
Jam di dinding menunjukkan pukul 03.10 dini hari. Lelaki yang kini berada disamping Kinan tersadar dari tidurnya. Dia beberapa kali memegang kepalanya yang terasa pusing akibat mabuk semalam.
Lelaki itu refleks menarik diri dari gadis yang masih tertidur disampingnya.
"Astaga apa yang udah gue lakuin sama dia?" Ucapnya seraya melihat bercak darah di sprei. Bercak itu nampak kontras karena warna sprei itu yang putih keabuan.
Lelaki itu berulang kali mengusap wajahnya sendiri.
"Harusnya gue nolongin dia. Kenapa jadi gini? dan kenapa juga dia masih p*rawan! ****!" Umpatnya emosi pada diri sendiri.
Ia mengambil bajunya yang berserak dilantai, lalu ia berdiri.
Lelaki dengan tubuh tinggi dengan perawakan yang blasteran itu pun tampak bingung didalam kamar Apartment-nya.
"Minum apa sih nih cewek? kenapa dia nggak bangun-bangun?" Ujarnya lagi seraya berjalan gelisah didalam kamar.
Lelaki itu tampak bingung dan tak tahu harus berbuat apa pada gadis yang sudah dil*cehkannya ini.
Dia memutuskan membersihkan diri dikamar mandi. Mencuci wajahnya dengan air. Lalu ia meninggalkan Kinan begitu saja didalam apartmennya.
******
Kinan tersadar dari tidur panjangnya, ia membuka matanya, cahaya yang masuk ke indera penglihatannya sangat sedikit, lebih dominan gelap. Ia mengedipkan matanya beberapa kali.
Kini Kinan sadar bahwa ia ada didalam sebuah kamar dengan minim cahaya, karena kamar ini hanya diterangi lampu tidur yang ada diatas Nakas.
"Dimana ini?" Batin Kinan bertanya-tanya. Kinan ingin beranjak dari tempat tidur yang ditempatinya, tapi rasanya seluruh tubuhnya sangat sakit. Nyeri dan perih sangat terasa dibagian intinya. Dan ia merasa ada yang janggal.
Kinan menyurukkan badannya dengan bedcover ketika ia menyadari sesuatu, ia syok dan terkejut mendapati tubuhnya yang tanpa sehelai benang pun. Dan pandangannya mengarah ke lantai dimana baju dan semua yang seharusnya melekat ditubuhnya ter-onggok disana.
"Ya Tuhan, apa yang terjadi padaku?" Ucapnya disela-sela airmata yang sudah jatuh dipipinya.
Kinan mencoba bangkit tapi lagi-lagi ia merasa sangat sakit diseluruh tubuhnya, kepalanya pun terasa pusing.
Kinan memaksakan untuk mengambil baju yang tadi dilihatnya dilantai. Sambil masih tetap memegangi bedcover untuk menutupi tubuh polosnya. ia mengambil semuanya dengan cepat dan mengenakannya.
Kinan menyibak bedcover itu untuk bangkit dan segera meninggalkan tempat terkutuk ini, tapi lagi-lagi matanya terbelalak melihat bercak keper*wanannya yang sangat jelas tercetak disana.
Kinan yang sudah berdiri, mendadak lunglai dan lemas. Ia terduduk di ujung tempat tidur King size itu. Menangisi kebodohannya dan meratapi nasibnya.
Ia mencoba mengingat apa yang terjadi padanya, tapi ia sama sekali tidak mengingat apapun.
Kinan menguatkan diri, mencoba berdiri dan mencari-cari saklar lampu. Ketika ia menemukannya, ia langsung menekan saklar itu. Kamar yang tadi gelap kini terang benderang.
Kinan mencoba melangkah lagi mencari-cari apapun yang bisa menjadi petunjuk, kenapa ia bisa berakhir disini. Dan siapa yang dengan tega merenggut kesuciannya.
Kinan mengedarkan pandangan keseluruh ruangan kamar, ia tak menemukan satu foto pun untuk mengetahui sang empunya tempat ini.
Kinan mencoba membuka laci nakas, mencari-cari sesuatu disana, tapi usahanya sia-sia. Kinan ingin marah tapi entah pada siapa ia harus melampiaskan kemarahannya.
