
Sebuah cafe yang memiliki banyak partisi kaca dan cermin-cermin sebagai dekorasinya, terlihat begitu elegant ketika terkena bias cahaya lampu yang temaram, desain klasik dari arsitektur kayu-kayuan menambah kesan mewah tempat itu.
Seorang pria dengan perawakan tinggi, sedang duduk disebuah sofa yang terletak dibagian VIP di cafe itu, tampak ia sedang menunggu seseorang dan sengaja duduk disana untuk menjaga privasinya. Beberapa kali ia melihat poros waktu mewah yang melingkar di tangan kirinya.
"Selamat siang, Tuan!" ia berdiri sambil membungkukkan badan untuk menghormati pria yang baru saja datang.
"Maaf aku sedikit terlambat" Jawab lawan bicaranya dengan suara bariton khas miliknya.
Mereka duduk kembali dan mulai membicarakan pokok perbincangan mereka.
"Bagaimana? Apa kau sudah bicara padanya?"
"Sudah, Tuan. Dan dia sudah menyetujui dengan syarat."
Pria itu mengernyit, heran dengan ucapan orang kepercayaannya ini.
"Apa maksudnya dia setuju dengan syarat? Kau yang harusnya mengajukan syarat untuk membantunya!"
"Iya Tuan, saya sudah mengajukan syarat untuknya. Tapi dia juga memiliki peemintaan khusus sebagai bentuk kesepakatan kami."
"Apa itu?"
"Dia mengatakan tidak berniat balas dendam dengan Rey, dia hanya ingin pergi sementara waktu dari Rey dan berpisah dari suaminya!" Ucap Ardi, orang kepercayaan tuannya.
Pria itu menyeringai, bibirnya tersenyum miring.
"Dasar wanita naif! ck..ck..!" Sang tuan berdecak lidah.
"Lalu apa yang harus saya lakukan setelah ini, Tuan?" Tanya Ardi lagi.
"Kau aturlah semuanya, aku juga berharap dia berpisah dengan suaminya. Dan memberi Rey sedikit pelajaran berharga!"
"Baik, Tuan!"
Pria itu berdiri dan gegas meninggalkan cafe mewah tersebut tanpa menyentuh semua makanan dan minuman yang telah tersedia dihadapannya, ia pergi meninggalkan Ardi, sang asisten. Berjalan mantap dengan aura dinginnya dan ketika sampai di depan pintu cafe, dua orang pengawalnya kembali mengikuti dan berjalan dibelakangnya.
"Rey, kau perlu tau jika kau ingin menguji cintamu, kau harus bisa melawan sesuatu yang lebih pahit dari kenyataan yaitu waktu!" Batin Pria berperawakan dingin itu.
"Waktu akan menguji seberapa kuat perasaanmu, Rey!" Dia tersenyum miring sebelum akhirnya masuk kedalam mobil yang telah dibukakan pintunya oleh sang supir.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Kinan duduk merenung di sebuah taman Kota. Tempat pertemuannya dengan Ardi Wicaksana. Beberapa waktu lalu ia menghubungi pria itu dan memutuskan untuk bertemu. Dengan segala kebimbangan dihatinya, akhirnya Kinan memutuskan untuk membuat kesepakatan diantara mereka.
"Apa dengan begini aku akan bahagia?" Tanyanya pada dirinya sendiri.
"Aku hanya memikirkan nasibku dan anak yang ku kandung. Semoga semua ini adalah pilihan yang tepat!"
Beberapa saat sebelumnya,
"Aku ingin kau tahu lebih dulu, jika kau memiliki dendam khusus pada Rey, aku tidak mau membantu membalaskannya!"
Pria bernama Ardi itu tersenyum mendengar pernyataan Kinan.
"Saya hanya memberi anda masukan! Jika saja anda memang memiliki dendam itu, saya tidak keberatan untuk membantu. Tapi, itu bukan berarti bahwa saya juga memiliki dendam khusus dengan orang yang sama. Yahh, walaupun terkadang Rey memang menjengkelkan!" Jawab Ardi dengan santainya.
"Lalu jika kau tidak memilki dendam khusus padanya, untuk apa kau membantuku? Apa keuntunganmu? Apa motifmu melakukan semua ini?"
"Sebelumnya, saya ingin menanyakan dulu kebenaran yang masih saya ragukan. Apa anak yang Nona kandung adalah anak Rey?" Tanya Ardi semringah.
Kinan memegangi perutnya dengan posesif.
