How Will You Say Goodbye?

How Will You Say Goodbye?
Kejujuran Rey



Malam mulai beranjak, Rey bangkit dari posisinya. Ia ingin memastikan sesuatu. Paling tidak, salah satu dugaannya tidak benar-benar terjadi. Rey menghubungi Kevin dan panggilannya segera dijawab oleh sahabatnya itu.


"Lo dimana?" Belum sempat Kevin menjawab 'Hallo', namun Rey sudah mendahului untuk berkata-kata.


"Gue? Gue lagi di Emerald Cafe. Kenapa? udah selesai urusan lo?" Tanya Kevin dari seberang sana.


"Ck!" Rey berdecak sekaligus mengusap wajahnya sendiri.


"Belum kelar ya masalah lo? dimana lo sekarang?"


"Gue di Apartment! buruan lo kesini!"


Panggilan itu diakhiri sebelah pihak oleh Rey. Sedangkan disisi lain, Kevin mendengus sambil menatap heran ponselnya sendiri.


°


"Kan gue udah bilang, Nyuk! Lo nggak mau nurutin saran gue bawa Kinan ke mansion-nya si Kadal." ujar Kevin pada Rey seraya tetap fokus mengemudikan mobilnya. Mereka menuju arah pulang. Rumah orangtua yang bersebelahan memang menguntungkan untuk mereka berdua.


"Gue cuma nggak mau nanti keluarga Doni juga ikut bertanya-tanya tentang Kinan, Nyet!"


"Kan gue udah bilang mereka di London sekarang!


"Yeah.. bukan berarti mereka nggak tau keadaan rumahnya di datangi sama siapa aje kan!" Rey membuang muka ke arah jendela mobil. Menatap lampu-lampu jalanan yang menyala.


"Terus pemikiran lo sekarang apa? emmm, maksud gue rencana lo selanjutnya?"


"Ya cari Kinan lah, Nyet!"


"Kalo itu gue juga tau, Kunyuk!! maksud gue kalo ternyata Kinan memang udah ingat semuanya dan kembali sama lakinya, lo mau gimana?"


Rey menggeleng lemah. Mulutnya tak mampu lagi berkata-kata.


"Lo jatuh cinta sama dia?" Tembak Kevin mencoba to the point.


Rey mendesah pelan. "hmmm" Hanya itu suara yang terdengar di pendengaran Kevin.


"Apaan tu hmm hmm hmmm?" Suara Kevin naik satu oktaf untuk memperjelas maksud Rey barusan.


Rey mendongak, kepalanya menyandar disandaran kursi mobil. Wajahnya ia tutupi dengan kedua telapak tangannya. Ia melihat wajah Kinan di angan-angannya.


"Gue nggak pernah begini sebelumnya, gue juga nggak tau apa ini bisa disebut mencintainya, gue bahkan lupa apa itu cinta!" Gumam Rey sangat pelan dan nyaris tanpa suara. Rey seperti berbicara pada dirinya sendiri. Tapi, Kevin yang sejak tadi menjadi pendengar budimannya, tentu saja mendengar gumaman lelaki yang duduk disebelahnya ini.


"Awas bucin lo!" sahut Kevin sambil tergelak. Rey membuka tangannya yang sempat menutupi wajah tampannya itu, ia memandang tajam kearah Kevin.


Seketika itu juga nyali Kevin menciut karena mendapat tatapan membunuh dari seorang Reyland Denizer.


"So-sorry, Nyuk! gue cuma--"


"Cuma bosan hidup kan lo?"


"Bukan, gue cuma salut kalo lo bisa serius soal cinta!"


Rey tersenyum miring mendengar ucapan Kevin. "Lo juga bakal bucin pada saatnya nanti!" Jawab Rey enteng sambil mengangkat bahunya seolah mengejek Kevin.