Kinan mencari-cari handphone nya disaku celana, tapi tidak ada. Ia pun menyadari sepertinya tas yang biasa ia gunakan juga tak dipakainya, entah hilang atau memang tertinggal dirumah, Kinan sudah tak tau apa-apa lagi.
Kinan keluar dari kamar itu, menemukan ruangan lain yang juga sepertinya tidak ada yang menunjukkan identitas seseorang yang menempati rumah ini.
Kinan melihat pintu keluar dan berusaha membukanya. Setiba Kinan diluar rumah itu, ia baru menyadari bahwa ia sekarang sedang berada di apartment bukan dirumah biasa.
Kinan berjalan terseok-seok sambil menahan sakit diintinya, menuju lift untuk segera turun kebawah. Tanpa sengaja Kinan melihat jam didepan Lobby gedung. Pukul 04:50 pagi.
Kinan memutuskan untuk menunggu dikursi tunggu Lobby karena ini terlalu dini untuk ia keluar dari gedung ini.
💠💠💠💠ðŸ’
"Ma, apa Kinan sudah pulang?" Tanya Ammar dari seberang telepon ketika menelepon Latifa.
Malam tadi, Ammar menelepon kerumah. Dengan maksud ingin menanyakan kabar anak-anak dan Kinan tentunya, tapi Latifa mengatakan Kinan belum juga pulang dari supermarket.
"Belum Ammar, ini sudah pagi. Dia belum pulang dari sore semalam! Wanita macam apa yang suaminya bekerja namun dia tidak pulang kerumah!" Cerocos Latifa menjawab Ammar yang berada diseberang telepon.
"Astaga kemana Kinan sebenarnya!" Ucap Ammar lagi.
"Mama tidak tahu Ammar, dia semalam sore pergi mengatakan ingin ke supermarket. Kalau kau tidak percaya, nanti ketika kau pulang, kau boleh tanyakan pada orang-orang yang ada dirumah"
"Baiklah, lagi pula hari ini aku akan pulang menggunakan pesawat pagi."
"Oke, hati-hati ya Ammar. Jangan terlalu memikirkan wanita itu! Dia memang selalu merepotkan! Mama tunggu kepulangan kamu dirumah ya!"
*******
Kinan sudah berdiri di pinggir jalan, menunggu taxi yang lewat. Kinan memutuskan untuk pulang kerumah Ammar dan meminta bantuan Ammar saja untuk menyelidiki masalah yang menimpanya.
"Apa mas Ammar akan membantuku?" Tanya Kinan dalam hati.
Taxi yang ditumpangi Kinan melaju menuju kediaman Ammar.
Kurang lebih 60 menit perjalanan, taxi itu pun sampai dirumah yang selalu tampak asri itu.
Kinan menyuruh supir taxi menunggu agar ia bisa mengambil uang dikamar, karena Kinan sama sekali tidak membawa uang disaku celananya.
Kinan masuk rumah, masih dalam keadaan yang terseok-seok. Rumah tampak sepi ketika Kinan pulang. Ia disambut oleh Latifa yang berada diruang tamu.
"Darimana saja kau, ha?"
Kinan terlalu lelah untuk menjawab Latifa. Rasanya untuk berbicara pun ia tak sanggup. Ia hanya menggeleng untuk menanggapi Latifa, lalu ia masuk kekamar dan mengambil beberapa lembar uang dilacinya.
Kinan keluar membayar ongkos taxi. Tapi begitu ia kembali ingin masuk kedalam rumah, langkahnya terhenti oleh suara Latifa.
"Masih berani kau menunjukkan wajahmu itu dirumah ini? Setelah semalaman kau tak pulang?"
"A-aku, aku tertimpa musibah, Nyonya!" Ucap Kinan sambil menahan sesak di
dadanya.
"Cih,. Kau jangan berdalih. Apa sekarang kau mulai menunjukkan kedok mu yang sebenarnya? Sekarang mulai terlihat ya belangmu itu! Dasar benalu! Tidak malu kau pulang kesini lagi!"
"Nyonya, saya tidak bermaksud meninggalkan rumah sampai begitu lama, saya juga tak ingat kenapa saya bisa berada diluar rumah."
"Jangan banyak alasan! Kau bilang kau tak ingat kenapa kau berada diluar rumah? Hahaha bukannya semalam kau mau ke supermarket?"
