
Rey menerima panggilan itu sesegera mungkin.
"Hallo?"
"Rey, Apa perjalananmu ke London menyenangkan?" Tanya seorang pria dari seberang telepon.
"Ck..." Rey hanya berdecak lidah untuk menjawab pertanyaan dari pria yang tak lain adalah sang ayah.
"Pulanglah! Papa sudah tahu kau berada disana sejak hari pertama kau menginjakkan kaki di London." Ucapnya lagi.
"Ya, aku akan pulang." Jawab Rey datar.
"Ajak Kinanty ikut pulang bersamamu ke Indonesia!" Ucap Papa Rey dari seberang sana. Rey terkejut mendengarnya. Apa akan ada hukuman susulan akibat kesalahannya menyusul Kinan ke London.
"Kenapa, Pa?" Kening Rey berkerut, ia memikirkan kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya.
"Pulang dan urus pernikahan kalian!"
"Papa serius?" Rey menatap Kinan yang juga sedang melihatnya menerima panggilan telepon itu.
"Ya, ajak dia pulang dan nanti Papa akan menjelaskan semuanya." Telepon itu langsung diputuskan sebelah pihak. Rey menatapi ponselnya sendiri seakan tak percaya akan apa yang baru saja ia dengar. Sedetik kemudian ia memeluk Kinan sampai tubuh wanita itu sedikit terangkat ke atas.
Kinan terkejut atas perlakuan Rey yang tiba-tiba, kenapa Rey mendadak sebahagia ini? Apa yang sebenarnya terjadi.
"Mas, lepas! Turunkan aku!" Pinta Kinan dengan nada terheran-heran. Bukan hanya Kinan yang begitu, Joana dan Doni yang menyaksikan perubahan sikap Rey pun merasa aneh akan apa yang baru saja mereka lihat. Padahal tadi Rey sedang marah akibat ulah Doni tapi sekarang nampaknya pemuda itu tengah diliputi rasa bahagia.
"Ada apa?" Tanya Doni. Rey hanya tersenyum miring sebagai jawaban untuk Doni.
"Kenapa, Mas?" Tanya Kinan yang masih tak mengerti.
"Sekarang kita pulang. Siapkan semua barang-barangmu dan besok kita kembali ke Indonesia." Jelas Rey tetap dengan senyuman yang merekah.
"Tapi, Mas--" Kinan tak melanjutkan karena Rey langsung meletakkan jari telunjukknya didepan bibir Kinan.
"Ikuti saja, semua akan baik-baik saja. Kamu percaya padaku kan?" Rey menangkup kedua pipi Kinan untuk meyakinkannya dan Kinan mengangguk dalam.
...🌸🌸🌸🌸🌸🌸...
Rey sedang mengemasi barang-barangnya, ia akan berangkat menuju Indonesia bersama Kinan. Cukup sudah perjalanannya di London kali ini. Misi membujuk dan menjemput Kinan telah sukses, kini kepalanya dipenuhi dengan hal lain yaitu tentang masa depannya bersama Kinan. Ternyata Papanya sudah mengetahui gerak-gerik Rey.
Benar saja yang Siska katakan bahwa dikepala Rey mungkin memang ada radar yang bisa dilacak oleh sang Ayah. Rey terkekeh mengingat itu. Seorang Yazid Denizer sudah tahu jauh-jauh hari tentang rencananya, tapi dia membiarkan anaknya ini berada di London dengan penuh ketakutan. Ketakutan akan ketahuan olehnya. Hah! Rey merasa bodoh sendiri jika mengingat ulahnya di kediaman Kinan waktu itu.
Jika saja Rey tahu sang ayah sudah mengetahui keberadaannya, Rey tak perlu menyamar menjadi asisten Joana kemarin, ia masuk saja kesana dengan identitas aslinya. Seharusnya ia sudah bisa menebak kalau pria tua itu sudah mengendus keberadaannya di London.
Drrt..Drttt...
Ponsel Rey terasa bergetar, ia mengambilnya dari atas nakas dan membaca sekilas. Itu pesan dari Kevin.
Sorry, Nyuk. Gue lupa kemaren harusnya langsung gue kirim.
