
Mobil itu terparkir dengan mantap di pelataran parkir kawasan London Eye. Joana tersenyum senang, ia menarik pelan lengan Kinan yang sedari didalam mobil tadi terus digenggam oleh Rey. Rey mendengus melihat Kinan pasrah saat di gandeng Joana. Joana menahan gelak melihat tingkah Rey.
"Jangan bilang kau cemburu padaku, Boy!" Goda Joana. Ia sengaja menunjukkan jemarinya yang bertautan dengan jemari Kinan pada pemuda itu lalu menjulurkan lidahnya sebagai bentuk ejekan. Kinan menutup mulutnya yang tersenyum karena tingkah Joana.
"Ya aku cemburu! Kau puas?" Jawab Rey setengah cuek dan Joana terkikik puas. Keempatnya berjalan menuju tempat penjualan tiket di London Eye.
Destinasi ini merupakan salah satu yang terpopuler di London, tak heran jika bianglala setinggi 135 meter di pinggir sungai Thames ini sangat diminati wisatawan. Ribuan pengunjung dari berbagai penjuru dunia, berbondong- bondong menikmati keindahan kota London dari balik kaca kapsul London Eye. Untungnya mereka tiba sebelum jam 10 pagi hingga bisa mendapat tiketnya dan tak perlu mengantri cukup lama.
Setelah memasuki bianglala berbentuk kapsul itu, Rey dengan keposesif-annya, menautkan jemari pada lengan Kinan. Ia tak mau waktu didalam bianglala Kinan harus lengket pada Joana. Mereka sudah cukup dekat pada saat terapi dan Rey belum ada momen berdua bersama Kinan, Rey tak mau Joana menghancurkan momen kebersamaannya dengan Kinan selama di London. Meskipun Rey tahu Joana melalukan itu untuk menggodanya saja tapi Rey berlagak masa bodoh, toh Kinan calon istrinya-pikir Rey.
"Apa kau suka pemandangannya?" Tanya Rey, ia sengaja berdiri sedikit menjauh dari Doni dan Joana, memberi jarak agar kedua orang itu tidak mengganggu momen spesialnya bersama Kinan.
Kinan mengangguk. "Ini sangat indah." Kinan tersenyum dan Rey terikut untuk melengkungkan bibirnya. Joana dan Doni pun menikmati jalan-jalan ini walau ini bukan yang pertama kali bagi mereka ke London eye.
Bianglala itu berputar perlahan, Rey dan Kinan berbincang ringan tentang keseharian mereka selama ini.
"Kau pernah kesini sebelumnya, Mas?" Tanya Kinan dan Rey mengangguk.
"Waktu kecil pernah beberapa kali. Dan setelah Remaja dua kali." Jelas Rey. Kinan tersenyum. Ternyata hanya dia disini yang pertama kali menikmati suasana ini.
"Aku senang melihatmu tersenyum."
Rey cukup bersyukur melihat kesehatan Kinan dari segi fisik dan mentalnya. Ia banyak mengalami perubahan yang lebih baik. Rey benar-benar bahagia melihat Kinan sudah tak sehisteris dulu saat melihat dan bersamanya.
Jauh didalam lubuk hati pemuda itu benar-benar berterima kasih karena Kinan bisa bertemu dengan dokter seperti Joana. Selain Joana bisa menghubungkan Rey dan Kinan, Rey juga bersyukur Kinan memiliki teman. Setidaknya ada satu orang yang peduli padanya ketika berada di London.
"Kau kenapa, Mas?" Tanya Kinan. Ia penasaran melihat Rey yang terus menyunggingkan senyum itu.
