
Kinan meneguk es jeruk yang masih tersisa di gelasnya sambil mendengarkan pertanyaan Desi selanjutnya.
"Lalu, apa kau akan kembali dengan Mas Ammar dan memberinya kesempatan?"
Kinan terdiam dan seperti tak tahu akan menjawab apa, ia terlihat bingung dalam lamunan beberapa saat.
"Aku akan memberinya kesempatan." Jawab Kinan sambil meletakkan gelas yang berada dalam genggamannya ke atas meja. Terdengar Desi menghela nafasnya dengan berat. Mungkin dia tidak sependapat dengan keputusan Kinan.
"Setelah semua yang dia lakukan padamu, kau masih mau memberinya kesempatan hah? Semudah itu?" Desi menatap Kinan dengan pandangan heran dan protesnya.
"Ada banyak hal yang terjadi padaku, Des. Dan dia mau membuka lembaran baru, itu adalah awal yang baik untuk hubungan kami."
"Ck! Awal yang baik apa, Ki? Dari awal dia yang tidak menerimamu dengan baik!". Sindir Desi.
"Tapi, apapun keputusanmu, aku hanya berharap yang terbaik untukmu, Ki! sedari awal aku memberi tahu Mas Ammar tentang keberadaanmu pun agar kalian bisa menyelesaikan ini secara baik-baik!" Tutur Desi pada Akhirnya.
-
Kinan dan Desi sedang berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan. Mereka sedang memilih beberapa barang yang akan dibeli.
"Ki, setelah ini kita mampir ke toko buku dulu, boleh?"
Kinan mengangguk mengiyakan. Ia juga ingin membeli beberapa novel untuk mengalihkan pikirannya dari perasaan yang beberapa hari ini terasa tak menentu.
"Setelah dari toko buku, aku akan pergi sendiri, Des!"
"Mau kemana?"
"Aku ingin memastikan sesuatu!"
"Kau yakin ingin pergi sendirian?"
"Yah.."
Mereka menyelesaikan barang belanjaan mereka di meja kasir, lalu beranjak menuju Toko Buku yang masih berada dalam kawasan yang sama.
Desi memindai buku yang ingin ia cari, sementara Kinan juga demikian. Mengamati dan mencari-cari buku yang cocok untuk mereka beli, mereka berdua terpisah oleh beberapa bagian rak buku. Desi tersenyum ketika ada sebuah buku yang ditujukan seseorang tepat di hadapannya. Ia mengambil alih buku itu dari tangan orang yang memberinya.
"Kau memang tahu jenis buku bacaanku." Ucap Desi girang tanpa melihat pada orang itu.
"Aku sudah menduga, tampang sepertimu pasti hobi membaca novel yang menjurus ke adegan ranjang!" Suara bariton lelaki menjawab Desi, Desi menoleh sambil memperlihatkan ekspresi terkejut. Ya jelas saja ia terkejut, ia pikir yang memberinya buku adalah Kinan, ternyata ini adalah seorang lelaki yang...tampan. Tapi Desi segera menyadarkan dirinya sendiri karena ia tak kenal siapa lelaki ini.
"Siapa kau?" Ketus Desi. Sesungguhnya ia merasa malu karena selera bukunya ketahuan oleh lelaki ini.
Lelaki itu tersenyum miring, lalu mengeluarkan jemarinya yang semula tersimpan dibalik saku celananya.
"Kevin." Ujarnya memperkenalkan diri.
"Aku tidak bertanya siapa namamu! Aku merasa tidak mengenalmu!" Desi dengan ke-jutek-an-nya langsung beranjak meninggalkan Kevin. Ia risih dengan lelaki itu yang sok mengenalnya bahkan memberinya sebuah buku untuk dibaca.
"Justru karena kau tidak mengenalku, makanya aku mau kita berkenalan." Ujar Kevin pada dirinya sendiri sambil menatap kepergian Desi yang begitu saja meninggalkannya.
Kevin memutar matanya malas, untuk mencari tahu apakah Kinan sudah mengingat semuanya atau belum, ia rela turun langsung untuk mendekati Desi, teman Kinan. Sedari kepergian dua wanita itu, Kevin sudah membuntutinya. Agar ia bisa memperoleh informasi dari Desi secara langsung. Pastilah wanita itu tau sedikit banyak tentang ingatan Kinan. Namun sayangnya, Desi begitu jutek dan tidak bersahabat.
"Sepertinya aura cassanova ku sedikit demi sedikit mulai luntur, kenapa gadis itu tak tertarik padaku?" Kevin berdecak. Ia kesal sambil menggaruk tengkuknya sendiri.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
"Udah selesai Ki?" Desi menghampiri Kinan di stand buku yang lain.