"I-iya tapi rasanya saya masih berada dirumah semalam, belum pergi ke supermarket!"
"Apa maksudmu? Kau pergi ke supermarket semalam, Kinan!"
Kinan menggeleng bingung.
Latifa lalu menjerit memanggil Minah.
Minah pun datang dengan cepat sambil sedikit berlari-lari.
"Ada apa Nyonya?" Tanya Minah.
"Eh mbak Kinan sudah pulang?" Celetuk Minah lagi.
Minah mengangguk mengiyakan.
"Benar Nyonya, semalam mbak Kinan pergi ke supermarket, bahkan mbak Kinan izin sama saya dan titip anak-anak sama saya!" Jawab Minah jujur.
Kinan mengingat lagi kejadian ia bertemu Minah. Tapi mendadak ia pusing teramat sangat.
"Kau lihat? Minah saksinya kalau kau memang pergi ke supermarket!" Ujar Latifa tak mau kalah.
Kinan benar-benar pusing sekarang, belum lagi ketika ia menyadari hal apa yang telah menimpanya. Ia benar-benar hampir meledakkan tangisnya didepan Latifa dan Minah.
Ia hanya diam tanpa kata melihat Latifa yang menunggu jawabannya. Perlahan-lahan Kinan berjalan menuju ke kamar. Ia tak menggubris lagi Latifa yang menjerit-jerit memanggil namanya.
Kinan masuk kamar dengan perasaan hancur. Ia masuk kedalam kamar mandi. Ia menghidupkan shower. Membasuh tubuhnya dengan air dingin, tanpa sempat membuka bajunya. Air dari shower itu terus membasahi tubuh lemahnya yang terduduk di dalam shower box itu.
Kinan menangis sejadi-jadinya atas hal yang menimpanya. Ia meraung-raung diantara air yang berjatuhan dari atas kepalanya.
Ia menatap dirinya dari pantulan cermin yang ada disisi dinding. Mendadak ia merasa jijik pada dirinya sendiri, pada tubuhnya apalagi.
Ia menatap lehernya dicermin itu, membuka beberapa kancing blouse yang masih melekat ditubuhnya. Ia makin menangis mendapati banyak Kissmark dileher dan dadanya. Ia menggosok-gosoknya berniat untuk menghilangkan semua itu tapi usahanya sia-sia.
"Apa yang harus aku lakukan? Apa salahku? Kenapa aku harus menanggung beban seperti ini?" Lirih suara Kinan meratapi nasibnya.
Ammar yang baru saja tiba dirumah tak menyia-nyiakan waktu untuk langsung bertemu Kinan setelah ia mendengar Kinan sudah pulang.
Ammar memasuki kamar, ia tak mendapati Kinan dikamar itu. Padahal Latifa memberi tahu bahwa Kinan sudah pulang dari dua jam yang lalu.
Ammar mencari keseluruh kamar dan menemukan pintu kamar mandi yang terkunci dari dalam.
Ammar memanggil-manggil nama Kinan namun tak ada jawaban. Kemudian Ammar menggedor-gedor pintu itu tapi hasilnya tetap nihil.
"Kinan, buka pintunya Kinan!" Ucap Ammar sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.
Ammar memutuskan mengambil kunci cadangan yang ada dilaci nakas. Ia membuka pintu kamar mandi dengan sedikit memaksa.
Ia melihat shower masih menyala, dan Kinan sudah tergeletak dibawah kucuran air shower. Dilantai.
"Ya Tuhan, Kinan.. apa yang terjadi?" Ammar menghampiri tubuh lemah Kinan.
Kinan tidak pingsan, ia masih sadar. Tapi Ammar dengan sigap menggendong tubuh lemah Kinan dan membungkusnya dengan handuk.
Ammar membawa tubuh Kinan keluar dari kamar mandi dan membaringkannya diatas tempat tidur.
"Kamu kenapa Kinan?" Tanya Ammar pelan.
Kinan menatap Ammar dengan tatapan aneh.
Ammar melirik penampilan Kinan yang sudah basah.
"Kamu keringkan dulu badan kamu pakai handuk, setelah itu kamu ganti baju ya!" Ucap Ammar lembut.
Kinan menggeleng tanpa suara.