Isi pesan dari Kevin itu dibaca oleh Rey. Kemudian Rey menyadari dibawah pesan itu sudah ada pesan lain yang lebih dulu di kirim oleh kevin. Sebuah link yang begitu di tekan Rey langsung tersambung ke situs pemberitaan online.
'Seorang wanita ditemukan tewas tak bernyawa setelah sebelumnya mengalami kekerasan dan pelecehann seksuall.'
Kening Rey berkerut, ia melihat gambar dan menebak itu adalah seorang wanita yang tergeletak namun gambar itu di blur dan terlihat tidak jelas wajahnya dan apa yang ia kenakan. Rey berfikir sejenak, siapa wanita yang dimaksud dalam pemberitaan ini.
"Shirly?" Rey memang tak tahu dan tak pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya. Tapi Rey menebak karena Kevin pernah mengatakan akan memberikan hotnews tentang wanita bernama Shirly itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Rey menggeram, ia sudah meminta sang Ayah untuk melepaskan Shirly sebelum ia berangkat ke Seoul waktu itu. Tapi kenapa pemberitaan memberitakan jika Shirly tewas dan lagi... di lecehkan? Apa maksud dari semua ini?
Rey mencoba menghubungi sang Ayah untuk memastikan apa yang sudah Papanya perbuat pada wanita itu. Apa Papanya akan melakukan hal ini hanya untuk membungkam mulut Shirly? Apa Papanya tega melakukan hal sekeji ini hanya agar kebejatan Rey tidak terbongkar dihadapan hukum?
Panggilan Rey tidak dijawab oleh sang Papa. Rey mendesahh frustasi karena tanya dalam hatinya belum terjawab. Akhirnya Rey menghubungi Kevin.
"Udah lo liat?" Tanya Kevin begitu panggilan tersambung.
"Udah. Apa ini ada hubungannya sama bokap gue?" Tanya Rey.
"Gue gak yakin, Nyuk! Shirly bunuh diri begitu dia sadar di rumah sakit."
"Jadi dia meninggal karena bunuh diri? Bukan di bunuh?" Alis Rey bertautan satu sama lain.
"Iya. Awalnya dia ditemukan pingsan di hutan dengan keadaan yang mengenaskan. Setelah dua hari dirawat di rumah sakit, dia sadar terus dia histeris. Beberapa kali juga dia mencoba lompat dari atas gedung Rumah Sakit." Jelas Kevin. Rey menarik nafasnya dengan berat sambil mengacak rambutnya sendiri.
"Lo tau kenapa dia histeris?"
"Dari pemeriksaan, dia kayaknya di perkosaa, Bro!" Tutur Kevin dan sontak itu seperti tamparan keras untuk Rey. Andai Ia tak menemukan Kinan tepat waktu saat itu, pasti Kinan juga sudah bunuh diri di rel kereta api. Rey memejamkan matanya sejenak karena mengingat kejadian itu. Atau mungkin jauh sebelum itu Kinan sudah pernah mencoba menyakiti dirinya sendiri? Rey mendadak mengingat bekas luka dipergelangan tangan Kinan. Jelas Kinan sudah beberspa kali melakukan percobaan bunuh diri akibat ulahnya dulu.
"Kenapa lo ngerasa ini ada hubungannya sama bokap lo?" Tanya Kevin lagi menyadarkan Rey dari lamunannya.
"Gue cuma mau mastiin aja. Nanti gue konfirmasi. Btw, besok gue pulang kok, Nyet!" Jawab Rey dan Kevin mengerti. Panggilan itu terputus seraya Rey menetralkan perasaannya atas kabar yang baru saja ia dengar.
"Ya Tuhan, apa kesalahanku dimasa lalu harus berimbas ke orang lain?" Gumam Rey pada dirinya sendiri. Rey tahu meski Shirly bersalah dan berperan besar atas kehancuran hidup Kinan, tapi ia merasa tak tenang jika Shirly harus meninggal hanya karena kekejaman sang Papa-begitulah dugaan Rey sekarang.
"Apa mungkin ini semua hukuman Papa untuk wanita itu? Tapi ini keterlaluan." Rey benar-benar tak terima jika ini ada sangkut pautnya dengan Papanya. Rey lagi-lagi membandingkan dan mengingat jika wanita itu adalah Kinan, membuat Rey benar-benar menjadi tidak tega.
.
.
.
Bersambung...