"Ada yang rekomendasikan itu buat aku baca, lagian kan sudah cukup umur!" Ujar Desi masih sambil tertawa renyah.
"Siapa?"
"Tidak tau! Aku juga tidak mengenalnya!" Desi mengangkat bahu sementara Kinan mencari-cari keberadaan seseorang yang dimaksudkan oleh Desi.
Setelah tak menemukan siapapun, Kinan undur diri untuk pergi sendirian setelah membeli beberapa novel untuknya sendiri.
Desi melanjutkan misi pencarian bukunya yang lain, ia belum puas menyortir toko buku ini.
"Temanmu mau kemana?" Suara seorang lelaki kembali mengagetkan Desi. Untung Desi cepat-cepat sadar diri sambil memegang dadanya yang berdebar karena rasa terkejut.
"Kau penguntit ya?" Desi melotot kearah Kevin.
"Tidak!" Kevin mengibaskan tangannya ke arah Desi. 'tidak salah lagi' sambung Kevin dalam hatinya.
Desi bersikap cuek dan tak mau tahu. Ia terus menjelajahi rak-rak buku didepannya.
"Temanmu kemana?" Tanya Kevin lagi.
"Itu bukan urusanmu!" Gadis itu tetap cuek dan tak memandang Kevin. Membuat lelaki itu mati gaya. Kevin berdecak sebelum akhirnya memilih beranjak dan gegas mengejar Kinan. Kevin sedikit was-was jika Kinan mengenalinya, untuk itulah ia tak mau terang-terangan mengikuti Kinan. Kevin ingin menanyakan saja pada Desi. Tapi sayangnya Desi adalah gadis jutek yang tidak bisa memberinya info apa-apa.
Desi menatap kepergian Kevin yang tergesa-gesa. "Dasar pria aneh!" ujarnya.
-
Kevin memasuki mobilnya, menyalakan mesin mobil dan mengikuti Kinan yang beranjak menggunakan sebuah Taxi. Awalnya Kevin tidak curiga, ia hanya penasaran kemana kiranya Kinan pergi. Apalagi Kinan pergi sendirian tanpa Desi. Apa Kinan akan menemui suaminya?-pikir Kevin.
Kevin meraih ponselnya dan menelepon seseorang.
"Lo dimana, Nyuk?"
"Gue dirumah Nyokap, Kenapa?"
"Gue rasa, Kinan menuju Apartment lo sekarang!" Kevin menuturkan kecurigaannya, karena rute yang dilewati memang menuju gedung pencakar langit itu.
Rey tidak menjawab lagi, ia terdiam sejenak lalu memutuskan panggilan teleponnya secara sepihak.
Kevin berdecak kesal, benar yang dikatakan Desi tadi, ia seperti penguntit akhir-akhir ini. Jika tak memikirkan Rey, sahabatnya yang putus asa karena Kinan, sudah pasti Kevin tidak mau susah-susah melakukan ini. Termasuk mendekati Desi. Kevin dengan sangat mudah untuk menaklukan gadis manapun. Ya walaupun gadis-gadis itu lebih banyak tertarik dengan uang dan ketampanannya bukan karena perasaan cinta.
-
Beberapa menit terlewati, Taxi Kinan sudah berhenti tepat didepan gedung Apartment Rey. Benar saja ia kesana.
Kinan menghirup olsigen sebanyak mungkin, lalu menghembuskan nafas perlahan sebelum masuk kedalam gedung itu. Ia melangkah menaiki Lift dan sampai pada lantai tempat tinggal Rey. Jemarinya hampir menyentuh angka-angka disamping pintu. Namun, ia urungkan untuk menekan password Apartment Rey. Entah kenapa tiba-tiba hatinya merasa ragu. Ia dilingkupi kegelisahan dan ketakutan yang beradu menjadi satu. Ia takut jika yang ia yakini selama ini adalah benar. Ia takut lelaki itu adalah Rey. Ia ingin menemui Rey, untuk mendengar Rey membantah semua yang sempat ia pikirkan. Semoga saja tebakannya selama ini salah. Semoga saja bukan Rey yang melakukan itu.
Kinan lagi-lagi mencoba menepis semua kenyataan yang ia ketahui dan simpulkan sendiri selama ini. Ia sudah menunggu dua hari untuk menata hati agar bisa menemui Rey hari ini. Jemari Kinan mulai mendekat lagi dan dengan kekuatan yang tersisa akhirnya ia menekan tombol password apartment Rey. Mendorong pelan pintu itu setelah berbunyi. Untuk yang ketiga kalinya, lagi-lagi ia masuk ke dalam ruangan Apartment ini.
.
.
.
.
Bersambung...