Kevin sedikit terkejut dengan ucapan Rey, memang selama ini mereka bertiga tidak pernah tahu dan merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya. Rey, Kevin dan Doni selalu menjalin hubungan dengan wanitanya tanpa embel-embel 'cinta'. Mereka menganggap, cinta akan membebani diri mereka sendiri. Bukankah mereka memang satu aliran dan sangat cocok berteman mengenai hal ini?


...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...


Mobil Kevin sampai didepan gerbang kediaman keluarga Rey. Rey turun didepan gerbang karena Kevin tak berniat untuk masuk, mobilnya akan segera masuk ke pekarangan rumahnya sendiri yang berada tepat disebelah rumah Rey.


Rey menekan bel dan muncul-lah satpam penjaga rumahnya untuk membukakan gerbang itu.


°


"Rey, kamu pulang, Nak? Kenapa lama sekali? Mama sudah menunggu dari siang tadi." Suara Mama Rey menyambut kepulangan anaknya. Wajahnya tampak sumringah.


Tentu saja Rey pulang bukan dengan niat untuk kembali tinggal dirumah besar ini. Ia sudah mempunyai planning lain dan ia sadar ia telah diusir secara sadar dari rumah ini beberapa waktu lalu. Rey kesini untuk memastikan bahwa Kinan yang menghilang bukan semata-mata karena ulah Papanya.


"Ma, Rey ingin bertemu suami Mama." Entah kenapa Rey enggan menyebut kata 'Papa' untuk lelaki tua itu saat ini.


Pucuk dicinta, sang Papa yang ingin ditemuinya pun menuruni tangga yang melingkar itu.


"Ada apa Rey?" Tanya lelaki setengah baya itu.


Rey mengadah melihat posisi Papanya yang masih berada ditangga atas.


"Aku ingin bicara!"


"Jika kau ingin membuat kesepakatan, aku akan mempertimbangkannya!" Ujar Papa Rey.


Rey mengangguk. Ia berjalan menaiki tangga, menuju Papanya yang menghentikan langkah di anak tangga. Rey melewati lelaki itu dan berjalan lebih dulu untuk memasuki ruang kerja ayahnya.


"Kesepakatan apa yang ingin kau ajukan?" Tanya Papa Rey kepada anaknya setelah memastikan ruangan itu tertutup dan hanya ada mereka berdua didalamnya.


Lelaki itu tertegun dengan pernyataan anaknya, ia mengangguk-angguk sambil tersenyum penuh arti.


"Lalu, apa yang kau inginkan?"


"Aku ingin Kinan, Pa! Aku ingin bertanggung jawab atas hidupnya! Aku ingin menikahinya!" Suara Rey mulai lantang dan berujar tanpa hambatan apapun.


Papa Rey tersenyum getir, ia tahu jelas anak satu-satunya ini akan meminta belas kasihnya perihal wanita itu. Apapun yang akan ia lakukan, apapun yang akan ia katakan, anak keras kepala ini pasti tidak akan mendengarkannya. Rey pasti sudah merencanakan sesuatu untuk hidupnya, maka dari itu ia seperti tak kenal takut dan tak gentar lagi oleh ancaman ayahnya. Apalagi beberapa waktu lalu, Rey yang dulunya tidak bisa hidup tanpa fasilitas dari orangtuanya rela untuk terusir dari rumah. Itu berarti tekat Rey terhadap wanita itu benar-benar sudah tidak bisa diganggu gugat.


"Aku tidak akan mencegahmu lagi jika memang itu yang kau inginkan. Tapi..."


Papa Rey menatap binar dimata anaknya. Binar penuh pengharapan setelah Rey mendengar ucapannya yang baru saja ia lontarkan.


"Tapi kau tahu, Wanita itu sudah bersuami, Nak!"


"Untuk itulah aku meminta kesepakatan ini, pisahkan dia dari suaminya!"


"Asistenku akan membantu wanita itu mengurus gugatannya ke pengadilan jika wanita itu memang menginginkannya!" Jawab Papa Rey dengan enteng.


"Temukan dia dulu!" Ucap Rey kemudian.


"Apa maksudmu temukan? Dia tidak bersamamu?" Wajah Papa Rey tampak terkejut. Setahunya, Kinan pastilah bersama Rey.