"Kau? Kau tahu aku hamil?" Kinan menatap tajam lawan bicaranya. Ia tak suka membahas hal ini dengan orang yang baru ia temui dua kali. Ini adalah privasinya.
"Sudah saya katakan dari awal, Nona! Bahwa saya mengetahui semua yang terjadi. Hanya itu yang saya ragukan. Maka jawablah dulu dengan jujur!" Ardi menunjuk ke arah perut Kinan.
Kinan mendengus dan membuang pandangannya.
Lagi, Ardi tersenyum sambil memegangi dagunya yang kasar karena mulai ditumbuhi rambut.
"Jadi begitu ya, anda mengandung anaknya tapi anda tidak menuntut pertanggung jawabannya?" Ardi menyeringai, ucapannya mencoba memprovokasi Kinan.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan?" Kinan nyolot dan tak mengerti apa mau Ardi sekarang, jika memang ia tak memiliki dendam dengan Rey kenapa ia menawarkan bantuan pada Kinan. Dan Kinan juga bingung pada dirinya sendiri, ia juga tak mau membalas dendam. Ia hanya tak punya pilihan lain maka ia memutuskan meminta bantuan Ardi.
"Yang saya mau adalah membantu Anda, Nona!"
"Ya, tapi untungnya untukmu apa?"
"Saya tidak memikirkan keuntungannya, tapi jika anda ingin saya mendapat keuntungan juga..." Ardi mengetuk-ngetuk jarinya didepan bibirnya sendiri, seperti menimbang-nimbang sesuatu.
"Saya mau anda bekerja ditempat saya seumur hidup sebagai gantinya!"
"Itu sama saja aku membuat kontrak seumur hidup denganmu kan?"
"Anda bisa memikirkannya, Nona. Saya memberikan anda waktu yang lama. Dua tahun untuk memikirkannya. Saya rasa itu lebih dari cukup. Bagaimana?"
"Saya akan mengatur semua surat perpisahan anda dengan suami anda. Seperti keinginan anda." Ardi lagi-lagi menunjukkan senyum ramah tamahnya, yang membuat Kinan muak.
Kinan berdecak. Bekerja memang tidak ada salahnya. Yang penting ia tidak terikat lagi dengan Ammar. Dan terhindar dari Rey untuk beberapa saat. Paling tidak, sampai ia bisa memaafkan.
"Jika setelah dua tahun aku berfikir, lalu aku menolaknya bagaimana?" tawar Kinan.
"Jika anda menolaknya, anak yang sudah anda lahirkan sebagai gantinya!" Jawab Ardi tak main-main lagi.
"Kau benar-benar memuakkan!" Kinan tersenyum sinis.
"Pikirkanlah lagi negosiasi ini dan keuntungan untuk anda. Pertama, anda bisa pergi dari suami anda. Kedua, anda bisa menghindari Reyland. Ketiga, hidup anda selama waktu berfikir, akan saya tanggung!"
"Dan hidupku akan tergadai setelah dua tahun!" Kinan menyambung ucapan Ardi.
Ardi ikut berdiri dihadapan Kinan.
"Jika anda menolak bekerja seumur hidup ditempat saya ya tidak masalah, hidup anda tidak akan tergadai. Anda bisa bebas dan menentukan tujuan anda selanjutnya!"
"Ya, tapi anakku yang jadi gantinya kan? itu sama saja! Aku tidak akan menyerahkannya pada siapapun!"
Ardi tersenyum puas. "Itu artinya, bekerja seumur hidup ditempat saya jauh lebih baik bukan?"
"Memangnya apa pekerjaan yang ada ditempatmu itu?"
"Tentu saja itu akan saya beritahukan setelah dua tahun. Setelah anda selesai berfikir!"
"Kalau sebelum dua tahun aku sudah selesai berfikir dan menjawab setuju bagaimana? Aku sudah selesai berfikir sekarang, dan aku ingin tahu pekerjaannya apa?"
"Tidak bisa, Nona. Kau harus memikirkan selama dua tahun. Dan dalam waktu dua tahun kau harus menghilang dari kota ini!" Jawab Ardi sesuai dengan tujuannya yang sebenarnya.
"Itu pekerjaan halal kan?"
Ardi tersenyum dan mengangguk.
"Saya pastikan itu halal dan dijalur yang benar. Anda tidak akan dirugikan!"
"Baiklah, aku akan bekerja ditempatmu. Dengan syarat, itu tidak ada kaitannya dengan balas dendam terhadap Rey. Dan bantu aku mengurus perpisahan dengan suamiku!" jawab Kinan pada akhirnya.
.
.
.
.
Bersambung...