Rey menggeleng. "Tak apa, Aku bahagia." Ucap Rey sambil menarik kepala Kinan agar bersandar di pundaknya. Kinan tersenyum lagi mendengar jawaban lelaki itu. Jauh didalam hatinya ia juga bahagia dan menikmati momen ini. Mereka larut dalam pemandangan yang terbentang dihadapan mereka berdua
"Ayo kita berfoto!" Suara Doni menyadarkan keduanya yang larut dalam suasana romantis. Beberapa kali Doni mengarahkan kamera ponselnya untuk memotret kedua orang yang sedang memadu kasih itu. Terkadang Doni juga ikut nimbrung dalam kamera yang ia arahkan. Sesekali mereka meminta tolong pada turis yang juga ada didalam kapsul untuk memotret keempatnya. Mereka berempat sangat menikmati suasana dan momen kali ini.
Setelah makan siang, mereka lanjut untuk mengelilingi kota London. Pilihan mereka jatuh pada wisata Big Ben.
Big Ben adalah nama sebuah lonceng besar di tengah menara jam yang terletak di sebelah utara Istana Wetminer, London. Big Ben juga menjadi salah satu ikon kota London.
Mereka melakukan kegiatan jalan-jalan santai mengelilingi Big Ben. Tak lupa juga berswafoto disana. Doni sibuk memposting foto hasil jepretannya ke sosial media. Sementara Joana tengah menjadi tour guide dadakan untuk Rey dan Kinan. Joana menjelaskan sejarah big ben seolah dia sudah ada pada masa dibangunnya tempat itu. Beberapa kali Kinan dan Rey terkekeh melihat tingkah konyol Joana saat bercerita.
"Nyuk!" Doni menarik lengan Rey dan Rey berdecak kesal sekaligus heran.
"Apalagi?" Tanya Rey melihat Doni yang dengan sengaja membuatnya menjauh dari Kinan dan Joana.
"Ini.." Doni meminta Rey melihat pada ponsel yang sedang ia pegang. Rey melihat sekilas apa yang dimaksudkan Doni dan terperangah, ia ingin marah atas ulah Doni.
"Lo posting foto gue dan Kinan juga, Dal?" Rey menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sorry bro! Gue gak tau kalo Mona bakal komen di postingan ini!" Ucap Doni tak enak hati.
"Hapus!" Titah Rey dan Doni mengernyit.
"Kenapa? Lo marah, Nyuk? Lo takut Kinan tau atau lo takut Mona sakit hati liat foto lo sama Kinan?" Tanya Doni, ia ikut menggaruk kepalanya juga.
"Bukan... Udah lo hapus sekarang!" Ucap Rey setengah memaksa. Tanpa mereka sadari, Kinan memperhatikan gerak-gerik keduanya.
"Apanya yang harus dihapus?" Tanya Kinan pada kedua pemuda itu. Rey terus menatap Doni seolah kode agar Doni segera menghapus postingan itu sebelum Kinan melihatnya. Sementara Doni yang tak sadar tatapan itu hanya nyengir kuda menunjukkan sederetan giginya.
"Apaan sih?" Joana pun ikut penasaran dan langsung menarik gadget di pegangan Doni. Ia melihat postingan Doni yaitu foto-foto mereka tadi di London Eye.
"Hasil fotonya bagus, kenapa harus dihapus!" Ucap Joana sembari memberikan ponsel itu pada Kinan agar Kinan juga bisa menilai hasil fotonya.
Rey memakii dalam hati ketika ponsel itu sampai ke tangan Kinan sebab diberikan oleh Joana. Doni terdiam tak berkutik.
"Aku mau lihat, Mas!" Ucap Kinan. Rey menggeleng. "Nanti aku kasi lihat kalau Doni udah kirim ke ponsel aku!" Ucap Rey membela diri.
"Tapi aku mau lihat sekarang!" Kinan makin penasaran karena Rey tak mau memperlihatkan foto itu.
"Ini cuma postingan Doni. Gak penting." Sanggah Rey. Joana bertanya pada Doni melalui matanya sementara Doni mengangkat bahu.
"Sini-in, Mas. Aku mau lihat!" Kinan memaksa Rey karena entah kenapa perasaannya mengatakan ada yang tidak beres disini.
Rey memberikan ponsel itu dengan sedikit ragu. Akhirnya Kinan mengambil paksa ponsel itu untuk membuktikan dan menjawab rasa penasarannya.