Dari pertanyaan Papanya, Rey mendapat sebuah kesimpulan. Artinya, Papa Rey tidak mengusir Kinan. Maka dari itu, Papa nya masih berfikir Kinan ada dalam jangkauan Rey.


"Dia menghilang, aku rasa dia--"


"Dia kembali pada suaminya? dan mencampakkanmu?" Papa Rey tersenyum sarkasm. Ia berjalan memutari meja kerjanya dan menatap lekat mata Hazel milik anaknya.


"Aku akan membantumu jika wanita itu juga mencintaimu, Nak!" Ujarnya sambil memegang kedua bahu Rey. Tatapannya menghunus tepat ke mata sang anak.


Rey sedikit terperanjat dengan perlakuan Papanya. Ia menunduk, tak tahu lagi harus berkata apa.


"Rey, jangan memaksakan sesuatu. Jika Papa boleh tau, kenapa kau sangat ingin menikahinya? terlepas dari perasaanmu itu, kau harusnya bisa berpikir dengan logika!"


Rey menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sebelum ia memutuskan untuk berbicara lebih jauh.


"Aku, aku telah merenggut kesucian Kinan, Pa!" tutur Rey dengan ragu dan tertunduk.


"Apa maksudmu, Rey?" Suara wanita itu membuat Rey syok dan kaget seketika, bersamaan dengan pintu ruangan yang terbuka dari luar dan menampilkan sosok wanita yang tak lain adalah Mamanya.


Rey menyugar rambutnya, ia memejamkan mata sejenak. Mungkin inilah saat yang tepat untuk ia mengakui dan berkata sejujurnya pada kedua orangtuanya.


"Apa Rey?" Tuntut Mama Rey tidak sabaran. Papa Rey pun menatap anaknya dengan tatapan meminta penjelasan.


"Beberapa bulan lalu, aku melakukan kesalahan. Aku mabuk dan tak bisa mengendalikan diri, Ma!"


Mata wanita cantik itu membola, tak percaya dengan pengakuan anaknya.


"Kinan, dia... dia telah ku nodai, Ma! Aku yang merenggut kesuciannya disaat dia tidak sadarkan diri!" Jelas Rey pada akhirnya.


Mama Rey terduduk di sofa sambil memegangi dadanya. Terasa sesak mendengar pengakuan sang anak. Sedangkan ayah Rey menatap anaknya dengan terperangah.


"Rey, tapi suaminya bilang dia sedang mengandung. Apa itu--" Ucapan Mama Rey terhenti, karena mereka bertiga seperti menyadari sesuatu.


"Itulah, Ma..Pa.. Entah kenapa aku yakin bahwa anak yang ada dalam perut Kinan adalah darah dagingku!" Rey terisak. Mama Rey pun terlihat berkaca-kaca.


"Cukup!" Suara bariton milik Papa Rey menghentikan percakapan antara ibu dan anak itu.


"Aku setuju, bagaimanapun caranya kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu! Sekalipun kau tidak mencintainya, itu adalah resiko dari ulahmu!"


"Tapi jika kau mencintainya, kau juga harus siap untuk kehilangannya, Rey!" Sambung Papa Rey.


"Maksud Papa?"


"Dia bersuami, dan kau pernah menyisakan trauma padanya. Aku yakin sedikit banyaknya wanita itu bisa depresi dan berada di RSJ berkat ulahmu sendiri. Jadi bersiaplah menerima penolakan!" Jelas Papa Rey dengan berusaha bersikap bijak.


"Tapi, Pa--" Sanggah mama Rey. Namun ucapannya terhenti karena tangan suaminya naik sebagai kode agar ia diam dan membungkam mulutnya.


"Keputusan tidak seluruhnya ada padamu Rey! Kau bisa saja menginginkannya, tapi ketika dia menyadari apa yang telah kau perbuat, maka keputusan itu ada pada perempuan itu!"


.


.


.


.


Bersambung...