How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Mimpi buruk



Kevin sudah pulang dari siang tadi. Rey memutuskan untuk mandi sore setelah ia lelah menghadapi layar ponselnya. ia berjalan dan memasuki kamar. Namun langkahnya terhenti kala mendapati Kinan yang terduduk di sofa kamar sambil bergumam sendiri.


Perasaan Rey mulai tak enak dan bersalah, tak seharusnya ia membiarkan Kinan banyak melamun.


"Kinan, kamu kenapa?" Rey menatap Kinan dan duduk disampingnya. Namun Kinan seolah tak menyadari keberadaan Rey.


"Maafkan aku Mas, aku tidak pernah menghianati kamu!" suara gumaman Kinan yang masih terdengar dipendengaran Rey. Sesekali tangannya merem*s ujung blouse yang ia kenakan. Kinan tampak pucat dan seperti ketakutan. Rey menyadari ada yang tidak beres pada Kinan.


"Kinan, ini aku!" Rey sedikit mengguncang tubuh Kinan untuk menyadarkannya. Rey bingung harus seperti apa jika Kinan kumat. Ini masih belum seberapa, Rey bahkan pernah melihat Kinan mengamuk waktu masih dirawat.


Rey mulai panik saat Kinan mulai berkata-kata lagi dengan intonasi tinggi.


"Aku tau kau tidak mencintaiku Mas, tapi jangan tuduh aku menghianatimu!" Senggak Kinan, ia berdiri dari posisinya. Kinan seolah tak sadar dan hilang kendali. Kini wajahnya yang pucat mulai menunjukkan amarah. Mungkin itu adalah amarah yang terpendam.


Rey pun bangkit mengikuti Kinan.


"Kinan, Kinan ini aku. ini aku Rey!" Rey membingkai wajah Kinan dengan kedua tangannya, masih mencoba menyadarkan wanita ini.


Rey semakin gelisah, perasaan bersalah menyelimutinya setiap melihat keadaan Kinan seperti ini. Ia tak punya obat untuk menenangkan Kinan. Ia bahkan tak mewanti-wanti untuk sekedar berjaga-jaga jika penyakit Kinan kumat. Seharusnya ia melakukan pengamatan atau minimal searching dan mencari tahu apa yang dibutuhkan Kinan jika sewaktu-waktu dia kumat seperti ini.


Rey menatap mata Kinan, ia memandang manik mata itu dengan serius.


"Kinan, dengar aku! Ini aku Rey. Jangan pikirkan yang lain, fokus hanya padaku!" Rey mencoba membuat Kinan sadar dengan mendoktrin pikiran Kinan, karena ia tahu Kinan mengingatnya dengan kenangan yang baik. Hanya itu yang bisa Rey perbuat, selebihnya ia tak tahu.


Kinan menatap balik mata hazel yang juga menatapnya itu. Mata yang akhir-akhir ini sering ia tatap dengan tatapan dalam. Kinan terdiam seolah terhipnotis oleh mata itu dan mendengar suara Rey yang menenangkan bagaikan obat mujarab baginya. Namun, itu tak membuatnya langsung menyadari keadaan, ia hanya terdiam sejenak sebelum akhirnya ia menangis terisak.


"Hey, jangan menangis!" Rey merengkuh tubuh wanita yang berdiri lemah dihadapannya. Ia memeluk Kinan, lagi-lagi dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan. Apalagi Kinan membalas pelukannya dengan semakin menyurukkan kepala kedalam dada bidang milik Rey, seolah itu adalah tempat ternyaman baginya.


Rey mengelus rambut panjang Kinan, perlahan-lahan ia menepuk pelan punggung Kinan. Rey sedikit tak percaya bahwa ia bisa menenangkan Kinan dengan perlakuannya ini. Padahal awalnya Rey sudah gelagapan takut Kinan akan histeris seperti dirumah sakit.


"Maafkan aku!" Ucap Rey pelan pada Kinan. Kinan ingin melepas pelukan itu karena Kinan ingin menatap Rey dan bertanya kenapa Rey harus meminta maaf padanya.


