi mata yang melaporkan, dan kami melihat rekaman amatir ini. Kemudian kami melacak nomor kendaraan yang ada di rekaman dan ternyata mobil itu berada di Rumah Sakit ini." Ucap polisi yang satunya.


Doni sudah mengangkat wajahnya begitu mengetahui yang berada didepan Rey adalah polisi, sementara Rey tampak tak terkejut karena ia sudah menebaknya dari penampilan mereka.


Rey mulai menjelaskan kronologi kejadian berdasarkan ucapan Doni, tapi kedua polisi itu ingin mendengar dari Doni langsung. Doni segera digiring ke kantor polisi tanpa bisa menjelaskan lebih lanjut, karena kedua polisi itu ingin Doni menjelaskan detail-nya di kantor mereka.


"Udah ikutin aja dulu. Nanti gue usahain yang terbaik buat lo." Ucap Rey meyakinkan Doni. Ada terbersit rasa bersalah dalam hatinya karena walaupun CCTV dijalan itu sudah di-hack tapi rekaman amatir itu bisa sampai ke tangan polisi dengan begitu cepat.


Sedikit drama paksa-memaksa pun terjadi, tapi akhirnya Doni menuruti ucapan Rey. Ia yakin jika Rey akan menolongnya.


Rey segera menelpon pengacara keluarga untuk merundingkan masalah Doni. Setelah menjanjikan waktu temu, Rey tetap menunggu operasi yang sedang berjalan, setidaknya ia harus melihat kondisi terakhir korban kecelakaan itu dan paling tidak Rey harus mengetahui identitasnya. Ia harus menunggu beberapa saat lagi, untuk mengetahui yang ingin ia ketahui.


.


.


.


Beraambung...