"Kalau kamu tidak mau, nanti kamu bisa masuk angin."
"Ya sudah, biar aku minta tolong Minah untuk membantu kamu berganti pakaian" usul Ammar lagi.
"Tidakkkk!!" Jawab Kinan cepat dengan nada ketakutan.
"Ya sudah, apa kamu mau aku yang membantumu?" Tanya Ammar lagi.
Kinan mundur beberapa senti dari Ammar, ia berdiri menutupi tubuhnya dengan handuk. Dan tubuhnya tersudut diujung dinding. Mata Kinan menatap Ammar dengan waspada.
Ammar yang melihat perubahan Kinan, mendadak heran dengan sikap istrinya itu.
"Kamu kenapa Kinan?" Tanyanya sembari ingin menyentuh pundak Kinan.
Kinan spontan mengelak dari uluran tangan Ammar. Ia menggeleng cepat.
"Jangan! Jangan sentuh aku, mas!" Jawab Kinan yang membuat Ammar semakin terheran-heran.
"Baiklah, aku tidak akan menyentuhmu. Aku hanya ingin bertanya, kemana kamu semalaman tidak pulang?"
Kinan terduduk disudut ruangan, pertanyaan Ammar membuatnya mengingat kejadian dimana ia mendapati tubuhnya yang sudah tanpa sehelai benangpun subuh tadi.
"Jawablah pertanyaanku Kinan! Jangan membuatku menerka-nerka yang tidak-tidak!"
Kinan tetap bergeming tanpa sepatah kata pun. Melihat kepulangan Ammar membuatnya semakin tersulut rasa takut. Ingin jujur, tapi ia takut Ammar tak bisa menerima.
"Aku ingin menyangkal ucapan mama bahwa kau tidak pulang semalam karena kau sedang bersama lelaki lain!"
"Maka jawablah aku, Kinan! Katakan itu tidak benar. Agar aku bisa menyangkal tuduhan mama terhadapmu!" Tambah Ammar lagi.
Mendengar pernyataan Ammar, Kinan malah menangis sejadi-jadinya.
Ammar mendekati Kinan yang tertunduk, mengambil handuk yang menutupi pakaian dan tubuhnya yang basah.
Ketika handuk itu tertarik oleh tangan Ammar, tanpa disengaja, blouse Kinan yang memang sudah Kinan buka beberapa kancing bagian atasnya tadi pun terlihat didepan mata Ammar.
Ammar pun syok mendapati tubuh Kinan dengan banyak Kissmark yang bukan atas ulahnya sebagai suami Kinan.
Ammar yang tadinya terjongkok didepan Kinan mendadak berdiri. Dan melempar handuk itu kelantai.
Kinan masih menangis sejadi-jadinya.
"Aku tau Kinan, kau tidak mencintaiku! Tapi aku tidak menyangka perbuatanmu dibelakangku sehina ini!" Ujar Ammar yang mulai berapi-api.
"Mas, ini semua bukan seperti yang kau kira!" Jawab Kinan yang mulai memberanikan diri untuk bicara.
"Aku juga belum mencintaimu, Kinan! Tapi aku sudah katakan aku akan berusaha. Bisa-bisanya kau disentuh oleh lelaki lain. Bahkan aku yang suamimu saja belum pernah melakukan hal itu!" Ucap Ammar sembari menunjuk kearah tubuh Kinan.
Kinan menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali, ia merasa jijik dengan dirinya sendiri tapi apakah suaminya juga harus menatapnya dengan jijik?
Kinan ingin meminta Ammar untuk menyelidiki hal yang menimpanya. Ia berharap Ammar yang dapat membantunya. Tapi belum apa-apa Ammar sudah menuduhnya yang bukan-bukan.
Kinan merasa kepalanya kembali berdenyut. Dadanya sesak menahan amarah yang belum bisa terlampiaskan. Rasanya ia ingin lari.
"Mas... Aku belum menjelaskan apapun padamu, beri aku kesempatan untuk mengumpulkan keberanian dan menceritakan yang sebenarnya, mas!"
"Tidak perlu! apa yang ku lihat sudah menjadi penjelasan yang akurat untukku!"
"Kalau begitu, ceraikan saja aku mas!"
.
.
.
Bersambung...