"Maaf, karena aku kamu jadi begini" Suara Rey terdengar sangat pelan seakan berbisik. Tapi Kinan yang sudah menyadari keadaan dapat mendengar ucapan itu. Perlahan-lahan ia ingin melepaskan kembali pelukan Rey yang terasa semakin erat.


"Biarkan dulu seperti ini!" Rey malah kembali membenamkan kepala Kinan kedalam dada bidangnya. Entah kenapa kini kenyamanan itu menjalar sampai ke hatinya. Ia berharap waktu bisa berhenti sebentar saja, agar bisa berlama-lama dalam keadaan ini.


"Mas, sampai kapan mau begini terus?" Suara Kinan memecahkan keheningan yang sempat terjadi disaat mereka saling memeluk satu sama lain.


Rey melepas tautan tubuh mereka, ia menyeka pipi. Sepertinya ia mengeluarkan air mata tadi.


"Kau sudah tak apa? Apa kau mengingat sesuatu hum?" Rey membantu Kinan untuk duduk kembali di sofa. Tangannya memegang kedua pundak Kinan.


Kinan menggeleng lemah.


"Tadi aku tidur siang, aku bermimpi kembali!"


"Mimpi?" Rey menatap heran pada Kinan.


"Huum, aku sering bermimpi yang tidak baik!"


"Misalnya?"


"Misalnya saat aku dimarahi oleh seorang wanita tua ataupun dituduh yang tidak-tidak oleh Mas Ammar!"


"Wanita tua? dan dituduh yang tidak-tidak itu seperti apa Kinan?" Rey mulai mencari tahu apa maksud Kinan dengan menatap Kinan serius dan menuntut jawabannya. Rey akan menyusun teka-teki dan puzzle ini agar ia mendapatkan jawaban. Rey harus tahu, bagaimana perlakuan Ammar selama ini pada Kinan dan kenapa Kinan sempat ia temukan di belakang Club malam waktu itu.


"Wanita tua itu, aku tidak ingat siapa dia. Dia tinggal dirumah yang sama dengan Mas Ammar. Dan kejadian Mas Ammar menuduhku berselingkuh, itu sering kali terjadi dalam mimpiku!"


Rey tercengang mendengar ucapan Kinan, wajahnya pias seolah tertampar dengan penjelasan itu. Kinan bukan berselingkuh, tapi Kinan adalah wanita yang ia rusak. Begitulah pemikiran Rey. Sedangkan Ammar, ia menyangka Kinan berselingkuh makanya selama ini sikapnya acuh tak acuh terhadap istrinya ini. Perlahan-lahan Rey mulai mencocokkan kejadian demi kejadian dengan kenyataan yang ia lihat didepan mata.


Dan soal wanita tua itu, sepertinya keadaan Kinan yang tak sadarkan diri dibelakang Club ada kaitannya dengan wanita itu.


"Kamu jangan memaksakan mengingat semua mimpi itu! pelan-pelan saja ya!" Lagi-lagi suara Rey terdengar sangat lembut dan menenangkan.


"Aku akan membantu kamu mengingat semuanya!" Sambung Rey lagi.


Kinan menggeleng.


"Kenapa?"


"Aku lebih suka ingatanku yang sekarang, aku hanya mengingat yang tidak menyakiti hatiku dan kamu!" wajah Kinan bersemu merah. Ia menyurukkan wajahnya kedalam kedua telapak tangannya.


Rey tersenyum gemas melihat tingkah Kinan. Tadi dia sudah ketakutan dibuat Kinan, kini bisa-bisanya wanita ini mengucapkan kalimat seperti itu dengan malu-malu.


"Kinan, kamu--" Ucapan Rey terhenti karena Kinan membekap mulut Rey dengan tangannya.


Kinan menatap Rey dengan serius.


"Apa aku salah jika aku nyaman dengan kamu, Mas? Dan apa aku bisa terus bersama kamu?" Kinan melepas bekapan nya pada Rey, lalu memandang langit-langit kamar sambil menghela nafas, mendadak ia malu dengan ucapannya yang terlalu frontal itu.


"Aku rasa, aku wanita tidak tahu diri ya, Mas. Jelas-jelas statusku masih istri orang dan sedang mengandung. Pantas saja mas Ammar menuduhku berselingkuh, mungkin aku memang melakukannya sebelumnya!" Kinan mendesah pelan, kepalanya ia sandarkan di sandaran sofa.


