
Joana terkesiap saat menyadari jika Xander yang tanpa rasa penyesalan sudah menyeringai kearahnya. Perempuan itu menelan salivanya dengan susah-payah, sedetik kemudian ia meringis merasakan sakit menjalari kepalanya.
"Sekarang giliranmu, Baby." Ucap Xander seraya menjambak rambut Joana dengan kasar--memaksa gadis itu agar mendongak kearahnya.
"Xander, ku mohon.. bantu Ammar dan biarkan dia hidup, setelah itu aku berjanji akan menuruti maumu." Joana mendekap kaki Xander sambil memohon.
"Cih.. kau ini!" Ucapnya seraya mendecih.
"Lupakan dia, aku tahu tujuanmu yang sebenarnya adalah aku." Kata Joana terisak.
Xander terkikik sesaat sampai pada akhirnya ia meregangkan tarikannya pada rambut Joana dan ikut terduduk disamping Joana. Lelaki dengan perangai berubah-ubah itu kini malah terisak. Ia meraung dan menangis memeluk Joana.
"Aku, aku tidak bisa tanpamu, Baby." Xander mendekap Joana dalam pelukannya--memaksa tubuh perempuan itu agar bersandar di dada bidangnya. Joana merasakan detak jantung Xander yang berpacu dengan cepat kemudian disaat yang bersamaan terdengar suara tembakan dan menyusul pula suara gaduh yang berasal dari luar ruangan.
Joana terkesiap dan mendorong dada Xander yang berada dihadapannya. Tangannya yang sedari tadi masih menggenggam tangan Ammar yang tak berdaya, kini terasa berdebar menanti siapa yang akan memasuki ruangan itu karena ia mendengar derap langkah yang mendekat.
"Mr. Collins, menyerahlah! Karena kau akan ditahan dengan pasal berlapis!" ujar Seseorang yang membuat kedua orang yang masih sadar itu terkesiap. Joana menatap nanar beberapa orang petugas dari kepolisian yang sudah menodongkan senjata api kearah dimana ia dan Xander berada.
Xander yang juga melihat kedatangan orang-orang itu terkekeh kemudian, Xander yakin suara tembakan tadi bermula karena semua orang yang berada dihadapannya ini menembak pintu Apartemennya untuk menerobos masuk. Xander menatap dengan remeh semua orang yang berdiri diambang pintu tapi sejurus kemudian ia mengangkat kedua tangannya pertanda menyerah.
"Ck, kalian boleh menangkapku. Aku sudah membunuhnya," aku Xander dengan santai seraya mengendikkan dagu menunjuk kearah Ammar yang tergeletak dilantai.
Joana yang masih menangis didekat Ammar, kini tertunduk dengan lemas. Mendengar Xander mengatakan telah membunuh kekasihnya membuat ia semakin histeris.
Apakah semuanya sudah berakhir?
Saat para Aparat itu mengunci kedua tangan Xander dengan borgol serta yang lainnya mengumpulkan barang bukti kedalam kantong plastik, saat itu juga Joana seperti mencari-cari tanda kehidupan di tubuh Ammar. Nafasnya tercekat saat menyadari detak jantung Ammar yang melemah. Walaupun ada kelegaan dalam dirinya karena Ammar masih hidup, tapi Joana tetap merasakan takut yang luar biasa.
Joana tak lagi fokus pada Xander yang sudah digiring Polisi.
Xander mengumpat dan menendang-nendang udara saat menyadari jika perbuatannya kali ini harus berakhir dengan kepolisian lagi.
"Nona, apa kau baik-baik saja?" tanya seorang petugas Medis yang sepertinya akan membantunya. Joana mengangguk dan ia menatap nanar tubuh Ammar yang sudah digotong menggunakan tandu Ambulance.
Seorang petugas medis itu membantu Joana berdiri dan mereka meninggalkan ruangan yang sudah bersimbah darah itu.
"Jo, kau tidak apa-apa?" tanya seorang lelaki, Joana menoleh dan mendapati Rey dengan wajah pucat pasi berada tak jauh dari posisinya seraya memegang pundak Shaka yang meraung.
Joana menggeleng lemah sebagai jawabannya kepada Rey, matanya menyapu ruangan itu dan menyadari jikalau semua petugas mulai sibuk memberi garis polisi disana.
"Shaka, maafkan Tante." Joana kembali terisak saat melihat tubuh Shaka yang bergetar hebat. "Ini semua salah Tante." katanya memeluk tubuh anak delapan tahun itu.
Shaka menggeleng. "Pa..pa, Tan.." Kata Shaka dengan tersendat-sendat. Rey pun mengusap-usap punggung Shaka--menenangkannya. Rey memberi kode lewat matanya agar Joana tak meneruskan percakapan ini. Joana menunduk dan mengerti.
"Nona, sebaiknya anda ikut ke Ambulance agar luka-luka ditubuh Anda juga diobati." kata seorang petugas Medis.
Joana menatap sejenak kearah Shaka dan Rey berada kemudian Rey mengangguk sebagai jawaban agar Joana menurut saja. Rey menghela nafasnya sejenak dan duduk bertumpu pada lututnya agar mensejajarkan diri dengan anak kecil yang berada disisinya.
"Shaka, kamu pulang kerumah Om ya. Supir Om juga sudah menjemput Nenek dan Kakakmu, mereka berada dirumah Om bersama Tante Kinan sekarang." Kata Rey menatap lurus kearah mata Shaka. Shaka masih terisak kemudian mengangguk patuh.