"Gambarnya bagus." Ucap Kinan setelah melihat postingan itu. "Tapi..." Kinan menjeda ucapannya.
Ketiganya menatap Kinan dengan perasaan yang berbeda-beda. Rey tentu saja takut, Doni harap-harap cemas sementara Joana makin penasaran.
"Siapa Mona, Mas?" Kinan menatap Rey dan Doni bergantian. Doni memukul jidatnya sendiri sementara Rey mengacak rambutnya. "Habislah gue!" Pikirnya.
Joana mengambil ponsel itu kembali dan membaca apa yang dimaksud Kinan karena tadi tak sempat melirik ke kolom komentar, hanya fokus ke foto.
"Don, siapa cewek yang disamping Rey? Itu teman kalian? Aku dan Rey kemarin ke Seoul bersama-sama, kenapa dia tidak mengajakku ikut ke London juga padahal aku menunggunya di Seoul."
Joana melotot pada Rey setelah membaca komentar Mona di postingan Doni. Sementara Kinan sudah mengalihkan pandangannya.
___
"Kamu marah?" Rey memegang pundak Kinan yang berdiri membelakanginya.
Kinan menggeleng. "Apa aku berhak marah?" Tanyanya. Ia sendiri tak tahu harus bagaimana sekarang.
"Kalau kamu cemburu dan marah sebenarnya aku senang. Itu berarti kamu memang mempunyai perasaan padaku!" Rey mendesaah pelan. "Tapi, aku tidak mau kamu berpikir yang bukan-bukan!" Sambung Rey lagi.
"Yang bukan-bukan seperti apa?" Kinan berbalik badan dan tersenyum miris menatap Rey.
"Aku tidak punya hubungan apapun dengannya, Ki." Jelas Rey.
Kinan tersenyum dan Rey merinding melihat senyuman itu, entah kenapa ia takut jika Kinan menjauhinya lagi kali ini apalagi ini berhubungan dengan perempuan lain. Rey benar-benar takut.
"Kalau tidak punya hubungan kenapa harus pergi ke Seoul bersama-sama?" Kinan menatap mata Rey dengan serius dan Rey membalas tatapan itu dengan rasa penuh maaf.
"Itu tidak sengaja. Kami bertemu di pesawat yang sama." Rey memegang kedua pundak Kinan untuk meyakinkannya. Kinan mengangguk. "Baiklah." Ucap Kinan. Rey belum lega mendengar itu.
"Katakan apa yang masih mengganjal di pikiranmu!" Rey benar-benar tak mau Kinan berpikiran yang bukan-bukan.
"Aku cuma heran, jika tidak ada hubungan apa-apa kenapa Doni harus menghapus postingan itu!" Ucap Kinan pada akhirnya.
Mendengar ucapan Kinan itu, Rey tersadar pada tujuan awalnya mengapa ia meminta Doni menghapus foto itu. Ia terlalu sibuk memikirkan Kinan marah padanya akibat Mona, sehingga ia lupa pada tujuannya yang sebenarnya kenapa foto itu harus menghilang di dunia maya.
"Dal, udah lo hapus belum fotonya?" Bukannya menjawab Kinan, Rey malah bertanya pada Doni yang berdiri tak jauh dari mereka berdua. Kinan memutar bola matanya.
"Maaf Ki, aku minta fotonya di hapus karena aku takut keberadaan ku di London diketahui oleh Papa." Ucap Rey sekaligus menatap Doni dan Doni seakan tersadar juga lalu buru-buru membuka aplikasi sosmed-nya.
Tiba-tiba, ponsel Rey berdering seketika. Sepertinya apa yang mereka takutkan akan terjadi. Rey dan Doni saling bertatapan. Sementara Kinan semakin tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi disini.
"Lo liat sekarang kan, Kadal!" Rey ingin memakii Doni saat itu juga. Doni hanya tertunduk menyadari kebodohannya. Rey segera menggeser tombol hijau untuk menjawab telepon itu.
.
.
.
.
Bersambung...