"Dan kamu, mana mungkin mau dengan wanita seperti aku ini!" Sambung Kinan pesimis dan terkesan sarkasm.


Rey berdiri dari posisinya, lalu jongkok dihadapan Kinan. Ia memegang kedua tangan Kinan dan menggenggamnya.


"Bukan kamu yang tidak tahu diri, tapi aku yang brengs*k!" Rey menatap Kinan yang heran dengan kata-katanya.


"Aku brengs*k karena menginginkan istri orang lain dan mau dengan wanita sepertimu!" jemari Rey menyusuri lembut lengan atas Kinan sampai jemari itu berakhir di tengkuk Kinan. Rey menahan badan dengan lututnya, berusaha mencapai dan mensejajarkan posisi wajahnya dengan wajah Kinan. Lalu tanpa aba-aba ia mendaratkan kecupan di bibir wanita itu. Tangannya mengikuti naluri untuk menekan tengkuk Kinan agar semakin mendekat ke wajahnya.


Kecupan itu berubah menjadi ciuman, Rey mulai menuntut agar Kinan membalasnya, namun ini adalah ciuman pertama bagi Kinan. Sebelumnya, ia dan Rey tak pernah se-intens ini. Hanya kecupan singkat. Rey menyadari Kinan yang diam dan mengerti bahwa disini dialah yang harus menuntun Kinan. Ia melepaskan ciuman itu sejenak.


"Coba ikuti aku!" Ucap Rey pelan dan tetap dalam posisi yang sama. Deruan nafasnya terasa hangat didepan wajah Kinan.


"Buka mulutmu!" Ucapnya yang langsung diikuti oleh Kinan. Kinan pun terbuai dan mengikuti nalurinya. Rey menginginkan Kinan, begitupun sebaliknya. Ciuman panas itu harus berakhir ketika Kinan menyentak bahu Rey. Mereka berdua terengah dengan nafas yang tak beraturan.


"Aku sulit bernafas!" Ucap Kinan dengan polosnya.


Rey tersenyum miring, ia mengelap bibir Kinan yang basah akibat ulahnya. Lalu, Rey bangkit dari posisinya. Ia mencium pucuk kepala Kinan dan mengacak rambut Kinan dengan gemas.


Rey menyadari tadi adalah ciuman pertama Kinan. Ketika di Apartment malam itu, Rey mencium Kinan dalam posisi tak sadarkan diri. Berbeda dengan sekarang. Mendadak Rey tersenyum puas. Berarti Kinan dan Ammar bahkan tak pernah berciuman seperti itu.


Rey melangkah sambil tersenyum mengingat kejadian yang baru saja terjadi.


"Aku mandi dulu di kamar mandi bawah. Kamu mandilah juga, setelah itu bersiaplah untuk makan malam!" Ucap Rey seraya berlalu meninggalkan Kinan yang masih dengan wajah memerah seperti kepiting rebus akibat perbuatannya dengan Rey tadi.


Kinan sampai merutuki dirinya sendiri yang sudah lepas kendali dan tanpa perlawanan malah membalas ciuman Rey. Sedangkan Rey kembali tersenyum miring mengingat apa yang ia ajarkan pada Kinan.


"Dasar lo Rey!" Gumam Rey pada dirinya sendiri sambil menuruni tangga. Rey memutuskan untuk keluar dan mandi dibawah saja karena ia takut kegiatannya dengan Kinan tadi membuatnya lepas kendali dan akan mengulangi kesalahannya dimasa lalu. Padahal niat awalnya ia masuk ke kamar atas karena mau mandi, tapi ujung-ujungnya Rey malah mandi di kamar mandi bawah juga.


Rey memegang bibirnya, ini benar-benar berbeda dari yang pernah ia lakukan sebelumnya. Berbeda dengan yang sudah-sudah dengan wanita-wanita lain yang pernah singgah dalam hidupnya.


.


.


.


Bersambung...


Hai...mana nih Vote nya? Aku udah up lagi loh hari ini...


buat yang bingung cara nge-vote, ini aku kasi tahu caranya yahh kayak dibawah ini


👇


👇