"Pa..pa..?" kata Shaka seolah bertanya pada Rey 'bagaimana dengan Papanya?'
"Papa tidak apa-apa. Papa Shaka orang yang kuat dia pasti bertahan." Rey mengelus pucuk kepala Shaka seraya memeluk anak laki-laki itu. "Sekarang Shaka pulang dulu, biar Om yang melihat keadaan Papa dirumah Sakit. Papa pasti segera pulih." Lanjutnya.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Suara serunai Ambulance mengiringi perjalanan Joana menuju Rumah Sakit terdekat, ia masih terkejut dengan semua yang terjadi dihadapannya. Baru saja tadi ia merasakan lega karena Ammar berhasil menemukannya di Apartemen Xander, tapi ternyata dengan tanpa diduga Xander berbuat keji pada Ammar.
*
*
"Bagaimana keadaannya?" Rey datang dengan tergesa-gesa. Ia menatap nanar kearah Dokter yang baru saja menangani Ammar didalam ruang IGD.
"Bapak Ammar mengalami tusukan yang cukup dalam dan dua diantara tusukan itu merobek organ dalamnya." kata Dokter itu dengan nada lesu. Ia menatap Rey dengan prihatin. Rey mengacak rambutnya gusar, walau dulu Ammar adalah rivalnya tapi sekarang hubungan diantara keduanya telah berbeda dan Rey menghargai Ammar sebagai kerabat dari istrinya, karena Kinan berulang kali mengatakan jika dia menganggap Ammar selayaknya Kakak lelaki.
"Tapi dia bisa selamat kan, Dokter?"
"Saat ini pasien masih dalam keadaan kritis. Beruntung pasien segera dibawa kesini karena jika terlambat sudah pasti akan fatal. Berdoa saja semoga ada keajaiban.. Kami juga akan berusaha semaksimal mungkin." Dokter itu menepuk-nepuk pundak Rey dan berlalu.
Rey menghela nafasnya, kemudian ia beranjak menuju ruangan dimana Joana sedang diobati.
"Bagaimana lukamu?" tanya Rey seraya menatap Joana yang terduduk di ranjang pasien.
"Aku tidak apa-apa." kata Joana, matanya menatap lurus kedepan tanpa menoleh kearah Rey. Perempuan itu nampak sedang banyak pikiran.
"Ammar akan baik-baik saja." ucap Rey, Joana tersenyum getir mendengarnya.
"Ini semua karena aku." katanya. Joana menyurukkan wajahnya kedalam tangkupan tangannya sendiri kemudian ia terisak-isak.
"Berhentilah menyalahkan dirimu. Semua sudah terjadi." Kata Rey.
"Kalau saja kami tidak nekat untuk berhubungan, mungkin Xander tidak akan semarah itu." Joana menangis sejadi-jadinya.
"Ya, aku yang menyarankan kalian untuk dekat. Ini sudah pasti kesalahanku." Rey menghela nafas berat. Sementara Joana menatap Rey karena tidak percaya dengan ucapan lelaki itu barusan.
"Ini tidak ada kaitannya denganmu, Rey!"
"Begitu juga ini tidak ada kaitannya dengan hubungan kalian! Hubungan kalian tidak salah yang salah itu lelaki Psikopat itu!" cecar Rey dan Joana mengangguk-angguk.
"Tenangkan dirimu! Berdoalah untuk kesembuhan Ammar. Kata Dokter dia mengalami tiga tusukan dan dua diantaranya mengenai organ dalam." Rey mende-sah frustasi seraya beranjak dari hadapan Joana. Joana kembali menangis mengetahui keadaan Ammar sekarang.
"Kau mau kemana?" tanya Joana disela tangisannya. Joana ingin memastikan karena ia tidak sanggup berada disini sendirian jika terjadi sesuatu pada Ammar.
Rey melihat kekhawatiran diwajah Joana. "Aku ingin ke kantor polisi dan harus memastikan si breng-sek itu akan mendekam lama di penjara." pungkasnya. "Jangan khawatir, Jo! Kinan dan Desi akan segera kesini menemanimu. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri." lanjutnya.
Joana mengangguk sekilas. Sedetik kemudian ia memikirkan keluarganya.
"Rey, apa Doni--" Joana tak melanjutkan perkataannya karena Rey segera memotong ucapannya.
"Keluargamu sudah tahu dan mereka memang harus tahu." sergah Rey. "Doni sedang dalam perjalanan pulang dari luar kota. Orangtuanya juga sudah memberi kabar pada keluargamu di London."
Joana semakin lemas seketika, ia mendadak khawatir pada kesehatan Mommy dan Daddy-nya.
"Aku pergi, Jo! Jika ada yang kau butuhkan beritahu saja dan jangan sungkan." Rey pun berlalu dari ruangan itu.
Joana menghela nafas berat, ia harus menjawab apa jika orangtuanya mendarat di Indonesia dan mengetahui segalanya tentang Xander. Apalagi soal hubungannya dengan Ammar?
Joana menggeleng dan menepis berbagai macam pikiran jelek yang melintas dikepalanya jika orangtuanya akan menolak hubungannya dengan Ammar. Joana lebih memilih memikirkan kondisi Ammar sekarang daripada harus memikirkan restu dari orangtuanya.
...Bersambung......